'Love Struck' dengan Orangutan Tapanuli

Oleh: Restu Diantina Putri - 12 Mei 2019
Dibaca Normal 4 menit
Sheila dan Anda memilih bekerja untuk kelangsungan hidup orangutan Tapanuli.
tirto.id - Sudah sekitar 2 jam berjalan kaki dari desa terakhir dan kami masih jauh dari Camp Mayang. Jalur yang kami lewati semakin ke dalam hutan semakin liar, rapat dan berlumpur.

Sepatu bot sebelah kiri saya sempat terperangkap. Jauh di depan, Sheila Kharismadewi Silitonga memimpin rombongan kecil kami; sesekali ia menjelaskan tentang Pongo tapanuliensis yang doyan memakan biji-bijian agatis.

Kami lalu rehat di sebatang anak sungai. Saya yang kebetulan sedang menstruasi, mulai tak nyaman. Saya mencolek Sheila. Harus ganti.

“Ganti di sini aja, mumpung ada sungai. Nanti sampahnya dibawa, ya." Saat mencuci, saya membatin Sheila harus melakukan kerepotan ini setiap bulan.

Repot? Ternyata tidak.

Setelah 7 jam perjalanan atau setara 12 kilometer, kami tiba di Camp Mayang, sebuah stasiun monitoring flora dan fauna di ekosistem Batang Toru yang dibangun tahun 2007 oleh Yayasan Ekosistem Lestari dan Sumatran Orangutan Conservation Programme. Terpal biru yang menaungi pondok membuat kamp itu terlihat menonjol di tengah-tengah rimba hijau Tapanuli.

Ada lima pondok utama dan satu pondok yang sedang dibangun. Di sanalah kami bertemu rekan Sheila, Andayani Oerta Ginting, manajer monitoring di kamp itu. Sementara Sheila bertanggungjawab sebagai manajer riset. Keduanya dibantu lima staf laki-laki yang seluruhnya adalah warga lokal.

Ekosistem Batang Toru memiliki luas sekitar 150 ribu hektare dan terbagi menjadi dua blok: timur dan barat. Camp Mayang berlokasi di blok barat, berada dalam kawasan Tapanuli Tengah. Di blok itulah habitat terpadat orangutan Tapanuli alias Pongo tapanuliensis.


Menjadi Sahabat Pongo tapanuliensis

Anda, panggilan akrab Andayani, lulusan kehutanan Institut Pertanian Bogor, bekerja lebih awal di Camp Mayang. Sebulan setelahnya, Sheila menyusulnya; lebih tepatnya: kembali masuk hutan.

Sebelumnya Sheila, yang lulusan biologi IPB, sempat meneliti di kamp tentang perilaku orangutan di Batang Toru, yang saat itu masih dianggap satu spesies dengan Pongo abelii atau orangutan Sumatera.

Selagi mengerjakan penelitiannya, pada November 2017, sekelompok peneliti dari IPB, salah satunya dosen Sheila, Puji Rianti, mengidentifikasi bahwa orangutan di Batang Toru berbeda dari Sumatera. Spesies itu bernama Pongo tapanuliensis. Jumlahnya ditaksir 800-an individu.

Habitat orangutan Tapanuli kini terancam akibat proyek PLTA Batang Toru, yang dikerjakan oleh konsorsium bernama PT North Sumatera Hydro Energy, didanai oleh Bank of China senilai Rp21 triliun.


Sejak itulah Sheila bertekad untuk memfokuskan riset mengenai Pongo tapanuliensis.

Sementara Anda berkomitmen untuk bekerja sesuai studinya, terutama dipupuk saat kegiatan pencinta alam di kampus. Bagi kamu yang suka petualangan, mungkin pengalamannya sama dengan Anda: Kamu capek luar biasa saat naik kali pertama ke hutan, menghadapi serangga dan ketakutan dan kesepian dan kegembiraan dan kehujanan di tengah jalan, tetapi kamu tahu kamu ketagihan ingin kembali ke hutan setelah tiba di tujuan.

Di Camp Mayang, Sheila dan Anda berfokus mencari dan mengawasi orangutan Tapanuli, meski selalu ada banyak hal dalam hutan selagi kamu mencari tujuanmu.

Misalnya, mereka menemukan harimau Sumatera atau tapir yang sudah jarang terlihat. Pulau terbesar keenam di dunia ini kehilangan setengah hutan aslinya akibat perkebunan sawit, karet, dan kertas, menyetor perubahan iklim global sekaligus menyusutkan jumlah hewan paling endemik di Sumatera.

“Tiga bulan pertama kerja di sini masih ngeluh capek karena tiap hari kerjanya jalan menyusuri hutan,” ujar Anda, yang Maret lalu sudah setahun bekerja di Camp Mayang.

Saat kegiatan observasi itu, biasanya mereka menghabiskan waktu 10 hari untuk mengikuti kegiatan satu individu orangutan saja. Tetapi tidak setiap hari mereka bisa mengamati orangutan. Bahkan bisa lebih dari sebulan tak satu pun individu orangutan yang ditemukan mereka.

“Kalau sudah begitu aku frustrasi banget. Frustrasi antara kami enggak bisa capai target riset sekaligus khawatir keadaan mereka," ujar Sheila. "Jangan-jangan mereka mati...”

Mereka pernah menemukan satu individu orangutan betina, yang mereka namakan Indah, membawa anaknya yang sudah mati.

“Kemungkinan mati karena terjatuh," ujar Anda. Setelah itu mereka tak pernah melihat Indah. "Dugaan kami juga meninggal karena stres anaknya mati."

Infografik HL Indepth PLTA Batang Toru
Infografik Sheila dan Anda yang bekerja demi kelangsungan hidup orangutan Tapanuli. tirto/Lugas

Bekerja di Hutan

Sheila, besar di Kota Bekasi, dan Anda yang lahir di Medan memutuskan bekerja di hutan dan meninggalkan yang serba praktis di belakangnya.

Selamat tinggal internet. Selamat tinggal media sosial. Mereka berteman dengan penerangan malam karena genset cuma dinyalakan selama dua jam di kamp. Mereka kadang rindu dengan hiburan seperti bioskop atau sekadar makan di restoran cepat saji.

Maka, tiap hendak masuk hutan usai mengambil jatah libur, mereka tak hanya menyiapkan logistik bulanan tapi juga unduhan beragam film dan serial untuk tiga minggu ke depan.

"Game of Thrones. Oh, please, kamu jangan kasih spoiler! Aku belum nonton," seru Sheila.

"Drama Korea, dong," timpal Anda saat menjawab koleksi tontonannya.

Satu hari, usai menemani rombongan kami ke air terjun sembari mencari orangutan Tapanuli, saya melihat Anda kemulan di bawah selimut sambil menonton tutorial make up di YouTube. Kendati di hutan, Anda rajin merawat wajahnya dengan rangkaian skin care, dengan sejumlah merek yang saya kenal, bertumpuk di pondok tempat saya menginap bersama mereka.

Menjadi perempuan di hutan adalah perkara yang susah-susah gampang, tetapi Anda dan Sheila memiliki rekan kerja laki-laki yang respek terhadap mereka.

“Awalnya sih diperlakukan kayak perempuan banget. Dibawain barang-barangnya. Enggak boleh kerja yang berat-berat. Sekarang mah boro-boro. ‘He… potong kayu bakar dulu kau, sana!’” Sheila menirukan salah satu staf seniornya sambil terkekeh.

Mereka terbiasa bercanda, sekaligus mereka bisa menempatkan atasan maupun teman, bekerja dan bersenang-senang di hutan.


Orangutan Tapanuli
PLTA Batang Toru merusak 'wilayah jelajah perkawinan' orangutan Tapanuli. Imbasnya, bisa mempercepat kepunahan mereka. FOTO/YEL-SOCP

'Love Struck' dengan Orangutan

Keduanya sama-sama putus dengan pacarnya, tak lama setelah memulai pekerjaan ini. Keduanya terkikik geli saat saling mengakui cerita itu.

"Love struck aku ya sama orangutan, bukan sama manusia," cerita Sheila, tergelak. "Waktu bertemu Togos aja aku sampai takjub. Ya ampuuun ... dia ganteng banget!”

Togos adalah pejantan orangutan Tapanuli yang biasanya menemui orangutan betina dengan anaknya.

Sementara "love struck" Anda saat menemukan Tarida, orangutan betina yang punya anak kembar, Domu dan Dame.

Itu temuan yang sangat jarang karena betina orangutan melahirkan bayi kembar sulit diketahui, dan betina orangutan melahirkan bayi kembar umumnya lewat penangkaran atau karantina.

“Aku sempat berdebat ... takutnya salah lihat. Tapi ternyata benar, anaknya ada dua! Aku kagum banget,” kata Anda.

Populasi Pongo tapanuliensis didominasi oleh pejantan dan cuma segelintir betina yang aktif bereproduksi; itu pun umumnya hanya sembilan tahun sekali. Orangutan Tapanuli dinilai spesies tersendiri karena memiliki genetika, morfologi, dan ekologi yang sangat berbeda dari orangutan Sumatera dan Kalimantan.

"Rambutnya paling pirang di antara tiga spesies dan paling panjang. Yang jantan semakin tua biasanya akan memiliki janggut,” ujar Puji Rianti, dosen Sheila.


Kehadiran PLTA Batang Toru dikhawatirkan oleh para peneliti dan aktivis lingkungan, termasuk oleh Shiela dan Anda, menyusutkan habitat mereka serta memangkas jelajah orangutan di tiga kawasan hutan Tapanuli.

Terbaru, satu individu orangutan Tapanuli terekam melewati tapak proyek PLTA Batang Toru, mengafirmasi kecemasan para aktivis dan organisasi lingkungan bahwa habitat Pongo tapanuliensis sudah sangat terancam.


Sheila dan Anda mengambil pelajaran hidup dari segala keterbatasan hidup di hutan, menjadi sahabat orangutan Tapanuli dan jatuh cinta pada hewan paling endemik di dunia itu. Mereka merasa tak mengorbankan banyak hal. Manusia adalah spesies jawara perihal beradaptasi dengan lingkungan, tetapi manusia juga yang menjadi faktor determinan menghancurkan keanekaragaman hayati, termasuk mempercepat kepunahan orangutan.

“Hidup jadi terasa lebih sederhana di sini," ungkap Sheila. "Dan itu membuat kami lebih bahagia."

Baca juga artikel terkait PLTA BATANGTORU atau tulisan menarik lainnya Restu Diantina Putri
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Restu Diantina Putri
Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight