tirto.id - Populasi badak jawa dan badak sumatra telah lama disebut terancam punah. Ini terjadi karena semakin banyaknya perubahan fungsi hutan menjadi areal perladangan, illegal logging, hingga perburuan cula.
Menurut International Rhino Foundation (IRF) menyebut, populasi badak sumatra hanya sekitar 34–47 ekor pada 2025. Sementara itu, spesies badak jawa hanya tersisa 50 ekor, turun sepertiga dari 76 karena perburuan liar.
World Wide Fund for Nature atau WWF sudah jauh-jauh hari menyebut badak jawa dan sumatra yang tersisa di Asia telah diidentifikasi oleh para konservasionis sebagai beberapa hewan yang paling terancam punah di dunia.
Zoological Society of London dan IUCN juga merilis daftar 100 spesies yang paling berisiko punah. Badak jawa dan sumatra termasuk dalam daftar tersebut.
Hewan-hewan tersebut sangat terancam punah, meski beberapa kali mengalami “kemajuan”. Situs konservasi Mongabay (30/8/2026) mencatat, sempat ada peningkatan populasi pada badak jawa, yakni lahir enam anak badak hanya dalam 2 tahun terakhir.
Mengenal Badak Sumatra dan Jawa
Salah satu yang membedakan kedua spesies badak yang terancam tersebut adalah terletak pada jumlah cula yang dimiliki. Melansir laman resmi Yayasan badak Indonesia (YABI), badak sumatra memiliki dua cula, sedangkan badak jawa hanya bercula satu.
Cula depan badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) berkisar antara 25–80 cm, sedangkan cula belakang relatif lebih pendek, tak lebih dari 10 cm. Badak sumatra sendiri tergolong badak terkecil dengan badan hanya sekitar 600–950 kg, tinggi 1–1,5 m, dan panjang 2-3 m.
Kulit badak sumatra tipis, halus, dan licin dengan warna kulit coklat kemerahan. Hampir seluruh tubuhnya tertutup rambut pendek dan kaku dengan warna bervariasi. Pada umumnya warna rambutnya putih kehitaman. Tak heran jika kemudian badak sumatra juga dijuluki sebagai badak berambut.

Ciri khas badak ini adalah memiliki 2 lipatan kulit utama. Satu lipatan ada di belakang kaki depan, sedangkan satu lipatan lainnya yakni melingkari perut. Adapun kaki badak sendiri memiliki ukuran permukaan yang lebar dengan masing-masing memiliki 3 kuku setengah melingkar.
Sementara itu, cula badak jawa (Rhinoceros sondaicus) hanya ada satu dengan ukuran panjang rata-rata 20–25 sm dan bisa mencapai 30,5 cm. Cula ini biasanya tumbuh pada badak jantan, tapi juga kadang dijumpai pada badak betina dewasa meski hanya sebesar kepalan tangan.
Badak jawa memiliki ukuran tubuh lebih besar dari badak sumatra. Bobotnya bisa mencapai 900 hingga 2.300 kg dengan tinggi 1,2–1,7 m dan panjang 3–3,4 m. Adapun ukuran badak jawa betina bisa lebih besar daripada badak jantan.
Kulit badak jawa berwarna abu-abu dengan kulit luar memiliki corak mozaik dan kulit tebal membentuk lipatan-lipatan. Inilah yang membuat badak jawa terlihat seperti mengenakan lapisan baju baja.
Biasanya sebanyak 3 lipatan melintang di punggung badak jawa. Salah satunya, yakni lipatan kulit pada bagian bawah leher hingga bagian atas yang berbatasan dengan bahu.
Kemudian, lipatan atas punggung yang membentuk sadel atau pelana. Selain itu, ada pula lipatan yang ada di bagian dekat pangkal ekor dan bagian atas kaki belakang.
Badak jawa umumnya memiliki rambut pada kulit yang hanya tampak saat muda. Seiring bertambahnya usia, rambut tersebut semakin jarang, kecuali di daun telinga, rambut kelopak mata, dan ujung ekor.
Mata badak jawa kecil dan dikelilingi lipatan kulit. Hidungnya mempunyai lubang yang bisa ditutup. Lalu, bentuk bibir atasnya seperti jari, yakni panjang melancip. Sama seperti badak sumatra, kaki badak jawa juga memiliki 3 kuku.
Persebaran Badak Jawa dan Sumatra, serta Populasinya dari Tahun ke Tahun
Daerah persebaran badak jawa cukup luas di Asia Tenggara, mencakup Teluk Benggala (India) hingga Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Semenanjung Malaya, Pulau Sumatra, dan Pulau Jawa.
Namun, per 2010 silam, populasi badak jawa di Vietnam sudah dinyatakan punah. Sejak 1930-an, populasi badak jawa terkonsentrasi pada Taman Nasional Ujung Kulon. Tahun 2022, terdapat 77 individu badak jawa yang tersebar di bagian selatan kawasan Semenanjung ujung Kulon.
Di sisi lain, populasi badak sumatra tersebar di sepanjang Assam-India, Myanmar, Semenanjung Malaya, Sumatra, dan sebagian besar pulau Kalimantan. Tak hanya itu, populasinya juga tersebar di Laos, Vietnam, hingga Kamboja.

Populasi badak sumatra terbesar yang tersisa terdapat di Indonesia dengan lebih dari 70% dari total populasi di dunia. Di antaranya, yakni berada di Taman Nasional Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan Taman Nasional Way Kambas, serta sedikit populasi yang terisolasi di Kalimantan.
Pada 1974, populasi badak sumatra sekitar 400–700 ekor. Angka ini mengalami penurunan sejak 1980–1990 akibat perburuan. Berdasarkan Analisis Viabilitas Populasi dan Habitat (PHVA) Badak Sumatra tahun 1993, populasinya di Sumatra sekitar 215–319 ekor.
Artinya, telah ada penurunan populasi badak sumatra sekitar 50% hanya dalam kurun waktu 20 tahun (1974–1993). Penurunan populasi ini, sebagaimana terjadi pada badak-badak di Asia Tenggara pada umumnya, terjadi akibat adanya kombinasi berbagai ancaman.
Di antaranya, yakni hilangnya kawasan hutan habitat badak jawa akibat perambahan, juga perubahan fungsi hutan menjadi areal perladangan dan illegal logging. Kemudian, perburuan cula karena anggapan khasiatnya oleh masyarakat telah membuat populasi badak sumatra menurun.
Upaya Mencegah Kepunahan Badak Jawa & Sumatra
Pemerintah Indonesia dan para konservasionis telah berupaya untuk mengembalikan populasi badak jawa dan sumatra. Kedua spesies ini berada di taman nasional yang ada di beberapa wilayah Indonesia.
Pemerintah tengah membahas pembentukan program penangkaran bagi badak jawa, sebagaimana yang dilakukan pada badak sumatra. Ini bertujuan untuk menjamin keberlangsungan spesies tersebut.
Namun, upaya ini tidak bisa hanya dilakukan pihak pemerintah. Masyarakat umum juga perlu bersama-sama untuk kembali memulihkan populasi badak jawa dan sumatra
Beberapa program prioritas penyelamatan badak di Indonesia mencakup program jangka pendek dan panjang. Terdapat dalam dua dokumen “Strategi Konservasi Badak di Indonesia” yang dikutip Sajdudin, dkk (Yayasan Badak Indonesia) dalam jurnal Al-Kauniyah (2013).
Pertama, strategi jangka pendek yang terdiri dari pemeliharaan dan perlindungan suaka badak di Indonesia (konservasi in-situ), mengembangkan dan memantapkan lembaga khusus dalam PHKA (Unit Konservasi Khusus Badak Indonesia), dan memulai program pendidikan dan kepedulian umum dengan sasaran seluruh lapisan masyarakat.
Selanjutnya, memperkuat usaha untuk menghentikan perdagangan gelap cula dan bagian tubuh badak lainya. Membantu penangkaran badak sumatra di Taman Nasional Way Kambas dan perluasan habitat melalui manajemen habitat badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.
Kedua, strategi jangka panjang yang terdiri dari meningkatkan jumlah populasi badak dalam suaka alam melalui translokasi dan reintroduksi. Mengembangkan dan menggunakan populasi hasil penangkaran untuk reintroduksi dan sebagai jaminan (konservasi ex-situ). Lalu, menyediakan tenaga yang berpengetahuan dan terlatih untuk mengelola dan melindungi populasi badak.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id
































