Mozaik

Kemiskinan Sudah Naik Seleher, Pasangan Ini Menjual Anak-anaknya

Reporter: Ali Zaenal, tirto.id - 21 Jan 2024 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Depresi Besar yang menhantam AS menyeret warganya dalam keputusasaan, salah satunya yang dilakukan Ray Chalifoux dan sang istri yang menjual anak-anaknya.
tirto.id - Suatu hari di tahun 2012, saat sedang berselancar di internet, David McDaniel melihat profil dua kakak kandungnya, RaeAnn dan Sue Ellen, di Facebook. Ia mengintip beberapa profil dan unggahannya, lalu menemukan foto lama di mana dirinya ada dalam foto itu.

Seketika ia mencari alamat salah satu kakaknya, lalu menulis surat dan meneleponnya beberapa hari kemudian.

Saat remaja, ia pernah bertemu RaeAnn dan kakak kandungnya yang lain, Milton, yang kerap berhubungan setiap hari melalui telepon. Sementara kakaknya yang lain, Lana, belum ia temukan.

David yang berprofesi sebagai pengemudi truk lantas mengatur pertemuan. Ini adalah rencana pertemuan setelah pengalaman masa kecil yang mengerikan saat dipisahkan oleh orang tua yang menjual mereka pada tahun 1948.

Reuni keluarga yang mengharukan itu terjadi di musim gugur di Seattle, Washington.

Setahun kemudian, Sue Ellen yang tengah menderita penyakit paru berhasil dipertemukan dengan RaeAnn melalui anak-anak mereka.

David dan saudara-saudarnya merupakan bagian dari kisah tragis sebuah keluarga di Chicago pada 1948. Orang tua mereka menghadapi penggusuran dan terpaksa menjual anak-anaknya, menjadi tengara keputusasaan yang dihadapi beberapa keluarga pada masa Depresi Besar.


4 Children for Sale

David masih dalam kandungan ibunya saat iklan bertajuk "4 Children for Sale" pertama kali muncul di Vidette-Messenger, sebuah surat kabar lokal berbasis di Valparaiso, Indiana, pada 5 Agustus 1948, dan diedarkan secara luas pada minggu berikutnya.

Foto iklan yang identitas fotografernya tak diketahui itu menunjukkan ibu mereka, Lucille Chalifoux, menghindari kamera dengan menutup wajahnya. Sedangkan anak-anaknya duduk di tangga rumah dengan tanda "4 Children for Sale, Inquire Within" yang terpampang di depan rumah.

Surat kabar itu memberikan keterangan:

“Tanda 'Dijual' besar-besaran di halaman Chicago menceritakan kisah tragis Tuan dan Nyonya Ray Chalifoux, yang menghadapi penggusuran dari apartemen mereka. Karena tidak ada tempat untuk mencari nafkah, sopir truk batu bara yang menganggur dan istrinya memutuskan untuk menjual keempat anaknya. Nyonya Lucille Chalifoux menoleh dari kamera di atas sementara anak-anaknya menatap dengan heran. Di anak tangga teratas adalah Lana, 6, dan Rae, 5. Di bawah adalah Milton, 4, dan Sue Ellen, 2.”

Pekan berikutnya, foto itu diedarkan secara luas di surat kabar lokal lainnya di Texas, Iowa, Ohio, Wisconsin, New York, dan Pennsylvania. Setelah foto tersebut dipublikasikan, tawaran pekerjaan, rumah, dan bantuan keuangan mengalir deras untuk keluarga Chalifoux.

Pada mulanya banyak anggapan ibu mereka dibayar untuk melakukan adegan foto tersebut demi menggalang sebuah cerita dan empati untuk mendapatkan uang.

Namun menurut RaeAnn dalam sebuah wawancara dengan The Times of Northwest Indiana, memang pada akhirnya setelah iklan di koran itu muncul, orang-orang mencoba membantunya dengan memberikan sumbangan dan uang, termasuk bantuan pemerintah, namun orang tuanya menolak semua itu.

Orang tuanya benar-benar serius untuk menjual anak-anaknya karena dihinggapi masalah ekonomi. Sang ayah, Ray Chalifoux, menghadapi pengangguran akibat PHK yang menjalar di masa akhir Depresi Besar.

Ditambah menghadapi pengusiran dari apartemen tanpa menemukan tempat untuk berpaling. Akhirnya semua anak dalam foto, serta bayi yang dikandung Lucille saat itu, berhasil dijual ke rumah yang berbeda dalam kurun waktu dua tahun.


Masa Kecil Traumatis

Pengalaman mengerikan yang dialami anak-anak yang dijual, termasuk pelecehan dan perpisahan, menjelaskan dampak jangka panjang dari peristiwa traumatis terhadap kehidupan mereka.

Emosi yang kompleks dan sudut pandang yang berbeda dari anggota keluarga yang terlibat, menunjukkan penderitaan dan perjuangan yang berkepanjangan akibat keputusan untuk menjual anak-anak tersebut.

Lana, anak paling besar tidak diketahui keberadaannya hingga dikabarkan meninggal pada tahun 1998. Keluarga besarnya kini sering berkontak balik dengan yang lainnya melalui media sosial.

Sementara RaeAnn yang lahir di kediaman ibunya di Chicago Selatan dijual hanya dengan harga $2 kepada keluarga John dan Ruth Zoeteman pada 27 Agustus 1950. Milton yang menangisi kepergian kakaknya ikut dibawa. Keduanya tidak memiliki surat adopsi resmi.

Nama mereka kemudian diganti. RaeAnn menjadi Beverly dan Milton menjadi Kenneth. Sayangnya, mereka malah diperlakukan sangat kasar oleh keluarga Zoetaman. Mereka dijadikan pekerja di ladang dan perkebunan.

Pada waktu-waktu tertentu, mereka kerap dirantai dan diperlakukan layaknya budak.

Ketika RaeAnn beranjak remaja, ia pernah diculik dan diperkosa, lantas dikirim ke pondok khusus yang merawat ibu hamil di luar nikah yang berada di Michigan. Saat bayi perempuannya lahir, ia sempat merawatnya sebentar sebelum bayinya diambil dan diadopsi tanpa kemampuannya untuk melawan.

Sedangkan Milton sering dipukuli ayah angkatnya yang memanggilnya "budak di ladang pertanian". Saat pekerjaan dianggap tidak memuaskan, ia akan dikurung dan diikat berhari-hari dengan sedikit makanan berupa selai dan susu.

Saat pelecehan dan pemukulan terus terjadi, Milton berhasil kabur dan mendapatkan perlindungan dari keluarga lain yang memberinya pekerjaan pengiriman telur. Sayangnya, ia memiliki emosi yang sering tidak terkendali saat bertengkar dengan petugas polisi yang dilemparkannya ke sebuah pohon.

Milton disidang dan diberi pilihan hukuman untuk memilih rumah sakit jiwa atau panti asuhan. Karena sering mendengar kisah horor di panti, Milton memilih rumah sakit jiwa, sekaligus jadi tempat terapinya untuk mengendalikan diri.

Nasib baik dialami David yang lahir pada 26 September 1949 dengan nama Bedford Chalifoux saat diadopsi keluarga Harry McDaniel dan istrinya, Luella, pada 16 Juli 1950. Kedua pasangan itu tidak memiliki keturunan dan mengganti namanya menjadi David McDaniel.

Dia tinggal di Wheatfield, beberapa kilometer dari kediaman keluarga Zoeteman dan diperlakukan sangat baik dengan nilai moral serta bekal keluarga Harry yang cukup taat pada ajaran Kristen.

Entah bagaimana David mengenal dan mengetahui nasib saudara-saudaranya yang diperlakukan buruk oleh keluarga Zoeteman. Sebagai anak yang berjiwa berontak, ia kerap mengunjungi mereka dengan sepeda atau kuda dan melepaskan rantai, lantas pergi sebelum dia ditangkap.

“Mereka dilecehkan dengan parah,” tuturnya kepada Vanessa Renderman dari Times Media Co.


Sudut Pandang Terhadap Orang Tua

Beberapa dari kakak-beradik ini bertemu kembali di kemudian hari melalui media sosial, saling melepas rindu, sekaligus belajar akan kepedihan yang mereka alami untuk dijadikan pengajaran pada anak cucu mereka.

Sebagian mereka sang ibu menjual mereka demi keuntungan pribadi, sementara yang lain berbicara tentang kurangnya kasih sayang dan mengungkapkan kebencian serta ketidakpedulian.

Beberapa pernah mencoba menemui ibunya yang menikah lagi dan memiliki empat anak perempuan yang dirawat dengan baik.

David yang menemui ibunya pada awal tahun 1980-an, menyebut ibunya mengatakan ia mirip dengan ayahnya. Sang ibu sama sekali tidak pernah meminta maaf atau menyatakan penyesalan.

Hal serupa dialami Milton yang menemui ibunya pada tahun 1970. Ia bahkan menginap selama sebulan sebelum akhirnya pergi karena muak dengan pertengkaran ibunya dengan suami keduanya.

Infografik Mozaik 4 Children For Sale
Infografik Mozaik 4 Children For Sale. tirto.id/Fuad


Sementara nasib ayah kandungnya dikonfirmasi RaeAnn masih hidup, padahal ibunya pernah mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal saat mereka remaja. Dia kemudian menyebutkan jika ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan kerja pada tahun 1977.

Lima anak "Children for Sale" ini banyak menyimpan perasaan campur aduk terhadap kedua orang tua mereka. Ada yang menyatakan telah memberi maaf, ada pula yang berharap ibunya berada di neraka seperti yang diutarakan Sue Ellen.

Dia harus terbakar di neraka,” ujarnya.

Pada Desember 2017, Sue Ellen meninggal dalam usia 67 tahun.


Milton, setelah pindah ke Chicago dan menikah, akhirnya menetap di Tucson, Arizona, karena alasan kesehatan. Dia hanya bertemu ibu kandungnya satu kali karena kerap menghadapi penolakan untuk bertemu kembali.

Ia kemudian mengetahui anak kandungnya yang telah diadopsi pada usia 5 tahun. Mereka pernah bertemu. Anaknya itu, Thomas Chalifoux, telah melalui berbagai proses panjang untuk menemukan potongan-potongan cerita asal dan garis keturunannya.

Dia menemukan ibu kandungnya, saudara-saudara kandung, dan kisah tragis keluarga besarnya. Meskipun menghadapi masa kecil yang sulit, Thomas kagum dengan keberhasilan ayah kandungnya bertahan hidup. Dia mencoba terhubung dengan bibi dan pamannya, mencoba untuk mengisi bagian-bagian yang hilang dalam kisah hidup mereka.

“Ini adalah peristiwa nyata. Perlu diketahui bahwa ini benar-benar terjadi,” ujar Thomas.

Sedangkan RaeAnn sering menghadapi kesulitan mengenang masa kecilnya yang mengalami pelecehan. Ia masih penasaran akan keberadaan bayi perempuannya yang diadopsi secara paksa. Meski begitu, ia tetap tangguh dan fokus untuk berhubungan kembali dengan sisa keluarganya. Ia menemukan kasih sayang bersama keluarga, meskipun masa lalunya penuh kepedihan.

Begitu juga David yang dibantu putra RaeAnn dalam upaya membangun hubungan baru dengan kerabat dekat yang lain.

Baca juga artikel terkait MOZAIK atau tulisan menarik lainnya Ali Zaenal
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight