Menuju konten utama
Round Up

Kasus Kombes Teddy, Mengapa Emosi Rentan Tersulut di Jalan?

Pengendara rentan emosi saat menyetir. Psikolog A. Kasandra Putranto menyebut macet, lelah, kejaran waktu, dan ulah pengemudi lain sebagai pemicu utamanya.

Kasus Kombes Teddy, Mengapa Emosi Rentan Tersulut di Jalan?
Perselisihan antara Kombes Pol. Teddy Fanani dan Bill Irzano alias Bili yang terjadi di Jalan Bandara, Kota Padang, berakhir damai. (Sumber: ANTARA FOTO)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perwira Kepolisian Daerah (Polda) Sumatra Barat (Sumbar) Kombes Teddy Fanani dan pengemudi bernama Bill Irzano alias Bill akhirnya sepakat menyelesaikan permasalahan mereka yang sempat viral di media sosial secara kekeluargaan. Kesepakatan itu tercapai dalam pertemuan yang dihadiri kedua belah pihak di salah satu restoran di Kota Padang, Minggu (9/8/2026) malam.

"Dengan niat baik dan hati yang tulus akhirnya masalah itu telah diselesaikan dengan cara kekeluargaan," kata Kepala Bidang Humas Polda Sumbar, Kombes Susmelawati Rosya, melansir Antara, Senin (10/8/2026).

Keputusan damai ini disebut tanpa adanya paksaan sebab kesalahpahaman antara kedua belah pihak dapat terselesaikan melalui dialog dan komunikasi yang mengalir. Kesepakatan ini juga ditandai dengan adanya surat pernyataan yang ditandatangani bersama.

Dicabutnya laporan yang telah dibuat Bill ke Propam Polda Sumbar dan SPKT Polda Sumbar juga disebut menjadi bagian dari kesepakatan yang telah dibuat kedua belah pihak.

Kronologi Perselisihan Perwira dan Pengemudi

Perselisihan antara Teddy Fanani dan Bill bermula saat keduanya sama-sama berkendara menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada Jumat (7/8/2026). Saat itu, mobil yang dikendarai Bill disebut menyalip kendaraan Teddy dari sisi kiri.

Dalam video yang beredar di media sosial, Teddy kemudian turun dari mobil bersama sejumlah orang lainnya dan terlihat menunjuk mobil Bill dan memarahinya. Menurut pengakuan Bill, dia dipukuli di bagian mata hingga kacamata yang dikenakannya patah.

Kejadian ini pun dilaporkan Bill ke Propam Polda Sumbar dan SPKT Polda Sumbar.

Tak berbeda jauh dengan kejadian itu, pada akhir Juli, perselisihan di jalan terjadi antara petugas keamanan proyek MRT dengan pengemudi Toyota Alphard di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Insiden itu viral di media sosial sebab satpam mengaku mendapat makian hingga bersujud minta maaf kepada pengemudi Alphard.

Setelah ditelusuri pengendara mobil Toyota Alphard itu diketahui merupakan anggota Polda Jabar, di antaranya satu orang perwira polisi dan dua lainnya merupakan anggota bintara. Kasus ini pun telah berakhir damai tetapi penindakan terhadap tiga anggota polisi tetap berlanjut.

Dalam banyak kasus, emosi pengendara memang cenderung lebih mudah tersulut ketika berada di balik kemudi. Psikolog klinis A. Kasandra Putranto, menilai situasi seperti kemacetan, tekanan waktu, rasa lelah, hingga perilaku pengendara lain yang dianggap mengganggu sering kali menjadi pemicu awal munculnya kemarahan.

Penelitian Jerry Deffenbacher dan rekannya pada 2003 menunjukkan bahwa individu dengan tingkat driving anger yang tinggi lebih sering mengalami kemarahan saat berkendara dan cenderung menampilkan perilaku agresif serta berisiko. Bukan hanya situasi di jalan yang berpengaruh, tetapi juga cara seseorang menafsirkan kejadian yang dialaminya.

“Ketika tindakan pengendara lain dipersepsikan sebagai provokasi atau bentuk tidak menghargai, kemarahan dapat makin meningkat,” kata Kasandra kepada Tirto, Senin (10/8/2026).

Ilustrasi Bentrok

Ilustrasi Bentrok. foto/Istockphoto

Status sosial maupun jabatan juga tidak otomatis menjadi penghalang munculnya emosi tersebut. Seorang perwira, pejabat, atau profesi apa pun tetap memiliki respons psikologis yang sama ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam, membahayakan, atau merendahkan dirinya. Yang membedakan bukan ada atau tidaknya emosi, melainkan kemampuan mengatur respons terhadap emosi itu.

Temuan systematic review Love dan Nicolls (2025) memperlihatkan bahwa kesulitan dalam regulasi emosi berkaitan erat dengan perilaku berkendara yang lebih agresif. Dengan kata lain, jabatan seseorang tidak serta-merta mencerminkan kemampuan pengendalian emosinya ketika menghadapi situasi yang memicu kemarahan di jalan.

Oleh karena itu, pengelolaan emosi atau anger management menjadi aspek penting dalam keselamatan berlalu lintas. Kata Kasandra, anger management bukan berarti seseorang tidak boleh merasa marah, tetapi bagaimana ia mampu mengelola respons ketika kemarahan muncul

Studi Deffenbacher dkk. (2001) tentang Driving Anger Expression Inventory menunjukkan bahwa cara mengekspresikan kemarahan yang lebih adaptif berkaitan dengan lebih rendahnya perilaku agresif dan berisiko saat berkendara. Kemampuan untuk berhenti sejenak, menurunkan intensitas emosi, dan memilih tidak bereaksi secara impulsif menjadi salah satu kunci agar perselisihan kecil di jalan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

“Pengemudi perlu mengenali tanda-tanda awal kemarahan dan memberikan jeda sebelum bereaksi, misalnya dengan tidak membalas, mengejar, atau melakukan konfrontasi dengan pengendara lain,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait KASUS PEMUKULAN atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - News Plus
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama