Menuju konten utama
Horizon

Uang, Kemewahan, dan Kekuasaan di Balik Jeruji Besi

Di balik jeruji, uang dapat membeli kenyamanan, membentuk ekonomi sendiri, hingga melahirkan kekuasaan baru yang menyaingi otoritas penjara.

Uang, Kemewahan, dan Kekuasaan di Balik Jeruji Besi
Petugas menunjukkan ruangan yang sebelumnya diperiksa secara mendadak oleh Ombudsman RI di Lapas Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (24/9/2026). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Langkah kaki Driver terhenti setelah melewati gerbang penjara utama. Ia baru saja dijebloskan ke penjara yang disebut El Pueblito. Matanya melihat sekeliling. Ruangan itu kumuh dengan tempat makan dan minum, juga berbagai transaksi ilegal yang terbuka.

"Ini penjara, atau mal paling busuk di dunia?" gumamnya.

Semakin lama Driver memerhatikan tempat itu, semakin jelas keanehannya. Narapidana yang punya uang dapat hidup lebih nyaman. Mereka bisa membeli makanan dan mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik.

Adegan tersebut berasal dari Get the Gringo, film aksi yang dibintangi Mel Gibson pada 2012. Sutradara Adrian Grünberg menjelaskan bahwa film tersebut dibuat berdasarkan riset tentang Penjara La Mesa di Tijuana, Meksiko.

Penjara itu mendapat julukan El Pueblito yang berarti "kota kecil" di dalam penjara karena para tahanan bebas bergerak. Mereka bahkan bisa membawa keluarga untuk tinggal bersama, menyewa film, dan layanan VIP yang tidak tersedia di bagian lain penjara.

Menurut The Seattle Times, para narapidana yang lebih kaya membangun lebih dari 400 rumah, beberapa di antaranya dilengkapi dengan komputer, telepon, pemutar DVD, dan bar tequila. Kompleks yang beroperasi pada era 1990-an tersebut ditutup pada 2002.

Di sejumlah negara, narapidana kaya dan kelompok kriminal menciptakan fasilitas, bisnis, bahkan aturan sendiri. Penjara yang seharusnya menjadi tempat menjalani hukuman dapat berubah menjadi pasar, kawasan eksklusif, atau pusat kekuasaan.

Uang Membeli Kehidupan yang Lebih Nyaman

Di penjara, uang menjadi salah satu penentu siapa yang bisa hidup nyaman dan siapa yang tidak. Olga Romanova, pendiri organisasi Russia Behind Bars, menggambarkan sistem pemasyarakatan Rusia sebagai lingkungan yang keras. Narapidana biasa ditempatkan jauh dari kehidupan normal, lampu terus menyala, komunikasi dengan keluarga dibatasi, dan penghuni menghadapi berbagai bentuk tekanan serta penghinaan.

Namun, kondisi itu tidak berlaku sama bagi semua orang. Menurut Romanova, narapidana kaya dan memiliki koneksi dapat memperoleh perlakuan khusus melalui pembayaran atau jasa kepada administrasi penjara. Mereka bisa mendapatkan makanan dari luar, akses komunikasi, kondisi sel yang lebih baik, bahkan bangunan terpisah. Dalam kasus tertentu, bangunan itu dilengkapi kebun, koki, dan pembantu yang juga berstatus narapidana.

Pada 2018, beredar foto Vyacheslav Tsepovyaz yang memasak daging panggang dan menikmati kepiting serta kaviar di koloni pemasyarakatan di Amur. Ia adalah anggota geng Tsapok yang sedang menjalani hukuman hampir 20 tahun atas keterlibatannya dalam kasus pembunuhan massal.

Pemeriksaan menemukan bahwa petugas penjara memungkinkan Tsepovyaz memperoleh makanan khusus, kunjungan tambahan, dan menggunakan barang terlarang. Penyelidikan terhadap pejabat koloni dibuka atas dugaan penyalahgunaan wewenang.

Di Kolombia, Pablo Escobar pernah memperoleh bentuk keistimewaan yang lebih terkenal. La Catedral, penjara yang dibangun untuk menampungnya, memiliki fasilitas yang membuat tempat itu jauh berbeda dari penjara biasa. Escobar bahkan tetap mampu mempertahankan pengaruhnya selama berada di balik jeruji.

Temuan fasilitas mewah di Lapas IIA Cibinong Bogor

Wartawan merekam ruangan yang sebelumnya diperiksa secara mendadak oleh Ombudsman RI di Lapas Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (24/9/2026). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/kye

Sementara di Indonesia, fenomena serupa juga bukan hal baru. Pada 2010, sidak di Rutan Pondok Bambu menemukan ruang khusus Artalyta Suryani alias Ayin yang dilengkapi AC, televisi, ranjang, lemari, dan fasilitas perawatan.

Tiga tahun berselang, di Lapas Cipinang, penggeledahan menemukan sel narapidana narkoba dengan AC, CCTV, Wi-Fi, akuarium arwana, laptop dan iPad. Layanan mewah kembali terlihat di Lapas Sukamiskin pada 2018. Sel Fahmi Darmawansyah memiliki fasilitas AC, televisi, kasur dan pemanas air.

Nama Setya Novanto ikut mencuat ketika ditemukan kamarnya lebih luas dan lebih baik dibandingkan kamar narapidana lain. Sebelumnya, tim Mata Najwa juga menemukan dugaan sel palsu yang digunakan Novanto saat inspeksi.

Pada September 2026, Ombudsman menemukan sejumlah kluster mewah yang ditempati warga binaan di Lapas Cibinong. Di dalamnya terdapat fasilitas seperti televisi, pendingin ruangan, kulkas, serta peralatan kebugaran. Sepuluh bangunan kemudian dibongkar setelah pemerintah menyatakan bangunan tersebut tidak memiliki izin sebagai fasilitas resmi lapas.

Selain kenyamanan individu, penjara tertentu dapat berkembang menjadi ruang perputaran ekonomi internal. Di situlah bentuk keistimewaan yang lebih besar mulai muncul.

Penjara Membentuk Ekonominya Sendiri

Di dalam penjara, negara seharusnya mengatur kebutuhan dasar narapidana, mulai dari tempat tinggal dan makanan hingga jadwal sehari-hari. Namun, ketika pengawasan melemah, kebutuhan itu berubah menjadi komoditas. Ruang, makanan, pekerjaan, bahkan tempat tinggal bisa diperjualbelikan.

Setelah El Pueblito di Tijuana ditutup, muncul lagi istilah itu di Penjara San Miguel, Puebla, Meksiko. Di dalam kompleks tersebut berdiri 104 ruangan yang dibangun secara ilegal, terdiri restoran, apotek, toko, salon, pusat kebugaran dan ruang yang disewakan untuk hubungan intim.

Menurut Sekretariat Keamanan Publik Puebla, peputaran uangnya diperkirakan mencapai 3 juta peso per minggu. Pemerintah negara bagian kemudian membongkar seluruh kawasan itu. Kasus juga melibatkan Gubernur Puebla saat itu, Miguel Barbosa Huerta, yang mengatakan tiga mantan sekretaris keamanan publik telah membohonginya ketika melaporkan bahwa kawasan tersebut sudah dihancurkan.

Sementara itu di Penjara San Pedro, La Paz, Bolivia, narapidana mengelola banyak aspek kehidupan mereka sendiri. Polisi terutama menjaga bagian luar penjara, sementara urusan di dalam banyak diserahkan kepada para penghuni.

San Pedro memiliki sejumlah sektor dengan kondisi berbeda. Narapidana yang memiliki uang dapat membeli atau menyewa tempat tinggal yang lebih baik. Di kawasan seperti La Posta, terdapat sel dengan kamar mandi pribadi, dapur, dan televisi. Penelitian David B. Skarbek (2010) menunjukkan bahwa narapidana memang memperjualbelikan sel satu sama lain. Mereka yang tidak mampu membeli dapat menyewa ruang dari narapidana lain.

Narapidana juga berbisnis membuka restoran, toko, jasa pertukangan, pangkas rambut, dan berbagai usaha lain. Mereka juga menyediakan layanan kesehatan sendiri dan mengatur sejumlah kebutuhan yang tidak dipenuhi negara. Istri dan anak sebagian narapidana bahkan dapat tinggal atau keluar-masuk penjara, sehingga hubungan ekonomi antara penghuni dan masyarakat di luar tetap berlangsung.

"Penjara San Pedro di La Paz, Bolivia, memberikan kesempatan untuk mengamati jalannya sistem swakelola dalam lingkungan yang unik serta mengidentifikasi seberapa tangguh mekanisme penegakan aturan secara mandiri bagi para pelaku yang memiliki bias kepentingan," tulis Skarbek.

Skarbek lalu mengutip ucapan salah satu narapidana, "Everything [is] about money. And I mean everything." Uang dibutuhkan untuk memperoleh tempat tinggal, makanan, dan berbagai layanan. Mereka yang tidak memiliki cukup uang harus bekerja. Di dalam penjara, pekerjaan dan perdagangan menjadi bagian dari cara bertahan hidup.

Pada 2025, Agencia de Noticias Fides melaporkan keluhan narapidana mengenai pungutan, pembayaran kepada delegasi sektor, serta dugaan keterlibatan petugas dalam berbagai pungutan. Hal ini didukung dokumentasi Planeta Juan yang menggambarkan San Pedro sebagai tempat dengan ekonomi, aturan, dan layanan yang dikelola sendiri oleh narapidana.

Ketika negara tidak mengatur seluruh kebutuhan penghuni, narapidana menciptakan mekanisme sendiri untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dari sana muncul pasar, pekerjaan, aturan, dan struktur kewenangan.

Mereka yang menguasai uang dan sumber daya memperoleh pengaruh terhadap kehidupan narapidana lain. Pada titik itu, ekonomi internal mulai berhubungan dengan kekuasaan.

Saat Penjara Berubah Menjadi Kekuasaan

New Bilibid Prison di Muntinlupa, Filipina, adalah penjara dengan keamanan maksimum untuk menampung narapidana kelas berat. Namun, penggerebekan pada Desember 2014 menemukan sejumlah kubol--ruang tahanan yang diubah menjadi hunian mewah. Di dalamnya terdapat televisi layar besar, pendingin ruangan, Wi-Fi, sauna, jacuzzi, bar, uang tunai, hingga barang-barang terlarang. Di salah satu ruangan, petugas bahkan menemukan studio rekaman.

Studio itu milik Herbert "Ampang" Colanggo, pemimpin geng perampok bank yang dipenjara di Bilibid. Colanggo merekam album Kinabukasan dari dalam penjara. Album tersebut memperoleh penghargaan Gold dan Platinum, sementara Colanggo menerima penghargaan New Male Recording Artist of the Year dalam PMPC Star Awards for Music 2014. Ia bahkan menggelar konser di dalam penjara.

Penggerebekan Bilibid juga menemukan narkoba, senjata, telepon seluler, dan berbagai barang terlarang. Sejumlah narapidana kelas kakap diduga tetap mengendalikan jaringan narkoba dari dalam penjara.

Di Venezuela, Penjara Tocorón selama bertahun-tahun menjadi pusat operasi Tren de Aragua, salah satu kelompok kejahatan terorganissasi terbesar di negara itu dan salah satu yang paling penting di Amerika Latin. Di bawah sistem pranato, pemimpin narapidana atau pranes memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan di dalam sejumlah penjara.

Héctor Guerrero Flores alias "Niño Guerrero" menjadikan Tocorón sebagai basis kekuasaannya. Di dalam kompleks tersebut terdapat kolam renang, lapangan bisbol, restoran, kasino, klub malam, dan kebun binatang dengan monyet serta flamingo. Ada pula terowongan yang menghubungkan penjara dengan dunia luar. Asociated Press melaporkan bahwa sekitar 200 perempuan dan anak-anak juga tinggal di dalam kompleks tersebut ketika pasukan pemerintah mengambil alihnya pada 2023.

Kehidupan di dalam Tocorón juga memiliki mekanisme ekonomi sendiri. Narapidana dikenai la causa, semacam pungutan yang harus dibayar untuk dapat tinggal di dalam kompleks. Menurut El País, jumlahnya sekitar 8–10 dolar AS per minggu. Pungutan itu menjadi salah satu sumber pembiayaan kekuasaan kelompok yang mengendalikan penjara.

Pada 20 September 2023, Pemerintah Venezuela mengerahkan sekitar 11.000 personel militer dan polisi untuk merebut kembali Tocorón. Pasukan menemukan berbagai fasilitas yang sebelumnya berada di bawah kendali kelompok kriminal. Namun, mereka tidak menemukan Niño Guerrero.

Sejumlah laporan menyebut pemimpin Tren de Aragua itu telah melarikan diri sebelum operasi melalui jaringan terowongan. Observatorio Venezolano de Prisiones juga menyampaikan dugaan tersebut. Pemerintah Venezuela mengonfirmasi bahwa Guerrero telah melarikan diri, tetapi membantah laporan bahwa operasi itu sebelumnya dinegosiasikan dengannya.

Kasus-kasus di berbagai penjara itu membuktikan bahwa ruang yang seharusnya membatasi kekuasaan justru dapat menjadi tempat kekuasaan baru.

Baca juga artikel terkait PENJARA atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi