tirto.id - Pada akhir dekade 1970-an, ketika hutan lebat Kolombia diam-diam menjadi saksi perang narkotika paling berdarah yang pernah ada, Pablo Emilio Escobar Gaviria menemukan dirinya terpesona oleh jenis pertempuran yang sama sekali berbeda. Pertempuran yang dimaksud tidak diperjuangkan dengan peluru, tetapi dengan kecepatan, keberanian, dan piston.
Jauh sebelum menjadi pria paling diburu di muka Bumi, sebelum namanya dibisikkan dengan rasa hormat dan takut bak dewa kematian, Escobar bermimpi lain: mengukir namanya di dunia motorsport.
Bagi seseorang yang bisa memiliki apa saja hanya dengan "memetik jari", dunia balap menawarkan sesuatu yang langka. Hasil di lintasan sukar diatur, muskil dipalsukan, dan tidak (sepenuhnya) bisa dibeli. Orang bisa membawa mobil terbaik, mekanik terbaik, ban terbaik. Namun, soal hasil akhir, semua tergantung keterampilan. Bagi Escobar yang kompetitif, hal seperti itu membuatnya begitu bergairah.
Langkah pertama Escobar ke dunia balap sebetulnya terbilang sederhana menurut standar seorang (calon) miliarder. Pada 1979, Escobar mengikuti Copa Renault 4, seri balap yang, kendati guram, selalu dipertarungkan dengan sengit di Kolombia. Para pembalap harus memacu Renault 4 yang berbentuk kotak dan kurang bertenaga di sirkuit berliku.
Escobar, dengan senyum lebar—untuk menyembunyikan monster dalam dirinya—mengemudi di antara orang-orang biasa. Di sana sama sekali tidak ada pretensi. Kehadirannya murni karena keinginan balapan dan ambisi meraih kemenangan. Foto-foto dari era tersebut menunjukkan betapa bangganya Escobar pada dirinya sendiri. Dia memang tidak juara, tetapi podium ketiga sudah cukup hebat bagi sosok seperti dirinya.
Pada tahun yang sama, Escobar memuaskan dahaganya akan kecepatan dengan membeli harta sebuah Porsche 911 Carrera 3.0 RSR IROC keluaran 1974. Mobil ini punya arti spesial bagi para pencinta balapan dan kecepatan lantaran pernah dikemudikan Emerson Fittipaldi, juara Formula 1 Brasil, dalam seri International Race of Champions yang baru dibentuk.
Porsche itu, yang awalnya dirakit untuk para pembalap elite dunia, masuk ke dalam koleksi Escobar setelah dijual oleh pembalap Inggris, John Tunstall. Escobar lantas memodifikasinya agar menyerupai Porsche 935 yang agresif, berbodi lebar, dan raungannya menggema di pedalaman Kolombia. Escobar membalapnya dalam acara-acara kartel yang dibungkus dengan kemasan kompetisi balap.

Perkembangan bisnis narkotikanya pun tak membuat Escobar berhenti membalap. Dia selalu meluangkan waktu untuk mengikuti kompetisi. Dia bukan sekadar penggila kecepatan yang menyewa sirkuit kosong di akhir pekan untuk menggila dengan mobil koleksinya. Escobar betul-betul ingin menjadi seorang pembalap.
Namun, itu semua tidak cukup bagi Escobar. Dia tidak cuma ingin dikenal sebagai "orang balap" di lingkup lokal. Dengan uang yang seakan tak bernomor seri, Escobar mulai mengambil ancang-ancang menancapkan panji di panggung balap mobil terakbar: Formula One (F1).
Kesempatan itu datang pada 1981. Ricardo Londoño-Bridge, pembalap muda Kolombia yang potensial dan bergaya agresif, menarik perhatian Escobar. Londoño berbakat, cepat, dan—yang terpenting—bersedia menerima perlindungan Escobar tanpa pertanyaan. Uang mengucur deras mengiringi karier si pembalap yang sedang berkembang. Mobil yang lebih baik. Tim yang lebih baik. Peluang yang lebih baik.
Tak butuh waktu lama bagi Londoño untuk memikat hati Ensign, tim F1 yang kala itu sangat membutuhkan dana. Ensign setuju menurunkan Londoño di Grand Prix Brasil, balapan kedua musim 1981. Namun, ada satu masalah: Londoño belum memiliki Super Licence, kredensial yang diperlukan untuk bersaing di F1. Ensign dan Londoño berharap, Super Licence itu bisa segera turun setelah sesi latihan berakhir.
Untuk sesaat, tampaknya mimpi itu menjadi kenyataan. Londoño tiba di Jacarepaguá di Rio de Janeiro. Dia naik ke kokpit Ensign N180B berkelir merah dan putih. Dia sudah melaju beberapa putaran. Namanya muncul di samping para legenda, seperti Nelson Piquet dan Alan Jones. Untuk sesaat, mimpi Escobar berada di ambang kenyataan.
Namun, semuanya hancur berantakan.
Di sesi latihan tersebut, entah ceroboh atau kewalahan, Londoño memotong jalur Keke Rosberg, pembalap kawakan Finlandia yang punya kesabaran setipis tisu. Tabrakan pun tak terelakkan. Kata-kata kasar, tak pelak, terlontar. Sontak, semua fokus mengarah kepada Londoño. Orang mulai bertanya-tanya: Siapa orang Kolombia ini? Bagaimana dia bisa sampai di sini? Bagaimana seorang pria yang nyaris tak punya pengalaman internasional berarti bisa berada di grid balapan F1?
Para pengawas mulai bergerak. FIA, induk organisasi olahraga balap sedunia, mengungkap tabir tipis atas sponsor Londoño. Dari jejak keuangan, terungkaplah keterlibatan Pablo Escobar dan Kartel Medellín. Bernie Ecclestone, bos F1, pun tak tinggal diam. Super Licence untuk Londoño ditolak mentah-mentah. Secara resmi, "kurangnya pengalaman" jadi alasan resmi. Namun, semua tahu bahwa alasan sesungguhnya adalah para penyelenggara F1 tidak sudi olahraganya dicemari uang haram Escobar.
Londoño dilarang balapan pada hari Minggu itu. Mobilnya terparkir diam. Helmnya tetap berada di atas meja, tidak tersentuh. Mimpi itu mati di sana, pada pagi yang panas di Brasil, tercekik oleh politik dan aroma anyir uang kotor. Bukan cuma mimpi Londoño yang mati, tetapi juga mimpi sang patron yang memantau segalanya dari nun jauh di sana.
Misi Escobar "menyusup" ke F1 pun layu sebelum berkembang. Namun, dia tahu bahwa hidupnya tak hanya di soal balapan dan lintasan. Escobar pun mengalihkan perhatiannya kembali ke perang yang sedang berkecamuk dengan pemerintah Kolombia, kartel saingan, dan orang AS.
Pada pertengahan 1980-an, sudah terlalu banyak nyawa yang lenyap karena perang. Meski masih aktif mensponsori dunia olahraga lewat klub sepak bola Atletico Nacional, eksistensi Escobar sebagai sugar daddy dunia balap sudah dikubur dalam-dalam. Sampai akhirnya, Escobar ditembak mati pada 1993, buntut dari bisnis kartel narkoba yang dijalankannya.
Enam belas tahun berselang, nasib serupa menimpa Londoño. Pada 2009, Londoño tewas ditembak di jalanan Medellín. Setelah pensiun dari dunia balap, Londoño juga terlibat dalam peredaran narkotika. Tidak secara langsung, memang. Akan tetapi, sosok kelahiran 1949 itu pernah memperoleh banyak uang dari menjual pesawat, helikopter, dan perahu, yang kemudian dipakainya untuk menyelundupkan narkotika.
Dua orang, satu mimpi, dan satu akhir tragis yang serupa. Escobar dan Londoño tidak cuma terikat dalam misi mengejar mimpi di dunia balap, tetapi juga dalam garis nasib yang menuntun mereka pada akhir hayat yang hina.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































