tirto.id - Nama Charles Goodyear diabadikan dalam jutaan ban mobil di jalan-jalan seluruh dunia, dalam setiap selang karet di pabrik-pabrik, dan dalam setiap sepatu yang nyaman di kaki seseorang.
Pria yang akhirnya menemukan kunci untuk mengubah karet ini bukanlah ilmuwan berbakat. Dia adalah seseorang yang dipandu oleh ketekunan dan keyakinan yang ditempa oleh kehidupan.
Pernikahan dan Bisnis Awal
Charles Goodyear lahir pada 29 Desember 1800 di New Haven, Connecticut, sebagai anak pertama dari Amasa Goodyear dan Cynthia Bateman Goodyear.
Nenek moyangnya, Stephen Goodyear, adalah salah seorang dari sekelompok pedagang London yang pada 1638 mendirikan koloni New Haven, sebuah komunitas awal di Amerika Serikat. Sementara ayahnya, Amasa, merupakan seorang pebisnis. Ia tidak hanya menjual peralatan berat kepada petani, tetapi juga menjadi seorang penemu. Produk andalannya adalah garpu sekop baja buatan sendiri.
Sang ayah membawa keluarganya pada tahun 1807 ke sebuah pertanian dekat Naugatuck, Connecticut, untuk memproduksi kancing mutiara, dan di sana Charles belajar tidak hanya dari buku-buku, tetapi dari pekerjaan praktis.
Teman-temannya menggambarkan Charles sebagai pemuda yang serius, pendiam, dan rajin belajar. Dia sempat mempertimbangkan untuk menjadi pendeta. Pada usia 17 tahun, ayahnya mengatur Charles untuk magang sebagai pegawai di sebuah toko perlengkapan pertanian yang dijalankan oleh keluarga Rogers di Philadelphia.
Pemuda ini bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tubuhnya yang kecil dan lemah tidak mampu bertahan dengan beban kerja yang dikenakan padanya. Kesehatan yang memburuk memaksa dia kembali ke rumah.
Agustus 1824, pada usia 24 tahun, Charles menikahi Clarissa Beecher, wanita yang dia kenal dari Gereja Kongregasional mereka. Ayah Clarissa adalah pemilik sebuah penginapan di Naugatuck.
Dua tahun setelah menikah, Charles dan Clarissa pindah ke Philadelphia, mereka membuka toko perkakas pertanian yang menjual barang-barang buatan AS, sebuah upaya untuk tidak bergantung pada impor Inggris. Bisnisnya berkembang pesat, dengan segera firma Goodyear dikenal luas sebagai sumber peralatan pertanian berkualitas tinggi.
Warsa 1829, Charles Goodyear berada di ambang kesuksesan. Dia relatif kaya, memiliki rumah yang nyaman di Philadelphia, dan berbagi waktu berkualitas dengan istri dan anak-anaknya.
Hari-harinya dihabiskan mengajar anak-anak tentang nilai-nilai Alkitab dan kebaikan moral. Kehidupan, sepertinya, telah berbicara kepadanya dengan janji kebaikan.
Kebangkrutan dan Sejumlah Eksperimen
Namun, takdir berkata lain. Antara tahun 1829 dan 1830, kesehatan Charles mulai memburuk. Dia menderita dyspepsia kronis, penyakit pencernaan yang menguras energinya, dan pada saat yang bersamaan sejumlah usahanya mengalami kegagalan.
Firma Goodyear berjuang hingga kebankrutannya. Pada periode ini, ketika segala sesuatu tampak hilang, sebuah kejadian kecil mengubah jalan hidupnya.
Dalam perjalanan ke New York pada tahun 1830, Charles memasuki sebuah toko yang menjual barang-barang yang terbuat dari karet India. Kala itu, karet sedang booming di AS. Dia membeli sebuah pelampung karet buatan Roxbury Rubber Co., membawa pulang, memeriksanya dengan saksama, dan merasa dapat menyempurnakannya.

Charles segera menyusun rencana, menyampaikannya kepada manajer Roxbury dan meminta mereka untuk mengadopsinya. “Rencana Anda bagus,” kata sang manajer, “tetapi kondisi bisnis tidak memungkinkan kami mengambil pengeluaran baru. Jika Anda dapat menemukan cara untuk membuat karet India tahan terhadap musim panas dan musim dingin, kita akan sejahtera.”
Sebagai catatan, karet alam tahan air, mudah direntangkan, dan dapat dibentuk dengan mudah. Namun di musim panas, ia menjadi lengket dan lembek; sementara di musim dingin, ia menjadi rapuh dan mudah pecah.
Di sinilah obsesi dimulai. Charles Goodyear memutuskan akan memecahkan masalah yang telah menyiksa industri karet selama bertahun-tahun.
Pada tahun itu pula, saat dia dipenjara di Philadelphia atas kegagalan membayar utang, sebagaimana ditulis Azhar Virk dalam Inspiration from Lives of Famous People (2003:93), Charles melanjutkan eksperimennya dengan karet di dalam sel, mengolah getah itu berjam-jam.
Teman-temannya yang semula mendukung mulai frustasi, tetapi Charles tidak dapat dihentikan. Dia menjelaskan kesulitannya, tetapi tidak ada seorang pun yang mampu membantu pria yang bekerja tanpa bimbingan ilmiah formal.
Dari tahun 1834 hingga 1839, Charles Goodyear mengalami kehancuran finansial dan cobaan yang tak ada habisnya. Seturut laman Britannica, ia mengembangkan asam nitreat untuk pengobatan hingga warsa 1837, ia juga memperoleh kontrak dari Pemerintah AS untuk membuat tas surat dari karet yang dirawat dengan asam.
Harapan meluap dalam dirinya, tetapi kebahagiaan itu berumur pendek. Barang-barang itu terbukti tidak berguna pada suhu tinggi, dan harapannya runtuh sekali lagi.
Pada 1837, ketika krisis ekonomi melanda, kehidupan keluarganya menjadi nyaris mustahil. Mereka tidak memiliki rumah, tinggal di pabrik karet yang ditinggalkan di Staten Island, sementara tetangga melihat anak-anaknya mencari kentang setengah matang untuk dimakan di sebuah taman.
Charles menjual furnitur rumah, bahkan buku pelajaran anak-anak mereka, untuk membeli bahan kimia dan karet untuk eksperimennya. Istrinya, Clarissa, tidak pernah mengkritik, tidak pernah memprotes, tetapi memberikan dorongan lembut dan cinta yang tidak goyah. Dia adalah batu loncatan emosionalnya selama pengalaman yang mengerikan ini.
Satu-satunya cara keluarga itu bertahan adalah melalui penyandang dana dari beberapa kenalan untuk membiayai eksperimen Charles.
Penemuan dan Pembajakan
Memasuki tahun 1839, ketika Charles sedang bereksperimen, ia mencampur karet dengan belerang dan timbal putih, melukis campuran itu ke sepotong kain. Seperti banyak uji coba sebelumnya, tampaknya tidak berfungsi dengan baik.
Tetapi seseorang, tidak ada yang tahu siapa persis, meninggalkan sepotong kain yang dilapisi karet ini di atas kompor yang panas. Apa yang terjadi selanjutnya adalah momen yang menentukan dalam sejarah industri.
Bukan seluruh sampel yang rusak, tapi salah satu bagian terbakar gosong, bagian lain tetap lembut dan lengket, tetapi di tengah-tengahnya, di garis di mana panas telah diterapkan dengan jumlah yang sempurna, sampel itu menjadi keras, fleksibel, dan tahan terhadap suhu.
Charles melihat sesuatu dalam kecelakaan itu yang tidak dilihat orang lain. Dia melihat kemungkinan. Bukan karbon gosong yang penting, tetapi proses penyaringan silang yang sangat spesifik yang terjadi ketika belerang dan karet dipanaskan bersama-sama pada suhu yang tepat.
Dia menghabiskan bertahun-tahun berikutnya untuk menyempurnakan proses ini, bekerja dengan teko, oven, dan setrikas, sampai akhirnya dia menentukan bahwa pemanas uap bertekanan 132°C (270°F) selama empat hingga enam jam menghasilkan hasil optimal.
Dia menamakan prosesnya “vulkanisasi”, merujuk Vulkanus, Dewa Api. Pada tahun 1844, setelah lima tahun penyempurnaan yang melelahkan, dia menerima paten AS Nomor 3633.
Keluarganya akhirnya memiliki rumah dan prospek bisnis, meskipun tidak segera menguntungkan. Tidak menyadari tantangan apa yang akan datang, Charles Goodyear memulai perjalanan kedua ke dalam keputusasaan, yang akan berlangsung hingga kematiannya.
Charles membayangkan bahwa penemuannya akan membuat dia kaya. Dari akhir 1840-an dan awal 1850-an, kompetitor lain melihat nilai yang jelas dari vulkanisasi dan mulai memproduksi produk mereka sendiri tanpa lisensi atau izin Charles.

“[...] ia terus-menerus merangkak dari satu paten ke paten lainnya, dan berlari dari tahun ke tahun tanpa henti,” tulis pengacara Luther Rawson Marsh dalam sebuah pamflet tahun 1854.
Menurut Richard Korman dalam The Goodyear Story: An Inventor’s Obsession and the Struggle for a Rubber Monopoly (2002), Charles telah mengajukan lebih dari dua ratus tuntutan pada 1850-an, beberapa sumber menyebut lebih banyak lagi, melawan pabrik karet yang tidak mendapatkan lisensi yang menggunakan prosesnya.
Puncak perjuangan hukumnya datang pada tahun 1852, dengan kemenangan dalam “Kasus Karet India Besar” di Trenton, New Jersey. Keputusan mengakui hak paten Goodyear dan dengan tegas menjatuhkan hukuman terhadap para pesaing.
Tetapi pesaing-pesaing di Eropa, khususnya di Inggris dan Prancis, terus menggunakan prosesnya dengan impunitas. Di Inggris, seseorang bernama Thomas Hancock secara independen menemukan vulkanisasi pada waktu yang hampir sama atau bahkan sebelumnya, dan memiliki paten Inggris.
Era Industri Roda Empat
Sementara Goodyear berjuang melawan pembajakan ide, inovasi vulkanisasinya merevolusi dunia dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan sepenuhnya. Karet vulkanisasi yang tahan terhadap suhu ekstrem, menjadi bahan yang diperlukan untuk beberapa aplikasi industri terpenting abad ke-19.
Selongsong untuk silinder uap, poros penggerak untuk mesin, tali karet untuk penggerak, pipa, hingga sepatu. Namun dampak terbesar datang dengan munculnya kendaraan roda empat.
Ketika mobil mulai menjamur di akhir abad ke-19, mereka membutuhkan ban yang dapat menangani kecepatan dan beban kendaraan bermotor. Ban mobil kemudian terinspirasi dari ban pneumatik, yang diadopsi dari ban sepeda, dan ini membutuhkan karet vulkanisasi yang sempurna.
Karet vulkanisasi memiliki elastisitas dan ketahanan yang diperlukan untuk aplikasi ini dengan cara yang tidak dapat disediakan karet alam mentah. Revolusi otomotif dengan perubahan sosial dan ekonomi pada dekade pertama abad ke-20 pada dasarnya di atas fondasi penemuan Charles Goodyear.
Saat meninggal pada 1 Juli 1860 di New York City pada usia 59 tahun, dia meninggalkan utang senilai sekitar 200.000 dolar AS. Keluarganya, banyak di antaranya menderita malnutrisi yang parah, enam dari dua belas anaknya meninggal selama tahun-tahun ketika Goodyear menghabiskan uang eksperimennya.
Istri pertamanya, Clarissa, telah meninggal pada tahun 1853, setelah 30 tahun mendampingi suaminya melalui setiap cobaan. Charles menikah lagi dengan seorang wanita bernama Fanny Wardell yang memberinya tiga anak.
Pada 1898 atau 38 tahun setelah kematian Charles Goodyear, dua bersaudara bernama Frank dan Charley Seiberling mendirikan sebuah perusahaan di Akron, Ohio, untuk menghormati Charles Goodyear.
Mereka memilih nama “Goodyear” dengan penuh kesadaran dan perusahaan itu berkembang menjadi produsen ban terbesar di dunia. Goodyear Tire and Rubber Company, seperti yang dikenal sekarang, tidak pernah memiliki hubungan langsung dengan Charles Goodyear. Dia tidak pernah melihatnya didirikan, tetapi namanya identik dengan inovasi dalam industri yang dia ciptakan.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id































