tirto.id - Di balik deretan peladen (server) yang bekerja sepanjang waktu di data center, ada panas yang harus dibuang agar perangkat tetap beroperasi optimal. Kebutuhan pendinginan ini memicu masalah saat pembangunan fasilitas komputasi skala raksasa mulai masuk ke wilayah yang sumber daya airnya sudah padat pemanfaatan.
Dilema ekologis tersebut sedang ramai seiring dimulainya pembangunan data center AI Campus 2 (CGK4) milik BDx di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, sejak 22 September 2026. Data center ini dirancang dengan kapasitas sampai 640 megawatt (MW).
Sepekan berselang, pada 28 September 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan inspeksi mendadak ke lokasi. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat lalu menginstruksikan agar BDx menyetop sementara pengerjaan proyek itu, karena masalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) disebut belum tuntas. Pemprov menegaskan penghentian itu bukan berarti menolak investasi.
Di tengah sorotan tersebut, kebutuhan air baku memang jadi salah satu isu utama. Berdasar keterangan di laman resmi Bapenda Jawa Barat, kebutuhan air baku BDx pada tahap awal mencapai 6.000 meter kubik per hari. Dalam rentang 5-10 tahun ke depan, kebutuhannya diproyeksi naik sampai maksimum 384 liter per detik atau setara sekitar 33.178 meter kubik per hari.
Alokasi SPAM Kabupaten Purwakarta dari Waduk Jatiluhur, sebagaimana ditetapkan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Kementerian PUPR, sebesar 3 meter kubik per detik. Maka jika mengacu angka itu, kebutuhan maksimum air untuk data center BDx di Jatiluhur setara sekitar 12,8 persen dari alokasi tersebut.
Mengapa Data Center Butuh Air?
Perdebatan soal data center dan kebutuhan air memantik pertanyaan: bagaimana sebenarnya cara kerja fasilitas data center sampai butuh banyak pasokan air?
Ribuan server di dalam data center mengonsumsi energi listrik secara intensif untuk memproses data. Proses tersebut menghasilkan panas tinggi yang harus segera diserap agar perangkat tidak mengalami overheating. Air menjadi media pemindah panas yang paling efektif dan efisien untuk mendinginkan perangkat.
Tingkat konsumsi air ini tergantung pada kapasitas fasilitas, beban komputasi, teknologi pendingin, kondisi iklim, dan sumber energi.
Laporan Ceres bertajuk Water Behind the Watts: The Hidden Risk of Powering Data Centers (Agustus 2026) mengkaji ketergantungan pasokan air pada pembangkit listrik penyokong data center di tujuh negara bagian Amerika Serikat: Virginia, Texas, California, Illinois, Georgia, Ohio, dan Arizona.
Menurut laporan itu, data center di wilayah studi bergantung pada sekitar 3,4 triliun galon air tawar per tahun hanya untuk pasokan listriknya. Angka ini menghitung air yang diambil (withdrawal), termasuk air pembangkit listrik tenaga air yang langsung dikembalikan ke sungai, sehingga tidak sama dengan air yang seluruhnya terkonsumsi.
Ceres juga mencatat 78 persen listrik di wilayah studi berasal dari pembangkit yang butuh air untuk beroperasi. Total 66 persen pembangkit tersebut berada di wilayah rentan krisis air dengan skala sedang-tinggi sampai sangat tinggi. Ini yang terjadi di Negeri Paman Sam.
Apakah AI Turut Mendorong Peningkatan Kebutuhan Air?
Pesatnya adopsi AI generatif memperbesar kebutuhan energi dan, secara tidak langsung, air. Pelatihan model AI dan pemrosesan kueri butuh infrastruktur komputasi intensif berbasis Graphics Processing Unit (GPU) atau akselerator khusus. Perangkat ini menyedot banyak daya listrik sekaligus menghasilkan panas ekstrem saat bekerja secara paralel.
Menurut studi terbaru dari UN University (UNU), konsumsi air terkait AI dapat setara dengan kebutuhan dasar domestik tahunan bagi 1,3 miliar orang pada akhir dekade ini, sementara jejak lahannya diperkirakan melampaui 14.500 kilometer persegi atau kira-kira dua kali lipat luas wilayah metropolitan Jakarta.
"Laporan ini bukan untuk menentang kecerdasan buatan, sebuah transformasi teknologi yang meningkatkan taraf hidup miliaran orang di seluruh dunia," ujar Profesor Kaveh Madani, Direktur UNU-INWEH yang memimpin tim penelitian tersebut.
"Laporan ini merupakan seruan untuk memanfaatkannya secara bertanggung jawab dan menangani dampak-dampak yang tidak disengaja secara proaktif, demi mewujudkan keberlanjutan dan keadilan."
Proyeksi ini tidak bisa disamaratakan dengan kondisi di Indonesia karena perbedaan bauran energi dan iklim. Namun isu yang berkembang di AS memberi peringatan dini bagi pengambil kebijakan di tanah air.
Apalagi Kampus AI BDx CGK4 di Jatiluhur dirancang berkapasitas hingga 640 MW, dengan gedung pertama direncanakan 120 MW secara bertahap, dan mendapat dukungan pasokan PLN sebesar 845 MVA.
Terkait pendinginan, dalam keterangan resminya, BDx menyebut fasilitas data center ini memakai teknologi direct-to-chip liquid cooling, yaitu mengalirkan cairan pendingin langsung ke permukaan komponen berpanas tinggi seperti GPU dan prosesor.
Adakah Teknologi untuk Data Center yang Lebih Hemat Air?
Efisiensi air pada fasilitas komputasi ditentukan oleh dua pilihan: bagaimana panas ditangkap dari perangkat dan bagaimana panas itu dibuang ke luar. Industri ini mengenal pendinginan evaporatif berbasis air, direct-to-chip liquid cooling, serta sistem sirkulasi tertutup (closed-loop) dan pendinginan berbasis udara (air-based cooling).
Sebagian air terus terpakai akibat penguapan.
Bergantung pada cara sistem membuang panas dari cairan.
Bergantung pada desain sirkuit dan sistem pembuangan panas.
Dapat rendah jika sistem pembuangan panas tidak menggunakan penguapan air.
Direct-to-chip merupakan metode untuk mengambil panas langsung dari chip, sedangkan closed-loop merujuk pada sirkulasi cairan tertutup. Keduanya dapat digunakan bersamaan. Kebutuhan air aktual juga dipengaruhi oleh teknologi pembuangan panas, kapasitas komputasi, dan suhu lingkungan.
Bila memakai pendingin berbasis udara, pemakaian air jauh lebih kecil, dengan harga konsumsi listrik lebih tinggi. Dan karenanya, label "tertutup" belum menjamin kebutuhan air rendah.
Selain efisiensi arsitektur, pemanfaatan air daur ulang (recycled water) dan air hasil olahan menjadi opsi krusial.
Menanggapi masalah global ini, generasi baru perusahaan rintisan (startup) berlomba mengembangkan teknologi pendinginan cair, mikrofluidika, desain modular, dan sistem termal closed-loop untuk mengurangi penggunaan air sembari tetap memenuhi kebutuhan performa komputasi modern.
Ini untuk menjawab kedua sisi tantangan tersebut: bagaimana membuang panas secara efisien tanpa menguapkan air, serta bagaimana mendukung gelombang infrastruktur AI tanpa memperbesar jejak konsumsi air di industri ini.
Seiring dengan melonjaknya beban kerja AI, teknologi-teknologi ini menjadi sangat penting bagi pengembangan pusat data yang berkelanjutan.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































