Menuju konten utama

Invasi Ikan Sapu-Sapu: Alarm Perlunya Restorasi Sungai Tercemar

Tanpa perbaikan kualitas air sungai, ruang hidup bagi ikan sapu-sapu akan tetap terbuka lebar.

Invasi Ikan Sapu-Sapu: Alarm Perlunya Restorasi Sungai Tercemar
Ikan Sapu sapu. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta kini mencapai tahap yang sulit diabaikan. Di sejumlah aliran utama, spesies ini bahkan mendominasi hampir seluruh biota air yang ada.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, menyebut situasi ini sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Menurut Hasudungan, jumlah ikan sapu-sapu diperkirakan mencapai 80 hingga 90 persen dari total makhluk hidup yang ada di perairan tersebut.

“Berdasarkan pemantauan DKPKP serta laporan masyarakat, di sepanjang aliran sungai utama seperti Ciliwung, Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Semongol, Kali Cideng, persentase dominasi ikan ini bisa mencapai 80-90 persen dari total biota air yang ditemukan. Hal ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu telah menguasai ruang hidup dan menggeser keberadaan ikan endemik,” ujarnya Hasudungan saat dihubungi Tirto, Selasa (14/4/2026).

Tingginya dominasi ini tidak terjadi tanpa sebab. Hasudungan menjelaskan bahwa kemampuan biologis ikan sapu-sapu membuatnya sangat unggul di kondisi sungai perkotaan.

“Kondisi ini dipicu oleh kemampuan reproduksi yang luar biasa tinggi. Satu ekor induk betina bisa menghasilkan 600-1.200 butir telur dalam satu kali pemijahan, dan dapat memijah beberapa kali dalam setahun,” ujarnya.

Apa Itu Ikan Sapu-Sapu dan Kenapa Bisa Banyak di Sungai Jakarta?

Maraknya ikan sapu-sapu di sejumlah sungai di Jakarta bukan terjadi tanpa sebab. Di balik dominasi spesies ini, ada kombinasi faktor biologis ikan itu sendiri dan kondisi lingkungan sungai yang semakin terdegradasi.

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyanto, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu tergolong sebagai spesies asing invasif. Artinya, ikan ini bukan berasal dari perairan Indonesia, melainkan dari Amerika Selatan, yang masuk melalui jalur perdagangan ikan hias.

“Awalnya, ikan ini masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias. Namun, banyak yang kemudian dilepas atau terlepas ke perairan umum, baik sengaja maupun tidak,” ujar Triyanto kepada Tirto, Selasa (14/4/2026).

Setelah masuk ke ekosistem sungai, ikan ini berkembang sangat cepat. Secara biologis, jelas Triyanto, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan reproduksi tinggi. Dalam sekali bertelur, jumlahnya bisa mencapai 1.000 hingga 5.000 butir.

Tidak hanya itu, proses perkembangannya juga relatif cepat, yakni sekitar 6 hingga 12 bulan sudah bisa bereproduksi kembali. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup anakan ikan ini juga tinggi.

“Proses perkembangannya sangat dijaga oleh ikan jantan sehingga kelulusan hidup anakan di alam sangat besar,” kata Triyanto.

Lanjut Triyanto, keunggulan lain yang membuat ikan ini sulit dikendalikan adalah daya tahannya terhadap lingkungan ekstrem. Ikan sapu-sapu mampu hidup di perairan dengan kadar oksigen rendah dan tingkat pencemaran tinggi, kondisi yang justru banyak ditemukan di sungai-sungai Jakarta.

“Ikan sapu-sapu dikenal sangat adaptif terhadap kondisi lingkungan yang terdegradasi. Kualitas air yang menurun, tingginya kandungan organik, serta perubahan ekosistem sungai akibat pencemaran dan sedimentasi justru memberi ruang bagi spesies ini untuk berkembang,” jelasnya.

Sebaliknya, kondisi tersebut membuat ikan lokal yang lebih sensitif terhadap pencemaran justru menurun populasinya. Ketika pesaing alami berkurang, ikan sapu-sapu semakin leluasa mendominasi.

Ikan Sapu sapu

Ikan Sapu sapu. foto/istockphoto

Tidak hanya itu, Triyanto menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu juga nyaris tidak memiliki predator alami di perairan Indonesia. Katanya, kulit tubuhnya yang keras membuatnya sulit dimangsa oleh ikan lain.

“Ikan ini memiliki kulit tubuh yang sangat keras, sehingga lebih tahan dari predator, jadi hampir bisa dibilang tidak memiliki predator alami untuk perairan di Indonesia,” ujar Triyanto.

Dengan kombinasi kemampuan reproduksi tinggi, daya tahan ekstrem, dan minimnya predator, ikan sapu-sapu dengan cepat mengambil alih ruang hidup di sungai. Triyanto menyebut dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem, menggeser ikan lokal, hingga menurunkan keanekaragaman hayati di perairan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ledakan populasi ikan sapu-sapu bukan sekadar persoalan satu spesies, melainkan cerminan dari krisis kualitas lingkungan sungai itu sendiri.

Tata Kota Jakarta dan Akar Invasi Ikan Sapu-Sapu

Fenomena meluasnya ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta, menurut Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna, bukan sekadar soal spesies invasif yang berkembang tak terkendali. Lebih jauh, ia membaca situasi ini sebagai cerminan dari persoalan mendasar tata kelola kota dan cara masyarakat memperlakukan sungai.

Yayat menilai pesatnya populasi ikan sapu-sapu tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan sungai yang justru mendukung keberlangsungan hidupnya. Ia menyebut ekosistem sungai tercemar menjadi ruang ideal bagi spesies tersebut untuk bertahan dan berkembang.

“Kenapa ikan sapu-sapu itu bisa berkembang biak secara pesat? Kenapa ia bisa tumbuh banyak di Sungai Ciliwung atau sungai-sungai lainnya di Jakarta? Karena habitatnya mendukung. Sungai yang tercemar, banyak bakteri, banyak plankton, banyak apa, dan itu menjadi apa ya, rantai makannya dari ikan sapu-sapu, maka dia bertumbuh pesat,” ujar Yayat saat dihubungi Tirto.

Selain faktor lingkungan, ia juga menyoroti ketiadaan pengendali alami yang bisa menekan populasi ikan tersebut. Menurutnya, kondisi ini membuat ikan sapu-sapu semakin leluasa mendominasi perairan perkotaan.

Namun, bagi Yayat, akar persoalan yang lebih besar justru berada di luar tubuh sungai itu sendiri. Ia menyebut sungai-sungai di Jakarta selama ini menanggung beban limbah dalam jumlah besar, terutama dari aktivitas manusia sehari-hari.

“Nah, pertanyaannya itu tadi, kalau dia sudah berkembang banyak, tentu kan pertanyaannya ini ada apa dengan kondisi sungai-sungai di Jakarta? Sungai Jakarta itu adalah pernah dulu dikatakan imhoff tank atau septic tank terbesar gitu. Karena limbah manusia itu banyak dibuang ke sungai,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya limbah industri atau bahan berbahaya tertentu, tetapi juga skala limbah domestik yang masuk ke badan air tanpa pengolahan memadai.

“Jadi yang menjadi masalah adalah limbah manusia itu sudah sangat besar. Jadi ada limbah pabrik, limbah rumah tangga, tapi limbah manusia sangat sudah mencemari banget,” kata Yayat.

Salah satu contoh yang ia soroti adalah kondisi Kali Item di Kemayoran, Jakarta Pusat yang menurutnya menggambarkan bagaimana sungai telah berfungsi layaknya penampung akhir limbah perkotaan.

“Jadi Kali Item di Kemayoran itu bisa dikatakan adalah kali yang menjadi septic tank ya dari beberapa kelurahan yang ada di sekitarnya,” ujarnya.

Dalam pandangan Yayat, kondisi tersebut diperparah oleh kepadatan penduduk dan sistem sanitasi yang belum tertata baik. Ia bahkan menyebut banyak lingkungan padat yang tidak memiliki sistem pengolahan limbah yang memadai.

“Bahkan perpipaan-perpipaan yang dibuat pun sudah sekadar mengalir. Jadi orang menggunakan sistem pembuangan air limbah rumah tangga plus untuk air limbah manusianya. Ada teguran? Enggak ada. Kondisi itulah yang memaksa orang menerima kenyataan,” kata dia.

Pembersihan Kali Ciliwung Lama

Petugas mengangkut sampah dan tumbuhan liar di Kali Ciliwung Lama, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, (14/4/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/kye

Yayat juga menyoroti persoalan mendasar lain yang memperburuk kualitas sungai di Jakarta, yakni buruknya sistem sanitasi rumah tangga di kawasan padat penduduk. Ia bahkan meragukan keberadaan sistem septic tank yang layak di banyak wilayah.

“Ditambah dengan kepadatan penduduk yang demikian tinggi, kerapatan penduduknya juga tinggi, dan Anda bisa bayangkan, saya yakin tidak ada yang punya septic tank yang sehat di lingkungan yang padat seperti itu,” ujar Yayat.

Ia menambahkan, upaya pembangunan sistem sanitasi komunal pun kerap tidak berjalan mudah karena keterbatasan ruang di kawasan perkotaan.

Yayat juga menyoroti persoalan tata ruang yang menurutnya tidak memberikan perhatian cukup pada keberadaan sungai. Dalam praktiknya, sungai justru kerap diperlakukan sebagai bagian belakang kota yang mudah diabaikan.

“Nah, jadi pertanyaannya, kalau pencemarannya di daratnya tinggi tanpa pengolahan, maka yang menjadi korban adalah sungai. Dan sungai-sungai Jakarta itu adalah bagian dari tampak belakang rumah, bukan tampak depannya,” ujarnya.

Ia menilai kondisi ini menunjukkan lemahnya budaya kota dalam memperlakukan lingkungan, terutama terkait air dan kebersihan. Menurutnya, warga Jakarta belum memiliki kesadaran kolektif yang kuat terhadap pentingnya menjaga sungai sebagai bagian dari kehidupan kota.

Lebih jauh, ia menilai persoalan ini tidak semata soal infrastruktur, melainkan juga soal perilaku dan kesadaran warga. Ia bahkan menyebut lemahnya kedisiplinan lingkungan sebagai akar dari berulangnya persoalan sungai.

Dalam pandangannya, tanpa perubahan pada perilaku masyarakat, berbagai program teknis seperti normalisasi atau restorasi sungai tidak akan memberikan hasil signifikan. Ia menegaskan bahwa persoalan utama justru berada pada faktor manusia.

“Sungainya bisa direstorasi, sungainya bisa dinormalisasi. Yang tidak bisa dinormalisasi dan direstorasi adalah manusianya. Justru manusianya yang merusak sungai,” kata Yayat.

Seberapa Parah Invasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Jakarta?

Tingkat keseriusan isu invasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta kini tidak bisa dianggap sepele. Bagi Triyanto dari BRIN, fenomena ini sudah menunjukkan tanda-tanda krisis ekologis yang nyata, terutama karena dampaknya terhadap keseimbangan ekosistem perairan.

Triyanto menilai bahwa keberadaan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar berpotensi menekan keanekaragaman hayati di sungai.

“Sebagai ikan yang memiliki sifat infasif, ikan sapu-sapu dalam jumlah tidak terkendali dapat mengurangi keanekaragaman ikan asli dengan cara mendominasi ruang dan sumber makanan,” kata Triyanto.

Tak hanya itu, ujarnya, ikan ini juga memperburuk peluang hidup ikan lokal sejak fase awal. Triyanto menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu dapat memangsa telur hingga larva ikan lain.

“Ikan ini memiliki mulut penghisap dalam proses memakannya dapat menghisap telur ikan dan larva ikan asli,” kata dia.

Lebih jauh, Triyanto menyebut dampak ekologis ini semakin meluas seiring penyebaran ikan sapu-sapu yang kian masif. Berdasarkan penelitian, spesies ini tidak hanya ditemukan di Jakarta, tetapi juga di berbagai wilayah lain di Indonesia.

Ikan ini kini ditemukan hampir di seluruh Pulau Jawa hingga Sulawesi Selatan, termasuk di Danau Tempe. Adapun secara keseluruhan, katanya, terdapat sekitar 39 lokasi yang dilaporkan telah menjadi habitat ikan tersebut.

Ketika populasi spesies invasif sudah mendominasi suatu perairan, penanganannya menjadi jauh lebih kompleks. Upaya pengendalian tidak lagi bisa dilakukan secara sederhana.

Selain mengganggu rantai makanan, Triyanto mengatakan keberadaan ikan sapu-sapu juga berdampak pada kondisi fisik sungai. Aktivitasnya dalam membuat sarang dapat mempercepat kerusakan dasar perairan.

Selain itu, risiko lain juga muncul dari sisi kesehatan. Dia menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar berpotensi mengandung zat berbahaya, yakni seperti logam berat.

Triyanto menegaskan, kondisi ini mencerminkan persoalan yang lebih besar dari sekadar ledakan populasi satu spesies.

“Ikan sapu-sapu di Jakarta dan lokasi lain adalah indikator krisis ekologi, sekaligus ancaman nyata bagi biodiversitas lokal,” ujarnya.

Banjir di Jakarta

Foto udara luapan air Sungai Ciliwung yang menggenangi jalan dan permukiman di Jatinegara, Jakarta, Selasa (4/3/2025). BPBD DKI Jakarta mencatat pada Selasa (4/3) pukul 15.00 WIB sebanyak 121 RT dan lima ruas jalan di Jakarta terdampak banjir dengan ketinggian 40 cm hingga 460 cm akibat luapan air Sungai Ciliwung, Krukut, dan Pesanggrahan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.

Pakar Ungkap Bahaya Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Di tengah maraknya populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah ikan ini aman dikonsumsi?

Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan, Dicky Budiman, menegaskan bahwa dari sisi kesehatan, ikan sapu-sapu justru menyimpan risiko yang tidak bisa diabaikan. Hal ini berkaitan erat dengan kebiasaannya hidup dan mencari makan di dasar perairan.

Membenarkan pernyataan Triyanto, Dicky menyebut bahwa memang betul ikan sapu-sapu memiliki kemampuan bertahan hidup yang sangat tinggi, bahkan di perairan yang sudah tercemar. Hal inilah yang membuat ikan ini tetap bisa hidup dan berkembang di kondisi sungai yang kurang baik.

Sebagai ikan dasar atau bottom feeder, kata Dicky, ikan sapu-sapu hidup di sedimen sungai, yakni area yang menjadi tempat penumpukan berbagai polutan. Di sungai perkotaan seperti di Jakarta, sedimen ini kerap mengandung limbah domestik dan industri.

“Artinya yang dimakan dia, intake-nya ini banyak juga yang berisiko, apakah itu logam ya ataupun beberapa zat berbahaya lainnya,” kata Dicky kepada Tirto.

Adapun jenis polutan yang terakumulasi pun beragam. Dicky menyebut logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), arsenik (As), hingga kromium (Cr) sebagai yang paling berisiko. Selain itu, Dicky menyebut terdapat pula mikroplastik yang dapat membawa zat berbahaya lain, serta potensi patogen dari lingkungan tercemar.

“Logam berat utama yang paling berisiko, selain mikroplastik, adalah Merkuri (Hg). Bentuk paling toksik dari Merkuri adalah Metil Merkuri (MeHg),” terang Dicky.

Oleh karena itu, Dicky menyebut bahwa paparan zat-zat tersebut dapat berdampak langsung pada kesehatan manusia jika ikan ini dikonsumsi. Dalam jangka pendek, gejala yang mungkin muncul antara lain gangguan pencernaan.

“Biasanya ada keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, atau nyeri perut,” kata Dicky.

Namun, risiko yang lebih serius justru terjadi dalam jangka panjang. Paparan logam berat secara terus-menerus dapat memicu berbagai penyakit kronis.

“Terutama logam merkuri, itu bisa menyebabkan neurotoksisitas, seperti gangguan memori, penurunan fungsi kognitif, risiko tinggi pada ibu hamil dan janin,” ujarnya.

Selain itu, timbal dan kadmium berpotensi merusak ginjal, sementara arsenik dan kromium dikaitkan dengan risiko kanker. Mikroplastik, kata Dicky, juga disebut dapat mengganggu sistem hormon dan metabolisme tubuh.

Tak hanya melalui konsumsi langsung, Dicky menjelaskan bahwa risiko juga bisa muncul secara tidak langsung jika ikan sapu-sapu digunakan sebagai pakan ternak.

“Logamnya bisa masuk ke tubuh manusia lewat distribusi dalam tubuh ternak tersebut,” kata Dicky.

Dengan kata lain, zat berbahaya dari ikan ini berpotensi masuk ke rantai pangan manusia melalui daging atau telur hewan ternak. Oleh karena itu, Dicky secara tegas tidak merekomendasikan konsumsi ikan sapu-sapu, baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Kalau bicara untuk konsumsi manusia, saya tidak menganjurkan, ya, karena ini punya potensi cemaran tinggi,” ujarnya.

PROGRAM GEMAR MAKAN IKAN

pedagang menata ikan di pasar ikan pabean, surabaya, jawa timur, senin (28/3). pemerintah mencanangkan program gemar makan ikan di seluruh wilayah indonesia guna meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi ikan termasuk olahannya. antara foto/zabur karuru/kye/16

Tindak Lanjut dari Pemerintah soal Populasi Ikan Sapu-Sapu

Menghadapi kondisi tersebut, Hasudungan mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas KPKP telah melakukan sejumlah langkah pengendalian. Langkah tersebut meliputi penangkapan langsung hingga pemetaan populasi.

Katanya, DKPKP DKI Jakarta bersama Pemerintah Kota Jakarta Pusat dan dinas terkait melakukan penangkapan khusus ikan sapu-sapu pada Jumat, 10 April 2026 lalu.

Operasi ini dilakukan di Kali Cideng, tepatnya di samping Plaza Indonesia. Dari kegiatan tersebut, petugas berhasil menangkap sekitar 38 ekor ikan sapu-sapu berukuran besar. Selain itu, pemerintah juga melakukan pemetaan titik penyebaran.

“Tim DKPKP terus memantau dan mencatat titik-titik dengan kepadatan tinggi agar penanganan bisa lebih tepat sasaran dan efisien,” terang dia.

Pemerintah, lanjutan dia, juga terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat mengenai ikan sapu-sapu. Warga disosialisasikan bahwa ikan ini termasuk spesies invasif yang tidak boleh dilepasliarkan ke perairan umum. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak mengonsumsinya karena berpotensi membahayakan kesehatan.

Di sisi lain, Hasudungan juga menilai bahwa koordinasi lintas sektor dinilai penting. Ke depan, katanya, pemerintah daerah berencana memperluas penanganan melalui operasi besar.

“Berdasarkan instruksi Bapak Gubernur DKI Jakarta (Pramono Anung) , DKPKP akan menggelar penangkapan massal serentak di seluruh 5 wilayah kota Jakarta pada tanggal 17 April mendatang. Sasarannya meliputi sungai-sungai utama dan titik penyebaran yang telah teridentifikasi di Jakarta Pusat, Utara, Barat, Selatan, maupun Timur,” ujarnya.

Terkait penanganan hasil tangkapan, Hasudungan menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap harus dimatikan terlebih dahulu. Setelah itu, ikan tersebut perlu dikubur dengan cara yang higienis dan terkontrol untuk mencegah dampak negatif terhadap lingkungan.

Ia menjelaskan alasan teknis di balik metode ini. Katanya, ikan sapu-sapu diketahui memiliki daya tahan hidup yang sangat kuat. Bahkan, ikan ini disebut bahkan bisa bertahan cukup lama di luar air. Jika hanya dibuang begitu saja, ikan tersebut berpotensi merayap kembali ke perairan, terutama saat terjadi hujan atau banjir.

Selain itu, penguburan juga bertujuan mencegah penyalahgunaan. Hasudungan juga memastikan bahwa keputusan langkah penguburan ini juga didasarkan pada hasil uji laboratorium.

“Hasil uji laboratorium menunjukkan ikan ini mengandung bakteri Salmonella, E. Coli, serta residu logam berat akibat hidup di air tercemar, sehingga berbahaya bagi kesehatan manusia,” katanya.

Meski demikian, pemerintah menilai metode ini masih memiliki nilai manfaat lingkungan. Meski berbagai langkah telah dilakukan, efektivitasnya dalam menekan populasi masih belum dapat dipastikan.

“Ikan mati yang dikubur juga dapat terurai menjadi kompos alami yang kaya nutrisi, sehingga bermanfaat untuk penghijauan kota dan tidak menjadi limbah pencemar baru,” ujarnya.

Artinya, hingga saat ini belum ada target penurunan populasi yang terukur secara kuantitatif. Di tengah risiko kesehatan yang disebutkan, regulasi khusus terkait larangan konsumsi ikan sapu-sapu juga belum tersedia.

Adakah Nilai Ekonomi dari Ikan Sapu-Sapu?

Lalu, di tengah kekhawatiran atas ledakan populasi ikan sapu-sapu, pertanyaan berikutnya adalah: apakah spesies ini masih bisa dimanfaatkan atau justru harus sepenuhnya dibasmi?

Peneliti Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Universitas Trilogi, Muhammad Karim, menilai ikan sapu-sapu sebenarnya masih memiliki potensi ekonomi, dengan catatan pengelolaannya dilakukan secara hati-hati dan terkontrol.

“Secara ekonomi ikan sapu-sapu jika hidup di sungai-sungai yang air masih bersih dagingnya bisa dimanfaatkan, karena mengandung protein dan mineral berguna bagi manusia,” ujar Karim saat dihubungi Tirto.

Namun, kondisi tersebut tidak berlaku untuk ikan yang hidup di perairan tercemar seperti banyak sungai di Jakarta. Dalam kondisi itu, ikan sapu-sapu justru berisiko menjadi pembawa zat berbahaya.

“Jika hidup di perairan sungai yang airnya tercemar maka ia bisa menjadi pembawa sumber penyakit. Pasalnya ikan ini dapat mengonsumsi logam berat (Merkuri, Timbal, Cadmium) dan tidak terurai dalam tubuhnya,” kata Karim.

Oleh karena itu, Karim meyakini bahwa pemanfaatan ikan sapu-sapu tidak bisa sembarangan. Menurut dia, salah satu opsi yang memungkinkan adalah mengolahnya menjadi bahan baku non-konsumsi, seperti pakan atau pupuk, tetapi dengan syarat tertentu.

Karim menekankan, penggunaan tersebut tetap harus melalui pengawasan ketat. Jika kandungan logam berat masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan pemerintah, maka pemanfaatan bisa dilakukan secara terbatas.

Sebaliknya, lanjut Karim, jika ikan sapu-sapu yang tercemar masuk ke rantai pangan, risikonya bisa meluas, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam jangka panjang, solusi tidak hanya berhenti pada pemanfaatan, tetapi juga pada pengelolaan yang lebih sistematis. Karim melihat salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah budidaya di lingkungan yang terkontrol.

“Ikan ini memiliki kelebihan yaitu menjadi pembersih alami di dasar perairan, sumber nutrisi dan punya daya resiliensi dan adaptasi tinggi di lingkungan dengan perairan jelek/kotor. Makanya, ke depan ada tata kelola yang baik jika jenis ikan ini mau dijadikan sumber pakan, pupuk ataupun bahan makanan melalui proses budidaya di perairan berkualitas baik,” ujar Karim.

Karim menyebut, teknologi sederhana seperti sistem bioflok bisa menjadi alternatif untuk membatasi sifat invasif ikan ini sekaligus menjaga kualitas air. “Misalnya diujicobakan dengan sistem bioflok atau sistem lain yang ikan dan airnya bisa dikontrol, sehingga penyebarannya mudah dikendalikan,” ujar dia.

Meski dikenal sebagai spesies invasif, Karim juga mencatat bahwa ikan sapu-sapu memiliki sisi positif, yakni sebagai pembersih alami di dasar perairan dan memiliki daya adaptasi tinggi. Namun tanpa pengelolaan yang tepat, kelebihan tersebut justru bisa berubah menjadi ancaman.

Ketika Penangkapan Massal Berhadapan dengan Batas Realitas

Langkah penangkapan massal ikan sapu-sapu yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang terlihat konkret. Operasi lapangan, rencana penangkapan serentak, hingga penguburan hasil tangkapan menjadi bagian dari respons cepat menghadapi ledakan populasi. Namun, pertanyaan yang muncul kemudian: apakah upaya ini cukup untuk mengatasi masalah yang jauh lebih kompleks?

Hasudungan sendiri mengakui bahwa efektivitas langkah ini masih terbatas. Penangkapan yang dilakukan saat ini bersifat manual, sehingga dampaknya terhadap penurunan populasi belum bisa diukur secara pasti.

“Secara angka belum bisa kita perkirakan karena penangkapan secara manual jadi belum bisa maksimal untuk menekan laju populasi tersebut,” ujar Hasudungan.

Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun intervensi sudah berjalan, skala masalah yang dihadapi jauh lebih besar daripada kapasitas penanganan yang ada saat ini.

Gubernur DKI tinjau lokasi longsor di TPST Bantargebang

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (tengah) didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto (kanan), dan Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Jakarta Achmad Rizkiansah (kiri) meninjau lokasi longsor gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (9/3/2026). Berdasarkan data sementara dari Basarnas DKI Jakarta pada Senin (9/3) pagi, sebanyak 13 orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut empat orang meninggal dunia, empat orang selamat, dan lima orang masih dalam proses pencarian. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/tom.

Di sisi lain, pendekatan penguburan ikan hasil tangkapan juga menyisakan tanda tanya, terutama dari sisi ilmiah dan lingkungan. Hasudungan mengakui bahwa belum ada kajian khusus terkait dampak metode tersebut terhadap tanah maupun air tanah.

Artinya, kebijakan ini lebih didasarkan pada penjelasan umum secara ilmiah, bukan hasil riset spesifik yang menguji dampaknya dalam konteks lingkungan perkotaan seperti Jakarta.

Selain itu, celah kebijakan juga terlihat dari belum adanya regulasi tegas terkait pelarangan konsumsi ikan sapu-sapu. Padahal, dari sisi kesehatan, risiko yang ditimbulkan sudah diakui cukup serius oleh para ahli.

“Secara resmi memang belum ada regulasi yang melarang terkait pelarangan konsumsi daging ikan sapu-sapu, pemerintah hanya bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait bahaya konsumsi ikan tersebut,” ujar Hasudungan.

Kemudian, langkah penangkapan massal ikan sapu-sapu yang kini didorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kerap dipandang sebagai respons cepat terhadap ledakan populasi di sungai.

Triyanto menilai bahwa langkah penangkapan massal memang sudah berada di jalur yang tepat. Bahkan, menurutnya, upaya ini tidak perlu menunggu perbaikan kualitas air sungai terlebih dahulu.

Dalam kondisi ekosistem yang sudah terlanjur didominasi spesies invasif, lanjutnya, intervensi langsung seperti penangkapan dinilai menjadi langkah paling realistis untuk menahan laju populasi. Apalagi, pemanfaatan ikan ini juga belum dilakukan secara luas, sementara karakteristik habitatnya justru berada di perairan tercemar.

Triyanto juga menilai bahwa metode penguburan hasil tangkapan masih relevan untuk saat ini, mengingat belum siapnya skema pemanfaatan dalam skala besar.

“Jadi saya kira pendekatan untuk penangkapan massal ini adalah salah satu yang sudah tepat, baik secara ilmiah maupun secara teknis. Kemudian untuk dikuburkan, itu juga saya kira pendekatan yang baik karena pemanfaatannya secara besar-besaran, misalnya untuk pupuk, untuk bahan pakan ternak lainnya, itu perlu waktu dan perlu proses lebih lanjut,” ujarnya.

Namun, di titik inilah batas pendekatan tersebut mulai terlihat. Meski dinilai tepat, Triyanto menegaskan bahwa langkah penangkapan ikan sapu-sapu massal tidak bisa menjadi satu-satunya langkah terbaik. Upaya itu, menurut dia, harus diikuti dengan edukasi kepada masyarakat agar tidak lagi melepas ikan-ikan yang bukan berasal dari Indonesia ke sungai maupun perairan darat lainnya.

“Namun penangkapan ini juga harus dibarengi dengan kegiatan lain, seperti dengan memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak melepas ikan-ikan non-asli Indonesia ke perairan sungai atau perairan daratan lainnya,” katanya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa akar persoalan sebenarnya terletak pada kondisi ekosistem sungai yang rusak. Tanpa perbaikan kualitas air, ruang hidup bagi ikan sapu-sapu akan tetap terbuka lebar.

“Dan ya, secara jangka panjang dan simultan, ya harus memperbaiki kondisi kualitas air sehingga nanti ikan-ikan lain dapat berkembang yang bisa menjadi predator alami buat ikan sapu-sapu,” ujar Triyanto.

Baca juga artikel terkait PENCEMARAN SUNGAI atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - News Plus
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto