Menuju konten utama

5 Fakta Ikan Sapu-sapu: Kenapa Tidak Boleh Dimakan?

Ikan sapu-sapu dari wilayah tercemar seperti di Sungai Ciliwung mengandung logam berat dan berisiko bagi kesehatan, sehingga tidak boleh dikonsumsi.

5 Fakta Ikan Sapu-sapu: Kenapa Tidak Boleh Dimakan?
Ikan Sapu sapu. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pertanyaan kenapa ikan sapu-sapu tidak boleh dimakan sedang ramai dibicarakan seiring viralnya ikan invasif itu di sosial media. Bahkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggalakkan operasi pembasmian massal spesies bernama latin Pterygoplichthys pardalis tersebut.

Sapu-sapu semakin jadi perhatian setelah konten kreator bernama Arief Kamarudin kerap melakukan penangkapan sekaligus pembasmian ikan tersebut di Sungai Ciliwung dan beberapa lokasi lain di Jakarta. Aksi Arif Kamarudin pun menjadi perhatian, termasuk oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu liar dari perairan tercemar tidak layak dikonsumsi. Berikut ini sejumlah fakta yang menjelaskan alasan kenapa ikan sapu-sapu tidak boleh dimakan.

1. Ikan Sapu-sapu Hidup di Lingkungan Tercemar dan Menyerap Polutan

Ikan sapu-sapu berasal dari Sungai Amazon, Amerika Selatan, dan masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias sebelum akhirnya menyebar ke perairan umum. Sebagai bottom feeder, ikan ini mengonsumsi detritus, alga, dan sedimen di dasar sungai yang kerap tercemar limbah industri maupun domestik.

Kemampuannya bertahan di air dengan kadar oksigen rendah membuatnya mampu hidup di ekosistem sungai tercemar seperti di Jakarta. Di sisi lain, kondisi tersebut juga menyebabkan tubuh ikan sapu-sapu menyerap dan menyimpan berbagai zat berbahaya dari lingkungan.

Pramono Anung

Pramono Anung saat meninjau penangkapan sapu-sapu di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026). tirto.id/Rahma

2. Ikan Sapu-sapu di Jakarta Mengandung Logam Berat Melebihi Batas Aman

Penelitian yang ditulis oleh Laksmi Nurul Ismi dkk dalam Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi pada 2019 menunjukkan adanya kandungan logam berat dalam tubuh ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung kawasan MT. Haryono.

Analisis menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) menemukan bahwa kadar arsen, kadmium, merkuri, dan timbal dalam sampel ikan tersebut melampaui batas maksimum yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Alhasil, peneliti menyimpulkan bahwa ikan sapu-sapu dari lokasi tersebut tidak layak dikonsumsi.

"Kemarin dalam rapat saya dilaporin oleh Kepala KKP bahwa di ikan ini rata-rata sudah di atas 0,3 kadar residunya. Dan itu berbahaya sekali,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Jumat (17/4/2026).

Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian lanjutan dari Dewi Elfidasari dkk yang dipublikasi di National Library of Medicine pada 2023. Peneliti menemukan hubungan antara kandungan logam berat dengan sistem biologis ikan, termasuk keberadaan bakteri usus yang membantu ikan bertahan di lingkungan tercemar.

Meski ada studi lain di Sungai Ciliwung wilayah Bogor-Depok-Jakarta yang sempat menunjukkan kadar logam berat di bawah ambang batas, studi lain yang meneliti wilayah hilir Jakarta dengan tingkat pencemaran lebih tinggi secara konsisten menemukan kandungan logam berat lebih besar, terutama timbal, kadmium, merkuri, dan arsen.

3. Ikan Sapu-sapu di Wilayah Tercemar Tidak Aman Meski Sudah Dimasak

Logam berat yang terkandung dalam ikan sapu-sapu bersifat bioakumulatif dan tidak bisa dihilangkan melalui proses memasak.

Artinya, pengolahan seperti digoreng atau dijadikan siomay tidak akan mengurangi kandungan zat berbahaya tersebut.

Konsumsi ikan sapu-sapu tercemar dalam jangka panjang berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.

Ikan Sapu sapu

Ikan Sapu-sapu. foto/istockphoto

4. Ikan Sapu-sapu termasuk Spesies Invasif yang Merusak Sungai dan Picu Banjir

Ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai jenis ikan asing invasif sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020. Spesies ini mampu menguasai sumber makanan di perairan dan bahkan memangsa telur serta larva ikan lokal. Kondisi tersebut menghambat regenerasi spesies asli dan mengganggu keseimbangan ekosistem.

Selain mengganggu rantai makanan, ikan sapu-sapu juga berdampak pada kondisi fisik sungai. Pasalnya, ikan sapu-sapu gemar membuat lubang di bantaran sungai sebagai sarang, dan hal ini bisa memicu erosi, pendangkalan, dan peningkatan kekeruhan air.

Dalam konteks perkotaan seperti Jakarta, kerusakan tersebut berpotensi memperparah risiko banjir dan degradasi infrastruktur sungai.

5. Ikan Sapu-sapu Lebih Aman untuk Non-Pangan

Sejumlah pakar menyarankan agar ikan sapu-sapu tidak dikonsumsi oleh manusia, melainkan dialihfungsi untuk kebutuhan non-konsumsi seperti pupuk organik. Pemanfaatan tersebut dinilai lebih aman, kendati tetap butuh pengawasan terhadap kandungan logam berat agar tidak berdampak pada rantai pangan secara tidak langsung.

Ikan sapu-sapu liar dari Sungai Ciliwung dan perairan tercemar lainnya tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi karena mengandung logam berat di atas ambang batas, berisiko bagi kesehatan dalam jangka panjang, serta berperan sebagai spesies invasif yang merusak ekosistem.

PENCARI IKAN SAPU-SAPU

Daging ikan sapu-sapu, tidak layak jadi bahan pangan. antara foto/ivan pramana putra/aww/16.

Baca juga artikel terkait IKAN SAPU-SAPU atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora