Kisah Berdarah Kartel Cali dari Kolombia

Aksi Pedro Pascal dan Boyd Holbrook berperan sebagai Agen DEA Javier Pena dan Steve Murphy di serial film Narcos. [Foto/Daniel Daza/Netflix]
Oleh: Nuran Wibisono - 3 September 2017
Dibaca Normal 5 menit
Selepas Pablo Escobar tewas dan kartel Medellin bubar, kartel Cali menjulang sebagai yang terbesar.
"Kartel kokain sedang mengalami pergantian kekuasaan. Di hari Pablo Escobar tewas, kartel Cali menjadi musuh utama."

Suara Javier Pena mengawali trailer Narcos musim ketiga. Javier, sang agen DEA yang berhasil memburu Escobar, kini menghadapi musuh baru: kartel Cali. Kartel ini punya banyak perbedaan dengan kartel yang didirikan Escobar, Medellin. Di Cali, para petingginya tampil necis. Mereka menggalang kekuatan dari pemerintah, hingga membuat jaringan dengan tentara bayaran.

"Dan mereka tumbuh menjadi kartel terbesar dalam sejarah."

Tahun ini Narcos memasuki musim ketiga. Banyak penonton bertanya-tanya, apa yang akan menjadi inti cerita di musim ini. Mengingat Escobar, yang menjadi sosok sentral di dua seri sebelumnya, sudah mangkat. Namun, sejak awal, pembuat Narcos sudah mulai menyisipkan kehadiran kartel Cali.

Baca juga: Hidup dan Mati Gembong Narkoba Pablo Escobar


Pada 1 September 2017, serial yang diproduksi oleh Netflix ini resmi dirilis. Ada 10 episode. Hampir sama dengan dua seri pendahulu, serial Narcos musim ini juga mendapat review baik. Di situs Rotten Tomatoes, musim ketiga Narcos mendapat penilaian 100 persen segar.

"Kartel Cali mendapat keuntungan dari tumbangnya Medellin. Mereka merangsek dari posisi ke-2 ke posisi ke-1," ujar produser eksekutif Narcos, Eric Newman, seperti dikutip Hollywood Reporter.

Narcos musim ketiga tetap akan menghadirkan jalan cerita yang menarik, sebab ada perbedaan besar antara Medellin dan Cali. Selain perkara dandanan, ada perbedaan cara berdagang kokain antara Medellin dan Cali. Kartel Medellin menebarkan kematian di mana-mana, jelas memposisikan diri sebagai musuh pemerintah, maka Kartel Cali memposisikan diri sebagai bagian dari kehidupan Kolombia. Mereka membangun sistem yang melindungi mereka, alih-alih mengajak perang tentara dan pemerintah.

Selain itu, Cali juga lebih liat ketimbang Medellin. Di Medellin, Escobar seperti pemimpin besar tanpa suksesor. Saat dia tewas, maka berakhir pula kerajaan kokain bernama Medellin. Sedangkan Calli, mereka bukanlah kartel dengan satu pemimpin. Bahkan mereka mempunyai aneka sub-organisasi yang dibentuk berdasarkan kepentingan masing-masing.

Maka Pedro Pascal, sang pemeran Javier Pena, bersemangat dengan jalan cerita di musim ketiga ini. Dalam acara gelar wicara (talkshow) Jimmy Kimmel, ia mengungkapkan 'kekagumannya' terhadap kartel Cali yang menjadi inti cerita di Narcos musim ketiga.

"Sebelumnya, tak banyak yang tahu tentang Cali. Aku membatin, ini gila. Mereka lebih kaya ketimbang Pablo Escobar, dan mereka punya empat pimpinan!"

Baca juga: Gembong-Gembong Narkoba Kelas Wahid

Berawal Dari Penculikan dan Menjual Ganja

Sama seperti Escobar yang mendirikan Medellin dari nol, begitu pula yang dilakukan oleh kartel Cali. Namun sejak awal Cali tidak mempunyai pemimpin tunggal. Kartel yang didirikan di Cali, kota yang berada di Kolombia Barat Daya, didirikan oleh empat orang. Dua di antaranya adalah Rodríguez Orejuela bersaudara: Gilberto dan Migel. Orang ketiga adalah José Santacruz Londoño. Saat Helmer "Pacho" Herrera bergabung, maka pemimpin kartel ini menjadi empat orang.

Kelompok ini awalnya tak berniat menceburkan diri di bisnis kokain. Mereka malah bergabung dengan kelompok penculik bernama Las Chemas. Target mereka adalah warga asing, dan meminta tebusan dari sana. Kemudian uang itu diputar untuk berbisnis ganja.

Namun, apalah arti uang ganja ketimbang uang kokain. Mereka kemudian beralih menjual kokain di awal 1980-an. Pacho menjadi salah satu ujung tombak pemasaran mereka, dengan pasar utama di New York. Sebagai kelas menengah, para petinggi kartel Cali menyadari bahwa pangsa utama mereka ada di kota besar seperti New York.

Namun bisa juga ini untuk menghindari pertikaian langsung dengan Escobar yang saat itu menguasai jalur distribusi dekat laut, seperti di Florida atau California. Apalagi di periode itu, Medellin sedang berada di puncak kekuatannya. Sebagai kartel baru, rasanya terlalu berisiko bagi mereka untuk terang-terangan menantang Medellin.

Walau awalnya tak bersimpangan jalan, Medellin dan Cali toh akhirnya bertemu juga. Awalnya berjalan dengan baik. Pada 1981, kelompok gerilya Movimiento 19 de Abril (M-19) menculik Marta Ochoa, adik dari tiga petinggi Medellin, Jorge, Fabio, dan Juan David. Kelompok gerilya itu meminta uang tebusan 15 juta dolar.

Kelompok gerilya itu menculik orang yang salah. Dengan cepat, para petinggi Medellin mengumpulkan para pemimpin kartel, termasuk Cali, untuk membentuk MAS, singkatan Muerte a Secuestradores. Jika diartikan: Kematian Bagi Para Penculik. Ironis, para pemimpin kartel ini --termasuk Escobar-- memulai karier kriminal dari penculikan. Sekarang mereka melawan penculikan dengan amat keras.

Para gembong kokain ini kemudian swadaya dana, peralatan, juga tenaga, untuk MAS. Mereka kemudian memburu para anggota M-19, menyiksa, dan membunuh mereka. Mereka tak takut ancaman kelompok gerilya. Lagipula, bisa apa kelompok gerilya kecil melawan persatuan kartel yang memiliki sumber daya militer dan dana nyaris tak terbatas. Dalam tiga hari, Martha dilepaskan.



Kejayaan, Pertikaian Besar dan Menuju Keruntuhan

Setelah kasus penculikan, Medellin dan Cali berpisah jalan. Sayangnya, perpisahan itu tampak tak tuntas dan berakhir dengan tidak baik. Dua kelompok ini saling menyerang. Salah satu penyerangan paling brutal dilakukan oleh Escobar, yang menyasar jaringan apotek milik Cali, Drogas La Rebaja. Harian El Tiempo pada 20 Juni 1991 melaporkan ada setidaknya 85 serangan ke jaringan apotek ini yang terjadi di Perreira, Cali, Bogota, dan Medellin. Serangan ini membuat 27 orang tewas.

Sedangkan Cali mendanai Los Pepes, kelompok yang dibentuk khusus untuk membunuh Pablo Escobar. Para anggotanya adalah mereka yang pernah bermusuhan dengan Escobar. Menurut jurnalis Mark Bowden dalam Killing Pablo: The Hunt for the World's Greatest Outlaw (2001), selain didanai oleh Cali, kelompok ini juga mendapat dana dari, salah satunya CIA.

Baca juga: Jejak-Jejak CIA di Indonesia


Petinggi Cali memang dianggap lebih berhasil membumi ketimbang Medellin. Ini juga soal pendekatan. Medellin lekat dengan teror, tidak hanya ke pemerintah, tapi juga orang biasa. Tindakan ngawur itu yang kemudian membuat Escobar dan Medellin jadi musuh bersama.

Para petinggi Cali kemudian mengambil kesempatan ini. Mereka melakukan pendekatan pada pemerintah, juga tentara dan polisi. Kartel Cali membentuk kelompok-kelompok mandiri yang lebih kecil yang menangani perkara berbeda. Selain kelompok yang menangani perkara perdagangan kokain, ada juga divisi yang menangani keamanan. Para petinggi divisi itu yang akan berhubungan baik dengan polisi dan tentara, memastikan operasi mereka lancar dan terkendali. Ada pula divisi politik yang berhubungan dengan anggota kongres dan pemerintah, juga divisi hukum yang menangani apapun terkait hukum.

Berbeda dengan Escobar dan anggota Medellin yang kebanyakan berasal dari warga menengah bawah, para pendiri dan petinggi kartel Cali berasal dari kalangan menengah atas. Dalam Dangerous Decisions: Problem Solving in Tomorrow's World (1999), dijelaskan bahwa latar belakang ini yang kemudian membuat Cali melakukan pendekatan lebih halus.

Benar, Cali tak kalah kejam dibanding Medellin. Mereka bahkan melakukan apa yang disebut "pembersihan sosial", yakni pembantaian warga yang dianggap sebagai 'sampah' masyarakat. Yang dibunuhi adalah para pelacur, anak jalanan, copet, hingga para gelandangan. Mirip seperti Petrus yang dilakukan oleh Orde Baru.

Kelompok yang khusus dibuat kartel Cali ini bernama Groupos de Limpieza Social, alias Kelompok Pembersihan Sosial. Motto mereka adalah "Cali limpia, Cali Linda", alias "Bersihkan Cali, Maka Cali jadi Indah". Dalam buku Dangerous Decisions, disebutkan ada ribuan orang yang tewas karena pembantaian ini.

Namun, di balik semua kekerasan itu, para petinggi Cali tak ingin menjalani jejak Escobar yang menjadi musuh pemerintah. "Mereka lebih mampu menjaga hubungan baik dengan oligarki Kolombia, yang mengontrol bisnis dan pemerintahan," tulis Enid Mumford, sang penulis Dangerous Decisions.

Mereka juga mencuci uang dengan lebih rapi. Salah satunya adalah membuat bisnis legal, seperti jaringan apotek dan juga bank First InterAmericas Bank. Jaringan apotek Drogas la Rebaja berkembang jadi bisnis yang menguntungkan, dengan 400 lokasi di 28 kota dan punya 4.200 pegawai.

Dalam laporannya untuk Time pada 2001, Elaine Shannon Washington menyebut bisnis pencucian uang ini adalah sumber pendapatan terbesar kedua kartel Cali. Di New York saja, pencucian uang ini menghasilkan 7 sampai 12 juta dolar per bulan.

Di laporan berjudul New Kings of Coke itu, Washington menjelaskan sistem kerja kartel Cali yang mirip perusahaan. Para petinggi itu dituliskan, "seperti pimpinan perusahaan." Di kantor pusat, berkumpul orang penting. Mulai petinggi, bidang penjualan, keuangan, juga militer.

Tiap divisi dibawahi orang kepercayaan Cali, semisal Leto Lopez. Staff para pimpinan divisi ini berasal dari tetangga, hingga saudara. Sistem kerjanya juga mirip perusahaan konservatif. Misal, tak boleh mabuk dan tak boleh ada pesta.

Sistem penyelundupan kokain yang dilakukan Cali juga baru. Mereka menyelundupkan kokain lewat papan kayu pohon cedar, cokelat batangan, hingga direndam dalam tong berisi cairan kimia beracun. Kartel Cali juga memanfaatkan kurangnya tenaga pemeriksaan di bea cukai. Menurut laporan Washington, pada masa itu para petugas bea cukai hanya bisa memeriksa sekitar 3 persen dari total 9 juta pengiriman lewat kontainer. Ini artinya, ada 97 persen celah yang bisa dipakai oleh penyelundup kokain.

Memanfaatkan kekuatan politik, juga militer, dan kuatnya jaringan penjualan, Cali menjulang jadi kartel terbesar dunia selepas Medellin tumbang. Diperkirakan pada masa puncaknya, Cali memasok 70 persen kokain di Amerika Serikat dan 90 persen di pasar Eropa. Menjelang keruntuhannya, kartel ini diperkirakan sudah meraup pendapatan 7 miliar dolar dalam kurun 1996, hanya dari pasar New York.

Tewasnya Escobar, juga bubarnya Medellin, memang membawa berkah bagi kartel Cali, sekaligus menjadikan Cali sebagai musuh nomor satu pemerintah Kolombia. Tentara dan polisi mulai memburu mereka. Para petinggi satu per satu ditangkap, atau tewas.

Salah satu pendiri Cali, José Santacruz Londoño, tewas dalam kejadian yang masih merupakan perdebatan. Ada yang bilang ia tewas saat berusaha kabur dari sergapan polisi. Ada pula yang bilang tewasnya pria berjudul Chepe ini sudah direncanakan oleh kelompok sayap militer di bawah Kolonel Danilo Gonzales.

Sedangkan Pacho menyerahkan diri pada 1 September 1996, dan dua tahun kemudian dihukum penjara 14 tahun. Pada November 1998, Pacho ditembak 7 kali di kepala oleh Uribe dengan motif yang juga masih diperdebatkan. Dua pimpinan lain, Gilberto dan Miguel ditangkap dan diekstradisi ke AS pada 2004 dan 2005. Mereka divonis hukuman 30 tahun penjara setelah mengakui bersalah mengimpor kokain ke AS, dan terlibat dalam pencucian uang.

Dengan ditangkapnya 4 pucuk pimpinan Cali, berakhir pula nasib salah satu kartel terbesar sepanjang sejarah ini.

Baca juga artikel terkait NARKOBA atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Film)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Suhendra
DarkLight