3 Juni 1989

Ayatullah Khomeini dan Revolusi Iran: Aliansi Getir Kiri dan Kanan

Oleh: Windu Jusuf - 3 Juni 2019
Dibaca Normal 5 menit
Revolusi Iran adalah hasil aliansi para pendukung Khomeini dan kelompok kiri. Ketika rezim Islam berkuasa, kaum kiri justru dihabisi.
tirto.id - “Sebelum revolusi, orang minum di depan umum dan berdoa di kamar. Setelah revolusi, orang berdoa di depan umum dan minum di kamar,” demikian pepatah yang populer beberapa tahun setelah Republik Islam Iran berdiri. Kutipan ini sempurna menggambarkan drastisnya perubahan Iran dari tatanan sosial yang sekuler dan kebarat-baratan, ke masyarakat yang pada zaman itu dituntut untuk menjadi serba religius.

Berkuasa selama dua puluh lima tahun, kepala menoleh ke Barat, membungkam oposisi dengan kejam, penguasa Iran Shah Pahlevi tak sadar tengah membesarkan suatu aliansi yang kelihatannya mustahil di penjara politik: kaum komunis Partai Tudeh dan ulama.

New York Times menuturkan satu cerita mengharukan tentang keakraban para pembangkang dari kedua kubu. Housang Asadi adalah seorang jurnalis komunis yang dijebloskan ke penjara lima tahun sebelum kejatuhan Shah. Suatu hari, Asadi kedatangan teman baru di selnya, seorang mullah pembangkang yang kelak menjadi tokoh penting dalam revolusi. Keduanya berbagi minat akan sastra, rokok, dan tentunya kemarahan terhadap Shah. Tatkala Asadi patah arang, sang mullah selalu menghibur dirinya dengan mengajak Asadi jalan-jalan keluar sel. Persahabatan itu tak hanya politis, tapi juga sentimentil.

Selama berkuasa, Shah Pahlevi mengirim ribuan orang ke bui. Mereka yang beruntung dibebaskan terjun dalam kancah revolusi 1978-1979. Sisanya masuk dalam 100 orang yang dihukum mati sepanjang dekade 1970-an.

Pemenjaraan orang-orang komunis di era Shah dimulai setelah Perdana Menteri Mossadegh digulingkan. Pada 1953, Mossadegh, perdana menteri yang nekat menasionalisasI British Petroleum, dikudeta melalui Operasi Ajax yang dikerahkan CIA dan MI6. Didukung Partai Komunis, di satu sisi kebijakan-kebijakan Mossadegh populer di kalangan bawah. Di sisi lain, popularitas Mossadegh bikin gerah Pahlevi yang merasa legitimasi kekuasaannya mulai digerogoti. Setelah Mosaddegh tersingkir, Tudeh dibubarkan. Para aktivisnya ditangkapi, dijebloskan ke bui, dan dibunuh.

Amerika Serikat dan Inggris memandang Iran sebagai proksi geopolitik yang penting di Timur Tengah. Shah Iran sendiri berambisi menjadi pemimpin kelas dunia. Mutualisme yang terbangun sejak penggulingan Mossadegh tersebut menyeret kiblat politik luar negeri Iran ke Barat.

Revolusi Putih

Pada 1960, Shah meluncurkan Revolusi Putih alias proyek modernisasi besar-besaran. Di antara program Revolusi Putih adalah nasionalisasi sumber daya air, pendidikan gratis, pemberantasan korupsi dan buta huruf, pemberian hak mencoblos dalam pemilu untuk perempuan, dan banyak lagi. Namun di luar kebijakan yang terbilang progresif ini, hitung-hitungan ekonomi nampak suram bagi orang kecil.

Ekonom Iran Hadi Salefi Esfahani dan Hashem Pesaran mencatat, antara 1963-1976, pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen per tahun. Sepertiga dari pendapatan nasional kotor Iran berasal dari minyak. Pendapatan per kapita naik drastis hingga hampir separuhnya sebanding dengan penduduk di 12 negara Eropa Barat. Celakanya, administrasi Shah yang mengejar pertumbuhan mengabaikan pemerataan pendapatan. Dampaknya terasa ketika inflasi meroket ketika boom minyak berakhir pada 1976.

Bagaimana kondisi ekonomi itu memicu revolusi dan siapa yang memulainya hingga kini masih diperdebatkan. Selama bertahun-tahun Shah meyakini bahwa satu-satunya lawan politik adalah kaum komunis yang sama-sama modern: sekuler, menghendaki kesetaraan, dan mendukung industrialisasi. Orang-orang inilah yang menjadi langganan ruang penyiksaan SAVAK, polisi rahasia Iran yang terkenal kejam.

Tak dinyana, perlawanan datang dari kelompok yang selama ini dianggap terbelakang: para alim ulama. Kebijakan reformasi agraria mengancam kepemilikan tanah yang selama ini menopang aktivitas-aktivitas keagamaan. Ditambah dengan pemberlakuan undang-undang sekuler yang memungkinkan warga non-muslim untuk memegang jabatan publik, beberapa dari mereka memutuskan turun ke jalan.

Pada Juni 1963 di kota suci Qum, Khomeini ditahan setelah berpidato mengecam Shah sebagai “Manusia celaka lagi menyedihkan.” Penangkapan itu segera memicu gelombang protes yang menjalar keluar Qum, termasuk Tehran, dan melambungkan nama Khomeini berkali-kali lipat. Terlebih lagi, begitu mendengar kasak-kusuk rencana para pejabat untuk mengeksekusi Khomeini, Shariatmadari, ulama Iran paling senior dan dipercaya negara, justru menganugerahinya gelar Marja’ (Ayatullah Agung) agar Khomeini terhindar dari tiang gantungan.

Propaganda Jarak Jauh

Selama belasan tahun setelah kerusuhan di Qum, Khomeini mengasingkan diri di Najaf, Iraq dan baru pulang pada 1979 ketika Shah dipaksa kabur dari tanah air. Lalu bagaimana ia bisa menggoyang rezim dari jauh?

Pada awal 1970-an kaum islamis belum memegang peranan penting dalam gerakan anti-shah. Afiliasi politik para ulama tersebar: sebagian bersama kaum liberal, sebagian lagi konstitusionalis atau bahkan marxis, dan yang lain memilih tidak berpolitik sama sekali. Pendirian negara Islam adalah gagasan yang terdengar asing.

Pada 1971 perayaan 2.500 tahun imperium Persia yang dirayakan besar-besaran di reruntuhan Persepolis. Seluruh kepala negara dunia diundang. Para koki didatangkan dari Paris. Di tengah bencana kekeringan melanda provinsi Baluchistan, Sistan, dan Fars (tempat diselenggarakan acara), total anggaran negara sebesar $200 juta habis untuk mengongkosi ambisi Shah menjadi negarawan kelas dunia.

Sumpah serapah publik yang menyertai pesta-pora Shah adalah jalan emas bagi Khomeini untuk membuka serangan dari jauh. Dari tanah pengasingan ia rajin memberikan ceramah, termasuk tentang pokok-pokok pemerintahan Islam, serta membangun kontak dengan aktivis-aktivis Ikhwanul Muslimin dan militan Palestina yang ia dukung secara finansial. Ceramah-ceramah itu kemudian direkam ke kaset dan disebarkan para pengikutnya yang rajin bolak-balik menembus perbatasan. Hingga tahun-tahun berikutnya, ia terus membuat komunike, kritik, dan polemik yang tidak saja ditujukan kepada pemerintah tetapi juga kepada ulama-ulama dalam negeri untuk memenangkan gagasan negara Islam—kendati belum terang detailnya—yang pada waktu itu belum diterima secara umum.

Khomeini pun menggandeng rekan yang sangat strategis: Ayatullah Taleqani, seorang ulama sayap kiri yang memiliki jaringan luas ke kelompok-kelompok gerilyawan komunis bawah tanah.

Puncaknya, pada 1977, tatkala boom minyak mencapai impasnya, inflasi melonjak drastis, pabrik-pabrik gulung tikar, dan angka pengangguran naik, seluruh agitasi Khomeini yang tersebar melalui koran bawah tanah dan kaset mulai diterima sebagai kebenaran oleh massa-rakyat.

Kata revolusi tiba-tiba lekat dengan agama.


Menertibkan Revolusi

Pada tahun yang sama, pemakaman Mostafa Khomeini, putra sang Ayatullah, di bulan Muharram menjadi momentum konsolidasi kalangan oposisi Islamis. Mereka mentasbihkan Khomeini sebagai Imam dan menuduh SAVAK berada di balik kematian Mostafa. Massa dibakar dengan pesan-pesan agitatif tentang memori kematian Imam Husein di Karbala.

Ketika pemerintah mulai dirundung krisis politik, pemakaman Mostafa adalah sebuah peristiwa yang menyampaikan satu pesan serius: melawan Shah adalah jihad.

Sejak itulah protes dan pemogokan mulai menjadi pemandangan keseharian di Tehran. Apapun yang salah dalam keseharian warga Tehran mulai dialamatkan pada Shah. Agustus 1978, Cinema Rex, sebuah bioskop di kota Abadan, dibakar. SAVAK menuduh para pengikut Khomeini sebagai pelaku. Tuduhan itu berbalik ke SAVAK. Pasalnya, film yang ditampilkan pada bioskop dibakar adalah film anti-pemerintah.

Pada 8 September 1978 Shah mendeklarasikan darurat militer. Angkatan bersenjata yang yang baru saja menambah personil ternyata tak terlatih betul menghadapi massa. Pers melaporkan 2000-4000 demonstran mati ditembak.

Akibat naiknya eskalasi dari protes ke gerilya kota bersenjata, Shah menekan pemerintah Irak untuk mengusir Khomeini dari Najaf. Sang Imam memanfaatkan kesempatan tersebut untuk hijrah ke sebuah kota kecamatan Neauphle-le-Château di Prancis. Pilihannya tepat—dengan bermukim di Prancis, akses internasional untuk mengabarkan kondisi Iran jatuh ke tangannya dan praktis Shah tidak lagi menjadi satu-satunya perwakilan Iran di mata dunia.

Di pengujung 1978, tokoh oposisi Shapour Bakhtiar diangkat sebagai perdana menteri. Ia mengumumkan pembubaran SAVAK, pembebasan tahanan politik, dan penghapusan sensor. Delapan belas hari setelahnya, Shah beserta keluarga terbang ke Mesir tanpa pernah kembali. Bedil tetap menyalak di Tehran, namun tak ada perlawanan yang berarti dari militer. Para serdadu rendahan dan perwira junior menyatakan berpihak pada revolusi sementara para perwira senior yang memilih netral.

Vakum kekuasaan mendorong Khomeini pulang ke Iran pada Februari 1978. Dewan Revolusi berdiri. Mehdi Bazargan, Menteri Perminyakan pada era pemerintahan Mossadeq dan tokoh oposisi kawakan, ditunjuk Khomeini untuk menduduki kursi perdana menteri.

Kebingungan setelah kepergian Shah membuka perseteruan baru. Kaum kiri kini gencar menyerang Khomeini, yang tak lama setelah Dewan Revolusi terbentuk mulai berkonflik dengan Bazargan. Perdana Menteri Barzagan sendiri, yang tidak sepenuhnya sreg dengan model republik Islami beserta rancangan konstitusinya, berdiri di tengah-tengah, mengakomodir kepentingan para ulama di satu sisi, dan kalangan sekuler di sisi lainnya. Taleqani, ulama kedua terkuat di Iran, berada di sisi Barzagan.

Menjelang referendum untuk menentukan bentuk negara, Barzagan mengajukan diksi “demokratik”, alih-alih “Islam”, setelah kata “republik,” sebuah usulan yang ditentang sang Imam. Posisinya makin terkucil tatkala 98,2 persen rakyat Iran menjawab “Ya” untuk pilihan yang disempitkan dalam satu pertanyaan: “Apakah monarki digantikan oleh sebuah Republik Islam?”. Bazargan meletakkan jabatan ketika ketika para pengikut Khomeini menyerbu kedutaan AS di Tehran dan menyandera para staf.


Infografik Mozaik Revolusi Iran
Infografik Mozaik Revolusi Iran. tirto.id/Rangga

Menghabisi Kiri

Penyingkiran orang-orang kiri dan reformis dari pemerintahan pun merembet ke bawah.

Pendirian Dewan Revolusi disusul pembentukan komite-komite revolusi (komiteh) di seantero negeri, dengan mesjid-mesjid sebagai pusat aktivitasnya. Komiteh dibangun mengambil contoh dari pengalaman Revolusi Rusia 1917, ketika para buruh di Petrograd mendirikan soviet-soviet (dewan-dewan) di pabrik. Dalam praktiknya, komiteh adalah organ akar rumput yang bekerja untuk mengeliminasi sisa-sisa kekuatan Shah, mempropagandakan Republik Islam, serta mendorong kesalehan publik di masyarakat. Ada beberapa kasus di mana kelompok kiri mencoba mengambilalih komiteh, namun gagal karena kalah jumlah.

Bulan madu Ayatullah dan oposisi kiri sungguh-sungguh berakhir pada 1988, ketika Revolusi Kebudayaan dideklarasikan dan orang-orang kiri dibantai habis. Dan lebih habis lagi ketika Ayatullah Khomeini meninggal pada 3 Juni 1989, tepat hari ini 30 tahun lalu.

Kenyataan pahit itu barangkali tak terpikirkan saat membaca wawancara seorang jurnalis Perancis dengan Khomeini di pengasingan, sepuluh tahun sebelum pembantaian itu terjadi. Si jurnalis bertanya, republik macam apa yang dibayangkan Khomeini. Jawab Sang Imam: “Ya republik, seperti yang Anda miliki di Perancis.” Orang-orang Kiri itu lega mendengarnya. Mereka lupa: itu jawaban diplomatis.

Pada suatu malam, enam bulan sebelum Housang Asadi dibebaskan, ia menyaksikan kawannya, sang ulama, mengigil kedinginan. Ia berikan jaketnya kepada orang yang kemudian tersohor sebagai Ali Khameini, murid dan loyalis Khomeini yang saat ini menjabat Pemimpin Agung Iran. Kepada Asadi, Khameini berbisik seraya berkaca-kaca: “Housang, ketika Islam berkuasa, takkan jatuh setetes pun air mata dari orang-orang tak berdosa.”

Pada 1981, Khameini terpilih sebagai Presiden Republik Islam Iran. Dalam pidato pelantikannya, ia bersumpah akan menyingkirkan “penyimpangan, liberalisme, dan kaum kiri yang ikut-ikutan Amerika". Setahun berkuasa, Khameini mengirim Asadi ke kamar penyiksaan.

======

Naskah ini pertama kali ditayangkan pada 3 Juni 2017 dengan judul "Revolusi Iran: Aliansi Getir Kiri dan Kanan". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait REVOLUSI IRAN atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Politik)


Penulis: Windu Jusuf
Editor: Ivan Aulia Ahsan