tirto.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, defisit neraca perdagangan barang Indonesia sebesar 0,45 miliar dolar AS pada Juni 2026 disebabkan kenaikan harga minyak dunia.
Menurut dia, neraca perdagangan Januari-Juni 2026 secara kumulatif masih surplus 4 miliar dolar AS.
"Memang bulan Juni itu kita defisit 0,45 miliar dolar AS. Nah, kenapa kemudian Mei-Juni ini masih defisit? Karena harga minyak yang tinggi. Karena sebelumnya harga minyak Maret-April itu puncak-puncaknya, di atas 100 [dolar AS per barel], 110-an [dolar AS per barel] ke atas," ujarnya di Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026).
"Padahal sebelumnya kan di bawah 100 [dolar AS per barel]. Jadi, sebenarnya kalau kita hitungkan angka harga minyak itu, Mei-Juni, itu kita surplus sebenarnya. Neraca perdagangan kita surplus. Cuma karena tergerus harga minyak yang sangat tinggi," lanjut dia.
Budi mengaku merasa optimistis neraca perdagangan akan kembali surplus setelah harga minyak mulai stabil. Secara kumulatif hingga Juli 2026, neraca perdagangan Indonesia disebut diperkirakan masih akan berada di zona positif.
"Makanya kami optimistis kalau harga minyak ini mulai stabil, nanti Juni-Juli, ya mudah-mudahan surplus untuk bulannya. Tapi kalau year-on-year atau akumulatif Januari-Juli, optimistis akan surplus," ucapnya.
Di satu sisi, Budi menyatakan Pemerintah Pusat tetap berkepentingan menjaga akses pasar AS melalui agreement on reciprocal trade (ART) RI-AS. Pasalnya, AS disebut masih menjadi pasar ekspor terbesar yang menghasilkan surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia.
Kata dia, perjanjian ART merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk mempertahankan akses ke pasar Amerika Serikat. Ia mengingatkan nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut mencapai sekitar 25,9 miliar dolar AS sehingga pasar tersebut tidak boleh hilang.
"Sampai dengan Januari-Juni, surplus terbesar kita tetap ke Amerika. Tahun lalu kita surplus 18,11 miliar dolar AS. Artinya, surplus terbesar kita itu masih ke Amerika, nomor dua India," sebutnya.
"ART itu kesempatan besar bagi kita. Justru kita harus ada perjanjian dengan Amerika karena pasar kita di sana sangat besar. Jangan sampai ekspor kita, jangan sampai pasar yang besar di Amerika itu hilang. Makanya kita tetap [jaga] ART itu," sambunt Budi.
Ia menambahkan, Pemerintah Pusat juga akan menggenjot investasi untuk menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap AS. Katanya, pelemahan nilai mata uang terhadap dolar AS tak hanya dialami Tanah Air, tetapi juga negara lain.
"Artinya, kita dalam kondisi apa pun tetap harus bekerja keras meningkatkan ekspor kita, investasi kita, karena yang dihadapi semua hampir sama. Jadi, kita tetap optimistis, kita terus meningkatkan ekspor kita, dan kita tentu bagaimana menyiasati atau strategi apa yang lebih baik," urai Budi.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































