Menuju konten utama

Kenapa Korban Hilang di Laut Sulit Ditemukan?

Korban hilang di laut seringkali sulit ditemukan bahkan dengan pencarian yang dilakukan dari udara. Kenapa begitu?

Kenapa Korban Hilang di Laut Sulit Ditemukan?
ilustrasi tim SAR. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lima jurnalis, dua orang anak buah kapal, dan satu pemandu dilaporkan hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Banten. Laporan hilangnya kontak dengan rombongan jurnalis itu diterima oleh kantor search and rescue (SAR) Banten pada Senin (7/9) pukul 15.04 WIB.

Sebelum hilang kontak, salah satu rombongan masih berkirim share location kepada seorang jurnalis di Lampung, tepatnya pukul 14.42 WIB. Keberadaan rombongan kala itu berada di antara Carita dan Gunung Anak Krakatau.

Sekitar pukul 18.13 WIB, seorang pemandu masih berkirim kabar kepada istrinya. Setelah itu, keberadaan speedboat tidak lagi terdeteksi. Tim SAR kemudian melakukan pencarian di sekitar rute Carita menuju Gunung Anak Krakatau.

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 2018.

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 2018. AP PHOTO / Fauzy Chaniago

Hingga hari Jumat (11/9), pencarian masih terus dilakukan dengan memperluas area pencarian hingga laut lepas. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menjadwalkan operasi pencarian dilakukan hingga tujuh hari sejak dilaporkan hilang.

Daftar lima jurnalis yang hilang saat meliput Gunung Anak Krakatau yaitu M. Bagus Khoirunnas (pewarta foto Kantor Berita Antara), Ari Basuki, pewarta foto (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (pewarta foto iNews.id), Firdaus Wajidi (jurnalis Anadolu Agency), dan Donal Husni (pewarta foto lepas).

Mengapa Orang Hilang di Laut Sulit Ditemukan?

Pencarian orang hilang di laut memiliki tantangan yang cukup rumit, baik secara teknis maupun faktor alam. Beberapa tantangan yang kompleks di antaranya kondisi cuaca buruk, jarak pandang, medan yang sulit, dan keterbatasan peralatan. Ini berlaku untuk prosen pencarian lewat udara atau laut.

Sebuah penelitian berjudul Aerial Person Detection for Search and Rescue: Survey and Benchmarks karya Xiangqing Zhang yang dimuat di Journal of Remote Sensing (2025) menjelaskan sejumlah faktor mengapa pencarian korban hilang di laut sulit terdeteksi.

Pertama, terjadinya oklusi atau penutupan pandangan terhadap korban yang hilang. Beberapa objek fisik, karang, hingga buih ombak membuat tubuh korban tidak dapat terdeteksi secara jelas.

Kedua, keterbatasan sudut pandang baik menggunakan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu seperti kendaraan udara tak berawak (UAV) atau lebih dikenal drone. Drone umum digunakan oleh berbagai kegiatan SAR untuk menjangkau lokasi tertentu karena dinilai unggul dan merogoh biaya yang efisien.

Drone memiliki kemampuan manuver yang tinggi, serta dapat beroperasi di lokasi yang berbahaya, sulit dijangkau, atau menuntut kecepatan penanganan. Meski begitu, drone untuk SAR perlu dilengkapi dengan teknologi canggih nan andal seperti deteksi target berbasis radar, deteksi objek dari citra atau video, perencanaan jalur, hingga kompresi model.

Hari keempat operasi SAR pencarian jurnalis di Selat Sunda

Prajurit TNI AL awak KRI Kerambit-627 berusaha mengangkat benda yang ditemukan mengapung saat operasi pencarian kapal cepat yang hilang kontak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Jumat (11/9/2026). ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/wsj.

Kelengkapan teknologi tersebut berpotensi besar untuk memperkuat upaya penyelamatan dan meningkatkan peluang jumlah nyawa yang terselamatkan saat terjadi laka dan bencana.

Ketiga, identifikasi korban secara akurat memerlukan gambar dengan resolusi tinggi agar mudah teridentifikasi. Sayangnya, gambar yang ditangkap drone terkadang memiliki resolusi yang kurang memadai. Akibatnya, menyebabkan distorsi atau efek kabur yang berdampak pada akurasi detail objek.

Keempat, diperlukan data dan sampel yang sangat banyak dan beragam untuk mempelajari fitur individu dalam citra udara secara efektif. Berdasarkan penelitian YOLO-SR and GeoTrack for distress target detection and tracking in UAV maritime search and rescuekarya V. Nivashini dan tim menyebutkan pengumpulan data fotografi udara yang beragam dan telah diberi label merupakan tantangan yang cukup besar.

Citra udara sering kali memotret objek dengan berbagai ukuran dan resolusi, mulai dari fitur yang sangat kecil hingga yang berukuran besar. Tantangan ini semakin diperumit oleh pantulan permukaan laut, pola gelombang, dan latar belakang laut yang dinamis.

Oleh karena itu, diperlukan perancangan dan optimalisasi algoritma deteksi objek yang cermat. Di berbagai negara maju, telah dikembangkan teknologi untuk penyempurnaan resolusi tinggi yang ringan. Tujuannya, untuk meningkatkan representasi target kecil dan jauh sembari tetap menjaga efisiensi komputasi.

Jika pencarian dilakukan dengan menyisir lautan, dalam protokol standar International Aeronautical and Maritime Search and Rescue Manual (IAMSAR Manual) yang diterbitkan International Maritime Organization (IMO), jarak pandang paling efektif menggunakan kapal laut untuk mendeteksi kepala orang di tengah gelombang laut hanya berkisar 0,2 hingga 0,5 mil laut (370 – 900 meter) di kiri dan kanan kapal.

Paling maksimal, jarak pandang orang di air tanpa menggunakan pelampung kurang lebih 0,7 – 1,0 Mil Laut (1,3 – 1,8 km). Lalu jarak pandang terhadap orang dengan jaket pelampung dapat dilihat 1,0 – 2,0 Mil Laut ( 1,8 – 3,7 km). Berikutnya, apabila target menggunakan life raft dapat dilihat hingga 2,5 – 3,5 Mil Laut (4,6 – 6,5 km).

Meski begitu, jarak pandang tersebut dapat berbeda tergantung pada kondisi cuaca dan ombak yang ada. Tak hanya itu, kecepatan kapal bergerak juga dapat menurunkan daya deteksi visual pengamatan.

Bagaimana Proses Pencarian Orang di Laut?

Proses pencarian orang hilang di laut dilakukan dengan berbagai metode. Teranyar, upaya pencarian dilakukan dengan memanfaatkan helikopter berawak maupun sistem udara nirawak (UAS). Seiring canggihnya teknologi, beberapa UAS telah dilengkapi dengan sensor elektro-optik (EO) dan inframerah (IR).

Sementara itu, helikopter berawak biasanya digunakan dengan melakukan pengamat visual. Secara umum, helikopter memiliki kemampuan untuk melayang diam di udara (hover) di atas lokasi penyelamatan. Tak hanya itu, moda ini juga memiliki rentang kecepatan operasi yang luas dari nol hingga sekitar 150 knot. Di ruang yang terbatas, helikopter dapat lepas landas dan mendarat.

Dalam prosedur standar, helikopter diterbangkan dalam kondisi hover di atas kapal atau di atas orang yang terdampar di bebatuan. Setelah korban terlihat, seorang anggota kru diturunkan dengan katrol (winch) ke arah korban, memasangkan tali pengaman (sling), dan kemudian ditarik kembali ke helikopter.

Apabila misi penyelamatan dan pencarian berada di atas kapal, anggota kru dapat tetap berada di dek untuk mengawasi operasi hingga orang terakhir selesai diangkat.

Agar manuver ini berhasil dilakukan pada siang atau malam hari ketika referensi visual tidak memungkinkan, helikopter perlu dilengkapi dengan Automatic Flight Control System (AFCS).

Dari posisi hover, helikopter dapat membawa korban yang diselamatkan langsung ke tempat aman dengan kecepatan hingga 150 knot. Jika korban mengalami cedera, orang tersebut dapat dibawa langsung ke rumah sakit karena helikopter dapat mendarat di ruang yang terbatas.

Selama misi pencarian tersebut, para awak yang berada di helikopter perlu dilengkapi dengan alat komunikasi dan navigasi yang memadai. Alat-alat tersebut mencakup VHF (Very High Frequency), HF (High Frequency), ADF (Automatic Direction Finder), RNAV (Area Navigation), ILS (Instrument Landing System), hingga radar cuaca.

Hari keempat pencarian jurnalis hilang kontak di Selat Sunda

Helikopter Basarnas bersiap mendarat saat hari keempat operasi pencarian jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak di Carita, Pandeglang, Banten, Jumat (11/9/2026). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.

Selain itu, helikopter SAR juga dilengkapi dengan katrol (winch) untuk evakuasi dari ketinggian hover yang aman dengan tali pengaman terpasang di ujung kabel. Katrol dapat digerakkan oleh motor hidrolik/listrik atau dengan memanfaatkan udara tekan (bleed air) dari salah satu mesin. Biasanya, helikopter khusus SAR akan memiliki katrol yang terpasang permanen di dekat pintu kompartemen utama.

Secara khusus, pola pencarian dapat diatur menggunakan alat navigasi berupa Flight Path Control System (FPCS) yang secara otomatis menerbangkan helikopter mengikuti pola pencarian yang telah dipilih sebelumnya.

Sistem ini dapat bekerja secara otomatis penuh dan terhubung langsung ke AFCS, atau dioperasikan melalui perintah yang dimasukkan ke tampilan Flight Director di kokpit, sehingga pilot tetap memegang kendali.

Pada mode otomatis penuh, setelah korban ditemukan, sistem dapat secara otomatis menerbangkan helikopter ke posisi hover pada ketinggian yang telah ditentukan di atas korban.

Di tengah laut, mengidentifikasi kapal kecil, sekoci, atau satu orang di laut bisa sangat sulit, terutama pada malam hari atau dalam kondisi cuaca buruk. Identifikasi dapat dibantu dengan penggunaan radar dan/atau perangkat pemindai infra-merah, serta lampu sorot khusus udara pada malam hari.

Meskipun radar cuaca kini menjadi bagian dari peralatan avionik standar untuk penerbangan IFR, penggunaan Flight Path Control System dan pemindai infra-merah merupakan inovasi yang relatif baru dan belum digunakan secara luas.

Baca juga artikel terkait ERUPSI ANAK KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora