tirto.id - Aksi protes para pelajar SMA di Prancis berlanjut dan membesar. Dari yang semula merupakan aksi mogok sebuah sekolah, unjuk rasa itu berubah jadi aksi nasional dengan ratusan ribu demonstran pada Selasa (6/10/2026). Namun apa sebenarnya duduk perkara dalam demonstrasi ini, mengapa anak-anak SMA di Prancis marah?
Pada Selasa, unjuk rasa telah membuat Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menyatakan akan meliburkan SMA di seluruh Prancis pada sisa pekan ini. Menurut laporan Reuters, keputusan itu diambil setelah situasi terkait aksi protes tak kunjung mereda.
Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa 6.100 orang ditangkap sejak gelombang unjuk rasa bermula pada dua pekan lalu, mayoritas di antaranya berusia di bawah 18 tahun. Kementerian Kehakiman menyebut lebih dari 1.800 dari mereka akan dituntut secara hukum, termasuk 1.483 anak di bawah umur.
Lecornu menjelaskan sedikitnya ada 215 remaja dan 715 petugas polisi yang terluka selama unjuk rasa. Di antara yang terluka itu, termasuk siswa 15 tahun di Lens yang lengannya hancur, diduga akibat mengambil granat kejut ketika terjadi bentrokan antara pelajar dan polisi.
Menukil CNN, gas air mata dilaporkan memenuhi udara Paris pada Selasa. Tempat sampah, meja sekolah, dan kursi dibakar oleh para siswa ketika polisi anti huru hara dikerahkan dengan perisai dan pentungan.
Jika dirunut sesuai kronologinya, situasi yang terjadi di Prancis pada Selasa merupakan akibat dari kemarahan para siswa atas kondisi pendidikan yang mereka jalani. Terlambatnya pemerintah di sana mengakomodasi tuntutan siswa kemudian membuat kemarahan itu jadi membesar seketika.
Duduk Perkara Demonstrasi Siswa SMA di Prancis
Unjuk rasa para pelajar sekolah menengah di Prancis ini bermula dari aksi protes kecil di pinggiran Kota Paris. Tepatnya pada 21 September lalu, para siswa dan sejumlah guru SMA Saint-Exupéry melakukan aksi mogok.
Aksi tersebut dilakukan untuk memprotes kekurangan staf dan sumber daya pengajar sekolah tersebut. Tuntutan mereka pada akhirnya dipenuhi, namun apa yang dirasakan para siswa dan guru SMA Saint-Exupéry rupanya juga dirasakan banyak sekolah lain.
Aksi protes kemudian diikuti oleh berbagai sekolah menengah lain di Paris. Banyak sekolah di ibu kota diblokade siswanya sendiri sebagai aksi protes menuntut perbaikan sistem pembelajaran.
Dalam beberapa hari, aksi unjuk rasa para pelajar berlangsung di seluruh negeri. Dari Lille di utara hingga Marseille di selatan, para siswa memblokade sekolah dan terlibat bentrok dengan polisi. Lebih dari 100 sekolah rusak sejak aksi protes berlangsung.
Laporan CNN menjelaskan bahwa unjuk rasa ini berkembang jadi besar dalam kecepatan yang mengejutkan. Namun, hal itu dapat dimaklumi jika berkaca dari keluhan para pelajar yang tak pernah didengar selama bertahun-tahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, para pelajar di Prancis sudah mengeluhkan kondisi pendidikan yang tak optimal. Sistem pembelajaran dirasa terlalu padat, fasilitas tak memadai, dan masalah kekurangan staf pengajar yang terus terjadi.
Terdapat video-video yang beredar selama bertahun-tahun menunjukkan ruang kelas di Prancis kekurangan meja dan kursi. Terdapat pula video yang merekam pembatalan kelas karena guru yang absen tidak diganti.
Akar masalah itu disebut berkaitan dengan lonjakan angka kelahiran di Prancis pada 2010. Generasi yang melonjak secara kuantitas itu adalah generasi yang kini memasuki usia sekolah menengah.
Karena kenaikan angka kelahiran yang tinggi, jumlah siswa sekolah menengah kini juga turut melonjak. Namun, lembaga pendidikan Prancis dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami pemotongan pendanaan riil.
Kondisi anggaran yang tak optimal itu telah memicu rendahnya jumlah guru. Jumlah guru sekolah menengah di Prancis kini bahkan lebih sedikit dari 2008, meskipun jumlah siswa melonjak tinggi.
Sayangnya, situasi tersebut tak segera ditanggulangi oleh Pemerintah Prancis. Hingga akhirnya para siswa mengekspresikan kemarahan mereka dengan unjuk rasa.
Dalam gelombang unjuk rasa dua pekan terakhir, Pemerintah Prancis juga dinilai lambat dalam merespons tuntutan para siswa. Fokus pemerintah disebut kritikus justru terpecah ke hal-hal di luar tuntutan para siswa yang marah.
Di sisi lain, respons yang terhambat itu turut terjadi karena kondisi keuangan publik yang memburuk.
Pemerintah Prancis kini tengah berupaya mengesahkan anggaran 2027 yang mempersempit defisit menjadi 5 persen dari PDB. Target itu dicapai lewat penghematan yang sangat ketat, dan berpotensi mempersulit pemerintah memenuhi tuntutan para siswa.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































