tirto.id - Lima jurnalis hilang kontak saat melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Banten, pada Senin (7/9). Mereka adalah Muhammad Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis lepas.
Kelima jurnalis tersebut berangkat menggunakan speedboat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, bersama tiga kru kapal, yakni Warta sebagai kapten, Sukarman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai pemandu.
Pada Kamis (10/9/2026), memasuki hari keempat pencarian, tim SAR gabungan mengerahkan sebanyak 13 kapal untuk menyisir sejumlah sektor pencarian dengan melibatkan lebih dari 300 personel, termasuk yang berada di posko.
Selain pencarian melalui jalur laut, tim SAR juga mempertimbangkan penggunaan helikopter dengan melihat kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau. Pada pencarian sebelumnya, helikopter telah melakukan penyisiran hingga kawasan pesisir Carita pada ketinggian sekitar 15.000-25.000 kaki, tetapi belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Dalam pencarian sebelumnya, petugas menemukan satu life jacket dan pelampung botol di sekitar Anyer, tetapi belum dapat dipastikan apakah benda tersebut berasal dari kapal yang ditumpangi rombongan.
Lima Jurnalis yang Hilang Kontak Saat Meliput Gunung Anak Krakatau
Delapan orang dilaporkan hilang kontak setelah berlayar menggunakan speedboat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Banten, pada Senin (7/9). Rombongan tersebut terdiri atas lima jurnalis, berikut profilnya.
1. Muhammad Bagus Khoirunnas, Pewarta Foto ANTARA
Muhammad Bagus Khoirunnas merupakan pewarta foto Kantor Berita ANTARA Biro Banten. Bagus telah bekerja sebagai jurnalis ANTARA sejak 2018 dan dikenal sebagai wartawan yang aktif turun langsung ke lapangan untuk mendapatkan foto dari berbagai peristiwa.Ayah Bagus, Mansyur, menggambarkan Bagus sebagai sosok pekerja keras yang tetap menjalankan tugas jurnalistik dalam berbagai kondisi.
Menurut Mansyur, putranya memiliki kebiasaan mendatangi langsung lokasi peristiwa untuk mendapatkan gambar yang dapat dipublikasikan. Karakter tersebut tidak terlepas dari profesinya sebagai pewarta foto yang sangat bergantung pada karya visual yang dihasilkan dari lapangan. Bagus disebut selalu berupaya mendapatkan momen terbaik untuk menghasilkan foto yang bernilai berita.
Selama menjalani profesinya, Bagus telah menghasilkan berbagai karya jurnalistik dan meraih sejumlah penghargaan di bidang fotografi. Salah satu karya terakhirnya yang berkaitan dengan Gunung Anak Krakatau bahkan sempat diunggah di akun Instagram Presiden RI Prabowo Subianto.
Keluarga Bagus kemudian mendapat dukungan dari berbagai pihak. Kapolda Banten Irjen Pol Hengki sempat mendatangi Pos SAR Nasional dan bertemu dengan keluarga pewarta foto tersebut. Dalam kesempatan itu, Hengki menyampaikan dukungan moral dan meminta keluarga tetap tenang serta mempercayakan proses pencarian kepada tim SAR gabungan.
2. Arie Basuki, Pewarta Foto Senior Merdeka.com
Arie Basuki merupakan salah satu pewarta foto senior Indonesia yang telah puluhan tahun menjalani profesi jurnalistik. Ia lahir di Bogor pada 11 Maret 1974 dan merupakan alumnus Ilmu Antropologi Universitas Udayana, Bali. Ketertarikannya pada fotografi jurnalistik membawanya memulai karier sebagai fotografer pada 1998.Sebelum bergabung dengan Merdeka.com, Arie pernah bekerja di sejumlah media, antara lain Nusa Tenggara Newspaper, Bali Echo, dan Tempo. Ia kemudian bergabung dengan Merdeka.com pada 2012 dan dikenal sebagai salah satu fotografer senior yang banyak menghabiskan waktunya di lapangan.
Di kalangan rekan-rekannya, Arie dikenal dengan sejumlah panggilan, antara lain Arbas, Bang Barong, dan Honey. Dalam profil yang pernah dimuat Merdeka.com, Arie digambarkan sebagai pribadi yang tidak banyak berbicara dan lebih banyak menyampaikan cerita melalui kamera. Kopi hitam, rokok kretek lintingan, dan kamera menjadi beberapa hal yang lekat dengan kesehariannya.
Pengalaman jurnalistik Arie mencakup berbagai peristiwa besar dan berisiko tinggi. Ia pernah meliput operasi militer Gerakan Aceh Merdeka di Aceh pada 2003, tsunami Aceh pada 2004, tsunami Pangandaran pada 2006, gempa Yogyakarta pada 2006, konflik Poso, kerusuhan di Priok, Jakarta Utara, hingga perang saudara di Libya pada 2011.
Dari berbagai pengalaman tersebut, tsunami Aceh 2004 dan perang saudara di Libya 2011 disebut sebagai dua peristiwa yang paling membekas dalam perjalanan jurnalistiknya.
Salah satu pencapaian terbesar Arie terjadi pada 2024 ketika karyanya berjudul "Pollution in the Cileungsi River" mendapatkan honorable mention dalam World Press Photo 2024 untuk kawasan Asia Tenggara dan Oseania.
Foto tersebut dibuat di Curug Parigi, Kota Bekasi, Jawa Barat, dan menggambarkan seorang warga yang masuk ke Sungai Cileungsi untuk mengambil jaring ikan di tengah air yang dipenuhi busa putih.
Karya tersebut berangkat dari perhatian Arie terhadap persoalan layanan air bersih di Bekasi. Ia kemudian menemukan momen ketika melihat seorang warga mencari jaringnya di sungai yang tercemar. Puluhan foto diambil dari kejadian tersebut sebelum Arie memilih karya terbaik untuk dikirimkan dalam kompetisi World Press Photo.
World Press Photo mencatat Arie juga pernah memperoleh sejumlah penghargaan lain, termasuk Anugerah Adiwarta 2007, Mochtar Lubis Award 2008, Nikon Indonesia Photo Journalism 2016, PFI Indonesian Photo Journalist Award 2019, Asian Press Photo Singapore 2022, serta Environment Photographer of the Year 2022.
Pada 2022, Arie menjadi pemenang kategori Vision of the Future dalam Environment Photographer of the Year melalui karya "Vertical Farming". Foto tersebut menggambarkan aktivitas pekerja yang merawat tanaman sayuran di fasilitas pertanian vertikal di Depok, Jawa Barat.
Meski telah puluhan tahun menjalani profesi tersebut, Arie tetap aktif turun ke lapangan. Pada 2026, namanya kembali memperoleh penghargaan nasional setelah foto "Perlawanan Emak di Demo DPR" meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2025 untuk kategori foto.

3. Yudistiro Pranoto, Jurnalis iNews
Yudistiro Pranoto atau yang akrab disapa Yudis merupakan jurnalis iNews dikenal sebagai fotografer yang telah hampir dua dekade menjalani profesi jurnalistik.Selama sekitar 19 tahun berkarier sebagai wartawan, Yudis banyak menghasilkan karya fotografi yang merekam berbagai peristiwa penting. Foto-fotonya tidak sekadar mendokumentasikan kejadian, tetapi berusaha menangkap momen dan cerita di balik sebuah peristiwa. Pengalaman panjang tersebut membuatnya terbiasa bekerja di berbagai situasi lapangan.
Salah satu pesan Yudis yang kembali menjadi perhatian setelah kabar hilang kontak tersebut adalah unggahan di media sosial ketika ia meliput aksi unjuk rasa pada 27 Agustus.
Dalam unggahan tersebut, Yudis menulis pesan mengenai pentingnya keselamatan dalam menjalankan tugas jurnalistik. Pesan itu kemudian kembali diperbincangkan karena menggambarkan kesadarannya terhadap risiko yang dihadapi wartawan ketika bekerja di lapangan.
Di luar pekerjaan, Yudis dikenal menyukai kegiatan di alam terbuka. Menurut laporan iNews,Rabu(9/9/2026), Yudis memiliki hobi seperti memancing di laut dan berolahraga bersama keluarga maupun rekan sesama jurnalis.
Pengalaman sebagai fotografer juga membuatnya terbiasa berada di lokasi dengan kondisi yang berubah-ubah demi mendapatkan dokumentasi dari suatu peristiwa.
4. Firdaus Wajidi, Jurnalis Visual Anadolu Agency
Firdaus Wajidi merupakan jurnalis visual yang pernah bekerja di Anadolu Agency. Firdaus dikenal pernah bekerja sebagai Visual Publisher dan camera person. Pekerjaan tersebut membuatnya banyak beraktivitas dalam produksi dan dokumentasi visual untuk kebutuhan pemberitaan.Melalui akun LinkedIn, ia tercatat bekerja secara penuh waktu di Anadolu Agency mulai Maret 2018 hingga Agustus 2023 di Jakarta.
Istrinya, Astrid, mengungkapkan bahwa Firdaus sempat berkomunikasi sebelum melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Firdaus sebelumnya telah berada di Carita untuk melakukan wawancara dengan Gubernur Banten. Pada malam harinya, ia memberi tahu keluarga mengenai rencana menyeberang menuju kawasan gunung api.
Astrid mengaku sempat mengingatkan suaminya agar tidak melanjutkan perjalanan apabila kondisi dinilai terlalu berisiko. Firdaus kemudian disebut akan mencari informasi terlebih dahulu mengenai kondisi keamanan perjalanan sebelum menyeberang.
Komunikasi terakhir antara Firdaus dan istrinya terjadi sebelum keberangkatan. Astrid mengatakan pesan terakhir yang dikirimkannya kepada Firdaus masih belum dibaca.
5. Donal Husni, Jurnalis Lepas
Donal Husni merupakan jurnalis lepas yang juga berada dalam rombongan tersebut. Ia tinggal di kawasan Ciater Permai, Serpong, Tangerang Selatan. Di lingkungan tempat tinggalnya, Donal dikenal dengan panggilan Mas Don dan digambarkan sebagai sosok yang mudah bergaul serta memiliki hubungan cukup dekat dengan tetangga.Sebelum berangkat melakukan peliputan Gunung Anak Krakatau, Donal disebut sempat berpamitan kepada tetangga yang tinggal tepat di depan rumahnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































