Menuju konten utama

Kenapa Pesawat Tidak Boleh Terbang Menembus Abu Vulkanik?

Pesawat dilarang terbang menembus abu vulkanik karena bisa berdampak fatal, salah satunya mesin pesawat bisa mati total di udara.

Kenapa Pesawat Tidak Boleh Terbang Menembus Abu Vulkanik?
Petugas melakukan penutupan mesin pesawat di apron Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/9/2026). Bandar Soekarno-Hatta ditutup sementara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda yang terjadi sejak Jumat (4/9/2026) menyebabkan hujan abu vulkanik yang menyebar luas. Dampaknya, sejumlah bandara membatalkan jadwal penerbangannya. Lantas, kenapa pesawat tidak boleh terbang menembus abu vulkanik?

Hingga Minggu (6/9/2026), Gunung Anak Krakatau masih erupsi. Sebaran abu vulkanik pun teridentifikasi semakin meluas ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. Setidaknya ada 8 bandara yang ditutup untuk sementara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta.

Berdasarkan pantauan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, juga dengan menggunakan citra RGB satelit Himawari-9, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terdapat dua sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dengan ketinggian dan arah pergerakan berbeda.

Penumpukan penumpang dampak penutupan Bandara Soekarno Hatta

Calon penumpang berada konter lapor diri yang tutup di Terminal 2 keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/9/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/YU

“Sebaran pertama, ketinggian 20.000 kaki. Bergerak ke arah timur laut-selatan. Mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan lainnya,” sebut BMKG, Minggu (6/9/2026).

Sebaran kedua, lanjut BMKG, berada dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki. Pada lapisan tersebut, abu vulkanik bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebaran abu vulkanik terdampak di sebagian wilayah Banten, Lampung, dan Bengkulu, juga teridentifikasi di wilayah Selat Sunda bagian selatan.

Kenapa Pesawat Tidak Boleh Menembus Abu Vulkanik?

Berbeda dengan debu biasa yang lembut, abu vulkanik merupakan campuran batuan, mineral, bahkan partikel kaca silika yang dikeluarkan dari gunung berapi saat terjadi letusan atau erupsi.

Diameter abu vulkanik sangat kecil, yakni kurang dari 2 milimeter dengan kepadatan yang rendah. Hal tersebut menyebabkan abu vulkanik dapat dengan mudah terbawa angin, jatuh, dan menumpuk berkilo-kilometer di sekitar area letusan.

Tidak seperti abu pembakaran kayu, partikel abu vulkanik sangat keras dan bergerigi di setiap sisinya. Partikel abu vulkanik amat tajam, keras, serta abrasif. Tidak hanya sangat berdampak buruk bagi manusia, abu vulkanik juga sangat bahaya untuk pesawat. Mengapa begitu?

Abu vulkanik yang terbawa udara sangat berbahaya bagi pesawat yang sedang bergerak atau terbang. Alex Davies dalam tulisan berjudul “Why Volcanic Ash Is So Terrible for Airplanes” yang dimuat di Wired menyebut bahwa abu vulkanik adalah material “yang mengerikan bagi pesawat.”

Ketika gunung api memuntahkan abu vulkanik ke udara, di dalamnya terdapat partikel-partikel mikro yang memiliki sifat abrasif dan erosif. Partikel-partikel ini bisa mengikis bilah kompresor dan meningkatkan tekanan udara, juga dapat merusak sistem ventilasi di pesawat yang berpotensi membuat kabin kehilangan temperatur.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat erupsi terlihat dari Perairan Selat Sunda, pada 2018

Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat erupsi terlihat dari Perairan Selat Sunda, pada 2018. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bahkan, dikutip dari artikel National Geographic bertajuk " Human and Environmental Impacts of Volcanic Ash", partikel-partikel kecil dan abrasif abu vulkanik itu dapat meleleh di dalam mesin pesawat dan mengeras pada bilah turbin hingga menyebabkan mesin mati. Tentunya berbahaya sekali jika mesin pesawat mati di tengah jalan.

Itulah kenapa ketika terjadi hujan abu vulkanik dari aktivitas gunung api, ada regulasi untuk melarang penerbangan, termasuk dengan menutup bandara meskipun berpotensi menimbulkan kerugian besar dari sisi penumpang maupun industri penerbangan.

Letusan Gunung Eyjafjallajökull di Islandia pada 2010, misalnya, memaksa pembatalan sekitar 100.000 penerbangan. Sebanyak 7 juta penumpang terdampak, industri penerbangan pun mengalami kerugian tidak kurang dari 2,6 miliar dolar AS. Namun, sebanyak dan sebesar apapun kerugian materi itu, keselamatan manusia lebih dari segalanya.

Dampak Jika Pesawat Menembus Abu Vulkanik di Udara

Secara lebih rinci dan dikutip dari berbagai sumber, berikut ini beberapa dampak fatal yang bisa terjadi pesawat tetap nekat terbang menembus abu vulkanik di udara yang dihasilkan dari aktivitas gunung berapi.

1. Mesin Pesawat Mati Total

Ruang bakar mesin pesawat memiliki suhu yang amat panas, bisa lebih dari 1.000° Celcius. Ketika abu vulkanik yang mengandung partikel kaca masuk ke dalam mesin, partikel itu akan langsung meleleh dan menjadi cairan kaca.

Cairan kaca dari abu vulkanik ini lantas mengalir ke bilah turbin belakang, mendingin, dan membeku kembali menjadi kerak kaca keras. Akibatnya, aliran udara akan tersumbat oleh kerak kaca ini, kompresi pun menjadi kacau dan membuat mesin pesawat kehilangan tenaga hingga mati total di udara.

2. Menyumbat Sensor Kecepatan

Abu vulkanik yang padat bisa menganggu sensor untuk mengukur kecepatan pesawat lantaran tabung pitot (pitot tube) tersumbat. Jika itu terjadi, indikator kecepatan di kokpit akan kacau bahkan mati. Situasi ini sangat berbahaya karena pilot akan sangat kesulitan mengendalikan pesawat.

Ilustrasi pesawat

Ilustrasi pesawat. FOTO/iStockphoto

3. Kaca Kokpit Menjadi Buram

Efek sandblasting alias kaca kokpit menjadi buram dan memutih bakal terjadi jika pesawat nekat menembus abu vulkanik di udara. Sifat abu vulkanik yang abrasif ibarat amplas yang dengan sangat cepat menggesek kaca maupun badan pesawat.

Akibat dari gesekan kilat tersebut, kaca pun akan buram bahkan memutih dengan cepat yang membuat jarak pandang pilot terganggu total. Bisa dibayangkan, situasi ini akan menimbulkan dampak fatal, termasuk ketika pesawat akan melakukan pendaratan darurat.

4. Udara Kabin Terkontaminasi

Abu vulkanik mengandung gas asam dan logam berat yang bisa menembus sistem penyaringan lalu mencemari kabin di dalam pesawat. Lantaran sistem pendingin (AC) pesawat mengambil udara dari luar, situasi ini menjadi berbahaya bagi semua orang yang ada di dalam kabin. Udara kabin tercemar zat berbahaya dan diperlukan masker oksigen darurat sebagai upaya penyelamatan.

Baca juga artikel terkait ERUPSI ANAK KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Byte
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Yantina Debora