Menuju konten utama
Mozaik

Mengapa Romawi Timur menjadi Kekaisaran Otonom?

Tetrarki dipakai Kekaisaran Romawi agar bisa mengontrol kekuasaannya yang kian besar. Dari sini terjadi transisi agama, budaya dan bahasa di Romawi Timur. 

Mengapa Romawi Timur menjadi Kekaisaran Otonom?
HEADER MOZAIK Mengapa Romawi Timur menjadi Kekaisaran Otonom. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada 284 Masehi, Diokletianus membagi Kekaisaran Romawi Kuno menjadi dua: Barat dan Timur. Pertimbangannya, wilayah kekaisaran sudah terlampau luas, membentang dari Inggris Utara hingga Suriah. Tidak mungkin memerintah seluruh provinsi dari pusat Kota Roma seorang diri.

Pembagian itu, yang dikenal dengan sistem tetrarki dianggap sebagai salah satu pencapaian besarnya. Diokletianus membagi Romawi menjadi empat wilayah administratif dengan diperintah masing-masing dua augustus (kaisar senior) dan dua caesari (kaisar junior) sebagai suksesor.

Itu sesuatu yang reformis, atau boleh dibilang berhati lapang. Sebab dia membagi dua kekuatan Romawi sama-sama imbang, atau dengan kata lain "melepaskan" sebagian kekuasaannya untuk penguasa lain. Diokletianus menjadi augustus di wilayah Romawi Timur, sedangkan dia menunjuk Maximianus sebagai augustus di Romawi Barat.

Masing-masing dari mereka menunjuk bawahan. Galerius sebagai caesari di Timur dan caesari Konstantinus Klorus di Barat. Harapannya, masing-masing caesari digembleng sebagai penerus andal sepeninggal atau turun takhta augustus.

Sekalipun terbagi, Romawi tidak benar-benar terpecah dan masih sebuah kerajaan tunggal. Tetrarki dirancang sebagai balet politik, yakni langkah strategis agar kekuasaan yang semakin membesar tetap kuat, utamanya di wilayah administratif yang hampir sulit dijangkau pengawasan Roma.

Lantaran memerintah wilayah Timur, Diokletianus tak lagi duduk di singgasana lama Roma. Dia membangun takhta di Konstantinopel (kini Istanbul), dan memerintah dari Istana Nikomedia. Kelak, wilayahnya itu disebut Kekaisaran Bizantium, yang pada era abad pertengahan dianggap melampaui pencapaian Romawi Kuno.

"Keluarga kekaisaran dan birokrasi kekaisaran secara resmi pindah ke sana (Konstantinopel) pada tahun 330 M. Konstantinopel menjadi Romawi baru," tulis Captivating History dalam History of Rome (2020).

Jika bukan karena reformasi administrasi kekaisaran, Kekaisaran Romawi akan runtuh jauh lebih cepat. Karena ketika Diokletianus naik takhta, kekaisaran berada dalam kondisi gawat.

"Berbagai provinsi melancarkan pemberontakan kecil-kecilan, dan masing-masing harus ditangani segera, mulai dari para bagaudae (petani atau perampok) di Gaul hingga suku-suku asli Asia Kecil. Selain pemberontakan, kekaisaran juga terancam oleh invasi dari luar perbatasannya," jelas Captivating History menambahkan.

Bertransformasi menjadi Bizantium

Kekuasaan Romawi ketika masa ini kita sebut sebagai Romawi Baru, istilah untuk menggampangkan periodisasi—ala Captivating History—setelah dicetuskannya tetrarki oleh Diokletianus.

Melalui tetrarki, pemberontakan dan invasi skala kecil di Romawi Baru berhasil diredam. Pada tahun 298, Mesir berhasil luluh oleh pasukan Diokletianus, sedangkan Galerius yang menjabat caesari juga berhasil menaklukkan Sassaniyah di Mesopotamia.

Bukan hanya itu, efek tetrarki juga berpengaruh baik untuk Romawi Barat. Maximianus dapat merebut kembali Mauretania dari Suku Berber di Afrika, dan Konstantinus mampu mewujudkan "perdamaian" di Britania serta wilayah hulu Sungai Rhine, Prancis.

Putra Konstantinus—selanjutnya disebut Konstantinus Agung—mewarisi jabatan ayahnya sebagai caesari, dan segera mendapat promosi jabatan setelah Konstantinus meninggal pada tahun 306.

Usai mengalahkan Maxentius, pesaing augustus untuk Romawi Barat dalam pertempuran di Jembatan Milvian pada 312, Konstantinus Agung mampu menguasai Romawi sepenuhnya. Kemudian pada 11 Mei 330, dia lantas memindahkan ibu kota ke Bizantium.

Sebutan untuk Bizantium dengan cepat terganti oleh istilah yang lebih umum, Konstantinopel—diambil dari namanya. Selain itu, suksesi kepemimpinan tetrarki mulai tergerus kembali oleh monarki, meskipun sistem administrasinya masih diberlakukan di masa Konstantinus Agung.

Namun kedigdayaan Konstantinopel di bawah Konstatinus Agung tak bertahan lama. Sepeninggalnya, Kaisar Valentinianus I justru mengacaukan sistem pemerintahan Romawi Baru pada 364. Ada praktik nepotisme terang-terangan. Dia menempatkan saudaranya, Valens, sebagai augustus di Barat dan dirinya memerintah Timur.

Menurut Ian Hughes dalam Imperial Brothers: Valentinian, Valens and the Disaster at Adrianople (2013), nepotisme itu menentukan nasib selanjutnya dari Romawi. Secara bertahap, Romawi Barat hancur oleh serangan kontinu dari Jerman seperti Visigoths, dengan hanya Italia yang berada di bawah kendali Romawi.

Oleh karenanya, Arcadius, putra Theodosius I yang memerintah pada 395 membagi sepenuhnya Romawi Baru menjadi Barat dan Timur. Di masanya, tetrarki ditinggalkan sepenuhnya, baik Romawi Timur maupun Barat menjadi sepenuhnya otonom. Tak ada augustus lagi di kedua sisi yang saling menopang.

Di samping itu, Kaisar Romawi Barat terakhir, Romulus Augustus, digulingkan pada 476 oleh Odoacer, prajurit barbar yang awalnya merupakan perwira Romawi. Penggulingan itu benar-benar menyisakan Romawi Timur (Bizantium) sebagai satu-satunya otonomi Romawi yang tersisa.

Sempat pula Justisianus I mencoba reunifikasi antara Romawi Barat dan Timur pada 565, tetapi upayanya tak membuahkan hasil. Romawi Barat bisa disebut runtuh, dan Romawi Timur yang semula menjadi wilayah otonom kemudian bertransformasi menjadi Kekaisaran Bizantium, membawahi warisan wilayah Romawi sepenuhnya.

Revolusi Bizantium: Transisi Agama, Budaya, dan Bahasa

Diokletianus memilih Romawi Timur lantaran daerahnya dinilai lebih subur dan kaya ketimbang Romawi Barat. Pemilihan itu kiranya memiliki keterhubungan dengan masa pensiunnya pada 305, yang menjadi saudagar kubis alih-alih melakoni ingar politik.

Dia memang sosok yang unik, tak seperti para pendahulunya yang berpendidikan tinggi dan memiliki pengalaman militer atau menjadi anggota senat. Diokletianus tercatat berasal dari keluarga petani di Dalmatia, tetapi dianggap besar lantaran reformasi tetrarki yang berhasil mengubah haluan Romawi selanjutnya.

Tetapi yang patut disorot adalah insiden yang memengaruhi kredibilitasnya sebagai augustus. Menurut Michael Gaddis dalam "There Is No Crime for Those Who Have Christ: Religious Violence in the Christian Roman Empire" (2005), tak ada penganiayaan yang lebih besar ketimbang "Penindasan Diokletianus" terhadap umat Kristen.

Di Bizantium, Diokletianus menganiaya umat Kristen dan berusaha menghidupkan kembali tradisi paganisme Roma yang menurut keyakinannya paling benar. Titik inilah yang berhasil dimanfaatkan oleh Konstantinus Agung, sekaligus mengakhiri penganiayaan terhadap umat Kristen. Dia menawarkan ganti rugi sepenuhnya atas kehilangan yang mereka alami selama penganiayaan.

Noel Lenski dalam The Cambridge Companion to the Age of Constantine (2007: 7) mengutip pernyataan Gregoire, bahwa Konstantinus Agung menunjukkan minatnya pada Kristen setelah melihat manfaatnya secara politis. Sebagai penguasa yang berambisi dicintai rakyat, kampanye populis semacam itu berhasil.

Kebijakan itu pula yang memengaruhi terjadinya pergeseran agama di Bizantium. Romawi Timur di Konstantinopel mulai membangun kapel dan gereja Kristen dengan arsitektur megah, jauh dari idealisme aristokratis Roma.

Hal ini menjawab transisi agama yang berkembang di Roma. Mulanya pagan, kemudian beranjak menuju kekristenan, sebagaimana dijelaskan panjang lebar oleh Philippe Aries dan Georges Duby dalam A History of Private Life: From Pagan Rome to Byzantium (1987).

Di masa awal Romawi Baru, Roma tetap menjadi pusat budaya kekaisaran, lokus elite dan rakyat jelata mengejawantahkan tradisi serta simbolisme budaya. Namun, pengaruh letak geografis serta peperangan dalam tempo lama memiliki andil segregasi dan akulturasi budaya.

Hal tersebut memengaruhi kebijakan Kekaisaran Bizantium pada Abad Pertengahan—sekitar 7 Masehi. Semasa periode itu, kebudayaan helenistik di Bizantium semakin menguat.

Tanda besarnya, penggunaan Latin sebagai bahasa resmi—sejak Romawi Kuno—menurun di kalangan rakyat, dan peralihan ke bahasa Yunani semakin santer. Tak ayal kebudayaan Romawi-Helenistik dikenal oleh negeri-negeri barat dan utara pada masanya dengan nama "Kekaisaran Orang-orang Yunani" karena kuatnya pengaruh Yunani.

Seni Romawi klasik macam amfiteater seperti Colosseum, frigidarium (pemandian), atau ritual sipil paganisme menurun. Sebagai gantinya, monastisisme dan seni religius ala Yunani berkembang.

MenurutAveril Cameron dalam The Byzanties (2009: 161), "Pada abad kesembilan belas, seni Bizantium dikutuk karena tidak menyerupai seni klasik, atau dipuji karena dianggap sebagai contoh kesinambungan dengan tradisi yang sama."

Namun dari sekian banyak transisi kebudayaan, sastra Romawi klasik agaknya sedikit mendapatkan efek pengaruh transisi. Karya sastra Bizantium memberi "hormat" penuh terhadap peninggalan literatur klasik.

"Sastra Bizantium, sebagai produk dari suatu periode di mana semangat Yunani diduga mengalami devaluasi atau bahkan untuk sementara waktu padam, tidak kalah dengan periode Ottoman," tambahnya.

Artinya, roman klasik Roma masih banyak diminati. Sedangkan karya sastra Bizantium-Yunani modern belum sepenuhnya digandrungi. Meski begitu bukan berarti karya sastra Bizantium sepenuhnya tak laku. Hanya waktu yang dapat menjawab sehingga karya-karya yang bermula sejak masa awal Zaman Arkais, seperti The Iliad dan The Odyssey menjadi begitu populer di masa kini.

Baca juga artikel terkait KEKAISARAN ROMAWI atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Abi Mu'ammar Dzikri
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Irfan Teguh Pribadi