Menuju konten utama
Mozaik

Menjajaki Rute Pelayaran dalam The Odyssey

Selama ratusan tahun, The Odyssey terus diperbincangkan. Tak cuma soal ekranisasinya, tapi juga penelusuran sejarah, termasuk lokasi persinggahan Odysseus.

Menjajaki Rute Pelayaran dalam The Odyssey
Odysseus dan Sirens. (FOTO/lookandlearn.com)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Film The Odyssey (2026) besutan Christopher Nolan, adaptasi dari epos sastra karya Homer berjudul sama, mendapat sambutan meriah sejak tayang perdana di Indonesia pada 15 Juli 2026.

The Odyssey ala Homer diperkirakan ditulis sekitar abad ke-8 SM, berbentuk puisi epik dalam 24 buku. Karya itu juga merupakan pasangan The Iliad, yang berkisah tentang heroisme koalisi negara-negara Yunani Mycenaean menaklukkan Kota Troya. Bedanya, The Odyssey lebih menonjolkan babak pasca-perang, tualang pulang Odysseus menuju kampung halamannya di Kerajaan Ithaca.

Sepuluh tahun sudah Perang Troya membara. Akan tetapi, nyatanya Kota Troya dibikin luluh lantak hanya dalam semalam. Taktik “Kuda Troya” yang cerdik dari pasukan Yunani berhasil membuahkan kepulangan mereka setelah merebut kemenangan.

Namun sebelum itu, perlakuan terlampau keji Pasukan Yunani terhadap orang-orang Troya dianggap sebagai pemicu murkanya dewa-dewi. Mereka dituduh mencemari kuil suci di Troya setelah kedapatan melakukan perusakan dan persanggamaan biadab.

Insiden itu membuat pelayaran kepulangan pasukan Yunani terhambat. Athena, Sang Dewi Perang, mengutuk mereka dengan kiriman badai yang mengganggu perjalanan pulangnya.

Odysseus yang malang, termasuk salah satu korban amukan Athena di laut. Kendati tak hancur atau tenggelam sewaktu badai menerpa, rombongan kapal Odysseus terseret arus ke “lautan misterius” di luar pegangan peta konvensional mereka. Perjalanan pulang yang mestinya hanya berlangsung hitungan minggu, menjelma petualangan penuh cobaan selama 10 tahun. Kisah sepuluh tahun pelayaran pulang inilah premis utama The Odyssey.

Epos Geografi Pertama

Dalam sudut pandang pengaryaan, epik The Odyssey dinilai sebagai sastra klasik karya Homer yang murni fiksi. Namun bagi Strabo, sejarawan dan bapak ahli bumi Yunani modern, Homer adalah seorang geografer, alih-alih sastrawan semata.

Lawrence Kim, lewat Homer between History and Fiction in Imperial Greek Literature (2010: 83), menuliskan klaim Strabo:

“Puisi Homer, sebagai bagian dari tradisi Yunani atau “ingatan kuno”, sama pentingnya bagi suatu lokasi kepahlawanan tertentu seperti halnya fitur topografi atau artefak material, bahkan lebih penting lagi, jika seperti Troad, tempat itu ‘tertinggal dalam reruntuhan dan kehancuran.'”

Strabo menganggap kisah-kisah Homer kaya materialisme. The Odyssey lebih dari sekadar legenda atau heroisme picisan. Karya tersebut mampu menyuguhkan khazanah literatur atas dunia helenistik kuno, budaya, dan lanskap geografi.

Sudut pandang itu boleh jadi muncul berkat latar pendidikan Strabo di Nysa (kini Sultanhisar, Turkiye), di bawah bimbingan ahli retorika Aristodemus, ahli tata bahasa Yunani. Karena bimbingan dan pengaruh itu, Strabo berhasil melahirkan mahakarya Geographica. Di samping itu, sekolah di Nysa memiliki kurikulum dasar pengenalan kajian intelektualitas lewat pembacaan sastra Homer dan interpretasi epik Yunani kuno lainnya.

Itu juga membawa konsekuensi teoretis terhadap pemikiran Strabo. Dia mengklaim Homer sebagai geografer pertama dan penyair yang paling dipercayanya sebagai juru superioritas Yunani. Baginya, Homer tidak mungkin sembarang menamai tempat-tempat dalam epos rekaannya tanpa mengacu pada lokasi sebenarnya di muka bumi.

Namun bukan berarti karya The Odyssey nyaris sekali tanpa celah. Beberapa sejarawan dan cendekiawan klasik mengklaim bahwa karya tersebut merupakan mitologi murni, dan tidak ada gunanya mencari tempat-tempat tersebut di peta.

Sebelum Strabo merintis analisis tersebut, Eratosthenes sudah lebih dulu melakukannya. Seorang polimatik Yunani Kuno sekaligus orang pertama yang mengukur keliling bumi tersebut pernah melontarkan sarkasme terhadap karya Homer: “Kamu akan menemukan pemandangan pengembaraan Odysseus ketika Anda menemukan tukang sepatu yang menjahit kantong angin.” Maksudnya, tempat-tempat dalam pengembaraan Odysseus yang dikisahkan Homer merupakan fiksi belaka.

Strabo, yang belajar ilmu geografi dari Eratosthenes, justru membantah guru inteleknya. Ia menentang konsepsi fiksional dalam The Odyssey yang diejawantahkan mentah sebagai hiburan semata.

Dalam The Geography of Strabo (1917: 59), Strabo dengan lantang menyatakan, “Anda mungkin benar, Eratosthenes, dalam hal itu, tetapi Anda salah ketika Anda menyangkal bahwa Homer memiliki pengetahuan luas, dan kemudian menyatakan bahwa puisi itu seperti seorang wanita tua yang gemar mengoceh dongeng, yang diizinkan untuk ‘mengarang’ (sebagaimana Anda menyebutnya) apa pun yang ia anggap cocok untuk tujuan hiburan.”

Di era Homer, menulis geografi—yang berbaur fiksi—memerlukan kompresi, dengan teknik penceritaan lewat bahasa sastra, agar lebih mudah dipahami pembaca. Oleh karena itu, bumbu-bumbu heroisme, mitos, dan rekaan imajinatif, begitu kental dalam sastra Yunani Kuno.

Lebih-lebih jika menulis karya sastra dengan latar lokasi-lokasi di dunia. Itu memerlukan pemahaman khusus. Bagi Strabo, “Anda tidak dapat memahami dunia, apalagi mengajarkannya secara koheren, tanpa memiliki pengetahuan dasar yang tinggi tentang subjek tersebut.”

Peta Pelayaran Odysseus

Pada rentang 1870 dan 1890, arkeolog Heinrich Schliemann melakukan ekskavasi di kota Hisarlik, Turki. Dia mengidentifikasi bahwa kota itu merupakan reruntuhan yang terindikasi sebagai lokasi Kota Troya di dunia nyata. Sebab, ditemukan sisa-sisa tembok benteng yang cocok dengan periode yang dikisahkan The Iliad.

Setidak-tidaknya, ada lima belas lokasi persinggahan Odysseus dan para penggawanya. Odysseus berlayar bersama 600 awak, dengan menumpang di 12 kapal berbeda.

Akan tetapi, beberapa lokasi persinggahan Odysseus tak bernama khusus. Misalnya, setelah meneruskan perjalanan dari Tanjung Malea, Odysseus menuju ke "pulau tempat suku pemakan tumbuhan Lotophagi".

Herodotus, sosok yang disebut sebagai historiografer pertama, menyebut lokasi itu berada di pesisir Libya. Namun, penyebutan Libya khas Yunani kuno merujuk pada Afrika Utara. Beberapa ahli menduga, pulau tersebut bernama asli Djerba, masuk wilayah administratif Tunisia. Alfred Lord Tennyson pernah menulis puisi berjudul “The Lotos-Eaters” pada 1833, yang didasarkan pada “Book 9” The Odyssey tentang episode suku yang gemar memakan tumbuhan lotos atau teratai.

Odysseus di Gua Polyphemus

Odysseus meloloskan diri dari gua Polyphemus. (FOTO/lookandlearn.com)

Lokasi selanjutnya, yakni Gua Polyphemus, tempat raksasa Cyclops tinggal dan memakan enam penggawa Odysseus, juga memiliki deskripsi jelas, termasuk soal navigasi dan ciri-ciri.

"Anda dapat langsung menambatkan kapal tanpa mengikatnya, mata air tawar di ujungnya, padang rumput yang subur dan berair, pulau berhutan yang penuh dengan kambing liar yang terletak tepat di lepas pantai," tulis Homer.

Strabo, dalam Geographica, menduga bahwa Pulau Cyclops yang ditulis Homer terletak di tenggara Sisilia, daerah sekitar Gunung Etna dan Liontini.

Selain itu, lokasi para siren, perempuan setengah manusia dan setengah burung, yang memikat manusia lewat suara merdunya, tak luput dari perhatian Strabo.

“Di laut, terdapat sebuah pulau kecil, tidak jauh dari laut, terletak di muara Sungai Liger; dan pulau itu dihuni oleh wanita-wanita Samnitae, dan mereka dirasuki oleh Dionysus dan membuat dewa ini menjadi baik hati dengan memuaskannya,” tulis Strabo, mencoba mencampuradukkan analisis budaya dan mitos pada karya Homer.

Ketika mengunjungi sebuah teluk, Odysseus digambarkan tengah menangkap ikan di dekat Scylla, pulau sarang monster laut Charybdis. Topografi dan deskripsi bentang Pulau Scylla itu mirip dengan yang ada di Pulau Sisilia, Italia. Tebing tinggi dengan lereng curam itu memiliki suasana yang cocok untuk memancing. Bagian tersebut merupakan bentuk visualisasi puitis dari Selat Messina di antara Italia dan Sisilia.

Sejarawan Yunani Kuno, Polybius (lahir 600 tahun setelah Homer), percaya bahwa The Odyssey merupakan alegori nyata yang dibumbui mitos. Urutannya harus demikian, tak boleh dibalik.

Tabel dan peta interaktif buatan Britannica dapat membantu penerjemahan dasar visualisasi pelayaran Odysseus. Beberapa lokasi fiksional dalam The Odyssey pun telah dicocokkan dengan lokasi nyata. Namun memang, tidak semua lokasi yang disebut Homer itu nyata. The Odyssey tetap memiliki pertimbangan fiksi dan mitos.

Kerangka geografis dalam realitas dunia, sungguh akan terasa berbeda. Acap kali Homer mengisahkan lokasi-lokasi singgah Odysseus dengan gambaran menyeramkan, misterius, juga berbahaya. Padahal, bilamana lokasi di dunia nyata itu ditelisik, dari segi kultur, sejarah, serta unsur geografisnya, pendeskripsiannya jauh dari menyeramkan.

Kartografi Fiksi

Matematikawan dan astronom Romawi, Ptolemy, membuat peta persebaran lokasi-lokasi yang Homer sebut dalam The Odyssey. Adalah "Cosmographia Germanus", peta yang santer dibahas para ahli pada abad ke-15. Peta itu tak hanya menampilkan lanskap lokasi-lokasi dunia nyata, melainkan lokasi Lotophagitis, Circaeum Promontorium (Aeaea, kerajaan Circe), dan Sirenusae Insulae (pulau para siren), yang semuanya mengacu pada lokasi fiksi The Odyssey.

Upaya mentransposisi lokasi-lokasi fiksi secara akurat ke peta modern terbilang sulit. Perhitungan lintang dan bujur Ptolemy didasarkan pada proyeksi dan pemahaman keliling bumi yang sama sekali berbeda dari astronomi modern. Itulah kelemahan peta miliknya.

Pada akhir abad ke-16, kartografer Belanda Abraham Ortelius mencoba memvisualisasikan peta pelayaran Odysseus untuk pertama kalinya secara keseluruhan dalam "Theatrum Orbis Terrarum" (1527-1598). Peta itu juga disebut “map charts the wanderings of Ulysses in the Mediterranean” atau “Peta Pengembaraan Ulysses”–Ulysses adalah nama Latin untuk Odysseus.

Ortelius bertindak laiknya pengacara karya mistis dan fiksi. Lewat kartografinya, dia seolah mencari-cari pembenaran untuk mengklaim The Odyssey sebagai fakta. Bahkan dia mengidentifikasi Scheria, negeri bangsa Phaeacia dalam The Odyssey, sebagai Korfu (Kerkyra), salah satu Kepulauan Ionia di Yunani Barat.

Karena mengidentifikasi Scheria sebagai Korfu, Ortelius menempatkan Ogygia, pulau tempat Kalypso menahan Odysseus, di sebelah barat Korfu. Padahal, tak ada pulau di sana. Namun, jika mencermati "Peta Pengembaraan Ulysses" sekali lagi, Ortelius menggambar "pulau fiksi" di lokasi tersebut.

Sialnya, petanya diterima mentah-mentah oleh para kartografer setelahnya. Konsep tersebut menjadi dasar bagi peta-peta di masa mendatang. Pulau imajiner itu terus tergambar dalam kartografi pelayaran Odysseus hingga abad ke-19 dan ke-20.

ARRIANS WORLD

Peta tersebut memetakan perjalanan pengembaraan Ulysses di Laut Tengah. (FOTO/franpritchett.com)

Kartografi Ortelius itu kemudian disempurnakan oleh Victor Bérard, politikus sekaligus pelancong Prancis pada 1912. Dia yang mencoba menelusuri ulang tapak perjalanan Odysseus menemui kejanggalan pada peta bikinan Ortelius.

Bérard menempatkan Ogygia di dekat Gibraltar dan mengidentifikasi Lotophagi sebagai Djerba di lepas selatan Tunisia. Selain itu, ia juga menggambarkan Pulau Cyclops di Posillipo, Napoli.

Bérard membukukan analisis dan teorinya itu dalam Les Navigations d’Ulysse (1929). Namun, banyak peta ini hidup dalam imajinasi dan cerita tutur, bukan sebagai objek nyata.

Di Mana Sebenarnya Letak Ithaca?

Ketimbang mengurai posisi tepat lokasi-lokasi persinggahan Odysseus selama bertualang, menentukan lokasi sebenarnya Ithaca justru menjadi perdebatan paling signifikan.

Sejak lama, banyak ahli berpendapat, Ithaca berlokasi di Pulau Ithaki, di Laut Ionia, tepat di sebelah barat Teluk Patras. Toponiminya saja terdengar mirip. Bahkan, turis yang berkunjung ke sana akan dengan mudah menemukan bar “Odysseus” dan “Penelope”.

Masalahnya, medan Pulau Ithaki sangat berbeda dari lanskap lokasi kuno yang termaktub dalam The Odyssey. Homer menggambarkan Ithaca sebagai χθαμαλή (chthamalē), yang diterjemahkan oleh sebagian ahli sebagai lebih rendah daripada yang lain. Namun, makna deskripsi tersebut masih diperdebatkan.

Robert Bittlestone (ahli strategi bisnis dan maniak sejarah klasik yang mendedikasikan kuliahnya meneliti soal The Odyssey), lewat buku Odysseus Unbound: The Search for Homer’s Ithaca (2005), berargumen bahwa Ithaca ala Homer bukanlah Ithaki. Lokasi sebenarnya adalah Paliki, yang terletak di sebelah barat Ithaki, dan memang bertanah lebih rendah.

Masalah selanjutnya, Paliki bukanlah pulau, sebagaimana karakteristik Ithaca. Lokasi itu merupakan semenanjung yang melekat pada Cephalonia dengan jalur tanah tipis.

Menurut hipotesis Bittlestone, pada Zaman Perunggu, Paliki masih terpisah dari Cephalonia oleh sebuah selat, yang kemudian tertutup dan mewujud semenanjung akibat proses geologi. Dengan demikian, Paliki pada masa itu memang masih merupakan sebuah "pulau".

Temuan arkeologis menyebut Paliki sebagai tilas situs Zaman Perunggu yang penting. Itulah yang menguatkan dugaannya bahwa Paliki merupakan Ithaca yang sebenarnya.

Hingga sekarang, perdebatan soal peta pelayaran Odysseus masih berlangsung, entah sepenuhnya nyata atau mitos belaka. Namun bagaimanapun, korelasi antara mitos dan fakta ini menjadi lensa untuk memahami kerentanan pengetahuan terhadap sejarah Yunani Kuno.

Baca juga artikel terkait ULASAN FILM atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Abi Mu'ammar Dzikri
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin