Menuju konten utama

Sejarah Ceuta dan Melilla, Wilayah Afrika yang Dikuasai Spanyol

Mengapa Ceuta dan Melilla di Afrika menjadi wilayah Spanyol? Simak sejarah dan perannya sebagai pintu migrasi Afrika ke Eropa.

Sejarah Ceuta dan Melilla, Wilayah Afrika yang Dikuasai Spanyol
Para migran berenang di laut untuk mencapai pesisir Ceuta wilayah eksklave Spanyol di Afrika Utara pada 30 Juli 2026. Lucía DIAZ / AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ribuan migran dari Maroko dilaporkan berbondong-bondong memasuki Ceuta, wilayah Spanyol di pesisir utara Afrika. Sebagian nekat berenang mengitari pagar perbatasan, lainnya berusaha mencapai daratan pakai pelampung. Peristiwa tersebut membuat nama Ceuta ramai dibicarakan di berbagai belahan dunia.

Secara geografis, Ceuta berbatasan langsung dengan Maroko dan terletak di daratan Afrika. Namun, kota itu bukan bagian dari wilayah negara Maroko, justru di bawah kedaulatan Spanyol. Kondisi serupa juga berlaku bagi Melilla, kota otonom Spanyol lainnya di pesisir utara Afrika.

Mengapa Spanyol punya wilayah di Afrika Utara? Bagaimana sejarah Ceuta dan Melilla sampai menjadi wilayah kekuasaan Spanyol?

Sejarah Ceuta dan Melilla Menjadi Wilayah Spanyol

Penelitian Farah Ali dalam Jurnal Studi Internasional Mediterania (2025) menunjukkan bahwa Ceuta dan Melilla sudah beberapa kali berganti penguasa. Awalnya, kedua kota tersebut dikuasai oleh Kekaisaran Romawi, tetapi setelah Romawi melemah bangsa Vandal mengambil alih.

Situasi berubah pada 711 M saat pasukan Dinasti Umayyah membawa Ceuta dan Melilla menjadi kekuasaan Muslim Berber. Setelahnya, kerajaan-kerajaan Kristen di utara kemudian memulai reconquista, yaitu proses merebut kembali wilayah di bawah pemerintahan Muslim. Proses ini berlangsung berabad-abad, kemudian baru berakhir pada 1492 setelah Granada menyerah. Tak lama berselang, Spanyol menguasai Melilla pada 1497.

Perjalanan Ceuta sedikit berbeda. Kota itu lebih dahulu berada di bawah Portugal sebelum akhirnya beralih ke tangan Spanyol pada 1668. Sejak itu, Ceuta dan Melilla berkembang sebagai bagian dari ekspansi Spanyol di Afrika Utara.

Pada awal abad ke-20, Spanyol dan Prancis sama-sama menguasai sebagian wilayah negara Maroko melalui sistem protektorat. Prancis mengakhiri kekuasaannya pada 1956, sementara protektorat Spanyol berakhir dua tahun kemudian. Kendati begitu, Madrid tidak melepas semua wilayahnya. Sidi Ifni baru kembali ke Maroko pada 1969, sementara sampai kini Ceuta dan Melilla tetap berada di bawah administrasi Spanyol.

Farah Ali juga menjelaskan bahwa Spanyol maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak mengakui klaim kedaulatan Maroko atas Ceuta dan Melilla. Sebaliknya, sejumlah kalangan di Maroko memandang Ceuta dan Melilla sebagai sisa kolonialisme Spanyol. Perbedaan pandangan inilah yang terus memelihara sengketa politik kedua negara itu.

Selain memiliki nilai sejarah, kedua kota juga menempati lokasi strategis. Laporan Border Violence Monitoring Network menjelaskan bahwa Ceuta berlokasi di Selat Gibraltar, jalur sempit penghubung Samudra Atlantik dengan Laut Mediterania. Sementara itu, Melilla berlokasi di pesisir Mediterania. Posisi geografis ini membuat wilayah Ceuta dan Melilla sejak lama memegang peran penting dalam perdagangan, pelayaran, dan pertahanan.

Letak Ceuta dan Melilla juga membentuk kondisi politik dan sosial yang unik. Secara geografis, kedua kota berada di Afrika Utara, tetapi secara administratif keduanya jadi bagian dari Spanyol dan termasuk wilayah Uni Eropa. Farah Ali menggambarkannya sebagai ruang pertemuan antara Afrika dan Eropa.

Karakter masyarakatnya pun mencerminkan perpaduan tersebut. Komunitas Kristen membentuk kelompok terbesar, sementara umat Islam mencapai sekitar 40 persen dari jumlah penduduk.

Bahasa Spanyol menjadi bahasa resmi, tetapi sehari-hari banyak warga memakai bahasa Arab Maroko maupun Amazigh. Hanya saja, karena dua bahasa itu belum mendapat pengakuan resmi dalam sistem pemerintahan dan pendidikan, Bahasa Spanyol tetap mendominasi ruang publik di Ceuta dan Melilla.

Ceuta dan Melilla Sering jadi Jalur Migrasi ke Eropa

Ceuta dan Melilla

Selain menjadi simbol sejarah dan politik, Ceuta serta Melilla juga berperan sebagai pintu masuk menuju Eropa. Banyak migran dari berbagai negara di Afrika memilih kedua kota itu sebagai titik transit sebelum lanjut perjalanan ke wilayah Eropa lainnya.

Farah Ali menjelaskan bahwa aktivitas di perbatasan berlangsung begitu intensif. Otoritas Spanyol mengawasi proses keluar masuk orang dan barang di wilayah tersebut secara ketat.

Pagar modern mulai berdiri pada 1993, lalu beberapa kali diganti setelah terjadi penyeberangan massal. Pemerintah Spanyol menambah lapisan pagar, memasang kawat berduri, kamera pengawas, sensor panas, sensor gerak, sampai Integrated System of External Vigilance (SIVE) untuk memantau jalur laut di wilayah perbatasan tersebut.

Gelombang migrasi pada akhir Juli 2026 bukan peristiwa pertama di Ceuta dan Melilla. Sepanjang dua dekade terakhir, dua kota itu beberapa kali mengalami penyeberangan massal oleh imigran.

Menurut Amnesti Internasional, pada 2005 ratusan migran berusaha menerobos pagar perbatasan sampai memicu bentrokan yang menewaskan sedikitnya 13 orang.

Sebagaimana dilaporkan ECCHR, tragedi lain terjadi di Pantai Tarajal, Ceuta, pada 2014 saat sedikitnya 15 migran meninggal ketika mencoba mencapai wilayah Spanyol melalui jalur laut.

Krisis serupa kembali muncul pada 2021 ketika sekitar 8.000 orang memasuki Ceuta dalam waktu sekitar dua hari, disusul insiden mematikan di Melilla pada 2022 yang menyebabkan sedikitnya 23 orang tewas.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora