tirto.id - Hal-hal aneh dan terkadang menjijikkan menyertai sejarah penelusuran tentang misteri yang terjadi di dalam perut manusia. Selama ratusan tahun, ilmu medis mengibaratkan makanan sebagai bahan bakar untuk memasak energi panas internal di dalam usus dan lambung. Mirip mekanisme kerja kendaraan bermotor, makanan adalah bensin dan organ pencernaan sebagai mesin.
Para ilmuwan menduga-duga tentang kondisi yang terjadi di dalam organ pencernaan. Mungkinkah makanan terfermentasi sehingga mengalami pembusukan dan mengekskresi dalam wujud feses.
Pada abad ke-18, polemik menyoal apa itu “jus lambung” (cairan lambung atau getah lambung) di antara dokter spesialis pencernaan (gastroenterologi) berlangsung sengit. William Prout, ahli kimia Inggris menemukan bahwa “jus lambung” mengandung asam klorida (Hydrochloric acid)—zat yang kuat dan sangat korosif, sehingga sukar dipercaya terdapat dalam tubuh manusia tanpa menyebabkan bahaya.
Penemuan ini mampu membarui penelitian sebelumnya oleh René de Réaumur dan Lazzaro Spallanzani tentang fisiologi lambung. Namun lebih dari itu, tiada kesimpulan mutlak, apakah pencernaan manusia berlangsung melalui proses kimia atau mekanik.
Lain itu, ada pula bumbu mistikisme yang menyatakan bahwa sistem percernaan adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dijelaskan kecuali dengan kekuatan spiritual. Anggapan ini muncul karena kala itu pembuktian secara empiris belum terlalu banyak.
Warsa 1833, sebuah publikasi ilmiah berjudul “Experiments and Observations on the Gastric Juice, and the Physiology of Digestion” karya William Beaumont mampu menjawab misteri tentang pencernaan manusia.
Mampu Bertahan dari Kecelakaan Mengerikan
Kamis, 6 Juni 1822, seorang voyaguer keturunan Kanada-Prancis, menjadi korban salah tembak yang mengerikan. Ia bernama Alexis St. Martin, berusia 18 tahun, dan bekerja di American Fur Company.
Martin tertembak senapan laras panjang milik sesama kolega voyaguer yang tiba-tiba meletus. Tembakan itu mengenai sisi kiri tubuhnya yang saat itu berada pada jarak tidak lebih dari satu yard (3 kaki atau 0,914 meter) dari moncong senjata. Baju Martin terbakar saat dirinya ambruk. Para saksi mata menyimpulkan dia meninggal seketika.
Orang-orang lantas memanggil William Beaumont, dokter militer Angkatan Darat AS di Pulau Mackinac (kini wilayah Michigan), yang bertempat tak jauh dari lokasi Martin bekerja. Beaumont tiba sekitar 20 atau 30 menit setelah insiden.

Hasil autopsi yang dilakukan Beaumont menjelaskan bahawa peluru masuk dari bagian posterior, miring, meledakkan integumen dan otot seukuran telapak tangan manusia. Separuh tulang rusuknya hancur dan sebagian lagi patah. Bagian bawah lobus kirinya yang berisi paru-paru dan diafragma terkoyak. Lambungnya juga berlubang.
Paru-parunya sebesar telur kalkun, menonjol melalui luka luar dengan kondisi robek dan terbakar. Sementara di bawah tonjolan itu, terlihat lambung yang berlubang seukuran jari telunjuk, mencecerkan sisa sarapan.
Dalam keadaan mengenaskan, Martin masih hidup meski kondisinya kritis. Beaumont tangkas memberikan pertolongan pertama, mengeluarkan proyektil dan potongan pakaian yang masuk ke rongga perut dan dada.
“Setelah membersihkan tubuh dari kotoran dan benda asing lainnya, mengganti perut dan paru-paru sejauh yang dapat dilakukan, saya mengoleskan tapal fermentasi berkarbonasi, dan menjaga agar bagian sekitarnya tetap basah dengan losion amonia dan cuka; dan memberikan larutan asam asetat dengan kamper dalam jumlah banyak,” tulis Beaumont (hlm. 9).
Awalnya, Beaumont memperkirakan masa hidup Martin hanya bertahan selama 36 jam. Namun yang terjadi sebaliknya. Martin terus hidup dan penyembuhan lukanya luar biasa cepat. Tubuhnya mampu melewati demam tifoid kronis selama sepuluh hari akibat reaksi infeksi luka yang membusuk.
Di samping itu, semua makanan dan minuman yang dikonsumsi Martin bocor kembali melalui lubang di perutnya. Tetapi Beaumont menopangnya dengan suntikan nutrisi melalui lubang anus, sampai kompres dan tali perekat di sekitar luka cukup erat untuk mencegah makanan keluar. Selama proses penyembuhan ini, Beaumont menangani dan terus mengawasi perkembangan kesehatan Martin.
Jadi Martir Penelitian
Setelah beberapa tahun proses penyembuhan, Martin akhirnya benar-benar pulih. Kecuali satu hal yang mengganjal: lubang menganga di perutnya menolak menutup. Alih-alih dinding perutnya kembali seperti semula, justru tepi robekan lapisan otot perut dan ruang di antara tulang rusuk bertemu dan menempel dengan Kutis vera—bagian permukaan kulit luar. Terciptalah ruang pada jaringan-jaringan itu, layaknya lubang hidung.
Beaumont menganjurkan agar Martin bersedia dioperasi (secara formal disebut bedah fistula lambung), tetapi Martin menolak sebab tak kuasa menahan derita selama ini. Selama berbulan-bulan, lubang menganga di perutnya hanya dibalut perban untuk mencegah makanan tercecer keluar. Hal itu menumbuhkan “kulit tipis dan transparan” seperti katup interior dan mudah ditekan jari. Dari lubang itulah Beaumont dapat melihat jelas sekaligus mengakses organ-organ dalam Martin.
Temuan itu pertama kali dilaporkan pada Mei 1825 saat rangkaian percobaannya kepada Martin di Fort Mackinac. Lalu pada bulan Juni, Beaumont bersama Martin bertandang ke Niagara, New York, untuk menerbitkan publikasi pertamanya di Philadelphia “Medical Recorder” (Vol. 29, 1826) yang dikepalai Doktor Samuel Calhoun.
Melihat fenomena unik itu, Beaumont dengan cepat menyadari potensi eksperimental pasiennya. Dia juga “menyerang” titik lemah Martin, yang setelah insiden kecelakaan mengerikan itu menganggur, kehilangan mata pencaharian dan sepenuhnya menggantungkan hidup pada dirinya.
Agustus 1825, saat Beaumont mengajak Martin melawat ke Plattsburgh, New York, Martin tiba-tiba pulang kampung ke tempat asalnya di Kanada tanpa persetujuan Beaumont. Dia sempat menulis Martin sebagai “subjek hilang untuk eksperimen fisiologis”. Namun bukan berarti Beaumont menyerah begitu saja. Dia mengupayakan segala cara untuk melacak informasi soal tempat tinggal dan kondisinya.
“Ia tinggal di Kanada selama empat tahun, menikah, dan menjadi ayah dari dua anak; bekerja keras untuk menghidupi keluarganya; menikmati kesehatan dan kekuatan yang prima... Perut dan lambungnya dalam kondisi yang sama seperti ketika dia meninggalkan saya pada tahun 1825,” kenang Beaumont (hlm. 18-19).
Beaumont berusaha meyakinkan Martin untuk bersedia menjadi pelayannya”, atau lebih tepatnya subjek eksperimen fisiologi lambung. Awalnya Martin keukeuh menolak, tetapi kemiskinan mendorongnya untuk kembali ke haribaan Beaumont. Dengan demikian kemitraan aneh dan rumit di antara keduanya dimulai.
Beaumont dengan tekun mencatat seluruh tahapan-tahapan eksperimennya. Hari demi hari, lengkap dengan menit dan jam, serta kronik reaksi yang berubah-ubah di setiap pengamatannya pada proses pencernaan di perut Martin. Dia publikasikan seluruh memo dalam publikasi keduanya selama empat tahap dari 1 Agustus 1825 sampai 1 November 1833, dengan jumlah sebanyak 238 kali percobaan.
“Ketika dia berbaring di sisi yang berlawanan, saya bisa melihat langsung ke rongga perut dan hampir melihat proses pencernaan,” tulis Beaumont.
"Saya bisa menuangkan air dengan corong, atau memasukkan makanan dengan sendok, dan menariknya keluar lagi dengan sifon. Saya sering menggantungkan daging mentah dan terbuang, serta zat lain ke dalam perforasi untuk memastikan lamanya waktu yang diperlukan untuk mencerna setiap makanan; dan pada suatu waktu, saya menggunakan tendon daging sapi mentah sebagai pengganti serat, dan menemukan bahwa dalam waktu kurang dari lima jam itu benar-benar tercerna, sehalus dan serata seolah-olah telah dipotong dengan pisau," urainya.

Beaumont juga sering memaksa Martin menggembol botol yang berisikan “isi di perutnya” ke mana-mana, diselipkan di ketiak, guna membantu Beaumont mempelajari efek panas dan radiasi tubuh pada pencernaan. Setiap hari, sampel “jus lambung” diambil dari fistula, lalu diteliti dan diuji analisis kimia.
Sejak menjadi “pelayan”, Martin hampir selalu mengikuti Beaumont ke mana pun dokter itu pergi. Ia kerap dipanggil dengan sebutan “Alexis Fistulous” atau “Pria dengan Tutup Perut” yang sudah seperti sebuah ejekan. Dengan rasa sakit di hampir setiap pergerakannya yang terbatas, Martin menanggung semuanya sebab dia tak memiliki pilihan lain.
Martin meninggal pada tahun 1880 saat menghabiskan sisa umurnya sebagai petani di tempat lahirnya. Dia justru hidup lebih lama dari Beaumont yang mati karena terpeleset tangga yang tertutup es pada 1853.
Revolusi Penelitian Fisiologi Modern
Penemuan William Beaumont dan kontribusi luar biasa Alexis St. Martin menyibak kabut misteri ilmu pengetahuan tentang kompleksitas pencernaan.
Penelitian oleh keduanya berhasil sampai pada kesimpulan bahwa asam klorida dan gerakan otot sebagian besar bertanggung jawab atas proses pencernaan. Selain itu, temuan ini juga dapat menjadi evaluator hubungan antara tingkat pencernaan yang melambat karena demam, memuat sintesis yang memengaruhi penyembuhan penyakit di masa depan.
Misalnya, eksperimen Beaumont ini mengilhami Ivan Pavlov untuk melakukan operasi fistula pada anjing. Jendela gastroenterologi inilah yang mengantarkan Pavlov pada kesimpulan bahwa pengondisian klasik dapat memacu anjing untuk mengeluarkan air liur sesuai isyarat.
Richard Rogers, ilmuwan saraf Pennington Biomedical Research Institute di Baton Rouge, Los Angeles mengatakan, “Dia (Beaumont) adalah orang pertama yang mengamati proses pencernaan yang terjadi secara real time.”
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































