tirto.id - Christine rela menempuh jarak 21 kilometer demi mengikuti petualangan menyusuri Sungai Ciliwung. Berangkat dari kediamannya di Depok, Jawa Barat, ia tiba di Banjir Kanal Barat, di kawasan Jakarta Pusat, sekira pukul 10 pagi.
Perempuan berusia 22 tahun tersebut merasa penasaran soal acara susur sungai, mengingat selama berkuliah di Universitas Indonesia (UI), dirinya belum pernah mengikuti kegiatan semacam ini. Informasi Petualangan Ciliwung ini diperoleh Christine dari kawan kuliahnya.
“Aku ekspektasinya dari susur sungai pengen ngeliat aja sebenernya kondisi Ciliwung tuh kayak gimana sih kalau dari dekat. Terus nambah pengetahuan baru juga, kayak tadi aku baru tahu kalau misalnya ada orang yang bener-bener tinggal di pinggir Kali Ciliwung. Terus kayak sampahnya, gimana sih kondisi nyata sampahnya di Ciliwung,” tuturnya usai mengikuti acara susur Kali Ciliwung, Sabtu (25/10/2025).
Sejak bermekarannya berbagai pembangunan rumah, perkantoran, serta kawasan bisnis lainnya, Sungai Ciliwung memang menghadapi sejumlah masalah, termasuk sampah. Padahal, Ciliwung menjadi salah satu sungai berpengaruh di DKI Jakarta. Sungai ini terbentang dari hulu yang terletak di daerah Bogor, meliputi kawasan Gunung Gede, Gunung Pangrango dan Cisarua, hingga kawasan hilir di pantai utara Jakarta.
Setelah melihat Sungai Ciliwung dari dekat, Christine berharap masyarakat lebih peduli dan turut menjaga kali, termasuk kali yang membentang sepanjang 144,47 km ini. Sebab, dengan banyaknya masyarakat yang tinggal di sekitar Kali Ciliwung, menurut dia, sungai ini jelas berdampak terhadap kehidupan kita.
“Jadi harapannya sih mereka, kita semua, bisa jaga kali kita, Kali Ciliwung. Kita gak buang sampah sembarangan, kita manfaatin sungai ini dengan sebaik mungkin. Terus mungkin dari pemerintah juga bisa memperketat regulasi untuk buang sampahnya. Terus mungkin event untuk menjaga lingkungannya bisa lebih didukung. Jadi harapannya Sungai Ciliwung ini gak cuma dipakai untuk mancing atau event pariwisata kayak gini, tapi bisa lebih besar,” ungkap Christine.
Pendapat Erick (21) tak jauh berbeda. Warga Jakarta Timur itu merasa, setelah mengikuti acara susur Sungai Ciliwung, ia jadi menyadari kalau setiap sampah yang dibuang sembarangan bisa berujung ke sungai. Itu kenapa penting untuk menaruh sampah pada tempatnya.
“Jadi meskipun kayak ‘ah ini kayaknya receh deh, bisa buang sedikit aja’. Tapi ternyata pasti akan mencemari dan jatuhnya buang sampah ke sungai juga. Jadi sebisa mungkin jangan sama sekali buang sampah sembarangan, mau di manapun itu. Terus kalau ada sampah kita simpen dulu lah, terus kita buang di tempatnya,” tutur Erick ketika dijumpai di acara Petualangan Ciliwung, Sabtu (25/10/2025).
Dia sendiri menganggap acara ini sebagai kesempatan yang menyenangkan, lantaran ia jadi bisa mengantongi banyak informasi. Di lain sisi, Erick pun jadi menyadari potensi Sungai Ciliwung untuk dimanfaatkan sebagai transportasi air sungai, seperti yang pernah diterapkan sebelumnya lewat Program Waterway Jakarta.
“Karena kan kalau misalkan dari Teknik Sipil, kita kan juga mempelajari tentang sungai dan juga transportasi. Jadi kayak oh ternyata bisa diintegrasikan keduanya. Dan sayang banget kalau misalkan sekarang gak kepake. Mungkin bisa apa ya, kayak nyari tau gimana caranya supaya bisa memperbaiki masalah yang ada dan kita bisa pake lagi sebagai moda transportasi di sungai,” ungkap mahasiswa jurusan Teknik Sipil tersebut.

Acara menyusuri sungai yang melibatkan masyarakat ini menghabiskan waktu tak sampai 30 menit pulang-pergi. Meski singkat, peserta acara merasa memperoleh banyak informasi baru, seperti pengakuan Sean (22).
“Sebenernya awalnya ekspektasinya gak banyak hal yang bisa dilihat. Tapi ternyata bahkan di satu segmen yang kecil ini aja banyak sejarahnya, dan bahkan buat hewan-hewan ada habitatnya. Kayak tadi ada burung. Jadi kan tadi ada sarang burung, terus tadi ada peninggalan dari waterway yang sebelumnya,” tuturnya.
Berangkat dari Sulitnya Edukasi soal Air
Petualangan Susur Ciliwung atau Ciliwung River Adventure ini merupakan acara kolaborasi antara Dinas Sumber Daya Air Jakarta, Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, Khatulistiwa Respon Tim dan Sobat Air Jakarta.
Acara tak berbayar ini berlangsung selama lima hari, alias sejak Selasa (21/10/2025) sampai Sabtu (25/10/2025). Ciliwung River Adventure menjadi bagian dari acara program Jakarta Innovation Days 2025, yang secara umum membahas soal air dan ekosistemnya.
Fathurachim P B Dirgantara, selaku perwakilan Sobat Air Jakarta, mengatakan kegiatan ini digelar berangkat dari masalah sulitnya memberi edukasi tentang sumber daya air kepada masyarakat. Selain persoalan sampah, hingga kini, Dirga bilang, masih banyak warga yang melakukan Buang Air Besar Sembarangan/BABS.
“Kita mau ngejelasin tentang Buang Air Besar Sembarangan, ada tuh BABS istilahnya, itu aja susah, dikira orang tuh kayak yaudah yang penting gua buang air besar di pinggir jalan, tidak berpengaruh. Padahal maksudnya BABS adalah kalau rumahnya gak punya septic tank itu udah termasuk BABS. Karena kan langsung, sama aja, cuma beda medium aja,” katanya saat berbincang dengan jurnalis Tirto, Sabtu (25/10/2025).

Dirga sendiri merasa takjub sekaligus kaget melihat antusiasme publik terhadap acara Petualangan Ciliwung. Selama tiga jam informasi acara itu dirilis di media sosial, tiket yang disediakan sudah habis dipesan.
“Antusiasnya tuh, wah. Kita baru bikin poster, belum repost Instagram, belum kita kasih ads, belum kita minta kolaborasi [post] sama semuanya, udah sold out 3 jam, total 260 slot. Terus di DM tuh, [pada chat] ‘min buka lagi dong’. Terus akhirnya kita buka slot lagi, ya udah kita nambah kapal akhirnya. Baru 3 atau 4 jam juga, langsung sold out lagi, jadi total 520 orang yang daftar,” tutur Dirga.
Meski dibatasi, ia mengatakan, pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk memberi kesempatan bagi masyarakat yang kebetulan melewati tempat acara dan ingin menjajal kegiatan tersebut.
Menurut Dirga, kebanyakan peserta yang bergabung bervariasi, mulai dari anak-anak di bawah 18 tahun hingga 45 tahun. Persentasenya kemungkinan 15 persen dari kelompok usia tak lebih dari 18 tahun, dan sisanya mereka yang berumur 18 - 45 tahun. Dia bercerita, tak sedikit juga orang tua yang mengajak anaknya.
Pantauan Tirto di lapangan pada hari terakhir acara juga menjumpai beberapa pengunjung orang tua dengan anak usia balita dan anak-anak usia SD. Meski demikian, kegiatan susur Kali Ciliwung ini tidak boleh diikuti oleh anak-anak di bawah 4 tahun.
“Minimal itu 4 tahun. Setidaknya yang gak tiba-tiba loncat ya, bahaya juga. Kebetulan dari kemarin tuh anak-anaknya pada behave semua ya,” kata Dirga.
Dia menjelaskan, keamanan dan keselamatan peserta dipastikan terlebih dahulu. Misalnya, sebelum acara susur dimulai, pihak penyelenggara akan mengecek status siaga di Katulampa, Bogor, Jawa Barat. Kemudian cuaca dan kederasan debit Kanal Banjir Barat, pun turut menjadi faktor signifikan.
Upaya Sejak 2021
Acara semacam ini sebenarnya bukan hal baru di Jakarta. Akan tetapi, baru tahun 2025 ini Petualangan Ciliwung melibatkan publik secara lebih luas. Kegiatan ini mulanya diinisiasi oleh Khatulistiwa Respon Tim dan sudah mereka lakukan selama empat tahun terakhir, alias sejak tahun 2021.
“Kurang lebih kita sudah memetakan atau melakukan assesment dari hulu ke hilir. Kita pengambilan video, walaupun saat ini kita belum selesai [pengambilan videonya],” tutur Ketua Harian Khatulistiwa Respon Tim, Agung Setiawan, saat ditemui Tirto di Jakarta Pusat, Sabtu (25/10/2025).
Selain melakukan pemetaan habitat makhluk hidup dan potensi sungai, Agung mengatakan, pihaknya juga membersihkan sampah-sampah di Sungai Ciliwung. Sampah-sampah yang “menghiasi” kali itu dikatakan kini berkurang cukup signifikan.
“Lebih mending lah daripada sebelumnya. Karena alhamdulillah kita tetap berlanjut untuk bikin kegiatan edukasi sungai itu. Walaupun kemarin tahun pertama kita masih seminggu sekali, terus seminggu bisa 2 kali gitu,” katanya. Namun, kini mereka melakukan susur Sungai Ciliwung dua minggu sekali, saat car free day.
Agung berharap, ke depannya Kali Ciliwung bisa kembali menjadi ikon dan alternatif kemacetan di Jakarta, alias dimanfaatkan sebagai laju transportasi air. Saat ini, Khatulistiwa Respon Tim masih mengkaji soal kemungkinan adanya sampah-sampah di dasar sungai
“Nah alhamdulillah diajak kolaborasi dengan Sobat Air dan SDA, alhamdulillah makin terlihat lah. Coba aja di sini [dulu] ada bangkai kambing dan lain-lain. Nah alhamdulillah saat ini ya berkurang lah, dengan plastik-plastik kayak botol-botol itu tidak lagi terlihat di mata kita,” tutur Agung.
Editor: Farida Susanty & Fina Nailur Rohmah
Masuk tirto.id


































