tirto.id - Pergerakan rupiah terhadap dolar AS pada Senin, 21 September 2026, menunjukkan tekanan pelemahan pada awal perdagangan.
Rupiah dibuka di level Rp17.783 per dolar AS, melemah 25 poin atau sekitar 0,14 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah tidak diikuti bursa saham karena IHSG dibuka menguat ke posisi 6.446,90.
Pelemahan rupiah melanjutkan kecenderungan negatif pada perdagangan Jumat, 18 September 2026, ketika rupiah ditutup melemah 5 poin atau sekitar 0,03 persen dari posisi sebelumnya Rp17.753 menjadi Rp17.758 per dolar AS.
Menurut Analis Bank Woori Saudara Rully Nova, salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah adalah risiko harga minyak dunia yang masih berada pada level tinggi. Kondisi tersebut juga memengaruhi sentimen terhadap pasar obligasi pemerintah Indonesia.
Meskipun obligasi pemerintah mengalami penguatan, menurut Rully pergerakan tersebut masih menghadapi risiko dari harga minyak yang berada di atas asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Di pasar minyak, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November tercatat turun sekitar 1,3 persen menjadi 103,40 dolar AS per barel. Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh harapan akan ditemukannya jalur alternatif untuk mengirim minyak dari kawasan Asia Barat menuju pasar global.
Namun, penurunan harga tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pasar karena masih terdapat ketegangan geopolitik, termasuk konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman dan ketegangan di Selat Hormuz.
Selain faktor minyak dan geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Sikap hawkish atau cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat dari The Fed mendorong penguatan dolar AS hingga indeks dolar menembus level 100.
“Stance kebijakan pengetatan The Fed dengan akselerasi yang tinggi sampai dengan akhir tahun ini. Saat ini, proyeksi kenaikan suku bunga The Fed untuk Oktober oleh pelaku pasar sudah di atas 50 persen,” ungkap Rully dikutip Antara, Jumat(18/9/2026).
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) mengenai arah kebijakan moneternya. Investor menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22-23 September 2026, karena keputusan mengenai suku bunga dan kebijakan moneter BI dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap pergerakan rupiah.
IHSG Dibuka Menguat ke Posisi 6.446,90 Hari Ini
Pada perdagangan Senin (21/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka di zona positif pada level 6.446,90, naik 5,74 poin atau 0,09 persen dibandingkan penutupan Jumat (18/9) di level 6.441,16.
Penguatan juga terjadi pada indeks saham unggulan LQ45, yang naik 0,49 poin atau 0,08 persen menjadi 640,74.
Pergerakan tersebut terjadi setelah IHSG pada perdagangan Jumat sebelumnya ditutup melemah 21,27 poin atau 0,33 persen ke level 6.441,16. Pada hari yang sama, indeks LQ45 mengalami tekanan lebih besar dengan turun 8,13 poin atau 1,25 persen menjadi 640,25.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengaitkan pelemahan IHSG pada Jumat dengan keputusan Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen.
Kenaikan tersebut menjadi bagian dari perkembangan kebijakan moneter global, setelah Bank Sentral AS sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen.
"Langkah itu menegaskan tren pengetatan moneter global di tengah risiko inflasi yang masih tinggi," ujar Ratna.
Kebijakan suku bunga bank sentral global menjadi penting bagi pasar saham karena perubahan tingkat bunga dapat memengaruhi arus modal, valuasi aset, serta keputusan investasi pelaku pasar.
Kenaikan suku bunga di negara-negara utama dapat membuat aset berdenominasi mata uang masing-masing menjadi lebih menarik bagi investor global, sekaligus meningkatkan biaya pendanaan.
Di pasar Indonesia, kondisi tersebut dapat memengaruhi minat investor terhadap saham domestik. Oleh karena itu, meskipun IHSG sempat dibuka menguat pada Senin pagi, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan kebijakan moneter dari negara-negara utama, khususnya AS dan Jepang.
Selain kebijakan suku bunga, perhatian investor juga tertuju pada rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada pekan berikutnya. Pertemuan tersebut menjadi perhatian karena hubungan ekonomi AS-China memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan dan perekonomian global.
Ada harapan bahwa pertemuan kedua pemimpin tersebut dapat membuka ruang bagi perbaikan hubungan bilateral. Namun, pasar tetap menghadapi ketidakpastian terkait isu sanksi, tarif perdagangan, dan konflik geopolitik yang masih sensitif.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





































