tirto.id - Hari masih pagi ketika Ceuta, kota kecil di pengujung Afrika, tiba-tiba diserbu puluhan ribu orang dari berbagai arah pada 30 Juli 2026. Ada yang mencoba merangsek masuk lewat darat, ada pula yang nekat berenang untuk memasuki Ceuta dari pesisir. Kota kecil berpenduduk 84 ribu orang itu pun mendadak tampak seperti benteng perlindungan di film-film zombi apokaliptik.
Dua hari lamanya Ceuta dibanjiri gelombang migran dari Afrika. Sebagian besarnya berasal dari Maroko, kendati ada pula yang berasal dari Senegal dan Sudan. Ada yang datang demi penghidupan lebih baik, ada pula yang tak punya pilihan lain lantaran negaranya dicabik-cabik perang.
Akan tetapi, semua itu bisa dibilang berakhir sia-sia. Kabar terbaru menyebutkan 72 orang meninggal dunia dalam upaya migrasi massal tersebut. Dari sekitar 60 ribu orang yang mencoba masuk Ceuta, sebagian besarnya kini sudah kembali ke tempat mereka sebelumnya, meski ada pula yang masih bertahan--kebanyakan mereka yang tak punya pilihan lain.
Peristiwa akhir Juli 2026 itu bukanlah yang pertama kali. Lima tahun lalu, wilayah otonom berukuran 19 kilometer persegi itu juga pernah diserbu sekitar 10 ribu orang.
Posisi geografis sekaligus status Ceuta memang menjadikannya "sasaran empuk" bagi para migran (umumnya ilegal) untuk dijadikan tempat membangun harapan baru. Ceuta secara administratif merupakan bagian dari Spanyol sehingga membuatnya tergolong Eropa, kendati tidak termasuk dalam area Schengen, yakni wilayah Uni Eropa yang pemegang visanya bebas bergerak ke semua negara anggota tanpa restriksi.
Sebagian besar migran memang sudah kembali ke negaranya. Namun, bukan berarti masalah selesai dengan sendirinya karena Ceuta kini jadi sorotan dunia. Bahkan, pemimpin-pemimpin Eropa berhaluan kanan seperti Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menjadikan peristiwa tersebut sebagai alasan untuk menyetop sementara perjanjian Schengen dengan Spanyol pimpinan pemerintahan sayap kiri.
Selain itu, yang tak kalah penting adalah sesuatu yang menimpa penduduk Ceuta.
Trauma Warga dan Ambruknya Perekonomian Kota
Bagi warga Ceuta, hari-hari itu terasa seperti mimpi buruk. Calle Real, jalan utama yang didominasi pertokoan, dipenuhi oleh kerumunan yang berbeda. Warga lokal yang biasa berbelanja tidak lagi terlihat, digantikan para pendatang baru yang tampak kebingungan mencari arah.
Sebagian besar toko ditutup pintunya rapat-rapat. Hanya satu apotek serta satu cabang restoran cepat saji yang berani buka. Bahkan roti, kebutuhan paling dasar, jadi barang langka karena toko roti ikut tutup pada hari itu.
Sahil, pemilik toko elektronik di Ceuta, bercerita kepada radio COPEbahwa kerugiannya sulit dihitung karena pengeluaran rutin, seperti pembayaran ke pemasok, tetap harus dibayarkan meski toko tutup total. Ketika ditanya soal kemungkinan bantuan pemerintah, dia menjawab dengan nada sinis bahwa tidak akan ada yang datang membantu orang-orang seperti dirinya.
Kamar Dagang Ceuta pimpinan Karim Boulaix memberikan gambaran lebih besar soal dampak insiden migrasi terhadap perekonomian kota. Misalnya, lebih dari separuh reservasi hotel kota itu dibatalkan begitu insiden pecah.
Ceuta sudah bertahun-tahun membangun citra baru dan mampu berkembang sebagai pusat industri teknologi, tetapi dalam waktu 72 jam saja, upaya itu terasa tak ada gunanya. Menurutnya, butuh enam bulan bagi Ceuta untuk benar-benar pulih. Itu pun dengan syarat keamanan harus selalu terjamin.

Di tengah situasi seperti itu, ada sejumlah warga Ceuta yang memilih main hakim sendiri. Seorang warga bercerita bahwa dia melihat langsung seorang remaja yang mengejar remaja Maroko lain sambil membawa katana. Laporan Ceuta Actualidad menyebut, ada grup WhatsApp bernama "Viva Espana", beranggotakan lebih dari 800 orang, dan berisi seruan agar warga turun ke jalan dan memukuli para migran dengan tongkat.
Hal itu membuat sebagian warga waswas. Mohammed, sopir taksi yang tinggal di Ceuta, misalnya, bercerita kepada AFP bahwa dia dan tetangganya bergadang sampai dini hari untuk menjaga rumah dari kemungkinan pencurian. Keponakan perempuannya juga sangat ketakutan selama masa kaos. Suasana kota seperti masa pandemi, ketika orang merasa lebih aman tinggal di rumah ketimbang keluar.
Dari sisi layanan publik, serbuan para migran membuat beban layanan melonjak drastis. Institut Nasional Pengelolaan Kesehatan Spanyol (INGESA) mencatat, 1.149 layanan kesehatan darurat diberikan sejak krisis meletus. Dari jumlah itu, 902 kasus ditangani oleh layanan kesehatan primer dan 247 lainnya oleh Rumah Sakit Universitas Ceuta.
INGESA menegaskan, layanan kesehatan untuk warga Ceuta tetap berjalan seperti biasa di tengah eskalasi konflik. Akan tetapi, Serikat Dokter Ceuta menyebut, telah terjadi bencana dalam konteks pelayanan. Banyak tenaga medis yang harus menangani kasus hipotermia berat, nyaris tenggelam, dan trauma tanpa dukungan memadai di jam-jam awal krisis.
Sistem penampungan anak-tanpa-pendamping juga kewalahan. Fasilitas resmi untuk anak migran tanpa pendamping di Ceuta cuma mampu menampung 29 orang. Kapasitas minim tersebut berbenturan dengan realitas keberadaan sekitar 4.000-7.000 anak-tanpa-pendamping.
Walhasil, ratusan anak tidur di kawasan industri tak terpakai, tanpa akses makanan dan kebutuhan dasar memadai. Itu jadi beban administratif yang rumit karena, tidak seperti migran dewasa yang bisa langsung dipulangkan, anak-tanpa-pendamping wajib berada di bawah pengawasan negara sesuai undang-undang perlindungan anak Spanyol.
Lonjakan beban juga dirasakan aparat keamanan. JUCIL, asosiasi profesional Guardia Civil atau polisi perbatasan Spanyol, mengeluarkan pernyataan keras yang menyebut situasi sekarang sebagai "invasi terkoordinasi" tanpa preseden dalam beberapa dekade terakhir.
Jumlah personel Guardia Civil yang bertugas di Ceuta cuma 550 orang, ditambah 5 personel unit selam, 8 personel layanan maritim, dan 30 personel tambahan dari unit cadangan. Jumlah tersebut jauh dari cukup untuk menangani gelombang sebesar itu. Mereka juga mengeluhkan armada kapal yang sebagian besar rusak atau baru diperbaiki secara darurat, sehingga tak bisa diandalkan untuk operasi penyelamatan skala besar.
Sialnya lagi, permintaan status darurat nasional dari Ceuta ditolak pemerintah pusat di Madrid. Mereka hanya mengirim pasukan Angkatan Darat untuk membantu Guardia Civil mengamankan situasi.
Seluruh anggota Junta de Portavoces, semacam dewan perwakilan partai politik di Ceuta, sebenarnya sudah meminta status darurat kepentingan nasional dan penutupan perbatasan Tarajal. Akan tetapi, pemerintah pusat berdalih, menurut regulasi Sistem Perlindungan Sipil Nasional Spanyol, arus migrasi tidak termasuk kategori risiko yang memenuhi syarat untuk status darurat semacam itu, yang biasanya diperuntukkan bagi bencana alam seperti banjir atau gempa bumi.
Politisi Sayap Kanan yang Memperkeruh Keadaan
Di tengah kekacauan itu, ada pula yang mencoba memancing di air keruh. Para politisi berhaluan kanan memanfaatkan situasi dengan menyebarkan narasi-narasi memecah belah. Santiago Abascal, pemimpin partai Vox, datang dan menyebut kejadian itu sebagai "invasi", sambil menyalahkan pemerintahan Perdana Menteri Pedro Sánchez.
Untungnya, warga Ceuta masih bisa berpikir jernih. Mereka menganggap kedatangan para politisi pemuja aji mumpung itu sebagai gangguan. Para penduduk, bahkan yang kontra terhadap Sanchez, marah besar terhadap aksi para politisi tersebut. Bahkan, Kika Mohamed, warga Ceuta berusia 40 tahun, sampai mengejar salah satu tokoh sayap kanan bernama Vito Quiles sambil berteriak menuntutnya pergi dari kota.
Insiden serupa dialami oleh Alvise Pérez, politisi sayap jauh kanan dan anggota Parlemen Eropa. Ia terpaksa berlindung di dalam bar setelah dikepung warga yang marah dan memukul-mukul jendela. Noor Ahmed, mahasiswi berusia 20 tahun yang ikut memprotes kehadiran Pérez, menuduh para politisi tersebut cuma mau memanfaatkan situasi krisis kemanusiaan demi keuntungan politik pribadi.
Namun, tidak semua warga Ceuta sepakat soal narasi solidaritas itu. Eva Barrientos, warga yang bekerja di perusahaan logistik, mengaku khawatir dengan kondisi kotanya. Dia menyebut Ceuta selama ini hidup rukun dengan empat budaya berbeda, yaitu Kristen, Islam, Yahudi, dan Hindu. Menurutnya, krisis itu justru menyingkap adanya "musuh dalam selimut" di antara warga. Dia mempertanyakan loyalitas sebagian warga keturunan asing terhadap Spanyol.
Sentimen Barrientos itu dapat dengan mudah dipatahkan oleh aksi Kautar Mribet. Memang benar, pemengaruh yang tinggal di lingkungan El Príncipe (dekat perbatasan Maroko) itu sempat memberikan bantuan air dan pakaian kering. Namun, bukan berarti ia, yang merupakan keturunan Maroko, setuju dengan narasi bahwa Ceuta adalah milik Maroko. Dengan tegas ia menyatakan Ceuta tidak pernah menjadi bagian dari negara tetangga tersebut.

Terlepas dari itu, banyak warga Ceuta enggan menyalahkan para migran. Mohamad Abdelkader Driss, pelayan restoran berusia 44 tahun, menegaskan bahwa yang salah bukan para pemuda yang datang, melainkan sistem yang membiarkan perbatasan terbuka begitu saja. Menurutnya, kalau perbatasan dibuka, wajar saja semua orang masuk, dan yang harus bertanggung jawab adalah otoritas, bukan anak-anak muda yang cuma mengikuti kesempatan yang ada di depan mata.
Seorang pengusaha bernama Nacho Tendero, yang menutup tempat usahanya akibat peristiwa akhir Juli, dalam wawancara dengan COPE juga menyerukan bahwa warga Ceuta tidak perlu takut kepada para migran. Selain karena tidak ada laporan penjarahan, Tendero merasa para migran lebih pantas dikasihani. Banyak yang datang tanpa alas kaki hingga kakinya berdarah-darah.
Pada akhirnya, yang jadi pemenang sesungguhnya dari krisis migran di Ceuta tersebut adalah solidaritas warga Ceuta. Kita bisa terus berdebat soal siapa yang sepatutnya disalahkan. Akan tetapi, yang tak bisa didebat adalah bahwa warga Ceuta telah menjadi korban.
Memang, ada aksi-aksi reaksioner yang muncul karena rasa takut. Namun, tak sedikit yang sanggup berpikir jernih dan menolak keberadaan parasit-parasit politik yang mencoba menangguk untung di tengah kesulitan mereka.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































