Menuju konten utama
Roundup

Pagar Tinggi di Mal: Simbol Keamanan atau Pemicu Kepanikan?

Pramono Anung akan meminta pengelola mal mencopot pagar tinggi. Menurutnya, kekhawatiran berlebihan terhadap potensi kerusuhan tidaklah baik.

Pagar Tinggi di Mal: Simbol Keamanan atau Pemicu Kepanikan?
Pagar di depan mal Kota Kasablanka. Screenshot Instagram Tirto.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah pusat perbelanjaan (mal) dan perkantoran di kota-kota besar mulai memasang pagar tinggi di halaman gedung. Mulai dari mal Kota Kasablanka (Kokas) di Jakarta Timur, mal Blok M Plaza di Jakarta Selatan, sampai Pakuwon Mall di Surabaya, semuanya serempak memasang pagar tinggi.

Pemasangan pagar tinggi itu memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat: apakah akan terjadi eskalasi situasi keamanan pada Agustus ini hingga berujung kerusuhan?

Pertanyaan tersebut muncul karena gelombang demonstrasi besar yang berujung kerusuhan pernah terjadi pada Agustus 2025. Di sisi lain, pemasangan pagar tinggi memang dapat dipandang sebagai langkah antisipasi keamanan. Namun, bagi sebagian masyarakat, simbol pengamanan semacam itu justru berpotensi memunculkan kecemasan dan memicu spekulasi mengenai kondisi keamanan.

Arsitek sekaligus pendiri Green Building Council Indonesia, Ariko Andikabina, menjelaskan, dalam rangka meningkatkan keamanan gedung, keputusan pihak mal untuk meninggikan pagar sebetulnya tidak sepenuhnya tepat.

Ia berpandangan, cara terbaik untuk meningkatkan keamanan adalah dengan membangun relasi sosial bersama masyarakat sekitar. Dengan meninggikan pagar dan menutup akses, masyarakat yang hendak membantu saat aksi kejahatan terjadi justru akan menjadi kesulitan.

“Apabila ada kejahatan yang terlihat terjadi, masyarakat sekitar dapat menjadi yang pertama untuk mencegah. Tetapi apabila ruangan tertutup dan tidak terlihat, masyarakat [kesulitan] untuk membantu memberikan keamanan,” kata Ariko saat dihubungi Tirto, Jumat (31/7/2026).

Dampak Psikologis ke Masyarakat

Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, menilai langkah pihak pengelola mal untuk memasang pagar tinggi justru dapat menimbulkan kecemasan di masyarakat.

Menurutnya, dinamika percakapan terkait alasan pemasangan pagar tinggi itu tentu akan memberikan efek ketidakpastian kepada masyarakat. Bahkan, secara psikologis, kabar tersebut dapat memantik berbagai spekulasi hingga ketegangan di masyarakat luas. Oleh karenanya, ia menekankan pentingnya penjelasan alasan pemasangan pagar tinggi itu dari pihak yang berwenang.

“Jika terus dibiarkan simpang siur, artinya ada pesan lain yang akan terus ramai dibicarakan dalam balutan kecemasan sosial,” kata Wawan kepada Tirto, Sabtu (1/8/2026).

Wawan memahami bahwa pihak mal tengah berupaya untuk mengantisipasi potensi eskalasi keamanan dengan cara memasang pagar tinggi. Namun, narasi maupun spekulasi liar yang beredar di media sosial tentu saja tidak bisa diredam.

“Adapun yang menebar rasa takut, itu bagian dari narasi yang bisa berkembang dan terus ada selama tidak ada penjelasan resmi untuk mencapai rasa aman secara sosial,” ujarnya.

Penjelasan Pihak Mal

Terkait ramai-ramai pemasangan pagar tinggi itu, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) pun angkat bicara.

Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, mengungkapkan bahwa langkah tersebut bukanlah bentuk antisipasi terhadap potensi kerusuhan.

Tujuan utama pemasangan pagar adalah untuk menertibkan akses keluar-masuk pengunjung dan memberikan batas keamanan bagi mal yang berada di dekat titik rawan demonstrasi.

"Ya sebetulnya kan tujuan utamanya adalah untuk supaya lebih menertibkan arus keluar masuk pengunjung. Kalau terbuka itu kan pengunjung bisa masuk dari mana saja bisa keluar dari mana saja begitu. Sehingga itu kan membahayakan lalu lintas sekitar," ujar Alphonzus di kantor Kementerian Perdagangan, dikutip Jumat (31/7/2026) .

Menurutnya, pemasangan pagar di mal bukanlah hal baru. Sejumlah pusat belanja sudah berdiri sejak awal dengan desain berpagar untuk mengelola arus pengunjung.

Meski demikian, Alphonzus pun tak menampik bahwa pagar juga berfungsi sebagai perimeter keamanan dari aksi-aksi demonstrasi. Terlebih pemasangan ini dilakukan jelang bulan Agustus yang tahun lalu juga terjadi aksi demonstrasi besar.

"Tetapi sekaligus juga, beberapa pusat perbelanjaan yang berada di dekat dengan pusat-pusat kegiatan demonstrasi. Jadi saya kira itu juga sekalian untuk bisa memberikan batas pengamanan terhadap demonstrasi-demonstrasi yang suka berlangsung," jelasnya.

Hanya saja, Alphonzus membantah anggapan bahwa pagar dipasang karena adanya ancaman kerusuhan. Ia menekankan bahwa pengamanan yang dimaksud lebih kepada perlindungan area mal dari dinamika aksi massa di sekitar lokasi, bukan untuk mengantisipasi kerusuhan di dalam mal.

"Saya kira kerusuhan tidak. Tujuan utamanya adalah menertibkan akses keluar masuk pengunjung supaya bisa terpusatkan. Kedua, memberikan batas dari sisi perimeter keamanan terhadap situasi di mana pusat perbelanjaan dekat dengan kegiatan demonstrasi," ucapnya.

Polisi: Tak Ada Indikasi Aksi Massa di Agustus

Merespons hal itu, Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya menegaskan hingga kini belum menerima pemberitahuan resmi mengenai aksi unjuk rasa maupun menemukan indikasi pergerakan massa.

"Terkait tentang pagar, dalam situasi kamtibmas sampai saat ini Polda Metro Jaya masih belum menerima surat pemberitahuan terkait tentang aksi yang ada," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Meski demikian, kepolisian tetap meningkatkan kewaspadaan. Budi mengatakan jajaran direktorat operasional bersama unit siber dan reserse kriminal umum terus memantau aktivitas di ruang digital untuk memverifikasi ajakan maupun selebaran provokatif yang beredar.

"Polda Metro Jaya melalui direktorat operasional tetap melakukan pemantauan secara dunia maya digital. Kita akan melihat flyer-flyer ataupun ajak-ajakan, ini hanya sekadar lempar flyer atau memang akan ada gelombang aksi," jelasnya.

Selain pemantauan di dunia maya, Polda Metro Jaya juga memperkuat langkah antisipasi berdasarkan analisis intelijen terhadap perkembangan situasi di lapangan. Sebagai bagian dari mitigasi, Kapolda Metro Jaya telah membentuk Tim Preventive Strike yang melibatkan jajaran direktorat operasional.

"Kapolda Metro Jaya sudah menegaskan membentuk Tim Preventive Strike yang terdiri dari direktorat operasional. Jadi sudah melakukan mitigasi awal apabila ada kelompok-kelompok yang mencoba membuat kerusuhan. Akan dilakukan tindakan tepat, tegas, dan terukur," tegas Budi.

Pengamanan juga diperkuat melalui patroli rutin dengan skala kecil, sedang, hingga besar. Patroli difokuskan di wilayah perbatasan Jakarta, seperti Bekasi dan Depok yang berbatasan dengan Jawa Barat, serta Tangerang yang berbatasan dengan Banten.

Pemerintah Tegaskan Situasi Aman

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, memastikan pemasangan pagar tinggi di beberapa mal bukan faktor keamanan. Dia juga memastikan tidak ada masalah keamanan sehingga mal memasang pagar besi tinggi.

"Oh nggak, nggak ada masalah (keamanan), nggak ada. Kita dari koordinasi dengan Apindo, dengan APPBI nggak ada masalah kok, nggak ada isu itu," ujar Budi usai berkoordinasi dengan sejumlah asosiasi pelaku usaha, di antaranya APPBI dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat.

Saat ditanya soal alasan pengusaha memasang pagar tersebut, Budi mengaku tidak mengetahui secara persis penyebabnya. Namun, Budi kembali menegaskan pemasangan pagar tidak terkait isu keamanan atau isu apa pun.

"Ya saya juga nggak tahu persis ya tapi kemarin koordinasi dengan kayak APPBI ya, Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia, nggak ada masalah kok nggak ada isu apa-apa. Nggak ada isu terkait ya apa pun nggak ada. Aman-aman aja nggak ada masalah," kata Budi.

Sementara itu, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, meminta publik tidak memperbesar berita yang belum tentu benar dan menyebut isu ketakutan itu perlu diklarifikasi.

"Kita doakan bangsa kita aman. Jadi, kita jangan memperbesar berita-berita yang tidak baik. Berita-berita yang menebar ketakutan itu sebaiknya diklarifikasi juga," kata Hasan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat.

Di tengah polemik itu, Hasan meminta wartawan turun langsung mengecek fakta di lapangan untuk memastikan kebenaran isu yang beredar. Ia mengklaim kondisi negara saat ini dalam keadaan baik dan pemerintah bergerak cepat.

Hasan mencontohkan diskusi bersama lebih dari seratus pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang berlangsung dengan komunikasi dua arah, Jumat kemarin.

"Keadaan negara kita baik. Sekarang pemerintah juga sudah jalannya sangat cepat. Barusan juga diskusi dengan seratusan lebih pengurus kadin dan komunikasi dua arah. Tanya-jawab dengan presiden, masukan-masukan mereka sangat konstruktif, diterima dengan baik oleh presiden. Dan nggak ada alasan buat kita nggak maju," katanya.

Ia kembali menegaskan agar jurnalis memverifikasi kebenaran isu ancaman keamanan yang membuat sejumlah mal memperketat pengamanan tersebut.

"Jadi yang fear monger itu teman-teman cek di lapangan. Saya rasa nanti teman-teman bisa menemukan itu benar nggak sih?" ujar Hasan.

Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bisa mengerti kekhawatiran pihak pengelola mal akan situasi keamanan pada Agustus ini. Meski begitu, ia menekankan bahwa situasi di Jakarta saat ini berada dalam keadaan baik. Sebab, sebagai Gubernur, Pramono mengaku selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan.

“Koordinasi dengan TNI, Polri, aparat penegak hukum lainnya. Kami akan menjaga Jakarta, mudah-mudahan Jakarta selalu aman, nyaman dan membuat kegembiraan bagi siapapun yang ada untuk menikmati Jakarta,” kata Pramono di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Jumat.

Oleh karenanya, Pramono Anung akan meminta pengelola mal mencopot pagar tinggi. Menurutnya, kekhawatiran berlebihan terhadap potensi kerusuhan tidaklah baik.

“Nanti pada saatnya pasti saya akan minta untuk pagar-pagar itu dilepas kembali. Karena kekhawatiran yang berlebihan juga tidak baik,” tegasnya.

Baca juga artikel terkait MAL atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - News Plus
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Anggun P Situmorang