18 Juni 1977

Ali Shariati: Sang Ideolog dalam Pusaran Revolusi Islam Iran

Ali Shariati Mazinani. tirto.id/Nauval
Oleh: Arman Dhani - 18 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Ali Shariati sangat kritis menentang dogma agama yang beku. Dianggap sebagai ideolog Revolusi Islam Iran.
Ervand Abrahamian, sejarawan lulusan Oxford yang meraih gelar PhD di Columbia, menyebut bahwa masyarakat dunia kerap gagal memahami revolusi Iran. Banyak dari pemikir politik hari ini mereduksi apa yang terjadi di Iran sekadar gerakan masyarakat yang lahir dari kepatuhan buta pada imam.

Ia curiga banyak sejarawan politik Barat abai pada fakta bahwa gerakan revolusi itu adalah api yang bara dalam sekamnya dimulai oleh intelektual. Salah satu dari intelektual yang memulai percik bara api itu adalah Ali Shariati. Ia salah satu yang mengubah lanskap pemikiran tradisional politik Islam yang cenderung taklid pada pemikiran ulama. Hal ini membuat Ali Shariati kerap dianggap sebagai pemberontak dan berbahaya.

Abrahamian menyebut bahwa Shariati lebih sering dipuja daripada dicerna dan yang paling menyedihkan adalah kerap dijadikan berhala ketimbang dibaca. Abrahamian mencurigai lanskap pemikiran intelektual Iran modern berusaha mencerabut ideologi Shariati yang berusaha kritis terhadap apapun menjadi sekadar slogan-slogan revolusi.

Menurutnya, para pembaca Shariati harus memahami tiga fase hidupnya yang membuat ia jadi intelektual yang unik.

Pertama, Shariati adalah sosiolog yang berusaha menemukan jalan tengah antara teori dan praksis, antara ide dan kerja-kerja akar rumput, dan antara kesadaran dengan keberadaan manusia. Dari pemahaman sosiologis ini, Shariati bisa menemukan bahwa ada pembusukan dalam birokrasi politik, gerakan revolusi, dan mundurnya kualitas agama masyarakat Iran di bawah Mohammad Reza Pahlavi.

Kedua, Abrahamian juga menekankan bahwa Shariati adalah muslim yang taat. Banyak artikelnya dengan kritis membawa mazhab Islam Syiah menjadi lebih progresif, bahwa agama semestinya menjadi pemantik kesadaran kritis dan semangat solidaritas antar sesama manusia.

Fase terakhir Shariati adalah sebagai orator. Dengan gamblang, ia bisa bicara tentang ide-ide masyarakat sosialis sembari bicara tentang teks keagamaan dengan baik. Saat Shah Reza berkuasa, para polisi rahasia mengawasinya dan melabelinya sebagai Islam marxis. Sementara itu ulama-ulama pendukung Shah Reza menyebut Shariati sebagai orang yang melewati batas. Ia dianggap bukan ulama. Omongannya tentang agama saat menginterpretasikan ajaran Islam mazhab Syiah dianggap semaunya.


Pendapat Airlangga Pribadi, ahli ilmu politik di FISIP Universitas Airlangga, menarik untuk disimak.

Menurut Airlangga, Ali Shariati adalah intelektual Islam yang bercorak pemikiran kiri-progresif dan revolusioner, baik dalam khazanah pemikiran Islam maupun dalam pemikiran intelektual dunia ketiga. Ia tidak hanya fokus pada bagaimana agama seharusnya berpihak dalam masyarakat, tapi juga kritis terhadap kekuasaan yang opresif.

Ali Shariati merupakan arsitek pembuat teks-teks revolusi Iran yang mengartikulasikan kepentingan kaum tertindas dan isu-isu ketidakadilan sosial saat Shah Reza berkuasa. Ini selanjutnya menjadi bahan bakar gerakan sosial politik di Iran dan dunia. Proses revolusi Iran tidak terjadi sehari, melainkan melalui pergulatan ide yang intens. Pemikiran Shariati ini kemudian dikembangkan oleh Hasan Hanafi, Farid Essack, dan pada era milenial ini diartikulasikan kembali oleh intelektual Islam generasi baru seperti Omid Safi, Mehdi Hasan, maupun Ammar Nakhshawani.

Ali Shariati jelas progresif dan menolak untuk mengkompromikan pemikirannya. Airlngga menirukan salah satu ucapan Shariati dalam kuliahnya: "Apabila kamu tidak memiliki semangat untuk revolusi, maka tidak ada perbedaan apapun apakah engkau di masjid atau di bar."

Menurut Airlangga, Shariati ingin menekankan bahwa esensi ajaran islam bukan hanya terbatas pada ritus ibadah yang profetik, tetapi juga semangat revolusi praktis yang semestinya membawa umat manusia menjadi lebih mulia.

“Inilah tujuan utama dari pembentukan Ummah yang dijalankan melalui praktik siyasah [ilmu politik]. Muslim yang saleh, menurut Ali Shariati, adalah Muslim yang mengabdikan hidupnya untuk bersama dengan yang lain untuk menumbangkan kekuasaan yang korup dan merawat ketidakadilan sosial,” katanya.





Pertikaian Shariati dengan ulama-ulama Shah Reza karena kerap kali saat ia berpidato, Shariati membuat pendengarnya menerjemahkan ulang makna iman dan takwa. Ia juga menuduh banyak ulama serupa posisinya dengan pemuka agama di masa kegelapan: menikmati segala kemewahan yang dimiliki borjuis tapi abai terhadap umat. Ia lantas menawarkan ada yang lebih baik dari sekedar beribadah, yaitu berpikir.

“Lebih baik aku berjalan memakai sandalku sambil memikirkan Tuhan daripada duduk dalam masjid tapi memikirkan sandalku,” Airlangga menirukan ucapan Shariati. Ini membuat banyak ulama berang dan menganggapnya keterlaluan.

Airlangga membenarkan ini. Menurutnya, Shariati pernah menjelaskan tentang apa itu tauhid. Konsepsi tauhid kebanyakan terbatas bahwa Islam mengajarkan bahwa Tuhan itu Satu dan menyembah banyak Tuhan itu syirik. Namun, Shariati membawa pemahaman ini lebih jauh lagi.

“Tauhid [bagi Shariati] adalah konsepsi spiritual sekaligus sosial yang tidak identik pada penundukan universalitas manusia di bawah ketundukan atas tatanan formalistik Islam, namun upaya kreatif umat manusia untuk membangun tatanan masyarakat yang adil dan setara melalui praktik revolusioner,” kata Airlangga.

Angga menjelaskan dari rumusan sosiologis inilah kemudian muncul konsepsinya yang terkenal yakni terminologi Syiah Merah Alawi/Islam Merah (Syiah revolusioner) yang dilawankan dengan Syiah Hitam/Islam hitam (Syiah status-quo). Menurut Ali Shariati, Syiah Alawi adalah Syiah revolusioner yang ajarannya dipimpin oleh Rasulullah Muhammad SAW dan keluarganya. Dan salah satu epos utamanya adalah kesyahidan Imam Husain bin Abi Thalib. Keseluruhan ajarannya dapat dirumuskan sebagai perlawanan ideologis terhadap ketidakadilan dan penindasan.


Sementara itu, di kutub lain adalah Syiah Safawi ajaran Syiah yang dalam kesejarahannya cenderung merawat konsentrasi kekuasaan dari kaum hartawan dan penguasa yang kemudian dikawal oleh kaum agamawan.

Bagi Shariati, intelektualisme tanpa aktivisme adalah prostitusi ide. Dalam seri kuliahnya yang dibukukan berjudul Agama versus Agama, Shariati berpendapat pesan-pesan universal dalam Islam yang terbentang dalam sejarah agama mesti dipahami dengan kerangka ilmu. Di situlah, menurut Angga, Shariati berusaha menawarkan kepada intelektual muslim agar memanfaatkan pengetahuannya dengan baik, misalnya melakukan analisis sosiologis atas relasi kekuasaan. Juga perawatan kemakmuran oleh kelas dominan di atas penghisapan atas kaum mustadh’afin (kelas tertindas).

Pemikiran Shariati itu tentu sangat mengganggu rezim penguasa. Ini yang menjadi alasan mengapa Shariati dipenjara pada 1964 saat ia kembali ke Iran. Ia dituduh mengobarkan tindakan subversif selama di Prancis. Setelah beberapa minggu ditahan, ia dilepaskan dan mulai mengajar di University of Mashhad. Ia terus mengobarkan pemikiran kritis hingga 1974 ia kembali ditahan dan dilepaskan delapan bulan kemudian. Saat itu Shariati yang sakit dibawa ke Inggris untuk dirawat.

Ali Shariati meninggal di Southampton pada 18 Juni 1977, tepat hari ini 43 tahun lalu, akibat serangan jantung. Jenazahnya dimakamkan di dekat makan Sayyidah Zainab, cucu dari Nabi Muhamamad, di Damaskus, Suriah.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 24 Juli 2017 dengan judul "Ali Shariati di Pusaran Revolusi Islam Iran". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait IRAN atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Politik)

Penulis: Arman Dhani
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight