tirto.id - Owa jawa (Hylobates moloch) kini dalam status terancam punah, bahkan termassuk dalam salah satu spesies owa paling langka di dunia. Di alam liar, satwa primata endemik Pulau Jawa ini punya peran penting dan unik sebagai "petani hutan yang menjaga keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis.
Pada 1989, International Union for Conservation of Nature (IUCN), memasukkan status owa jawa sebagai Endangered atau genting/terancam. Artinya, hewan yang juga dikenal dengan sebutan gibbon perak ini menghadapi risiko kepunahan yang tinggi di alam liar.
Status IUCN Red List owa jawa bahkan sempat meningkat menjadi Critically Endangered Species pada 1994, yakni berisiko sangat tinggi untuk punah dalam waktu dekat. Pada 2008, IUCN memperbarui status satwa yang termasuk dalam kategori kera kecil (small apes) ini kembali ke kategori Endangered.
Pemerintah Indonesia sendiri telah menyatakan bahwa owa jawa merupakan satwa yang dilindungi. Ini diatur dalam Peraturan Perlindungan Satwa Liar Tahun 1931 Nomor 266, SK Menteri Pertanian Nomor 54/Kpts/um/1972, dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.
Kendati sudah ada peraturan yang melindungi owa jawa, perburuan liar dan pembukaan lahan masih mengancam kelestarian satwa langka ini. Padahal, owa jawa salah satu hewan yang berperan besar dalam ekosistem.
Kenapa Owa Jawa Dijuluki sebagai "Petani Hutan"?
Melansir laman Animal Diversity, owa jawa hidup di hutan hujan tropis dan hutan hujan semi-evergreen di Asia Selatan dan Tenggara. Spesies ini umumnya ditemukan di hutan hujan tropis di Jawa.
Owa jawa biasanya hidup di kanopi atas hutan dataran rendah dan perbukitan. Primata yang masih dalam keluarga Hylobatidae ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di pepohonan dan sangat jarang turun ke lantai hutan.
Rata-rata owa jawa dewasa memiliki berat sekitar 8 kilogram. Antara jenis kelamin betina dan jantan tidak ada dimorfisme seksual atau perbedaan ukuran dan warna. Baik jantan maupun betina sama-sama berwarna abu-abu keperakan dan memiliki tudung abu-abu gelap.

Lengannya panjang dengan tubuh yang ramping. Lengan inilah yang digunakan untuk bergelantungan di kanopi hutan hujan untuk hidup dan mencari makanannya yaitu buah-buahan.
Sebagaimana spesies gibbon lainnya, owa jawa adalah pemakan buah, khususnya buah-buahan matang di kanopi atas hutan hujan tropis. Selain itu, mereka juga memakan daun dan bunga.
Pergerakan cepat dengan berayun menggunakan lengan panjang mereka dari abang ke cabang lainnya ini disebut brachiasi. Hal itu membantu mereka untuk berpindah dengan cepat dan efisien dari satu sumber makanan ke sumber makanan lainnya.
Bagi ekosistem, primata ini memiliki peran dalam penyebaran biji. Oleh karena itulah ia dijuluki sebagai “petani hutan”. Mereka secara tidak langsung menyebarkan biji dari buah-buahan yang telah mereka makan ke permukaan hutan sehingga membantu pertumbuhan tanaman.
Biji-biji itu kemudian tersebar di berbagai titik hutan dan tumbuh menjadi pohon baru. Melalui proses alami tersebut, owa jawa membantu regenerasi hutan dan menjaga keseimbangan ekosistem yang semakin terancam.
Primata Lantang, Sayang Keluarga, dan Setia
Umumnya, owa jawa hidup dalam kelompok kecil yang mirip keluarga. Sebuah kelompok bisa terdiri dari pasangan, seekor bayi, dan seekor owa jawa muda. Maka, dalam satu kelompok terdiri rata-rata sekitar 4 individu.
Meski hidup dalam kelompok kecil, mereka sangat teritorial, dengan luas wilayah mencapai 20–40 hektare, dan mempertahankan wilayah mereka dengan “bernyanyi”. Suara keras mereka bahkan sering kali bisa terdengar dari jarak lebih dari 1 kilometer.
Baik gibbon jantan maupun betina sama-sama bersuara ketika terlibat perselisihan teritorial. Selama masa konflik tersebut, si betina biasanya mengeluarkan “suara hebat” dan jeritan. Sedangkan, owa jawa jantan mendekati penyusup dan mengusirnya.
Selain vokalisasi sebagai bentuk komunikasi, owa jawa juga menggunakan ekspresi wajah dan postur tubuh dalam komunikasi. Komunikasi taktil juga penting antarpasangan, serta antara orang tua dan anak-anaknya.

Sepasang owa jawa yang kawin akan melahirkan rata-rata 5 hingga 6 anak selama masa reproduksi mereka sekitar 10–20 tahun. Namun, tidak ada musim kawin yang pasti, juga tidak ada musim kelahiran sebagaimana binatang lainnya.
Kemudian, sebagaimana primata kebanyakan, owa jawa melahirkan 1 anak per kelahiran dengan masa kehamilan sekitar 7 bulan. Biasanya, periode antarkelahiran pada betina yang bereproduksi adalah sekitar 40 bulan.
Owa jawa bersifat monogami dan dengan angka kelahiran yang terbilang tidak terlalu banyak, spesiesnya pun cenderung sulit mengalami peningkatan. Jika pasangannya meninggal, owa jawa akan melajang seumur hidupnya atau bahkan enggan bertahan hidup.
Hilangnya habitat dan perburuan liar semakin membuat spesies ini terancam punah. Menurut catatan Kementerian Kehutanan Direktorat Jenderal KSDAE (2022), jumlah owa jawa diperkirakan hanya sebanyak 4.000 individu yang tersebar di Jawa Barat dan sebagian di Jawa Tengah.
Angka tersebut cukup kecil, mengingat bahwa owa jawa tidak ditemukan di belahan dunia mana pun selain Pulau Jawa. Belum lagi, owa jawa salah satu dari 9 jenis kera kecil yang tersebar di Indonesia, menurut National Geographic Indonesia.
Empat jenis di antaranya hidup di Sumatra dan empat jenis lainnya di Kalimantan. Kemudian, hanya satu yang bertahan hidup di Pulau Jawa, yakni owa jawa. Artinya, jika spesies ini musnah, pulau yang padat penduduk ini juga akan kehilangan spesies yang berperan besar bagi ekosistem hijau.
Pentingnya Edukasi Agar Owa Jawa Tetap Lestari
Berbagai upaya bisa dilakukan untuk tetap menjaga eksistensi owa jawa dan melestarikannya. Terpenting, yakni menjaga habitat atau ruang hidup mereka, yakni hutan, serta menghentikan perburuan liar untuk tujuan apa pun.
Primatolog, Rahayu Oktaviani, dilansir National Geographic Indonesia, menegaskan bahwa perlu langkah-langkah pendekatan dalam pelestarian owa jawa, seperti riset dan monitoring, pendidikan konservasi, dan pengembangan masyarakat.
Riset merupakan bagian penting dari upaya konservasi, tapi riset saja jelas tidak cukup, kata Rahayu. Selanjutnya, perlu adanya kolaborasi, salah satunya dengan Taman Nasional.
Rahayu juga menekankan pelibatan masyarakat lokal dalam pelestarian owa jawa. Masyarakat sekitar ruang hidup owa jawa telah lama hidup berdampingan.
Dari sana, cerita rakyat didapatkan tentang owa jawa yang jika bersuara, tandanya akan segera hujan. Cerita rakyat sebagai pengetahuan tradisional kemudian tak luput perannya dalam menjaga alam.

Dengan senantiasa membuat masyarakat sekitar merasa terhubung dengan owa jawa, ini juga bisa menyebabkan adanya keterikatan. Dengan demikian, perburuan liar owa jawa diharapkan bisa berkurang.
Edukasi atau pendidikan konservasi ini juga berlaku bagi masyarakat umum. Tujuannya agar masyarakat bisa bersama-sama melindungi hewan yang keberadaannya sudah sangat berjasa bagi lingkungan hidup manusia dan makhluk lainnya.
Selebihnya, jika terjadi penangkapan atau perburuan liar hingga pembalakan atau perusakan hutan, negara memiliki aturan atau undang-undang yang bisa menindak tegas pelaku. Maka, hukum yang adil dan pejabat atau petinggi yang kompeten juga dapat turut berpartisipasi dalam pelestarian spesies langka ini.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id

































