tirto.id - Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami erupsi sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB, yang disertai semburan lava menerus (lava fountain) dan suara gemuruh.
Aktivitas vulkanik itu masih terpantau hingga Minggu (6/9). Hasil monitoring BMKG mencatat erupsi terekam pada stasiun seismograf dengan amplitudo maksimum 19 mm dan durasi kurang lebih 29 detik. Akibat fenomena tersebut, abu vulkanik menyebar ke arah Banten, Jakarta, sebagian Jawa Barat, serta Lampung.
Selain Gunung Anak Krakatau, sejumlah gunung api lainnya tercatat erupsi sejak Minggu (6/9) di antaranya Gunung Semeru, Gunung Ibu, Gunung Ili Lewotolok, Gunung Lewotobi Laki-Laki, hingga Gunung Sinabung di Sumatra Utara.
Tercatat, Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi dengan letusan setinggi 1.000 meter pada pukul 07.51 WIB. Sementara Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami dua kali erupsi pada Senin (7/9) pagi.
Gunung Ibu di Maluku Utara juga erupsi pada 6 September 2026 pukul 22.48 WIT. Hingga Selasa (8/9), Anak Krakatau, Gunung Sinabung dan Gunung Semeru berada pada Level III (Siaga).
Meski memiliki status yang sama, beberapa gunung tersebut tidak ada keterkaitan aktivitas. Kementerian ESDM mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada serta mengikuti perkembangan informasi resmi dari Badan Geologi dan PVMBG.
"Namun, perlu diketahui bahwa meskipun memiliki status yang sama, setiap gunung api memiliki karakteristik dan aktivitas yang berbeda. Aktivitas satu gunung api juga tidak berarti berkaitan dengan aktivitas gunung api lainnya," tulis keterangan di Instagam @kesdm, Selasa (8/9)
Apakah Gunung Api Saling Terhubung dan Bisa Saling Memicu Erupsi?
Secara geologis, Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Kondisi ini menjadi alasan mengapa Indonesia sering mengalami gempa bumi dan memiliki banyak gunung api yang aktif.
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati, erupsi gunung berapi yang hampir bersamaan justru berkaitan dengan posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Setidaknya ada 127 gunung api aktif memungkinkan terjadinya erupsi pada hari yang sama tanpa adanya keterikatan sistemik.
"Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda. Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan," ujar Rita, dikutip dari Antara News, Kamis (3/9).
Dengan demikian, beberapa gunung api dapat mengalami erupsi pada hari yang sama tanpa berarti aktivitas salah satunya memicu gunung yang lain. Fenomena tersebut merupakan bagian dari dinamika vulkanik yang wajar terjadi di Indonesia, mengingat banyaknya gunung api yang tersebar di sepanjang jalur Cincin Api Pasifik.

Berdasarkan laporan Discover Magazine, hampir semua gunung berapi bersifat independen satu sama lain. Itu artinya, tidak semua gunung berapi di suatu wilayah terhubung ke satu waduk magma raksasa di bawah tanah yang digunakan bersama.
Laporan Link Springer juga menegaskan bahwa gunung berapi yang berada di Ring of Fire terdiri dari 41 wilayah vulkanik berbeda. Secara keseluruhan, wilayah-wilayah ini mencakup 713 gunung berapi Holosen. Letaknya berada di sekeliling cekungan Samudra Pasifik, dan gunung berapi individual di dalam wilayah-wilayah tersebut tidak saling terhubung.
Meskipun Ring of Fire (PRoF) kerap dideskripsikan secara visual dengan menggambarkan zona yang tampak hampir bersambung di sekeliling Samudra Pasifik, zona ini bukanlah satu struktur tunggal.
Wilayah-wilayah Ring of Fire mencakup sebagian besar zona subduksi di Bumi, hampir 60 persen gunung berapi Holosen, dan persentase yang sama untuk gunung berapi yang pernah meletus sejak tahun 1800.
Aktivitas di sebagian besar wilayah ini disebabkan oleh subduksi yang secara langsung melibatkan Lempeng Pasifik bersama dengan beberapa lempeng tektonik di sekitarnya seperti Lempeng Laut Filipina, Antartika, Nazca, Cocos, dan Juan de Fuca.
Bagaimana dengan Gunung Api yang Jaraknya Berdekatan?
Erupsi gunung api yang jaraknya berdekatan dapat memengaruhi erupsi gunung api lain jika memiliki reservoir magma bersama. Kasus seperti terbilang sangat langka dan hanya beberapa gunung api saja.
Dalam kasus semacam itu, satu letusan tidak benar-benar memicu lubang erupsi di dekatnya untuk meletus. Melainkan magma yang bergerak menemukan jalan keluar ke permukaan di beberapa titik sekaligus.
Hal ini pernah terjadi di Papua Nugini tahun 1994. Kala itu, kerucut Tavurvur dan Vulcan yang merupakan lubang erupsi di dalam Kaldera Rabaul meletus hampir bersamaan. Meski begitu, tidak semua gunung berapi yang berdekatan menunjukkan perilaku ini.
Sebagai contoh terdapat lima gunung api di Hawaii yang letaknya saling berdekatan, mencakup Mauna Loa, Kohala, Kilauea, Hualalai, dan Mauna Kea. Jarak antara Mauna Loa dan gunung-gunung tetangganya diperkirakan hanya 20 hingga 55 mil atau sekitar 32 hingga 88 kilometer.
Menurut Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat, gunung Mauna Loa ini mencakup lebih dari 50 persen massa daratan pulau tersebut. Gunung berapi Kohala sudah tidak aktif lagi (punah), yang berarti tidak akan meletus lagi karena pasokan lavanya telah terputus. Empat gunung lainnya yaitu Mauna Loa, Kilauea, Hualalai, dan Mauna Kea masih aktif, meskipun Mauna Kea dianggap sedang tidur karena belum meletus selama 4.000 tahun.
Secara geografis, Gunung Kīlauea terletak di lereng gunung berapi Mauna Loa, dengan jarak keduanya hanya 33 kilometer (20 mil). Namun kedua gunung berapi tersebut memiliki reservoir magma yang berbeda. Itu artinya, tidak ada keterikatan letusan yang simultan antar keduanya.
Meskipun letaknya berdekatan, letusan di salah satu gunung berapi ini tidak memicu letusan di gunung berapi lainnya. Namun, jika gunung berapi memicu letusan simultan, hal itu sering kali terjadi karena adanya reservoir magma yang sama. Mauna Loa tidak berbagi reservoir magma dengan gunung-gunung berapi di sekitarnya.
"Gunung berapi Kilauea di Hawaii terletak di lereng gunung berapi Mauna Loa, sehingga keduanya hanya berjarak 33 kilometer (20 mil), namun kedua gunung berapi tersebut memiliki reservoir magma yang sangat berbeda. Meskipun letaknya berdekatan, letusan di salah satu gunung tersebut tampaknya tidak memicu letusan di gunung lainnya," ungkap lembaga Survei Geologi Amerika Serikat, dikutip dari laman Newsweek.com.
Kenapa Beberapa Gunung Api Bisa Erupsi Hampir Bersamaan?

Ahli kebencanaan, Daryono melalui laporan tertulis yang diunggah di laman X @Daryonoperwirasakti pada Senin (7/9) menjelaskan selain Indonesia berada di jalur cincin api, Indonesia juga menjadi tempat bertemunya lempeng tektonik utama dunia, seperti Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Dalam tahap tertentu, aktivitas tektonik regiobal dapat memicu terjadinya letusan.
"Kondisi ini dapat memicu penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng benua membawa air dan sedimen basah ke kedalaman mantel yang berdampak pada pelelehan batuan mantel. Pelelhan batuan mantel ini dapat menghasilkan suplai magma seacar terus emnerus selama jutaan tahun," tulis Daryono dalam keterangan di akun X.
"Ketika aktivitas tektonik regional meningkat atau terjadi penyesuaian tegangan di kerak bumi pasca gempa besar, beberapa gunung api yang kantong magmanya sudah dalam kondisi kritis dapat terpicu secara hampir bersamaan," lanjut Daryono.
Kasus erupsi yang hampir bersamaan pernah terjadi pada tahun 2020 saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang hampir bersamaan dengan lima gunung api lainnya di Indonesia yakni Kerinci, Krakatau, Merapi, Semeru, Ibu dan Dukono.
"Ada dua kemungkinan keenam gunung api tersebut aktif secara bersamaan. Kemungkinan pertama, jika gunung-gunung tersebut beda busur (arc) atau lempengan yang berinteraksinya berbeda, maka kemungkinan hanya waktu erupsinya saja yang kebetulan sama,” jelas Ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Mirzam Abdurrahman.
"Analogi sederhananya seperti saat saya makan, tetangga saya makan dan Anda juga makan, ya kebetulan pas jam makan siangnya sama," lanjutnya.
Kemungkinan kedua, menurut Mirzam, jika gunung-gunung tersebut berada dalam satu busur yang sama, maka ada faktor lain yang menyebabkan gunung tersebut erupsi bersamaan.
"Anggaplah fenomena tektonik itu seperti orang-orang yang berkumpul untuk makan karena adanya undangan," lanjut Mirzam.
Dengan kata lain, hal ini bisa terjadi akibat pemicu yang sama, salah satunya terletak di busur yang sama. Faktor kedua dicontohkan oleh Mirzam dengan fenomena meletusnya Gunung Kerinci, Krakatau, Merapi, dan Semeru yang menunjukkan aktivitas erupsi secara bersamaan pada April 2020.
Jika dilihat dari sebarannya, Gunung Kerinci, Anak Krakatau, Merapi, dan Semeru berada pada satu busur yang sama yaitu Busur Sunda yang meliputi Pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTT, dan NTB. Sehingga gunung-gunung api di dalamnya memiliki keterkaitan dengan sistem tektonik regional yang sama. Sedangkan Gunung Ibu dan Gunung Dukono berada dalam Busur Halmahera.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id






































