Menuju konten utama
Mozaik

Jejak Relasi Mossad-Maroko dalam Spekulasi Krisis Ceuta

Maroko punya kedekatan khusus dengan Israel sejak lama. Itulah yang melatarbelakangi hipotesis para analis terkait keterlibatan Mossad dalam konflik Ceuta.

Jejak Relasi Mossad-Maroko dalam Spekulasi Krisis Ceuta
Bendera Israel dan Maroko. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - September 1965, para pemimpin negara-negara Arab tiba di Casablanca, Maroko, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab. Raja Hassan II, sebagai tuan rumah, menyambut perwakilan Mesir, Suriah, Yordania, dan negara Arab lainnya.

Di tengah ketegangan politik Asia Barat, mereka berkumpul di Hotel Mansour untuk membahas kesiapan militer menghadapi Israel. Mereka membeberkan kekuatan pasukan, persenjataan, hingga strategi menghadapi kemungkinan perang.

Informasi rahasia tersebut ternyata sampai ke telinga Israel. Ada beberapa versi mengenai mekanisme kebocorannya. Mantan perwira intelijen Israel, Rafi Eitan, mengatakan bahwa tim gabungan Mossad dan Shin Bet semula mendapat akses untuk menyadap pertemuan. Namun, karena Hassan II khawatir keberadaan mereka diketahui oleh para tamunya dan meminta tim Israel meninggalkan hotel, intelijen Maroko mengambil alih penyadapan. Mereka merekam pembicaraan, lalu menyerahkan dokumen dan rekamannya kepada Israel.

Informasi tersebut memperlihatkan kelemahan militer dan ketidaksatuan strategi negara-negara Arab. Militer Israel kemudian mempelajarinya sebagai bagian dari informasi intelijen menjelang Perang Enam Hari pada 1967.

Enam puluh satu tahun kemudian, perhatian kembali tertuju ke Maroko. Pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026, sekitar 72.000 orang berbondong-bondong menuju kota perbatasan Fnideq, berusaha menyeberang ke Ceuta, wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara. Gelombang kedatangan itu membuat fasilitas penerimaan Ceuta penuh sehingga pemerintah lokal meminta Madrid menetapkan status darurat nasional.

Di tengah berbagai pertanyaan mengenai pemicu krisis tersebut, pengamat politik bernama Nadia Helmy menerbitkan analisis di Modern Diplomacy pada 2 Agustus 2026. Salah satu hipotesis yang dibahasnya menyentuh kemungkinan peran badan intelijen asing, termasuk Mossad dan CIA.

Belum ada bukti yang menguatkan dugaan keterlibatan keduanya. Namun, munculnya nama Mossad membuka pertanyaan lain: mengapa badan intelijen Israel dikaitkan dengan krisis yang melibatkan Maroko?

Hubungan Rahasia Maroko dan Israel Jauh Mendahului Normalisasi

Kerja sama intelijen Maroko dan Israel bermula dari persoalan emigrasi. Setelah Maroko merdeka dari Prancis pada 1956, komunitas Yahudi yang berjumlah ratusan ribu orang menghadapi situasi politik tidak menentu. Nasionalisme Arab dan sentimen anti-Zionisme menguat, sementara pemerintah Maroko di bawah Raja Muhammad V melarang emigrasi warga Yahudi ke Israel.

Menurut catatan Michael M. Laskier, dalam North African Jewry in the Twentieth Century: The Jews of Morocco, Tunisia, and Algeria (1994: 204), Mossad kemudian membangun jaringan bawah tanah untuk membantu mereka keluar dari Maroko.

“Jika rencana perjalanan mengharuskan penggunaan jalur darat, para emigran akan dikawal oleh penyelundup dari Tangier atau Tetuan melintasi perbatasan utara menuju wilayah kantong Spanyol di Ceuta,” tulis Laskier.

Pada 10 Januari 1961, upaya tersebut berujung tragedi tenggelamnya kapal Egoz di perairan utara Maroko bersama 44 emigran Yahudi. Peristiwa itu meningkatkan tekanan internasional terhadap pemerintah Maroko dan membuka jalan menuju perundingan rahasia.

Setelah itu, dijalankanlah Operasi Yachin, mulai 1961 hingga 1964. Menurut Brahim El Guabli dalam buku Moroccan Other-Archives: History and Citizenship after State Violence (2023:9), setelah menggantikan ayahnya, Raja Muhammad V, Hassan II mengizinkan warga Yahudi meninggalkan Maroko. Ia memfasilitasi emigrasi orang Yahudi Maroko ke Israel-Palestina, Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Maroko menerima pembayaran berdasarkan jumlah warga Yahudi yang diizinkan pergi. Jumlah warga Yahudi yang meninggalkan Maroko saat itu berkisah 90.000 hingga 100.000 orang.

Operasi itu pun membuka komunikasi langsung antara Mossad dan pejabat keamanan Maroko. Hubungan yang semula dibangun untuk mengurus emigrasi perlahan berkembang menjadi kerja sama intelijen.

Hassan II membutuhkan kemampuan intelijen untuk menghadapi lawan politiknya dan Israel memenuhi kebutuhan itu. Sebagai timbal balik, Maroko memberikan akses kepada Israel terkait informasi dunia Arab. Hubungan itulah yang menjadi latar kebocoran informasi KTT Casablanca 1965 kepada Israel.

Kedalaman hubungan tersebut kembali terlihat dalam kasus Mehdi Ben Barka, tokoh oposisi Maroko yang hidup dalam pengasingan.

Ben Barka sempat mencari dukungan Israel untuk melawan Hassan II. Namun, Israel memilih mempertahankan hubungannya dengan kerajaan Maroko.

Ketika aparat Maroko memburunya pada 1965, Menteri Dalam Negeri Mohammed Oufkir dan Letnan Kolonel Ahmed Dlimi meminta bantuan Mossad. Badan intelijen Israel itu membantu melacak Ben Barka dan menyerahkan informasi keberadaannya kepada Maroko.

Pada 29 Oktober 1965, Ben Barka diculik di Paris. Ia diyakini telah dibunuh. Namun, jasadnya tidak pernah ditemukan.

Kasus Ben Barka memperlihatkan seberapa jauh hubungan yang bermula dari Operasi Yachin telah berkembang. Dalam beberapa tahun, persoalan emigrasi berubah menjadi pertukaran informasi dan kerja sama keamanan yang menyentuh kepentingan paling sensitif kedua negara. Semua itu berlangsung ketika Maroko dan Israel bahkan belum memiliki hubungan diplomatik resmi.

Raja Hassan II

Raja Hassan dari Maroko tiba untuk melakukan kunjungan ke Washington D.C. (FOTO/FELICIA L. WILSON/Wikimediacommons)

Dari Hubungan Rahasia Menjadi Kemitraan Terbuka

Memasuki dekade 1980-an, hubungan Maroko dan Israel mulai terbuka. Raja Hassan II berperan sebagai perantara antara Israel dan negara-negara Arab serta memfasilitasi sejumlah pertemuan tertutup.

Pada 1986, ia bahkan menerima Perdana Menteri Israel Shimon Peres di Ifrane, 160 km sebelah timur Rabat. Tempo, dalam laporan 2 Agustus 1986, menulis bahwa pertemuan itu menuai kecaman dari sejumlah negara Arab. Kedutaan Maroko di Beirut, Lebanon, menjadi sasaran demonstrasi, dan bahkan dirusak massa.

“Mereka harus datang ke Marokko untuk diberi pelajaran tentang nasionalisme dan keberanian,” ujar Hassan, merespons kecaman yang ditujukan padanya.

Kedekatan dengan Israel makin terbuka ke publik pada pertengahan 1990-an, ketika kedua negara mendirikan kantor penghubung.

Namun, hubungan itu terputus setelah pecahnya Intifada Kedua pada 2000. Kerenggangan relasi itu bertahan selama sekitar 20 tahun, sebelum perubahan besar terjadi.

Pada Desember 2020, Maroko menormalisasi hubungannya dengan Israel melalui Abraham Accords yang difasilitasi AS. Hubungan yang selama puluhan tahun banyak berlangsung di balik layar kemudian berkembang menjadi kemitraan terbuka, terutama di bidang pertahanan dan keamanan.

Setelah melakukan investigasi, Middle East Eye melaporkan peningkatan tekanan terhadap sejumlah aktivis yang menentang normalisasi hubungan Maroko-Israel. Ponsel para jurnalis dan pembela HAM terkemuka Maroko, salah satunya Fouad Abdelmoumni, diretas lewat perangkat pengintai siber komersial buatan Israel, Pegasus. Hal itu membuktikan masuknya teknologi pengawasan Israel ke dalam perdebatan mengenai keamanan domestik kerajaan.

Persahabatan kedua negara kian erat pada November 2021, ketika Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz berkunjung ke Rabat dan bertemu Menteri Delegasi Pertahanan Nasional Maroko Abdellatif Loudiyi. Keduanya menandatangani nota kesepahaman pertahanan yang membuka kerja sama intelijen, pelatihan militer, pengadaan persenjataan, dan industri pertahanan.

Maroko kemudian membeli berbagai sistem pertahanan Israel, termasuk Barak MX senilai sekitar 500 juta dolar AS dan pesawat nirawak Harop.

Bagi Maroko, kerja sama tersebut berkaitan erat dengan persaingan regional. Hubungannya dengan Aljazair, yang mendukung milisi Front Polisario dalam konflik Sahara Barat, terus memburuk.

Israel di sisi lain, memperoleh keuntungan strategis. Selain jadi "pelanggan" bagi industri pertahanannya, Maroko memberinya mitra penting di Afrika Utara. Pada Juli 2023, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengakui kedaulatan Maroko atas Sahara Barat, isu yang selama puluhan tahun menjadi prioritas diplomasi Rabat.

Kemitraan pasca-2020 berbeda jauh dari hubungan pada masa Hassan II. Kerja sama yang dahulu dijalankan melalui pertemuan rahasia Mossad dan aparat Maroko kini mencakup hubungan diplomatik, pertahanan, teknologi, dan kepentingan geopolitik yang terbuka.

Kedekatan historis dan strategis inilah yang menjadi salah satu latar munculnya dugaan keterlibatan intelijen Israel ketika krisis Ceuta meletus pada 2026. Namun, hubungan dekat tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Mossad terlibat. Batas antara fakta, kepentingan geopolitik, dan spekulasi tersebut, menjadi persoalan berikutnya.

Benarkah Jejak Lama Mossad Sampai ke Ceuta?

Krisis Ceuta pada akhir Juli 2026 membawa hubungan lama Maroko dan Israel ke dalam spekulasi baru. Nadia Helmy, akademisi ilmu politik yang banyak meneliti China dan hubungan internasional, mengangkat kemungkinan keterlibatan Mossad dan CIA dalam analisisnya di Modern Diplomacy pada 2 Agustus 2026.

Helmy membangun hipotesisnya dari ketegangan politik antara Spanyol dan Israel. Sejak genosida di Gaza berlangsung, pemerintahan Pedro Sánchez menjadi salah satu pengkritik keras operasi militer Israel. Pada Mei 2024, Spanyol bersama Irlandia dan Norwegia mengakui negara Palestina. Madrid juga mendukung perkara Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional, membatasi perdagangan senjata dengan Israel, dan menolak sejumlah kapal yang membawa pasukan militer menuju Israel.

Di tengah hubungan kedua negara yang kian memburuk, krisis Ceuta berpotensi menambah tekanan politik terhadap Sánchez. Sebab, migrasi merupakan isu sensitif dalam politik domestik Spanyol. Dari rangkaian inilah Helmy membangun kemungkinan adanya motif Israel.

Para Migran Masuk Spanyol

Migran yang tiba di pesisir Ceuta wilayah eksklave Spanyol di Afrika Utara, setelah berenang memutari pagar perbatasan antara Maroko dan Spanyol pada 30 Juli 2026. Lucía DIAZ / AFP

Helmy juga membawa AS ke dalam hipotesisnya. Hubungan Madrid dan Washington sempat menegang ketika Sánchez menolak penggunaan pangkalan Spanyol untuk operasi militer AS terhadap Iran. Pada saat sama, Washington berhubungan cukup dekat dengan Rabat. Rangkaian kepentingan tersebut membuat Helmy mempertimbangkan kemungkinan krisis Ceuta dieksploitasi oleh badan intelijen asing.

Persoalannya, sejauh ini tidak ada bukti terbuka yang menunjukkan Mossad atau CIA mengorganisasi pergerakan sekitar 72.000 orang menuju Ceuta.

“Penilaian intelijen yang serius memerlukan bukti kemampuan, komunikasi, aliran keuangan, hubungan operasional, rekrutmen, aktivitas dunia maya, atau indikator lain yang menghubungkan lembaga tertentu dengan jaringan migrasi,” tulis Helmy.

Namun, dugaan kaitannya dengan Mossad tidak muncul tanpa latar belakang. Selama lebih dari enam dekade, intelijen Israel memiliki hubungan dengan aparat Maroko. Operasi Yachin, KTT Casablanca, kasus Ben Barka, hingga kerja sama keamanan setelah normalisasi, menunjukkan bahwa hubungan mereka cukup dekat.

Namun, preseden sejarah tidak dapat menjadi bukti untuk peristiwa berbeda. Kedekatan Maroko dan Israel menjelaskan alasan Mossad mudah muncul ketika krisis Ceuta meletus, tetapi belum membuktikan keterlibatannya. Hingga ada bukti operasional yang dapat diverifikasi, dugaan tersebut tetap sebatas hipotesis.

Baca juga artikel terkait CEUTA atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin