tirto.id - Gigantopithecus diketahui sudah punah selama ratusan ribu tahun sebelum manusia menjejakkan kaki di Asia. Lebih dari sembilan dekade sejak kali pertama diidentifikasi, wujud "King-Kong" purba direka lewat jaringan gigi-gigi.
Wacana jejak spesies Gigantopithecus terawetkan di Museum Situs Semedo, Tegal. Namun, jejak Gigantopithecus cuma tersisa dalam bentuk rahang dan gigi. Tak ada kepalan tangan menggebuk dada ala King Kong, hanya fosil bisu yang bikin ilmuwan dunia terus berdebat.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana Gigantopithecus punah? Apa saja yang sudah diketahui tentang makhluk ini dan temuan terbaru, termasuk jejak di tanah Jawa?

Legenda Gigantopithecus, Primata Raksasa dari Asia
Jejak Gigantopithecus pertama kali ditemukan dari toko obat tradisional Tionghoa di Hong Kong. Pada 1935, seorang paleontolog berkebangsaan Jerman-Belanda, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, sedang bergerilya di toko-toko obat tradisional Hong Kong demi memburu fosil yang oleh pedagang lokal dijuluki sebagai "tulang naga" atau "gigi naga", sebuah bahan ramuan yang sudah diwariskan dalam tradisi pengobatan Tionghoa selama lebih dari dua ribu tahun.
Dalam bukunya Meeting Prehistoric Man (1956), von Koenigswald menjelaskan bahwa di antara tumpukan fosil itu, matanya tertambat pada satu geraham bawah berukuran jumbo, jauh melampaui skala gigi kera mana pun yang pernah ia jumpai.
Von Koenigswald lantas memancangkan spesies baru, memberinya nama Gigantopithecus blacki. Nomenklatur "blacki" disematkan sebagai wujud penghormatan kepada Davidson Black, ahli anatomi Kanada yang memimpin riset Manusia Peking (Homo erectus pekinensis).
Sejak itu, perburuan menyingkap tabir sang kera raksasa tak pernah padam. Butuh waktu sekira dua dekade bagi ilmuwan untuk menemukan fosil Gigantopithecus langsung dari lapisan geologis aslinya.
Pada 1956, sebuah tim dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology di Tiongkok menggali sebuah gua di Guangxi. Mereka mendapati tiga gigi tertanam kukuh di dalam endapan purba berwarna ungu kemerahan. Setahun berselang, seorang warga lokal di Liucheng menemukan rahang bawah utuh pertama di dunia yang tersembunyi di dalam gua. Gua itu kelak dijuluki sebagai "Gua Kera Raksasa".
Hingga hari ini, merujuk riset Zhang Yingqi, Sembilan Puluh Tahun Penelitian Gigantopithecus blacki (2024), catatan fosil makhluk tersebut masih terbatas. Korpus bukti fisik spesies ini hanya terdiri atas 4 fragmen mandibula (rahang bawah) dan sekitar 2.000 spesimen gigi lepas yang tersebar di 19 situs gua karst Tiongkok Selatan serta kawasan perbatasan Vietnam utara. Belum ada fosil kranial (tengkorak atas) maupun kualifikasi tulang postkranial (anggota gerak) yang berhasil diekskavasi.

Berdasar jejak bukti yang terhimpun, Gigantopithecus melintasi zaman sejak Pleistosen Awal, sekitar 2,3 juta tahun silam, sampai akhirnya punah pada zaman Pleistosen Tengah, sekira 300 ribu sampai 200 ribu tahun lalu. Ruang geraknya terbatas di kawasan karst di Tiongkok selatan, membentang dari Provinsi Hubei di utara sampai Pulau Hainan di selatan. Kala itu, lanskap ini berupa hutan hujan subtropis lebat dengan tajuk pohon rapat.
Analisis isotop pada enamel gigi mengindikasikan kera ini hidup di hutan basah tertutup, menyerupai iklim di Cagar Alam Dinghushan di Guangdong hari ini, dengan suhu rata-rata 21 derajat Celsius dan curah hujan tahunan mendekati 1.900 milimeter.
Tafsir para ilmuwan perihal postur tubuhnya naik-turun dari waktu ke waktu, tetapi semua sepakat pada satu hal, bahwa ukuran Gigantopithecus jauh lebih perkasa ketimbang gorila, kera terbesar yang masih hidup sampai saat ini.
Luas permukaan geraham atas dan bawahnya berturut-turut 57,8 persen dan 33 persen lebih besar ketimbang gorila jantan dewasa. Ahli anatomi Franz Weidenreich, salah satu peneliti awal fosil ini, melalui risetnya Giant Early Man from Java and South China (1944) mengalkulasi gigi Gigantopithecus berukuran dua kali lipat gigi gorila.
Hanya saja, menurut Zhang, tanpa temuan tulang anggota gerak atau tulang panggul yang tersisa, ilmuwan mustahil menakar bobot tubuhnya secara presisi. Adapun perkiraan beratnya merentang 200 sampai 500 kilogram dengan tinggi saat berdiri ditaksir antara 2,7 sampai lebih dari 3 meter.
Di sisi lain, posisi Gigantopithecus dalam silsilah keluarga kera juga sempat memantik debat lintas dekade. Sejumlah ilmuwan generasi awal, termasuk Weidenreich sendiri, meyakini kera raksasa ini adalah leluhur langsung manusia.
Dia bahkan mengajukan nama genus baru, "Gigantanthropus", atau "manusia raksasa". Namun, pandangan itu perlahan runtuh seiring rentetan temuan baru di Afrika sejak 1950-an yang menyingkap jejak Australopithecus serta fosil Homo awal, memindah poros evolusi manusia dari Asia ke Afrika.
Zhang menyebut bahwa konsensus hari ini menempatkan Gigantopithecus sebagai anggota khusus dari subfamili Ponginae, punya garis keturunan yang sama dengan orangutan modern, kemungkinan masih trah dari Sivapithecus-Indopithecus yang berevolusi di Asia pada zaman Miosen Akhir.
Dalam Enamel proteome shows that Gigantopithecus was an early diverging pongine (2019), studi proteomik Frido Welker dan kawan-kawan terhadap protein purba yang terawetkan pada enamel gigi fosil, dijelaskan bahwa Gigantopithecus merupakan kerabat terdekat orangutan modern di antara kera besar yang masih hidup.

Hanya saja, Zhang menampik bahwa sampel protein tersebut terlalu terfragmentasi, pembandingnya hanya spesies modern, sehingga belum bisa memungkas debat filogenetik ini.
Mengenai makanan Gigantopithecus, jejak mikro pada keausan gigi, fitolit, butiran pati, serta isotop karbon dan oksigen, mengarah pada berbagai menu. Kera raksasa purba ini disebut makan buah-buahan, dedaunan, batang tanaman, dan kemungkinan umbi-umbian.
Tingginya angka karies gigi pada fosil memberi petunjuk bahwa makhluk ini gemar mengudap buah kaya karbohidrat, tak jauh beda dari pola makan simpanse.
Bagaimana Gigantopithecus AkhirnyaPunah?
Zhang Yingqi dan kolega dalam riset lain berjudul The Demise of the Giant Ape Gigantopithecus blacki (2024) menunjukkan, berdasarkan 157 penanggalan radiometrik dari 22 situs gua di Guangxi, China, Gigantopithecus blacki diprediksi punah sekitar 295.000–215.000 tahun lalu.
Situs tertua yang menyimpan fosilnya, Gua Baikong di Chongzuo, merentang hingga 2,3 juta tahun lalu. Adapun situs termuda, Gua Shuangtan, berumur sekitar 255 ribu tahun, menandai jejak pamungkas sang kera raksasa sebelum ia benar-benar raib dari rekaman fosil dunia.
Apakah penyebab punahnya makhluk ini karena bencana tunggal dadakan? Riset tersebut mengatakan tidak. Gigantopithecus blacki justru perlahan punah oleh keadaan yang kian mengimpit ruang hidupnya.
Sekitar 700 ribu hingga 600 ribu tahun lalu, pola musim di Asia bagian selatan mulai berubah ekstrem. Iklim yang semula stabil berubah rapuh dan acak, sementara komunitas hutan turut berganti rupa. Sumber makanan favorit Gigantopithecus seperti buah-buahan kaya nutrisi makin langka. Kera raksasa itu terpaksa beralih ke makanan darurat minim gizi, sementara keragaman menunya merosot tajam.
Ironisnya, di tengah himpitan tersebut, postur tubuh Gigantopithecus blacki justru kian membesar dari generasi ke generasi, sebuah tren yang terpeta terang saat para peneliti membandingkan ukuran fosil gigi dari situs yang lebih tua dan yang lebih muda.
Tubuh makin bongsor menuntut asupan energi jauh lebih besar, di sisi lain daya jelajah mereka justru menyempit lantaran terdesak ke kantong-kantong hutan basah yang makin kerdil akibat perubahan musim.
Kombinasi antara ukuran tubuh raksasa, kebutuhan energi tinggi, serta pilihan makanan yang kian terbatas menciptakan jebakan evolusi klasik: strategi bertahan hidup yang semula ampuh di masa lalu mendadak jadi beban fatal ketika lingkungan berubah ekstrem.
Populasi kera ini kian susut lalu terisolasi sebelum akhirnya punah, kalah bersaing dengan jenis kera lain yang beradaptasi lebih lincah dengan menu makanan fleksibel, termasuk kerabat dekat mereka, orangutan, spesies yang masih sanggup bertahan sampai hari ini.
Penemuan Fosil Gigantopithecus, Termasuk di Indonesia
Hingga kini, terdapat 19 situs fosil Gigantopithecus yang resmi dipublikasikan, seluruhnya berlokasi di kawasan karst Tiongkok selatan. Rincian terdiri dari 15 berada di Guangxi dan 9 situs terkonsentrasi di Chongzuo. Sebaran geografis membentang dari Sungai Yangtze di utara sampai Pulau Hainan di selatan, sebelum akhirnya menyusut seiring dinamika perubahan iklim.
Di luar Tiongkok, klaim penemuan Gigantopithecus sempat mengemuka dari Vietnam dan Thailand. Merujuk Zhang, fosil taring dan gigi seri yang semula disebut milik Gigantopithecus dari Gua Tham Khuyen, Vietnam utara, sudah diidentifikasi ulang sebagai sisa-sisa orangutan.
Adapaun fosil dari Gua Lang Trang di Vietnam dan situs Pha Bong di Thailand bernasib sama. Selepas pemeriksaan ulang morfologinya, kedua fosil tersebut terbukti sebagai gigi milik spesies orangutan yang sudah punah, Pongo weidenreichi, bukan Gigantopithecus.

Indonesia memasuki gelanggang perburuan lewat temuan di Kawasan Cagar Budaya Semedo, Desa Semedo, Kedungbanteng, Kegal, Jawa Tengah.
Seorang warga lokal bernama Dakri, yang pada 2011 sempat menemukan fragmen tengkorak Homo erectus, mendapati pecahan rahang bawah dan gigi berukuran tak biasa di permukaan tanah kawasan situs pada 2014. Delapan tahun berselang, pada 2022, warga lain bernama Susworo menemukan spesimen kedua di lokasi berbeda tapi masih di kawasan yang sama.
Kedua spesimen tersebut sampai sekarang dipajang di Museum Situs Semedo yang diresmikan pada Oktober 2022, serta sempat menyedot atensi lewat pameran temporer "Gigantopithecus Expo 2024" bertajuk Wanara Seba.
"Fosil fragmen Gigantopithecus ini satu-satunya yang pernah ditemukan di Asia Tenggara," ujar Suspriyanti, salah satu penyelenggara pameran saat itu, merujuk laman resmi Sekretariat Daerah Kabupaten Tegal.
Peneliti Sofwan Noerwidi bersama Siswanto dan Hary Widianto dari Balai Arkeologi Yogyakarta (kini bagian BRIN) jadi tim pertama yang membedah kedua spesimen tersebut lewat analisis morfologi dan morfometri. Mereka membandingkannya dengan sampel Homo erectus dari Jawa dan Tiongkok, Gigantopithecus (blacki dan bilaspurensis), serta Australopithecus kekar dan ramping.
Hasilnya diterbitkan dalam riset bertajuk Primata Besar di Jawa: Spesimen Baru Gigantopithecus dari Semedo (2016). Kesimpulannya, karakter morfologi dan morfometri mandibula serta gigi fosil di Semedo cenderung dekat dengan Gigantopithecus blacki. Hasil penelitian fosil kedua temuan 2022 belum ditemukan.
Jika sahih, temuan Semedo akan jadi satu-satunya jejak Gigantopithecus yang tercatat di kawasan kepulauan Asia Tenggara, melompatkan peta sebaran "King-Kong Purba" ini jauh melampaui daratan utama Tiongkok selatan.

Namun, di sinilah kerumitan sains bermula. Zhang secara eksplisit menyoroti kelemahan mendasar dari temuan Semedo: warga lokal menemukan kedua spesimen terserak di tanah, bukan lewat ekskavasi ilmiah terkontrol, sehingga letak presisi dan lapisan geologis asalnya masih gelap. Zhang bahkan menegaskan bahwa sampai tinjauan itu terbit, sebaran Gigantopithecus blacki yang bisa diakui secara ilmiah masih terbatas di wilayah Tiongkok saja.
Celah itu bukan perkara sepele. Hampir satu abad lalu, von Koenigswald sudah mencatat bahwa toko-toko obat tradisional di Jawa kerap menjajakan "tulang naga" yang didatangkan dari gua-gua karst Tiongkok selatan melalui jalur perdagangan purba. Pola ini bikin penentuan asal-usul geografis fosil semacam itu rentan terkecoh.
Bisa saja, klaim serupa nasibnya sama seperti di Vietnam dan Thailand yang akhirnya gugur setelah diperiksa ulang. Lantaran alasan itu, Zhang menaruh keotentikan temuan fosil Gigantopithecus blacki di Semedo, Jawa Tengah, berstatus "belum terverifikasi" sembari menanti bukti stratigrafi yang lebih kukuh.
Pihak Museum Situs Semedo sendiri merawat optimisme. Pada Oktober 2024, Kepala Unit Museum Situs Semedo Gatut Eko Nurcahyo menyatakan riset lanjutan atas kedua fosil itu sudah melibatkan kolaborasi internasional, termasuk peneliti dari Jerman, dengan hasil studi komprehensif yang saat itu ditargetkan terbit pada 2025. Target tersebut kini sudah lewat, dan sampai sekarang belum ditemukan publikasi ilmiah resmi yang mengonfirmasi hasil studi itu.
Bila kelak terbit, studi tersebut bisa memberi jawaban, antara mengukuhkan Semedo sebagai batas sebaran paling selatan dari Gigantopithecus, atau justru mengoreksi identifikasinya, sebagaimana pernah terjadi pada temuan serupa di Vietnam dan Thailand.
Sementara penantian itu masih berlangsung, penelitian tentang Gigantopithecus di kampung halaman asli, Tiongkok selatan, terus bergulir. Pada April 2026, tim peneliti yang dipimpin Yanyan Yao dari Universitas Shandong, Universitas Normal Nanning, dan Museum Antropologi Guangxi menerbitkan temuan tiga belas gigi Gigantopithecus blackidari Gua Yanli 1 di Chongzuo, Guangxi.
Temuan ini mengisi kekosongan catatan fosil pada masa transisi Pleistosen Awal-Tengah, sekitar 1,2 juta hingga 700 ribu tahun lalu, tepat periode ketika iklim mulai berubah drastis dan lambat laun menyeret kera raksasa tersebut menuju kepunahan.
Yang terang, ketidakpastian itu sendiri adalah bagian dari pesona Gigantopithecus. Kera ini sudah lama jadi subjek riset sains, tapi para peneliti belum sekalipun menemukan potongan utuh tulang tengkorak, apalagi tulang anggota gerak. Semua hal yang dibayangkan tentang kera raksasa ini, entah tinggi, berat, dan mukanya, tetap berupa rekaan yang dirakit dari pecahan gigi dan rahang semata.

Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id

































