tirto.id - Pablo Escobar sedang duduk bersama saudaranya, Gustavo, dan anaknya, Juan, ketika telepon berdering. Kabar yang datang begitu mendesak: istrinya segera melahirkan. Tanpa ragu, Pablo bangkit dan mengajak mereka menuju rumah sakit.
Di ruang tunggu, Pablo tampak gelisah. Tangannya tak henti bergerak. Matanya menatap kosong ke lantai. Gustavo yang duduk di sebelahnya mencoba menenangkan dengan lirih. Namun, ketegangan tetap menggantung di udara. Waktu berjalan lambat, seolah enggan berpindah.
Akhirnya, dokter muncul. Dengan senyum lebar ia menyampaikan kabar bahagia: bayi perempuan telah lahir. Pablo berdiri, matanya berbinar. Mereka pun segera menuju lift.
Saat pintu terbuka, tampak seorang perawat berdiri sambil menggendong bayi mungil yang masih merah. Di pergelangan tangan bayi itu terikat gelang kecil bertuliskan “Manuela Escobar”.
“Wajah ayah saya berseri-seri ketika melihatnya,” kenang Juan Pablo Escobar dalam bukunya, Pablo Escobar: My Father (2014:138).
Juan sendirilah yang memberikan nama "Manuela" untuk adik perempuannya yang lahir pada 25 Mei 1984 itu.
“Saya menyarankan [nama] "Manuela" untuk mengenang pacar pertama saya, salah satu teman sekolah saya di sekolah Montessori sebelum kami bersembunyi di Panama dan saya terpaksa putus sekolah,” sambungnya.
Manuela merupakan satu-satunya anggota keluarga inti yang tak pernah terlibat kejahatan apa pun. Ironisnya, ia justru yang paling menderita akibat warisan Pablo Escobar. Ia mesti berjuang seumur hidup untuk melawan nama yang jadi identitas sekaligus kutukan. Pilihan Manuela untuk menghilang total menjadi bukti paling kuat bahwa keluarga tersebut tak pernah benar-benar lepas dari masa lalu.
Masa Kecil dalam Sangkar Emas yang Terbakar
Masa kecil Manuela Escobar penuh dengan paradoks yang ekstrem. Di satu sisi, ia adalah "anak papa" yang hidup bergelimang harta, kemewahan, serta afeksi dari sang ayah. Akan tetapi di sisi lain, ayahnya adalah Pablo Escobar, pemimpin Kartel Medellín, salah satu penjahat paling kejam dalam sejarah.
Lingkungannya adalah kekacauan yang mewah. Kekayaan yang tak terbayangkan berjalan beriringan dengan bahaya yang konstan dan mengancam nyawa.
Kasih sayang Pablo yang luar biasa terhadap putrinya termanifestasi dalam kisah-kisah hingga menjadi legenda. Yang paling terkenal adalah saat ia membakar uang tunai senilai 2 juta dolar hanya untuk menjaga Manuela tetap hangat saat mereka bersembunyi di pegunungan Kolombia.
Ada pula kisah mengerikan ketika Manuela kecil menginginkan seekor unikorn. Demi menuruti kemauan putri tercintanya, Pablo membeli seekor kuda poni, lalu memerintahkan anak buahnya menancapkan sebuah kerucut di kepala kuda itu serta menempelkan sayap di punggungnya. Kuda itu kemudian mati karena infeksi.
“Salah satu cerita yang saya ingat dia ceritakan kepada Manuela adalah tentang seekor kuda istimewa yang ditungganginya untuk melarikan diri dari salah satu peternakan,” ujar saudara Pablo, Roberto Escobar, dalam buku Escobar: The Inside Story of Pablo Escobar, The World's Most Powerful Criminal (2009:228).
Kisah unikorn itu adalah metafora sempurna untuk masa kecil Manuela: manifestasi cinta yang dilakukan dengan cara apa pun, bahkan meski harus menempuh kekerasan dan kebrutalan.
Sejak dalam gendongan, kehidupan Manuela kecil penuh dengan serangkaian persembunyian, terus-menerus dalam pelarian, entah menghindari serangan polisi atau kartel saingan.
Pada 13 Januari 1988, sebuah bom mobil berisi 20 kilogram dinamit meledak di depan Edificio Mónaco, tempat tinggal keluarga Escobar.
Menurut memoar sang istri, Maria Victoria Henao, Mrs. Escobar: My life with Pablo (2018), ledakan itu membuat puing-puing runtuh hingga ke tempat tidur Manuela saat masih bayi. Serangan yang dilakukan oleh Kartel Cali tersebut tak pelak menyebabkannya mengalami gangguan pendengaran permanen di telinga kiri.
Bahaya serupa terus-menerus meneror Manuela hingga memaksanya berhenti sekolah. Akibatnya, ia dididik oleh tutor privat, terisolasi dari teman sebaya dan interaksi sosial yang normal.
Pencarian Suaka Pasca-1993
Kematian Pablo Escobar pada 2 Desember 1993 bukanlah akhir dari penderitaan keluarganya. Justru itu merupakan babak baru yang penuh penghinaan dan penolakan. Saat itu, Manuela baru berusia 9 tahun.
Dalam sekejap, mereka berubah dari keluarga kerajaan kartel menjadi "paria". Ada dua hal yang menandai label tersebut: perampasan kekayaan serta penolakan dari lingkungan sekitar bahkan dunia.
Untuk menyelamatkan nyawa dari kartel saingan yang haus balas dendam, María Victoria Henao terpaksa melakukan negosiasi langsung dengan musuh bebuyutan suaminya, Kartel Cali.
Harga untuk kelangsungan hidup mereka adalah penyerahan seluruh aset Pablo sebagai “rampasan perang”. Setelah dilucuti hartanya, dimulailah pencarian suaka yang panik dan putus asa. Mereka mencari negara mana pun yang mau menerima. Namun, pintu-pintu tertutup rapat.
Mereka melakukan persinggahan di Ekuador, Peru, dan Brasil, tetapi tidak ada yang menawarkan perlindungan permanen. Jerman bahkan secara terbuka menolak mereka. Upaya di Mozambik juga gagal.
“Hidup kami terancam di Kolombia dan kami tidak mampu melindungi diri dari kejahatan musuh-musuh kami,” tutur Victoria Escobar, dikutip dari Los Angeles Times (01/12/1993).
Pernah ada proposal rahasia yang diajukan oleh jaksa agung Kolombia kepada pemerintah Inggris. Proposal itu menyatakan bahwa Pablo Escobar bersedia menyerah jika keluarganya, termasuk Manuela, diberi suaka di Inggris sebagai “tujuan pilihan”.
Namun, pemerintah Inggris menolak keras. Memo internal Whitehall (sebutan lain untuk pemerintahan Inggris) mencap Escobar sebagai teroris dan pedagang narkoba kejam. Mereka bahkan memperingatkan bahwa kekerasan bisa mengikuti keluarganya ke Inggris.
Bagi Manuela yang masih anak-anak, penolakan resmi yang berulang kali itu menjadi pelajaran penting tapi menyakitkan, serta secara langsung melandasi keputusannya di kemudian hari untuk menghapus identitasnya.
Setelah ditolak di hampir seluruh dunia, Manuela dan sisa keluarga berhasil memasuki Argentina sebagai turis pada Malam Natal 1994. Negara itulah yang akhirnya menerima mereka untuk menetap di bawah identitas baru.
Pelarian dan Identitas Baru
Antara tahun 1995 dan 1999, di jalan-jalan Buenos Aires, sebuah keajaiban kecil terjadi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Manuela Escobar merasakan kehidupan normal. Di bawah identitas baru yang diberikan melalui perjanjian suaka dengan Argentina, ia menjadi Juana Manuela Marroquín Santos. Nama tersebut bukan sekadar alias; itu adalah janji akan masa depan yang bebas dari masa lalu.
Kehidupan Juana adalah antitesis dari kehidupan Manuela. Di Kolombia, ia hidup dalam kemewahan berdarah dan isolasi. Di Argentina, kehidupannya jauh dari mewah. Bahkan, untuk bisa disebut sebagai kelas menengah, mereka masih harus berjuang setengah mati.
Namun, dalam kesederhanaan itu, Manuela menemukan hal yang tidak pernah bisa dibeli oleh uang ayahnya: stabilitas. Ia meninggalkan dunia tutor privat dan pengasingan untuk masuk ke sekolah sungguhan. Ia memiliki rumah dan yang terpenting, ia punya banyak teman sebaya, terutama di gedung apartemen tempatnya tinggal.
Identitas baru Manuela mewakili kemungkinan untuk menjadi seseorang yang lain, gadis remaja biasa dengan harapan dan impian biasa.
Namun, di balik ketenangan itu, rasa takut diam-diam mengalir. Masih seturut memoar ibunya, Victoria, kehidupan Manuela dan keluarganya digambarkan seperti penjara. Bisa dibilang, penjara psikologis itu tidak pernah benar-benar berakhir.
Kedamaian yang rapuh itu terbukti hancur berkeping-keping ketika pada 1999 seorang akuntan mengungkap identitas mereka. Peristiwa ini menjadi titik balik tunggal yang paling menentukan dalam kehidupan dewasa Manuela.
Ibu dan kakak Manuela, Sebastián Marroquín (Juan Pablo Escobar), ditangkap di Buenos Aires atas dugaan pencucian uang, pemalsuan dokumen publik, dan persekongkolan tidak sah. Meskipun akhirnya dibebaskan karena kurangnya bukti, kerusakan yang tak dapat diperbaiki telah terjadi.
Penangkapan itu menghancurkan lima tahun anonimitas mereka. Identitas asli mereka menjadi berita utama internasional. Surat kabar Kolombia, El Tiempo, secara spesifik mengungkap identitas baru mereka dan lokasi Manuela: tinggal sebagai Juana Marroquín di apartemen nomor 17 di gedung Jaramillo, Buenos Aires. Dunia telah menemukannya.
Meskipun tidak ditangkap dan dituduh melakukan kejahatan apa pun, bagi Manuela, peristiwa itu membawa dampak yang dahsyat. Ketakutan yang telah ia tekan selama bertahun-tahun muncul kembali dengan kekuatan penuh.
Manuela kembali menjadi remaja yang ketakutan. Ia menolak kembali ke sekolah dan memilih untuk belajar di rumah. Peristiwa itu adalah katalisator untuk penarikan dirinya yang total dan permanen dari dunia. Menurut kakaknya, sejak 1999 itulah Manuela menderita episode depresi berat.
Dunia hanya akan pernah melihatnya sebagai Manuela Escobar. Trauma masa kecil dan beban nama keluarga yang tercemar membuat Manuela memilih untuk mengisolasi diri dari dunia luar.
Hidup dalam Persembunyian
Sejak 1999 hingga hari ini, Manuela menjalani kehidupan yang sangat tertutup, menghindari media sosial dan segala bentuk paparan publik. Tidak ada wawancara atau pernyataan publik yang pernah dibuat oleh Manuela sejak kematian ayahnya.
Keberadaannya adalah sebuah paradoks. Seorang wanita yang namanya dikenal jutaan orang, tetapi wajah dan kehidupannya tetap menjadi misteri total. Ia dilaporkan tinggal bersama kakaknya, yang merawatnya karena masalah kesehatan.
Menurut Sebastián, sejak identitasnya diketahui publik pada 1999, Manuela hidup dalam ketakutan yang konstan, bahwa siapa pun yang mengetahui identitasnya akan mengaitkannya dengan kejahatan sang ayah, dan suatu hari nanti, orang-orang yang dicintainya akan membayar dosa-dosa ayahnya dengan nyawa mereka sendiri.
Jalan hidup Manuela kontras dengan anggota keluarganya yang lain. Sebastián membangun karier sebagai arsitek, penulis, dan advokat perdamaian, sembari menggaungkan pesan anti-narkoba. Ibunya juga telah melangkah ke depan publik melalui memoarnya. Manuela, di sisi lain, memilih keheningan mutlak. Isolasinya merupakan wujud nyata kehancuran yang ditinggalkan Escobar.
Setelah masa kecilnya yang penuh dengan perpaduan cinta dan teror, pelarian yang traumatis, serta harapan palsu akan identitas baru yang dihancurkan, Manuela (barangkali) sampai pada kesimpulan mengerikan: satu-satunya cara untuk mencapai kedamaian adalah dengan tidak menampakkan diri sama sekali.
Keheningannya bukanlah kekosongan. Dia adalah hantu yang menghantui narasi Escobar, pengingat abadi bahwa beberapa dosa tidak akan pernah bisa sepenuhnya ditinggalkan. Manuela berhasil mencapai tujuannya untuk hidup di luar bayang-bayang ayahnya dan membangun identitas yang sepenuhnya terpisah dari warisan kelam keluarganya.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id
































