tirto.id - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyebut persaingan untuk menjadi peserta Program Pemagangan Nasional atau Maganghub Batch (kloter) 2 angkatan ke-II 2026 makin ketat.
Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) Kemenaker Darmawansyah mengatakan, hanya 40.962 peserta yang dinyatakan lolos dalam program pemagangan lulusan perguruan tinggi angkatan kedua tersebut—dari total sekitar 350 ribu pendaftar yang dinyatakan memenuhi syarat. Artinya, setiap peserta yang lolos disebut harus bersaing dengan 7-8 pendaftar lainnya.
Angka tersebut meningkat dari batch pertama angkatan ke-II di mana jumlah pendaftar yang memenuhi syarat sebesar 225.920, dengan 46.160 peserta dinyatakan lolos, dengan rasio persaingan sekitar 1:5 (1 peserta lolos menyisihkan 4 pendaftar lainnya).
"Dalam pelaksanaan program magang batch kedua ini telah dinyatakan lulus sebanyak 40.962 orang peserta magang. Dari para pendaftar kami melihat persaingan untuk menjadi peserta magang ini sangat ketat," kata Darmawansyah dalam kick-off Program Pemagangan Lulusan Perguruan Tinggi Angkatan Kedua Batch Kedua, Rabu (23/9/2026).
Darmawansyah berharap peserta yang telah lolos dapat mengikuti program pemagangan hingga selesai. Program tersebut juga diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk beralih dari dunia pendidikan ke dunia kerja.
"Kami sangat berharap bagi Bapak Ibu yang di perusahaan ini bisa melakukan seleksi kepada adik-adik kita peserta magang dan nanti diharapkan setelah mereka selesai program magang 6 bulan maka mereka bisa direkrut dan bekerja di perusahaan Bapak Ibu yang menjadi tempat pelaksanaan program magang tersebut," ujarnya.
Darmawansyah mengatakan Kemenaker sebelumnya telah memberikan orientasi kepada peserta magang, mentor, dan operator perusahaan mengenai pelaksanaan program. Orientasi tersebut dilakukan untuk memastikan program berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Adapun pada kick-off Maganghub hari ini, sekitar 1.000 orang hadir secara langsung, yang terdiri dari sekitar 900 peserta Maganghub Batch 2, alumni program pemagangan, serta sembilan peserta penyandang disabilitas.
Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan sekitar 20-30 persen peserta program Maganghub pada batch sebelumnya belum mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan setelah menyelesaikan masa magang.
"Ada sekitar 20-30 persen hasil evaluasi sampai akhir magang mereka mengatakan tidak mendapatkan offering sama sekali. Ini yang tentu kita berharap jangan angkanya terlalu besar," ujar Yassierli di Aula Gedung Vokasi Kemnaker, Rabu (23/9/2026).
Yassierli berharap, program Maganghub dapat menjadi jembatan bagi lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pekerjaan tetap di perusahaan tempat mereka menjalani magang. Pemerintah juga melakukan sejumlah perbaikan dalam mekanisme pelaksanaan program berdasarkan evaluasi batch sebelumnya.
"Kalau ada berita macam-macam itu mungkin kasus batch pertama tahun lalu saat di awal-awal kita men-set up program ini. Tapi sekarang kita buat mekanisme seleksi, verifikasi, perusahaan-perusahaan yang sudah pernah menerima, terdata, maka dia menjadi top prioritas untuk mendapatkan magang selanjutnya," sambungnya.
Yassierli meminta peserta Maganghub mengikuti proses pemagangan dengan baik. Pemerintah, kata dia, akan memastikan hak peserta dipenuhi, termasuk uang saku dari pemerintah serta jaminan perlindungan kecelakaan kerja dan kematian.
"Tidak boleh peserta magang itu jam kerjanya lebih, tidak boleh dikasih shift malam, tidak boleh dia pekerjaan-pekerjaan tertentu," terangnya.
Dia juga menepis kekhawatiran bahwa program Maganghub dapat digunakan perusahaan untuk menggantikan pekerja tetap dengan peserta magang. Menurutnya, masa magang yang terbatas membuat perusahaan tidak dapat mengandalkan peserta magang untuk menggantikan pekerja secara berkelanjutan.
"Magang ini kan tidak kontinu. 6 bulan mereka dilatih. Kemudian kalau mereka tidak direkrut, ada 6 bulan lagi misalnya. Itu juga tidak pasti karena waktunya," terang Yassierli.
Menurut Yassierli, sifat program yang tidak kontinu membuat perusahaan menghadapi ketidakpastian jika mengandalkan peserta magang untuk menggantikan pekerja tetap. "Dan kalau mereka ingin menggantikan pekerjaan yang ada sekarang, kan kita juga ketakutan," ungkap Yassierli.
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































