Menuju konten utama
Mozaik

Eugene Weidmann, Eksekusi Guillotine Terakhir di Ruang Publik

Saat Eugene Weidmann dipenggal, penonton berperilaku seperti sedang menghadiri festival. Hal ini kemudian mendorong hukuman mati di ruang publik dihapuskan.

Eugene Weidmann, Eksekusi Guillotine Terakhir di Ruang Publik
Eugene Weidmann. wikimedia/Jebulon
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada 1937, Paris menggelar pameran internasional yang bertajuk “Pameran Seni dan Teknik dalam Kehidupan Modern”. Acara yang berlangsung mulai 25 Mei hingga 25 November ini dipenuhi wisatawan dari berbagai negara. Hal ini dimanfaatkan Eugene Weidmann dan komplotannya yang baru lolos dari penjara untuk kembali melakukan aksi kejahatan.

Memasuki bulan Juli 1937, Weigmann bertemu dengan Jean de Koven, seorang penari balet berusia 22 tahun dari Brooklyn, New York, yang sedang mengunjungi bibinya di Paris.

Weidmann yang tinggi dan fasih berbahasa Inggris serta Prancis, tampil sebagai seorang pria terpelajar yang memesona. Dalam penyamarannya, ia kerap memperkenalkan diri dengan nama Siegfried Sauerbrey, Bobby, atau Karrer.

Menurut majalah Life edisi 3 Januari 1938, Weidmann memperkenalkan dirinya sebagai penerjemah pameran, dan de Koven langsung terpesona. 23 Juli 1937, de Koven meninggalkan hotel dengan kameranya, memberi tahu bibinya, Ida Sackheim, bahwa ia akan kembali pukul 8 malam untuk pergi ke opera.

“Kami naik kereta pukul 4, dan Jean senang, sangat senang,” ujar Weigmann dalam pengakuannya, dilansir The New York Times edisi 11 Desember 1937.

Ketika keduanya bertemu di vila Saint-Cloud, Weidmann memberinya segelas susu. Setelah itu, Weidmann membius dan mencekiknya hingga tewas dan mengubur tubuhnya di halaman teras vila. Weidmann juga mencuri cek dan uang tunai 635 dolar AS dari de Koven.

Meskipun de Koven sudah tewas, geng Weidmann tetap menghubungi bibinya, meminta 500 dolar sebagai tebusan. Polisi Paris pada awalnya tidak menganggap serius laporan bibinya, bahkan menuduhnya melakukan trik publisitas.

Baru setelah cek perjalanan de Koven dicairkan dengan tanda tangan palsu, polisi mulai menyelidiki dengan serius. Namun sudah terlambat, pada 8 Desember 1937, Jean de Koven telah ditemukan sebagai mayat.

Ia adalah korban pertama dari serangkaian pembunuhan mengerikan.

Lahirnya Geng Pembunuh

Eugene Weidmann lahir pada 5 Februari 1908 di Frankfurt am Main, Jerman, dalam sebuah keluarga yang cukup berada. Ayahnya pengusaha ekspor sekaligus anggota Partai Nazi Jerman.

Weidmann kecil menjalani masa awal kehidupannya dengan pendidikan layak di sekolah Frankfurt. Namun, Perang Dunia I mengubah segalanya. Ketika perang pecah, Weidmann masih anak-anak dan dikirim untuk tinggal bersama kakek-neneknya. Di bawah asuhan mereka, tanpa pengawasan ketat dari orang tua, Weidmann mulai mencuri. Kebiasaan buruk ini menjadi benih pertama dari kehidupan kriminalnya.

Warsa 1926, dalam usia 18 tahun, ia meninggalkan Jerman menuju Kanada. Dia bergabung dengan geng dan terlibat dalam perampokan seorang petugas penggajian di Saskatchewan. Weidmann ditangkap, dijatuhi hukuman penjara satu tahun, dan dideportasi kembali ke Eropa.

Setelah kembali ke Jerman pada awal 1930-an, Weidmann kembali melakukan kejahatan dan menjalani hukuman lima tahun di penjara Saarbrücken atas tuduhan perampokan. Dalam penjara inilah nasib Weidmann berubah secara dramatis. Ia bertemu dengan dua pria yang akan menjadi mitra kejahatannya: Roger Million dan Jean Blanc.

Setelah dibebaskan, mereka datang ke Paris pada Maret 1937 dan sepakat untuk bekerja sama menculik turis-turis kaya yang berkunjung ke Prancis, kemudian mencuri uang mereka. Untuk keperluan itu, mereka menyewa sebuah vila di Saint-Cloud, dekat Paris.

Eugene Weidmann

persidangan Eugène Weidmann, seorang warga Jerman. Eksekusi Weidmann pada 16 Juni 1939 di depan penjara Saint-Pierre di Versailles merupakan eksekusi publik terakhir di Prancis. Foto/ AFP

Rangkaian Pembunuhan yang Mengerikan

Geng Eugene Weidmann terdiri dari beberapa anggota dengan peran berbeda. Weidmann berperan sebagai otak dan eksekutor utama yang melakukan pembunuhan dan penganiayaan terhadap korban.

Kaki tangan utama dalam geng ini adalah Roger Million yang membantu dalam penculikan, perampokan, dan sebagian pembunuhan. Sementara Jean Blanc berperan sebagai seseorang yang menyembunyikan para anggota geng dari kejaran polisi, dan membantu dalam pengelolaan barang curian. Satu orang lagi ialah Colette Tricot, kekasih Roger Million, yang bertugas mencairkan cek perjalanan yang dicuri dari korban.

Setelah membunuh korban pertamanya, Jean de Koven, mereka melanjutkan aksi dengan metode yang hampir serupa.

Pada 1 September 1937, Weidmann menyewa seorang sopir bernama Joseph Couffy untuk mengantar ke French Riviera. Di sebuah hutan di luar Tours, Weidmann menembak Couffy di bagian belakang leher, cara pembunuhan yang akan menjadi ciri khasnya. Ia berhasil mencuri mobil serta 2.500 franc milik sang sopir.

“Si pembunuh berusaha menunda penemuan jasad dengan menutupi kepala korban dengan koran, sehingga korban tampak seperti sedang tidur. Motifnya tampaknya perampokan karena kantong korban kosong,” tulis jurnalis Tom Tullet dalam bukunya Inside Interpol (1965:201).

Dua hari kemudian, pada 3 September, Weidmann dan Million memikat Janine Keller, seorang perawat swasta, ke sebuah gua di hutan Fontainebleau dengan tawaran pekerjaan sebagai pengasuh anak. Di sana, Weidmann kembali menembak korbannya di tengkuk, mencuri 1.400 franc dan cincin berlian.

Pada 16 Oktober, Weidmann dan Million mengatur pertemuan dengan Roger LeBlond, seorang produser teater muda, dengan janji akan menginvestasikan uang di salah satu pertunjukannya. Alih-alih investasi, LeBlond mendapat peluru di belakang kepala, dan dompetnya yang berisi 5.000 franc dirampas.

Korban kelima adalah Fritz Frommer, seorang pemuda Jerman yang pernah bertemu Weidmann di penjara. Frommer, seorang Yahudi, telah ditahan karena pandangan anti-Nazi. Pada 22 November, Weidmann membunuh dan merampok Frommer, mengubur tubuhnya di ruang bawah tanah vila Saint-Cloud, tempat yang sama di mana tubuh de Koven dikubur.

Lima hari kemudian, Weidmann melakukan pembunuhan terakhirnya. Raymond Lesobre, seorang agen real estat, ditembak dengan cara yang sama saat sedang menunjukkan sebuah rumah di Saint-Cloud kepada Weidmann. Lima ribu franc diambil dari korban. Namun, kejahatan terakhir ini justru menjadi kesalahan fatal saat ia meninggalkan kartu bisnisnya di kantor Lesobre.

Persidangan Sensasional di Versailles

Pada 8 Desember 1937, ketika Weidmann tiba di rumahnya, dua petugas kepolisian sudah menunggu. Dengan tenang, ia mengundang mereka masuk, namun kemudian tiba-tiba berbalik dan menembakkan pistolnya tiga kali ke arah mereka.

Meskipun terluka, kedua petugas Sûreté berhasil bergulat dengan Weidmann dan membuatnya pingsan dengan palu yang kebetulan ada di dekatnya. Setelah ditangkap, Weidmann menjadi tahanan yang sangat kooperatif.

Menurut Jay Rovert Nash dalam Great Pictorial History of World Crime: Murder (2004:684), ia mengaku melakukan semua pembunuhannya, dan hanya menyesali pembunuhan Jean de Koven.

Persidangan Weidmann, bersama dengan Roger Million, Jean Blanc, dan Colette Tricot, dimulai di Versailles pada Maret 1939. Dalam persidangan, juri harus menjawab delapan puluh pertanyaan setelah lima jam bermusyawarah.

Weidmann dinyatakan bersalah atas pembunuhan berencana dalam empat kasus terpisah: pembunuhan sopir Couffy, LeBlond, Janine Keller, dan Fritz Frommer. Sementara pembunuhan de Koven dianggap tidak direncanakan sebelumnya.

“Saya bersalah, sangat bersalah. Saya menawarkan kepada Anda semua yang dapat saya tawarkan—hidup saya,” tulis Janet Planer menggambarkan pengakuan Weidmann di persidangan.

Robert Million dinyatakan bersalah sebagai kaki tangan dalam pembunuhan Keller dan LeBlond. Jean Blanc menerima hukuman penjara dua puluh bulan karena menyembunyikan Million dari polisi, sementara Colette Tricot dibebaskan dari semua tuduhan.

Kontras antara kedua terpidana utama sangat mencolok. Weidmann tetap diam dan tenang, sementara Million, dengan mata liar, berteriak menyatakan ketidakbersalahannya saat pengadilan menjatuhkan vonis sesaat sebelum tengah malam.

“Jangan menghukum saya. Saya tidak bersalah. Saya hanya alat di tangan Weidmann,” teriaknya pada hakim.

Namun, juri tidak terpengaruh. Baik Weidmann maupun Million dijatuhi hukuman mati, meskipun vonis Million kemudian diubah menjadi penjara seumur hidup.

Eugene Weidmann.

Eugene Weidmann. wikimedia/publik domain/Euronews

Eksekusi Publik Terakhir

Pada pagi 17 Juni 1939, Weidmann dibawa keluar dari Penjara Saint-Pierre di Versailles. Penonton pertama mulai berdatangan setelah tengah malam, berharap mendapat tempat terbaik. Karena eksekusi biasanya dilakukan sebelum matahari terbit.

Namun, karena keramaian yang menunda persiapan, eksekusi tertunda hingga setelah fajar. Pada saat itulah, Weidmann muncul dari penjara. Seturut Herald Tribune edisi 18 Juni 1939, matanya terpejam erat, wajahnya memerah, dan pipinya cekung, tangannya diikat di belakang punggung, dan kemeja biru tipisnya telah dipotong di bagian dada dan leher, memperlihatkan kulit putih yang kontras dengan kayu gelap mesin guillotine.

Algojo kepala Jules-Henri Desfourneaux dan asistennya, Georges Martin dan Henri Sabin, bersiap untuk melakukan tugasnya. Karena papan guillotine tidak berfungsi dengan benar, mereka harus mendorong Weidmann ke depan agar lehernya berada pada posisi yang tepat.

Sepuluh detik kemudian, pisau guillotine jatuh, dan kepala Weidmann terpenggal. Sekali lagi jepretan film merekam momen eksekusi itu, dan pada keesokan harinya, foto-foto statis muncul di hampir semua surat kabar Prancis.

Namun, yang paling mengejutkan bukanlah eksekusinya, melainkan perilaku kerumunan. Penonton berperilaku seperti sedang menghadiri festival, bukan sebuah tindakan keadilan yang khidmat.

Laporan di surat kabar Paris-Soir yang diterbitkan sehari setelah eksekusi menggambarkan penonton sebagai kerumunan “yang menjijikkan”, “tidak terkendali”, “berdesak-desakan, berteriak, bersiul”.

Menurut Christopher Lee, aktor muda berusia 17 tahun yang hadir sebagai tamu jurnalis Webb Miller, ada gelombang kuat teriakan dan jeritan saat menyambut kemunculan Weidmann. Ia yang kemudian menjadi legenda akting dengan peran Dracula-nya, mengakui tidak sanggup menyaksikan eksekusi itu.

“Saya memalingkan kepala, tapi saya mendengar,” katanya dalam sebuah wawancara dokumenter tahun 1998.

Dalam autobiografinya, Lee menggambarkan bagaimana penonton bergegas ke arah mayat dan tidak ragu mencelupkan sapu tangan dan syal dalam darah yang berceceran di trotoar.

Seorang saksi lain, Marcel, yang berusia 15 tahun saat itu, menggambarkan adegan serupa dalam wawancara dengan AFP tahun 2001. Guillotine dengan cepat dibongkar, trotoar dengan cepat dicuci dengan air, dan kehidupan kembali seperti biasa dengan lewatnya trem pertama dan dibukanya kembali dua kafe.

Penghapusan Guillotine dan Hukuman Mati

Hari-hari setelah eksekusi Weidmann, pers dan pemerintah mengekspresikan kemarahan yang meningkat terhadap cara kerumunan berperilaku. Alih-alih eksekusi publik berfungsi sebagai pencegah kejahatan, tetapi kenyataannya penonton lebih menganggapnya sebagai hiburan daripada pelajaran moral.

Menurut Paul Friedland dari Pusat Studi Eropa di Universitas Harvard, pada abad pertengahan, penonton menganggapnya sebagai upacara religius, sementara di era modern awal mereka membawa teropong dan makanan ringan seperti menonton pertunjukan.

Presiden Prancis Albert Lebrun, yang lama menentang hukuman mati, sama terkejutnya dengan media terhadap fenomena ini. Dalam sebuah dekrit pada 24 Juni 1939, hanya seminggu setelah eksekusi Weidmann, pemerintah memutuskan bahwa semua eksekusi di masa depan akan dilakukan secara tertutup di dalam dinding penjara, hanya disaksikan oleh pejabat termasuk hakim, dokter, polisi, dan pendeta. Dengan demikian, berakhirlah tradisi eksekusi publik yang telah berlangsung selama seribu tahun di Prancis.

Meskipun eksekusi publik telah dihapuskan, guillotine sendiri digunakan di balik dinding penjara Prancis. Tiga eksekusi guillotine terakhir di Prancis sebelum penghapusan hukuman mati adalah eksekusi Christian Ranucci (28 Juli 1976) di Marseille, Jérôme Carrein (23 Juni 1977) di Douai, dan Hamida Djandoubi (10 September 1977) di Marseille. Djandoubi, seorang imigran Tunisia yang dihukum karena menyiksa dan membunuh pacarnya, menjadi orang terakhir yang dieksekusi dengan guillotine di Prancis, dan juga di seluruh dunia.

Hukuman mati secara resmi dihapuskan di Prancis pada 9 Oktober 1981, setelah pemilihan François Mitterrand sebagai presiden. Robert Badinter, Menteri Kehakiman pada saat itu, berperan kunci dalam penghapusan ini.

Badinter, seorang pengacara yang telah berkampanye melawan hukuman mati setelah salah satu kliennya dipenggal dengan guillotine pada 1970-an, memberikan pidato bersejarah di hadapan Majelis Nasional pada 17 September 1981.

“Besok, berkat Anda, keadilan Prancis tidak akan lagi menjadi keadilan yang membunuh,” katanya. “Besok, berkat Anda, tidak akan ada lagi, untuk aib kita bersama, eksekusi sembunyi-sembunyi, saat fajar, di bawah kanopi hitam, di penjara-penjara Prancis. Besok, halaman-halaman berdarah dalam sejarah keadilan kita akan terputar.”

Penghapusan hukuman mati kemudian dimasukkan ke dalam Konstitusi Republik Kelima melalui Undang-Undang Konstitusional tanggal 23 Februari 2007.

Pada Oktober 2025, Robert Badinter dikebumikan di Panthéon, makam para tokoh sejarah Prancis, sebagai penghormatan atas jasanya dalam mengakhiri hukuman mati.

Baca juga artikel terkait HUKUMAN MATI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi