tirto.id - Kasus dugaan olok-olok terhadap korban keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan setelah video yang dibuat oleh seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bantul Dlingo Muntuk viral di media sosial. Ini kronologi dan respons dari Badan Gizi Nasional (BGN) Yogyakarta.
Dalam video tersebut, pegawai yang diketahui bernama Gerardus Hananto Hega Permanaditya terlihat menyantap ayam katsu.
“Oh tidak, ingatanku berkurang 70 persen,” ucapnya di akhir video.
Pernyataan itu kemudian menuai kritik karena dinilai berkaitan dengan kondisi Febiona Purba, salah satu siswi korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, yang sebelumnya menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Kronologi Video Diduga Ejek Korban Keracunan MBG
Video tersebut diduga berkaitan dengan kasus keracunan MBG di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, yang berdampak pada sejumlah penerima manfaat, termasuk siswi bernama Febiona Purba.
Febiona dan siswi lainnya bernama Agnesia Paruliana Silitonga mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Keduanya dibawa ke Jakarta setelah adanya permintaan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dengan pertimbangan perlunya pemantauan dan penanganan lebih lanjut terhadap kondisi medis serta dampak psikologis yang dialami para korban.
Pada 16 September 2026, tim dokter RSCM menjelaskan bahwa kondisi Febiona berangsur membaik.
Di tengah proses pemulihan kedua siswi tersebut, muncul video yang diunggah oleh seorang staf SPPG Bantul Dlingo Muntuk bernama Gerardus Hananto Hega Permanaditya, yang diketahui menjabat sebagai pengawas atau bagian keuangan SPPG.
Dalam video tersebut, Gerard terlihat memakan ayam katsu yang disebut sebagai makanan sisa dari hari sebelumnya. Pada bagian akhir video, ia kemudian mengucapkan kalimat: “Oh tidak, ingatanku berkurang 70 persen.”
Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan dan dianggap oleh publik sebagai sindiran terhadap Febiona Purba, terutama karena sebelumnya beredar pemberitaan mengenai kondisi Febiona yang disebut mengalami gangguan atau kehilangan ingatan setelah diduga terdampak dari keracunan MBG.
Konteks tersebut membuat video yang pada awalnya menampilkan aktivitas makan ayam katsu mendapat perhatian luas di media sosial karena dinilai tidak menunjukkan empati terhadap seorang anak yang sedang menjalani proses pemulihan.
Respons Wapres Gibran, BGN DIY, hingga SPPG Bantul Dlingo Muntuk
Unggahan Gerard tersebut kemudian mendapat perhatian dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam komentarnya di media sosial, Gibran menyampaikan apresiasi kepada tim dokter RSCM, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Sumatra Utara, serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses rujukan, perawatan, hingga pemulihan Agnesia dan Febiona.
Gibran juga menyampaikan bahwa kedua siswi tersebut telah kembali ke rumah masing-masing di Kabupaten Karo dan akan kembali bersekolah. Dalam komentar yang sama, Gibran menyayangkan perkataan yang disampaikan oleh oknum SPPG tersebut.
“Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Mari kita bersama menjaga ruang publik yang aman dan ramah bagi semua. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan,” tulis Wapres Gibran di IG @gibran_rakabuming pada 20 September 2026.
Menanggapi viralnya video tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Koordinator Regional BGN Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Wirandita Gagat Widyatmoko menyatakan keprihatinan dan menyayangkan pernyataan yang disampaikan oleh salah satu jajaran SPPG di Bantul itu.
"Kami prihatin dan menyayangkan apabila benar terdapat pernyataan dari jajaran SPPG yang tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat yang diduga terdampak. Dalam kondisi seperti ini, yang harus dikedepankan adalah rasa kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan saling menghormati," ujarnya dikutip Antara, Sabtu (19/9/2026).
Gagat membenarkan bahwa orang yang muncul dalam video tersebut merupakan pegawai atau pengawas keuangan SPPG Dlingo dan mengatakan bahwa yang bersangkutan telah dipanggil serta diklarifikasi oleh jajaran BGN DIY.
Setelah proses klarifikasi, BGN memberikan teguran secara langsung kepada SPPG terkait dan pegawai yang bersangkutan sebagai tindak lanjut atas kegaduhan yang muncul di media sosial.
SPPG Bantul Dlingo Muntuk juga menyampaikan permohonan maaf melalui akun Instagram @sppg_muntukdlingo. Kepala SPPG Djoshuana Farrel, atas nama seluruh keluarga besar SPPG Bantul Dlingo Muntuk, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak.
Pihak SPPG mengakui bahwa video yang dibuat oleh staf mereka, GM. Hananto Hega Permanaditya, telah menimbulkan keresahan dan perhatian luas di masyarakat.
Dalam pernyataan tersebut, pihak SPPG menyebut tindakan staf tersebut sebagai kekhilafan dan menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap maupun komitmen SPPG Bantul Dlingo Muntuk dalam menjalankan Program MBG.
“Kami menyesalkan beredarnya video yang dibuat oleh salah satu staf kami GM. Hananto Hega Permanaditya dan menimbulkan keresahan serta perhatian luas di masyarakat. Kami menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan kekhilafan dan tidak mencerminkan sikap serta komitmen SPPG Bantul Dlingo Muntuk dalam menjalankan Program Makan Bergizi Gratis,” bunyi pernyataan tersebut.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, pihak SPPG menyatakan telah memberikan teguran keras kepada staf yang bersangkutan dan akan mengambil tindakan lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.
SPPG juga mengatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh, terutama mengenai penggunaan media sosial oleh seluruh staf, agar setiap pegawai dapat menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab serta tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan program maupun masyarakat.
Pihak SPPG menyatakan bahwa kejadian tersebut akan dijadikan bahan pembelajaran dan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan Program MBG.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































