tirto.id - Board of Peace (BoP), yang diketuai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menyebut bahwa Israel tidak akan menarik pasukan mereka di Gaza sebelum agenda perlucutan senjata Hamas terlaksana. Pernyataan ini dikeluarkan setelah Direktur BoP Nickolay Mladenov bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.
Seturut Al Jazeera, Mladenov dan Netanyahu bertemu pada Senin (3/8/2026) di Yerusalem barat. Pasca-pertemuan itu, BoP menyebut agenda penarikan tentara Israel dari Gaza akan dilakukan setelah perlucutan senjata Hamas.
“Bertentangan dengan laporan yang tidak akurat, kami mencatat bahwa penarikan [militer Israel] di luar Garis Kuning hanya akan terjadi setelah pelucutan senjata selesai, seperti yang dijanjikan Hamas kepada para mediator,” kata BoP.
“Garis Kuning” merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut garis demarkasi Israel dan Palestina di Gaza. Sejak serangan Oktober 2023 lalu, Israel telah menginfiltrasi garis tersebut jauh ke dalam Gaza selama serangan genosida Israel terhadap wilayah tersebut.
“Tujuannya jelas dan tidak perlu dipertanyakan: perlucutan senjata secara menyeluruh di Jalur Gaza dan transisi dari pemerintahan dengan senjata ke pemerintahan sipil,” lanjut BoP.
Pernyataan ini tampak menjadi respons BoP terhadap pernyataan Hamas belum lama ini. Kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina itu sebelumnya menyebut bahwa mereka akan melucuti senjata jika Israel menarik pasukannya dari Gaza.
Sementara itu, dalam pembicaraan Mladenov dan Netanyahu pada Senin, Direktur BoP itu dilaporkan telah mendesak PM Israel untuk menghentikan serangan di Gaza. Namun, Netanyahu disebut menolak desakan tersebut.
Israel sebelumnya telah menyetujui kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025, namun serangan terus berlanjut dan telah menewaskan 1.200 rakyat Palestina sejak itu. Sebanyak 1.200 nyawa manusia yang terbunuh itu membuat total korban terbunuh dalam serangan Israel sejak 2023 menjadi 73.000.
Israel selama ini terus mengeklaim bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dirilis ke publik berbeda dengan yang mereka sepakati. Seperti sebelum pertemuan Mladenov-Netanyahu berlangsung, kantor PM Israel mengeluarkan pernyataan bahwa perjanjian yang dirilis ke publik “tidak mencerminkan posisi Israel”.
Anggota pemerintahan sayap kanan Netanyahu juga berulang kali mengisyaratkan agar Israel menarik diri dalam kesepakatan. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, misalnya, menyebut perjanjian itu “sama sekali berbeda” dengan yang mereka setujui dan menuntut pembuatan kesepakatan yang baru.
Hal serupa juga diungkap Netanyahu. Dalam keterangannya pada Selasa (4/8), ia menyebut bahwa perjanjian gencatan senjata telah dimaknai secara berbeda oleh pihaknya dan AS.
“Ada perbedaan pendapat dengan Presiden Trump yang tidak saya sembunyikan mengenai kesepakatan baru-baru ini dengan Hamas. Hamas harus dilucuti senjatanya dan Jalur Gaza harus didemiliterisasi sebelum beralih ke fase rekonstruksi,” tuturnya.
Pernyataan Netanyahu itu dikeluarkan sebagai respons atas komentar Donald Trump tentang tercapainya kesepakatan baru untuk agenda perlucutan senjata Hamas. Dalam pernyataan via media sosial miliknya, Trump menyebut bahwa Hamas telah sepakat untuk melucuti senjata dan memulai kesepakatan gencatan senjata tahap kedua.
Israel Tetap Serang Palestina Meski Hamas Setuju Perlucutan Senjata
Seiring mekanisme perlucutan senjata Hamas masih diperdebatkan para pihak yang terlibat, Israel dilaporkan masih terus menggempur Gaza. Satu-satunya negara Zionis di Asia Barat itu justru dilaporkan telah mengintensifkan serangan dan membunuh lebih banyak warga Palestina.
Seturut Reuters, Angkatan Udara Israel kembali menyerang Gaza ada Sabtu (1/8) dan Minggu (2/8). Serangan selama dua hari berturut-turut itu telah membunuh sedikitnya 18 warga Palestina.
Sejak fajar menyingsing, Israel terus menyerang sisi utara Kota Gaza, wilayah tengah Kota Deir al-Balah, dan area selatan Khan Younis. Serangan ini menjadi yang paling mematikan selama sepekan terakhir.
Serangan di Deir al-Balah dilaporkan telah membunuh sedikitnya empat orang. Serangan terpisah di Mawasi, dekat Khan Younis, juga dilaporkan telah melukai lima orang dan membakar sejumlah tenda pengungsian.
Serangan di Mawasi juga dilaporkan membuat sepasang suami-istri dan anak mereka berusia 9 tahun terbunuh di rumah mereka. Pasangan lain dan anak mereka juga meninggal dalam serangan ke sebuah apartemen di Kota Gaza, selagi dua orang lainnya terbunuh dalam serangan di dekat kantor misi perwakilan Mesir di sana.
Laporan korban terbunuh karena serangan Israel turut terjadi di kawasan Zeiton di Kota Gaza serta di wilayah Jabalia.
Para pakar menilai bahwa serangan-serangan yang terus berlangsung di Gaza ini merupakan bagian dari upaya Israel untuk mempertahankan kekuasaan di wilayah Gaza yang kini telah menjadi puing. Militer Israel kini dilaporkan telah menguasai sekitar 52 persen Jalur Gaza melalui serangan genosida dan menekankan keinginan untuk terus menguasainya.
Selain mempertahankan markas-markas militer di wilayah Gaza yang mereka caplok, Israel juga dilaporkan tengah melakukan blokade terhadap jalur-jalur diplomatik kelompok kemerdekaan Palestina di sana. Terbaru, Israel tengah mengajukan keberatan resmi terhadap partisipasi Qatar dan Turki dalam mekanisme verifikasi pembuatan peta jalan wilayah Gaza.
Verifikasi peta jalan itu merupakan mekanisme pengawasan independen terhadap kepatuhan Israel dan Hamas dalam pembangunan ulang Gaza yang digemborkan AS. Hal ini termasuk penarikan tentara Israel dari wilayah kini dikuasai militer mereka.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































