Menuju konten utama

Kenapa Amerika Serikat Mendadak Hentikan Serangan ke Iran?

Amerika Serikat tiba-tiba menghentikan serangannya setelah dua pekan memborbardir berbagai wilayah Iran. Ada di balik penghentian serangan ini?

Kenapa Amerika Serikat Mendadak Hentikan Serangan ke Iran?
Konfilk Iran dan Amerika . FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Amerika Serikat (AS) menghentikan serangan ke Iran sejak Jumat (24/7/2026). Penghentian ini terjadi setelah hampir dua pekan AS menggempur wilayah Iran dengan bom usai gencatan senjata yang rapuh di antara negara gugur.

Dua pekan terakhir, AS dan Iran telah kembali saling membalas serangan. AS menggempur fasilitas militer Teheran di kawasan pelabuhan, sementara Iran meluncurkan rudal dan drone ke fasilitas militer AS di negara-negara Teluk Persia.

Ketegangan yang terus meningkat dua pekan terakhir itu dipicu oleh serangan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) ke sejumlah kapal komersial yang berlayar di Selat Hormuz pada awal Juli. Serangan ini diklaim IRGC sebagai upaya untuk menegaskan kontrol Iran atas jalur pelayaran di Hormuz.

Peristiwa itu kemudian memicu eskalasi pertempuran dua pekan berikutnya. Isu seputar kontrol jalur pelayaran Selat Hormuz juga kemudian jadi isu utama dalam pertempuran.

Eskalasi juga kemudian meluas ke jalur distribusi penting lainnya, yakni Selat Bab al-Mandeb di antara Semenanjung Arab dan kawasan Tanduk Afrika. Pelayaran di selat ini melambat usai kelompok bersenjata Houthi di Yaman turut menyerang kapal-kapal di Laut Merah.

Konflik juga kian meruncing setelah Ukraina menyerang kapal Iran di Laut Kaspia dan menyebabkan seorang pelaut Iran terbunuh. Teheran telah menuduh Ukraina melakukan tindakan “bermusuhan dan kriminal”.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan rudal jarak jauh telah menargetkan kapal-kapal yang membawa kargo militer yang terkait dengan Iran, dan ia menuduh Rusia membantu kampanye militer Iran melawan AS.

Akan tetapi, eskalasi itu mendadak melandai sejak Jumat. Hal ini terjadi seiring AS menghentikan kampanye militer terbarunya ke Iran. Seturut Al Jazeera, Teheran juga melakukan hal serupa dengan menghentikan serangan balasan terhadap aset militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menyebut bahwa penghentian serangan dilakukan sebagai respons penghentian serangan oleh AS. Menurutnya, pihaknya selama ini hanya menerapkan strategi serangan balasan.

“Strategi kami pada dasarnya adalah pembalasan. [Dengan penghentian serangan oleh AS] kami juga telah menghentikan operasi pembalasan kami,” kata Akramina.

AS Klaim Hentikan Serangan demi Diplomasi

Seiring dihentikannya serangan ke Iran, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz memberikan keterangan kepada NBC News bahwa hal tersebut merupakan keputusan Washington guna memberi waktu bagi upaya diplomasi. Menurutnya, pembicaraan antara AS dan Iran “sedang berlangsung”.

“Apa yang dilakukan presiden [AS] saat ini, seperti yang telah kita lihat selama ini, adalah memberi ruang bagi beberapa pembicaraan,” tutur Waltz.

Pernyataan itu Waltz ungkapkan seiring Presiden AS Donald Trump menepis kabar bahwa AS mulai kehabisan stok amunisi pencegat rudal tipe Patriot.

Isu persediaan rudal Patriot yang menipis itu sebelumnya dilaporkan media AS, Axios. Laporan tersebut menyebut bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, telah mengungkapkan kekhawatirannya atas ketersediaan amunisi pencegat rudal itu.

Isu tersebut kemudian dibantah Trump. Kepada Wall Street Journal, ia menyebut bahwa AS “memiliki amunisi jauh lebih banyak dari siapa pun di dunia”. Menurutnya, penghentian serangan ke Iran merupakan bagian “strategi yang lebih cerdas” daripada menghancurkan Iran lewat bom, yakni dengan “membuat kesepakatan”.

Akan tetapi, menukil Al Jazeera, para pakar memperkirakan perkembangan situasi terbaru dalam perang Iran-AS ini lebih dikarenakan tekanan ekonomi. Dua pekan pertempuran yang kembali berlangsung disebut menghantam ekonomi Iran maupun AS.

Ekonom Nader Habibi, misalnya, menyebut kondisi ekonomi yang memburuk dalam dua pekan terakhir telah membuat AS didesak banyak pihak untuk menghentikan serangan. Menurut Habibi, hal itu yang kemudian jadi alasan utama penghentian serangan baru-baru ini.

“Ada tekanan pada pemerintahan Trump dari semua pihak, baik mitra domestik maupun internasional, untuk menemukan solusi,” katanya.

Sementara itu, di sisi lain, blokade AS terhadap pelabuhan Iran telah membuat ekonomi terus Teheran tertekan. Habibi menekankan bahwa blokade itu membuat Teheran “menyaksikan antrean panjang untuk bensin dan bahan bakar diesel [mereka sendiri], terkadang mencapai hingga satu kilomter”.

Direktur proyek Iran dari International Crisis Group, Ali Vaez, menjelaskan situasi tersebut membuat kedua negara sama-sama memiliki kepentingan untuk meredakan eskalasi. Kedua negara disebutnya memiliki alasan untuk membiarkan negosiasi gencatan senjata baru dilakukan.

“Dua minggu pertempuran telah mengingatkan Washington dan Teheran bahwa eskalasi meningkatkan biaya, tanpa menyelesaikan konflik,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar