tirto.id - Harga minyak dunia bertahan di level tinggi pada Kamis (10/9/2026) setelah Brent menembus 100 dolar AS per barel.
Pasar energi global kini diliputi kekhawatiran akan gangguan pasokan yang semakin parah, menyusul serangan terbesar antara Iran dan Amerika Serikat terhadap pelayaran sejak konflik enam bulan lalu dimulai.
Melansir Reuters, minyak mentah Brent diperdagangkan naik 0,1 persen ke 101,34 dolar AS per barel pada pukul 01.07 GMT, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS berada di 96,55 dolar AS per barel atau naik 0,5 persen.
Ketegangan memuncak setelah AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran. Sebagai balasan, Iran mengaku menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu. Korps Garda Revolusi Iran pun mengancam akan meningkatkan respons terhadap setiap serangan lanjutan.
"Serangan balasan yang saling membalas ini menunjukkan bahwa aliran minyak dari Teluk Persia kemungkinan akan tetap terganggu dalam waktu yang dapat diperkirakan ke depan," ujar analis ANZ, Daniel Hynes.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis yang sebelum perang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Kini, aliran minyak melalui selat tersebut masih jauh di bawah level sebelum konflik meletus.
Di sisi lain, Badan Informasi Energi AS pada Rabu menaikkan proyeksi harga minyak untuk tahun ini dan tahun depan. Langkah itu diambil seiring menipisnya stok global akibat hilangnya pasokan dari Timur Tengah.
"Meluasnya konflik mengancam risiko gangguan yang lebih dalam lagi terhadap pasokan minyak yang sudah membuat pasar minyak kesulitan untuk menyesuaikan diri," kata Hynes.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






































