tirto.id - Musim kemarau 2016, Thanom Luangnan sedang memancing di sebuah kolam umum di Desa Ban Pha Nang Sua, Provinsi Chaiyaphum di Thailand. Ia melihat bongkahan besar mencuat dari dinding sedimen. Awalnya menyangka hanya sebuah batu, tetapi lengkungannya membuat ia curiga bahwa itu bagian tubuh makhluk hidup. Rasa ingin tahu itu mendorongnya melapor ke Departemen Sumber Daya Mineral Thailand.
Tim peneliti segera datang guna melakukan penggalian hingga menemukan 20 fosil. Saat lapisan tanah dibersihkan, ukuran tulang yang tersingkap cukup mengejutkan. Makhluk ini sangat besar hingga kemudian diberi nama Nagatitan chaiyaphumensis yang merujuk pada Naga, makhluk mitologi Thailand dan Asia Tenggara; Titan berarti raksasa dalam mitologi Yunani; dan Chaiyaphumensis sebagai lokasi penemuan.
Surga Dinosaurus Asia Tenggara
Sejak 2016, tim peneliti rutin melakukan pekerjaannya saat air kolam surut, lalu perlahan lapisan tulang padat pun terlihat. Selama tiga tahun, lapisan sedimen keras dibuka, hingga sekitar sepuluh tulang utama berhasil diangkat. Di antara temuan itu, humerus kanan sepanjang 1,78 meter cukup mengejutkan. Tulang tungkai depan itu tingginya melampaui tubuh manusia dewasa.
Warsa 2020, sempat ada kendala penelitian karena pendanaan berhenti total. Tulang-tulang raksasa itu terpaksa menunggu dalam rak penyimpanan. Pada 2023, National Geographic Society memberikan hibah riset. Dukungan keuangan tambahan juga diberikan oleh Mahasarakham University dan Perhimpunan Geologi Thailand.
Dana tersebut melahirkan kolaborasi Project Thaitan yang melibatkan University College London (UCL) di Inggris dengan institusi Thailand seperti Mahasarakham University, Suranaree University of Technology, Sirindhorn Museum, dan Departemen Sumber Daya Mineral Thailand.
Tim penelitian terdiri dari Thitiwoot Sethapanichsakul, Sasa-On Khansubha, Sita Manitkoon, Rattanaphorn Hanta, Philip D. Mannion, dan Paul Upchurch. Mereka melakukan pemindaian 3D resolusi tinggi, menafsirkan data, dan menyusun naskah ilmiah. Thitiwoot Sethapanichsakul, paleontolog muda Thailand yang menempuh doktoral di UCL, masih ingat momen saat pertama kali melihat tulang tersebut.
"Faktanya, saat pertama kali melihat spesimennya, jenis tulang kaki depan sebenarnya lebih tinggi dari saya, dan ini cukup mengejutkan," ujarnya kepada ABC News.
Ekskavasi terakhir selesai awal 2024, proses yang membutuhkan sekitar delapan tahun sejak laporan pertama Thanom Luangnan. Tim peneliti lalu memublikasikan temuannya di Scientific Reports pada 14 Mei 2026.
"Kami memperkirakan massa tubuh sauropoda raksasa ini sekitar 27 ton (setara dengan 9 ekor gajah Asia dewasa) dan perkiraan panjang tubuh 27 meter," tulis Thitiwoot saat mengumumkan temuannya itu di akun Facebook pribadinya.
Selain humerus, mereka juga menemukan empat tulang belakang punggung, empat sakral, lima rusuk besar, bagian panggul, serta femur kanan lebih dari dua meter. Semuanya tersusun berdekatan, konsisten ukurannya, tanpa duplikasi, yang membuktikan bahwa mereka berasal dari satu individu tunggal. Nagatitan lantas diklasifikasikan menjadi dinosaurus ke-14 yang ditemukan di Thailand.
Sejak akhir 1970-an, wilayah Thailand timur laut terus menghasilkan fosil baru. Dinosaurus pertama yang ditemukan adalah Phuwiangosaurus sirindhornae di Provinsi Khon Kaen pada 1994. Namanya diambil dari Pergunungan Phu Wiang serta Putri Sirindhorn yang mendukung riset paleontologi Thailand.
Tak lama kemudian muncul fosil Siamosaurus suteethorni, predator bergigi panjang yang diduga masih berkerabat dengan Spinosaurus, dinosaurus karnivora terpanjang dan terbesar. Dinosaurus ini menarik karena menjadi salah satu bukti awal keberadaan kelompok spinosaurid—dinosaurus theropoda alias pemakan daging–-di Asia. Namanya berasal dari Siam, nama lama Thailand, dan paleontolog Varavudh Suteethorn.
Thailand juga memiliki predator kecil gesit bernama Siamotyrannus isanensis yang ditemukan pada 1996. Saat pertama kali diumumkan, dinosaurus ini sempat dianggap kerabat awal Tyrannosaurus karena bentuk tubuh dan tengkoraknya. Walau klasifikasinya kemudian diperdebatkan, Siamotyrannus tetap menjadi salah satu theropoda paling terkenal dari Asia Tenggara.
Dari kelompok pemakan tumbuhan, Thailand menghasilkan Psittacosaurus sattayaraki, dinosaurus kecil mirip burung beo dengan paruh kuat. Ada pula Siamodon nimngami yang termasuk ornithopoda pemakan tumbuhan. Fosilnya ditemukan di Khok Kruat Formation, lokasi yang sama dengan Nagatitan.
Khok Kruat Formation merupakan obyek penelitian lapisan batuan purba di Thailand timur laut. Kawasan ini terkenal menyimpan banyak fosil dinosaurus dari zaman Kapur Awal atau Early Cretaceous, sekitar 100–120 juta tahun lalu, jauh sebelum Tyrannosaurus rex muncul di Amerika Utara.
Khok Kruat merupakan bagian dari Khorat Group, kumpulan lapisan batuan besar di Dataran Tinggi Khorat. Pertama kali dipetakan pada 1950-an dan kemudian disusun ulang oleh ahli geologi Ward dan Bunnag pada 1964.
Di sana, fosil biasanya terpecah kecil dan jarang utuh, sehingga penemuan kerangka lengkap Nagatitan tergolong langka. Pedro Mocho dari Universidade de Lisboa mengatakan kepada National Geographic, inilah fosil sauropoda paling lengkap yang pernah ditemukan di kawasan tersebut.
Selain Khok Kruat, di Thailand ada beberapa formasi terkenal lain yang juga menghasilkan fosil dinosaurus. Salah satunya Sao Khua Formation. Formasi ini lebih tua dan terkenal karena menghasilkan fosil sauropoda besar seperti Phuwiangosaurus. Lingkungannya juga berupa sungai dan dataran banjir, tetapi lebih lembap dibanding Khok Kruat.
Ada pula Phra Wihan Formation yang banyak menghasilkan jejak kaki dinosaurus dan endapan pasir besar, lalu Phu Kradung Formation yang lebih tua lagi, berasal dari akhir Jurassic hingga awal Cretaceous. Formasi ini menyimpan fosil reptil purba, ikan, dan dinosaurus awal Thailand.
Rekonstruksi seukuran asli Nagatitan kini dipamerkan di Thainosaur Museum, Bangkok. Pengunjung bisa melihatnya setiap hari mulai pukul 11 siang hingga 10 malam.

Berdampingan dengan Predator Purba
Ketika Nagatitan hidup, bumi berada dalam kondisi rumah kaca ekstrem, di mana kadar karbon dioksida sangat tinggi, suhu global merata panas, dan es di kutub lenyap. Thailand purba di Khok Kruat yang berada lebih dekat ke khatulistiwa, menerima sinar matahari intens sepanjang tahun.
Vegetasi dengan iklim panas ini kemungkinan dipenuhi dengan sabana semi gersang, konifer, pakis biji, dan semak purba. Ekosistem seperti ini sangat ideal bagi kelompok sauropoda seperti Nagatitan untuk tumbuh menjadi raksasa.
Lain itu, Nagatitan juga berperan sebagai pemain utama ekosistem. Injakan kakinya menekan pertumbuhan pohon besar, menjaga sabana tetap terbuka. Dengan tubuh 27 ton, ia meraup dedaunan dalam jumlah masif lewat leher panjangnya, gigi seperti sisir melucuti daun, lalu menelan langsung ke perut fermentasi yang dipenuhi bakteri pemecah selulosa.
Nagatitan hidup bersamaan dengan kehadiran iguanodontian berparuh bebek, ceratopsian awal, serta pterosaurus yang melayang di langit. Sungai berkelok menjadi oase bagi hiu air tawar purba Thaiodus ruchae dan ikan bersisik tebal.
Tepian sungai dihuni kura-kura prasejarah dan buaya goniopholidid yang menunggu mangsa. Di daratan, predator puncak dari keluarga Carcharodontosauridae berukuran delapan meter menguasai rantai makanan.
Menghadapi predator purba itu, Nagatitan kemungkinan tidak merasakan ketakutan karena bobotnya yang terus tumbuh.
"Semakin cepat sauropoda menjadi besar, semakin aman karena akan lebih sulit untuk diatasi," tutur Paul Upchurch, salah satu tim peneliti.
Titan Terakhir
Nagatitan chaiyaphumensis merupakan eksperimen paling ekstrem dalam periode evolusi terhadap makhluk bertubuh tulang belakang. Menurut salah satu tim peneliti, Sita Manitkoon, paus biru bisa tumbuh karena air menopang bobotnya. Tetapi sauropoda darat seperti Nagatitan, setiap langkahnya kerap melawan gravitasi.
Untuk mengatasinya, ia memanfaatkan pneumatisitaskerangka—tulang berongga dengan dinding tipis namun kokoh, mirip struktur sarang lebah atau rangka pesawat. Dengan cara ini, tubuh seberat 27 ton tetap tegak tanpa meremukkan dirinya sendiri.
Tantangan lain adalah panas. Hidup di sabana semi-gersang, tubuh Nagatitan adalah reaktor metabolik yang bisa melelehkan dirinya sendiri. Evolusi menjawab dengan leher panjang sebagai radiator biologis.
Menurut Paul Upchurch, permukaan kulit yang luas di leher dan dada, ditambah sistem kantung udara yang terhubung dengan pernapasan, memungkinkan pelepasan panas setiap kali ia menghela napas. Tubuhnya adalah mesin pendingin alami yang menjaga agar protein tidak hancur oleh suhu ekstrem.
Secara taksonomi, Nagatitan ditempatkan dalam kelompok sauropoda somphospondylan titanosauriforms, cabang yang sukses menyebar luas di masa Kapur Awal. Analisis panggul dan tulang belakang menunjukkan ia bagian dari keluarga Euhelopodidae, cabang Asia yang berevolusi terpisah dari raksasa Gondwana seperti Argentinosaurus atau Patagotitan yang panjangnya bisa mencapai 30 meter.
Namun, sebesar apa pun tubuhnya, Nagatitan tak bisa melawan geologi. Formasi Khok Kruat adalah lapisan fosil darat termuda di Thailand. Setelah itu, sabana kering perlahan ditelan laut dangkal akibat naiknya permukaan air. Habitat darat hilang, dan dengan itu berakhir pula era titan Asia. Itulah sebabnya para peneliti menyebutnya "Titan Terakhir dari Thailand."
"Jadi ini mungkin sauropoda besar terakhir atau terbaru yang akan kita temukan di Asia Tenggara," ucap Thitiwoot Sethapanichsakul.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































