tirto.id - Bantuan Smart TV digital dari Presiden Prabowo Subianto sudah diterima SDN Pangabatang di Pulau Dambila, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Agustus 2025. Namun, perangkat yang seharusnya mendukung pembelajaran digital itu belum bisa digunakan dengan mudah karena sekolah hingga kini belum memiliki akses listrik.
Untuk menyalakan Smart TV tersebut, pihak sekolah harus mengandalkan genset. Konsekuensinya, setiap kali hendak menggunakan perangkat untuk pembelajaran, sekolah harus terlebih dahulu menyediakan bensin.
Guru SDN Pangabatang, Jamila, mengatakan kebutuhan bahan bakar untuk menghidupkan genset menjadi salah satu kendala dalam pemanfaatan Smart TV digital di sekolah.
“Misalnya saya mau pakai untuk video pembelajaran di kelas IV, maka harus beli bensin. Dalam seminggu enam botol, harganya Rp22 ribu,” kata Jamila," Sabtu (12/9/2026) pagi.
Bergantung pada Dana BOS dan Lampu Pelita
Setiap botol berisi sekitar 1,5 liter bensin. Dalam satu kali pembelajaran dari pagi hingga siang, setidaknya dibutuhkan dua botol bensin untuk mengoperasikan genset.
Biaya pembelian bensin tersebut selama ini diambil dari dana operasional sekolah atau dana BOS. Jika dana BOS belum ada pencairan, kebutuhan bahan bakar harus ditanggung sendiri.
“Untuk pengadaan bensin kami pakai dana BOS. Kalau BOS belum cair, kami beli sendiri,” ujarnya.
Jamila mengatakan penggunaan Smart TV digital juga disesuaikan dengan materi pembelajaran yang diberikan kepada siswa. Dalam satu minggu, pemanfaatannya tidak selalu sama karena ada materi tertentu yang lebih efektif diberikan langsung di lingkungan sekitar sekolah.
“Kalau ada materi kelautan, kami bawa para siswa keluar belajar di lingkungan,” katanya.
Harapan Panel Surya di Sekolah Berpenghuni 17 Jiwa
Aktivitas pembelajaran menggunakan Smart TV Digital di halaman SDN Pangabatang pasca terjadinya Gempa Flores, 15 Agustus 2026. Foto/stimewa.

Kondisi tanpa listrik tidak hanya menyulitkan pemanfaatan perangkat pembelajaran digital. Aktivitas sekolah juga terkendala ketika memasuki musim hujan.
Jamila mengatakan, pada musim hujan, keterbatasan cahaya matahari membuat sekolah di wilayah kepulauan tersebut harus kembali mengandalkan lampu pelita.
“Kalau di kepulauan kami saat musim hujan gelap, kami harus pakai lampu pelita, karena waktu musim hujan cahaya matahari sedikit,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan akses listrik bagi sekolah. Jika jaringan listrik belum memungkinkan dibangun hingga ke Pangabatang, Jamila berharap ada bantuan panel surya berkapasitas besar yang dapat memenuhi kebutuhan energi sekolah.
“Kami butuh listrik. Kalau misalnya listrik tidak ada, maka ada panel surya skala besar untuk kebutuhan sekolah supaya dalam pemakaian sehari bisa,” katanya.
Selain listrik, Jamila juga menyampaikan kebutuhan lain yang masih belum tersedia di sekolah, yakni fasilitas penampungan air.
Ia berharap pemerintah dapat membantu menyediakan profil tank untuk mendukung kebutuhan air di lingkungan sekolah.
SDN Pangabatang saat ini memiliki jumlah siswa yang relatif sedikit. Total terdapat 17 siswa yang tersebar dari kelas I hingga kelas VI.
Jumlah siswa paling sedikit terdapat di kelas I dan kelas III, masing-masing dua orang. Sementara kelas VI menjadi rombongan belajar dengan jumlah siswa terbanyak, yakni empat orang.
Untuk tenaga pendidik, terdapat tujuh guru dan satu kepala sekolah sehingga total ada delapan orang yang menjalankan aktivitas pendidikan di SDN Pangabatang.
Di tengah keterbatasan fasilitas tersebut, keberadaan Smart TV digital sebenarnya menjadi tambahan sarana pembelajaran bagi sekolah. Namun, tanpa sumber listrik yang memadai, perangkat itu belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Gelap Gulita di Pulau Dambila & Pangabatang
Persoalan ketiadaan akses energi ini nyatanya bukan hanya menjadi awan hitam bagi SDN Pangabatang sendirian. Kepala Seksi Pelayanan Pemerintah Desa Parumaan, Karim, membenarkan bahwa krisis listrik dan air bersih telah mengakar menjadi makanan sehari-hari warga di Pulau Dambila dan Pulau Pangabatang selama bertahun-tahun.
"Terkhusus Dusun C yang melingkup Pulau Dambila dan Pulau Pangabatang, masalah yang urgen dihadapi warga dan sudah terjadi bertahun-tahun adalah masalah air bersih dan kita sangat kekurangan listrik. Bahkan ade-ade yang belajar menggunakan lampu pelita masih ada,” ungkap Karim.
Karim berharap persoalan tersebut mendapat perhatian dari pemerintah maupun pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat kepulauan.
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































