Menuju konten utama

Prabowo Sebut DSI Temukan Potensi Tambahan Devisa US$5 Miliar

Prabowo mengatakan, potensi tersebut berasal dari perbedaan dan penyesuaian harga dalam pembayaran devisa hasil ekspor dari tiga komoditas saja.

Prabowo Sebut DSI Temukan Potensi Tambahan Devisa US$5 Miliar
Presiden Prabowo Subianto berpidato dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Foto/YouTube TVR PARLEMEN
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menemukan potensi tambahan devisa sebesar US$5 miliar dari pemantauan ekspor tiga komoditas strategis Indonesia. Tiga komoditas itu adalah kelapa sawit, batu bara, besi baja.

Prabowo mengatakan, DSI dibentuk sebagai pintu tunggal processing ekspor komoditas Indonesia. Meski begitu, Prabowo mengatakan, DSI bukan perusahaan yang akan mengambil alih penguasaan maupun kegiatan ekspor komoditas.

“Saya ulangi prosesingnya, bukan bahwa satu PT yang akan menguasai komoditas dan mengekspor, tidak,” kata Prabowo dalam pidato di Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).

Menurut Prabowo, keberadaan DSI memungkinkan pemerintah memantau jumlah komoditas yang dimuat ke kapal, jumlah yang dilaporkan dalam dokumen, hingga jumlah barang yang benar-benar tiba di negara tujuan.

“Kita tidak ingin laporan yang satu berbeda dengan laporan di negara tujuan,” ujarnya.

Prabowo mengatakan PT DSI diumumkan pembentukannya pada 20 Mei 2026 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. DSI kemudian mulai beroperasi pada 1 Juni 2026. Dalam waktu dua bulan 13 hari sejak beroperasi, Prabowo menyebut DSI telah mengelola devisa ekspor senilai US$14 miliar dari tiga komoditas tersebut.

“Lebih dari 6.000 transaksi ekspor tiga komoditas tersebut telah dimonitor oleh DSI,” kata dia.

Dari pemantauan itu, DSI disebut menemukan potensi tambahan devisa sebesar US$5 miliar. Potensi tersebut berasal dari perbedaan dan penyesuaian harga dalam pembayaran devisa hasil ekspor.

“DSI telah menemukan potensi tambahan 5 miliar dolar, hanya dari perbedaan dan penyesuaian harga,” ujarnya.

Prabowo mengatakan temuan tersebut menunjukkan potensi penerimaan yang bisa diperoleh negara apabila pengawasan terhadap seluruh komoditas ekspor diperkuat.

Prabowo mengatakan cakupan pengawasan DSI juga akan diperluas hingga 50 pelabuhan di 25 provinsi. Ke depan, DSI juga ditargetkan mengawasi seluruh komoditas ekspor strategis Indonesia, tidak hanya tiga komoditas yang saat ini menjadi fokus awal.

“DSI akan mengelola semua komoditas ekspor strategis kita, tidak hanya tiga,” kata Prabowo.

Menurut Prabowo, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mencegah kekayaan Indonesia hanya menguntungkan segelintir pihak.

“Kita tidak ingin lagi bangsa Indonesia dicurangi. Kekayaan Indonesia tidak boleh memperkaya segelintir orang dan meninggalkan rakyat kita hidup susah,” ujarnya.

Prabowo kemudian menyinggung persoalan harga komoditas minyak mentah sawit atau CPO. Ia mengatakan CPO Indonesia sebelumnya dijual di pelabuhan dalam negeri sekitar Rp15.000 per kilogram.

Sementara itu, harga komoditas tersebut di Bursa Rotterdam, Belanda, disebut mencapai sekitar Rp27.000 per kilogram.

“Padahal di Belanda satu hektare pun enggak ada kebun kelapa sawit,” kata Prabowo.

Menurut dia, perbedaan tersebut menunjukkan Indonesia kehilangan potensi nilai dari komoditas yang dihasilkan sendiri.

“Artinya, sesungguhnya kita telah hilang 50 persen nilai komoditas kita,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait PEMERINTAHAN PRABOWO-GIBRAN atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher