Menuju konten utama

Demo Pelajar di Prancis Makin Masif, Satu Siswa Hilang Tangan

Demontrasi yang dilakukan pelajar sekolah menengah di Prancis makin meluas. Salah seorang siswa harus kehilangan lengan saat berunjuk rasa.

Demo Pelajar di Prancis Makin Masif, Satu Siswa Hilang Tangan
Demo Mahasiswa di Perancis ang memprotes kondisi Pendanaan pendidikan, di Paris, Ile-de-France, Prancis, pada 5 Oktober 2026. Foto/Reuters
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Unjuk rasa para pelajar sekolah menengah di Prancis terus berlangsung dan makin masif dari hari ke hari. Sekolah-sekolah terus diblokade dalam aksi mogok para siswa yang menuntut perbaikan kondisi pembelajaran. Skala protes diperkirakan tak cepat menurun imbas tangan seorang siswa hancur ketika mengikuti aksi protes.

Seturut Le Monde, aksi protes para pelajar SMA di Prancis telah memasuki pekan ketiga yang berisiko tinggi pada Senin (5/10/2026). Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray menyebut unjuk rasa berdampak pada aktivitas pembelajaran di “antara 400 hingga 500” sekolah di seluruh Prancis.

Ribuan siswa di berbagai SMA yang berbeda mogok belajar dan mengorganisasi aksi unjuk rasa. Hal ini terjadi di pinggiran kota maupun ibu kota, baik di kota kecil maupun kota-kota besar di Prancis.

Melansir media lokal, TF1, Pemerintah Prancis telah mengumumkan perkembangan situasi yang signifikan terhadap gelombang protes. Pada Minggu (4/10), disebut telah lebih dari 5.000 orang ditangkap aparat sejak gelombang unjuk rasa berlangsung.

Sekitar 87 persen di antara total orang yang ditangkap itu diidentifikasi sebagai anak di bawah umur. Sementara itu, kini ada 1.802 demonstran yang tengah menghadapi dakwaan hukum, dengan 14 di antaranya mulai diproses pada tahap prapengadilan.

Kericuhan juga meningkat. Sedikitnya, 24 sekolah “dibakar atau dirusak” dalam unjuk rasa yang berlangsung ricuh dengan kerugian kerusakan properti mencapai puluhan juta euro. Bentrokan antara demonstran dengan aparat keamanan juga menimbulkan laporan cedera yang beragam, dari ringan hingga serius.

Lengan Seorang Siswa Hancur Akibat Ledakan

Di tengah skala kericuhan yang terus meluas dalam dua pekan terakhir, seorang siswa yang ikut berunjuk rasa dilaporkan kehilangan lengannya akibat ledakan. Hal ini disebut terjadi di Kota Lens, Prancis bagian utara.

Menukil The Guardian, insiden hancurnya lengan seorang siswa di Lens ini dikonfirmasi oleh pejabat Prefek Pas-de-Calais, François-Xavier Lauch. Dalam keterangannya, Launch tak merinci kronologi insiden itu, namun menyebutnya terjadi ketika polisi anti huru-hara diterjunkan.

Identitas siswa yang tangannya hancur itu tak diumumkan. Namun, ia diidentifikasi sebagai siswa berusia 15 tahun yang ikut dalam unjuk rasa.

Launch menyebut bahwa siswa ini berada di lokasi yang sama ketika 150 hingga 200 demonstran melempar benda ke arah polisi ketika petugas anti huru-hara dikerahkan. Penyelidikan atas insiden ini tengah dilakukan, namun laporan The Guardian mengaitkannya dengan potensi keterlibatan granat kejut polisi.

Laporan cedera serius juga tak hanya terjadi di Lens. Di Kota Tours, bagian tengah-barat Prancis, seorang siswa berusia 16 tahun diduga mengalami kekerasan dari aparat polisi hingga kehilangan penglihatan di mata kanannya pada pekan lalu.

Keluarga siswa di Tours itu telah mengajukan pengaduan ke pengadilan. Investigasi atas insiden ini tengah berlangsung, namun laporan awal pihak kejaksaan menyebut bahwa siswa itu mengalami cedera yang sesuai dengan dampak peluru karet polisi.

Seruan Aksi Nasional pada Selasa

Seiring terus berlanjutnya aksi unjuk rasa para pelajar, sejumlah gerakan masyarakat sipil di Prancis menyerukan aksi nasional untuk bersolidaritas kepada para pelajar. Aksi nasional ini disebut sebagai “Aksi III” dan direncanakan berlangsung pada Selasa (6/10).

Aksi nasional ini diserukan berbagai pihak di Prancis. Mereka termasuk serikat pekerja sayap kiri CGT. Kepala CGT Sophie Binet menyebut para buruh di bawah naungan serikatnya akan turut turun ke jalan pada Selasa untuk bersolidaritas atas apa yang dialami para siswa.

“Kami sangat terkejut dengan apa yang telah kami lihat selama 10 hari terakhir dan dengan tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilakukan pemerintah terhadap protes oleh siswa menengah,” katanya.

Serikat mahasiswa juga turut menyerukan hari protes nasional pada Selasa. Sebelumnya, mahasiswa universitas terus mendukung aksi protes para siswa SMA dengan turut memblokade gedung kampus di berbagai wilayah di Prancis.

Selain itu, pekerja sektor publik dan kelompok orang tua juga diperkirakan akan turut bergabung dalam pawai dukungan terhadap para pengunjuk rasa di kota-kota di Prancis.

Sementara itu, Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu telah mencoba menenangkan protes dengan menyebut keluhan para siswa sebagai protes yang “sah”. Ia telah menyatakan bahwa pemerintah harus mendengarkan keluhan mereka.

Lecornu juga memerintahkan para menteri untuk menangani lima tuntutan utama para siswa. Hal itu termasuk pengaturan jadwal guru yang absen, peninjauan jam sekolah yang dinilai terlalu padat, juga perbaikan fasilitas sekolah yang rusak.

Baca juga artikel terkait DEMO PERANCIS atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar