11 Februari 1979

Kaset Ceramah Khomeini Menjaga Api Revolusi Iran

Reporter: Akhmad Muawal Hasan, tirto.id - 11 Feb 2018 00:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Seorang mullah.
Menggoyang rezim dari
antah berantah.
tirto.id - 11 Februari 1979, tepat hari ini 39 tahun yang lalu, Revolusi Iran mencapai puncaknya. Rezim monarki yang telah berusia 2.500 tahun akhirnya tumbang.

Mohammad Reza Pahlevi, selaku raja terakhir, telah meletakkan jabatannya sejak 17 Januari di tahun yang sama, lalu kabur ke luar negeri. Setelah berganti-ganti tempat, mulai dari Kepulauan Bahama, Meksiko, hingga Amerika Serikat, akhirnya ia meninggal dunia di Mesir pada 27 Juli 1980.

Perdana Menteri Shapour Bakhtiar, yang menggantikan tugas Pahlevi, tak sanggup meredam perlawanan rakyat Iran. Sosok di balik peristiwa penting itu adalah Khomeini: sang ayatullah, sang imam besar, sang penggerak revolusi yang kemudian menjadi pemimpin besar pertama Republik Islam Iran.

Ruhollah Muzavi Khomeini lahir di Khomein, kini masuk dalam Provinsi Marzaki, pada 24 September 1902. Ia mempelajari Alquran dan bahasa Persia sejak kecil. Khomeini dewasa tumbuh menjadi seorang ahli hukum Islam dan menulis lebih dari 40 buku. Di samping meraih reputasi sebagai seorang intelektual Syiah, ia juga dikenal karena aktivitas politiknya sebagai salah seorang penentang paling keras rezim Pahlevi.

Pahlevi bisa berkuasa berkat keberhasilannya menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh. Kebijakan-kebijakan Mosaddegh yang kekiri-kirian, terutama nasionalisasi British Petroleum, tak disukai Barat. CIA dan M16 terlibat kudeta melalui Operasi Ajax. Partai Tudeh yang beraliran komunis dan mendukung pemerintahan Mosaddegh kemudian dibubarkan. Para aktivisnya ditangkapi, dijebloskan ke bui, atau dibunuh.


Rezim Pahlevi Antek Barat

Pada 1960, rezim Pahlevi yang didukung Barat meluncurkan Revolusi Putih dalam bentuk proyek modernisasi besar-besaran. Program-programnya meliputi nasionalisasi sumber daya air, pendidikan gratis, pemberantasan korupsi dan buta huruf, dan pemberian hak mencoblos dalam pemilu untuk perempuan.

Dalam catatan ekonom Hadi Salefi Esfahani dan Hashem Pesaran di Jurnal Economic Research Forum, antara 1963-1976 pertumbuhan ekonomi Iran mencapai 8 persen per tahun. Sepertiga dari pendapatan nasional kotor Iran berasal dari minyak. Pendapatan per kapita naik drastis hingga hampir separuhnya, sebanding dengan penduduk di 12 negara Eropa Barat.

Celakanya, Pahlevi terlalu mengejar pertumbuhan dan mengabaikan pemerataan pendapatan. Dampaknya terasa ketika inflasi meroket di akhir 1976 akibat berakhirnya boom harga minyak. Dengan kata lain, terlepas dari kebijakan-kebijakan yang diklaim progresif, hitung-hitungan ekonominya tergolong suram bagi rakyat kecil.

Selama bertahun-tahun Pahlevi meyakini bahwa satu-satunya lawan politik yang punya potensi untuk menggoyang kekuasaannya adalah kaum komunis. Orang-orang kiri pula yang menjadi langganan ruang penyiksaan SAVAK, polisi rahasia Iran yang terkenal kejam.


Kebangkitan Para Ulama

Tak dinyana, perlawanan yang mengubah wajah Iran di akhir dekade 1970-an justru datang dari kelompok yang selama ini dianggap terbelakang: para alim ulama. Kebijakan reformasi agraria mengancam kepemilikan tanah yang selama ini menopang aktivitas-aktivitas keagamaan. Ditambah dengan pemberlakuan undang-undang sekuler yang memungkinkan warga non-muslim untuk memegang jabatan publik, beberapa dari mereka memutuskan turun ke jalan.

Momentum yang paling sukses melambungkan nama Khomeini terjadi pada Juni 1963 di kota suci Qum. Sebagaimana dicatat Michael Axworthy dalam Revolutionary Iran: A History of the Islamic Republic (2013), Khomeini ditahan setelah berpidato mengecam Pahlevi sebagai “manusia yang celaka lagi menyedihkan.” Penangkapan diikuti gelombang demonstrasi lain di kota Qum juga di Teheran.

Begitu muncul kabar rencana eksekusi Khomeini, ulama Iran paling senior dan dipercaya negara bernama Mohammad Kazem Shariatmadari justru menganugerahi Khomeini titel Marja' atau Ayatullah Agung. Orang-orang dengan gelar ini haram diangkut ke tiang gantungan. Namun, karena Khomeini tetap dianggap sebagai ancaman, ia dipaksa mengasingkan diri ke luar negeri.

Khomeini menjalani lebih dari 14 tahun di pengasingan. Sebagian besar ia habiskan di Najaf, Irak, yang dianggap sebagai kota suci ketiga bagi umat muslim Syiah. Sebelumnya ia sempat menetap di Kota Bursa, Turki, namun diminta pindah oleh otoritas setempat. Usai satu dekade lebih mendiami Najaf, Saddam Hussein memaksanya pindah. Ia kemudian pergi ke Neauphle-le-Château, di pinggiran kota Paris, Perancis, dengan visa turis.


Gelora Revolusi yang Menyebar lewat Kaset

Di Iran sendiri situasi politik kian memanas. Di masa-masa pengasingan itu pula Khomeini semakin memantapkan cita-cita mewujudkan revolusi, kemudian menata pemerintahan baru berbasis syariat Islam.

Jaringan dengan kelompok-kelompok Islam, termasuk Ikhwanul Muslimin dan militan Palestina, diperkuat. Ulama-ulama Iran makin banyak yang merapat ke barisan oposisi dan menyebarkan sikap serupa hingga ke desa-desa, tempat tinggal mayoritas kaum yang dimarginalkan Pahlevi.

Uniknya, propaganda anti-Pahlevi itu banyak disebarkan melalui kaset berisi ceramah-ceramah Khomeini dari tanah pengasingan. Dua akademisi yang percaya fenomena tersebut adalah elemen penting dalam Revolusi Iran adalah Annablle Sreberny dan Ali Mohammadi.

Dalam Small Media, Big Revolution: Communication, Culture, and the Iranian Revolution (1994), keduanya menerangkan bahwa kaset-kaset itu diselundupkan ke Iran secara rahasia, digandakan para aktivis, dan kemudian diputar di masjid-masjid. Salah satu kaset terpenting dan paling menggugah semangat rakyat Iran adalah yang berisi ceramah Khomeini di Qum pada 1963.

Selama Khomeini bermukim di Najaf, kaset-kaset itu diselundupkan oleh orang-orang Iran yang melakukan ziarah. Mulai tahun 1970-an hubungan Iran dan Irak membaik, karena itu lebih banyak peziarah yang datang. Otoritas Irak sepakat membuka kuota untuk 130.000 peziarah Iran ke Najaf, menyebabkan penyebaran kaset ceramah Khomeini makin meluas.


Sejak 1976, jumlah kaset yang beredar, baik yang asli apalagi yang digandakan, makin tinggi. Pahlevi tahu hal ini. Dalam catatan pribadinya yang diterbitkan menjadi buku dengan judul Answer to History (1980), Pahlevi menerangkan bahwa kaset rekaman ceramah dan pidato panjang Khomeini diselundupkan ke Iran dan dipakai orang-orang yang anti pemerintahannya untuk menarik dukungan massa.

Pahlevi kemudian mengetatkan arus perjalanan antara Iran dan Irak. Kuota perjalanan ziarah dikurangi secara drastis dan peziarah yang kembali ke Iran diperiksa. Akibatnya harga kaset ceramah Khomeini melonjak hingga 25 dolar AS. Penyebaran kaset tersebut menjadi alasan utama Pahlevi meminta otoritas Irak untuk menendang Khomeini dari Najaf.

Sayangnya Khomeini tak diterima dengan baik di negara-negara Timur Tengah lain. Atas alasan itulah ia pindah ke Neauphle-le-Chateau pada September 1978. Perjalanan dan hidup Khomeini di pengasingan diurus tiga serangkai yang merupakan orang-orang terdekat sang imam: Sadegh Ghotbzadeh, Ebrahim Yazdi, dan Abolhassan Banisadr.

Pahlevi sempat gembira. Tapi kepindahan Khomeini ke salah satu jantung peradaban Eropa justru makin menempatkannya sebagai pusat perhatian dunia. Jurnalis dari dalam dan luar Perancis membanjiri rumahnya hampir tiap hari. Publisitas sang pemimpin revolusi makin besar dan berita-berita yang muncul juga memuat revivalisme Islam yang ia perjuangkan.


Telekomunikasi internasional yang lebih maju juga memungkinkan produksi kaset ceramah dalam jumlah yang lebih banyak dan jangkauan yang lebih luas. Di rumah yang disewa Khomeini terdapat dua mesin perekam yang selalu hidup untuk menyimpan ceramah-ceramah dan pengumuman-pengumuman penting. Hasilnya kemudian ditransmisi melalui sambungan kabel atau diselundupkan secara konvensional ke Iran.

Pengikutnya di Iran kian giat menggandakan kaset di studio-studio dadakan. Beberapa ada yang diketik ulang menjadi teks propaganda yang disebarkan melalui pamflet.

Toko-toko musik di Teheran menyelinapkan kaset-kaset tersebut dan bisa didapat bersama pembelian kaset musik. Sebuah studi yang dikutip Sreberny dan Mohammadi menunjukkan ada penurunan penjualan kaset musik sejak tahun 1977 dan naiknya kaset-kaset ceramah agama, termasuk juga kaset lagu-lagu perjuangan.

Imam-imam anti-Pahlevi lain juga meniru srategi politik Khomeini. Mereka antara lain Ayatullah Shariatmadari, Ayatullah Kani, dan Alameh Nuri. Rekaman ceramah lebih disukai rakyat Iran ketimbang tulisan. Ceramah juga membuat si imam mampu lebih mendramatisasi cerita tentang kegagalan rezim Pahlevi, lalu mengajak untuk terlibat aksi.

Propaganda melalui kaset makin mengobarkan semangat revolusi di bulan-bulan menjelang akhir 1978. Banyak kejadian penting yang melemahkan posisi Pahlevi. Ia menghadapi protes massa dengan amat represif sehingga menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa. Kerusuhan-kerusuhan lahir di Teheran dan kota-kota lain.

Kepemimpinan militer Iran goyah. Para prajurit di lapangan tak satu komando. Beberapa bahkan ada yang menanggalkan kewajibannya dan bergabung ke barisan oposisi.


infografik mozaik ayatollah khomeini

Setelah Sang Imam Pulang

Kabar keberangkatan Pahlevi ke luar negeri membuat rakyat Iran gembira. Pada 1 Februari 1979, Khomeini pulang ke Teheran. Dalam catatan Ervand Abrahamian di History of Modern Iran (2008), Khomeini disambut jutaan warga Iran yang meneriakkan namanya.

“Khomeini, oh Imam, kami hormat padamu, semoga damai selalu menyertaimu.”

Saat ditanya reporter bagaimana perasaannya, Khomeini menjawab, “Tak ada”.

Eskalasi bentrokan antara massa pro-Khomeini dan tentara nasional meningkat sesudahnya. Pada 9 Februari, muncul pemberontakan teknisi di pangkalan udara Doshan Tappeh dan mendapat dukungan dari warga sipil serta gerilyawan Islam-Marxis. Sejumlah 50 ribu senjata dibagikan ke warga sipil. Pos polisi dan militer di Teheran diserang, komandan darurat militer kota tak membalas untuk menghindari korban sipil lebih banyak

Pada 11 Februari, lebih tepatnya pada pukul 14.00, Dewan Militer Agung menyatakan netral untuk menghindari pertumpahan darah lanjutan. Mereka menarik seluruh pasukan ke posnya, dengan demikian wilayah-wilayah penting di Teheran dan kota-kota lain kini dikuasai massa pro-Khomeini. Kondisi ini memudahkan gerakan revolusioner untuk menguasai gedung pemerintahan, stasiun radio dan televisi, serta istana kerajaan Pahlevi.

Monarki Iran yang berusia 2.500 tahun akhirnya runtuh. Republik Islam Iran lahir. Khomeini menjadi pemimpin tertingginya yang pertama.

Baca juga artikel terkait REVOLUSI IRAN atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Ivan Aulia Ahsan

DarkLight