tirto.id - Sejak Jumat (4/9/2026) malam, terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dan terpantau masih berlangsung hingga Minggu (6/9/2026). Dampak letusan ini pun mulai terasa. Untuk itu, ada baiknya ketahui bahaya erupsi gunung api dan pahami langkah-langkah mitigasinya, termasuk menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) beserta isinya.
Gunung Anak Krakatau hanya merupakan salah satu dari banyaknya gunung api yang ada di Indonesia. Hal ini karena Nusantara terletak di zona sabuk sirkum-pasifik atau yang juga dikenal dengan ring of fire (cincin api). Alasan disebut cincin api lantaran kawasan ini memiliki 75 persen gunung berapi yang ada di dunia.
Cincin api atau ring of fire adalah rentetan gunung berapi berbentuk tapal kuda sejauh 40.000 km di sepanjang tepian Samudra Pasifik dari selatan hingga utara, meliputi Kepulauan Tonga dan New Hebrides, Indonesia, Filipina, Jepang, Kepulauan Kuril, hingga Kepulauan Aleut.

Sebagian besar lempeng di zona ring of fire merupakan zona subduksi. Zona subduksi adalah tempat saat satu lempeng litosfer samudera (kerak dan mantel paling atas) didorong ke bawah lempeng lain.
Saat didorong ke dalam mantel, lempeng akan memanas dan semua air serta bahan volatil lainnya mendidih lalu naik melalui pelat di atasnya.
Penambahan material mudah menguap seperti air ke mantel bagian atas yang panas menimbulkan produksi magma. Magma ini sewaktu-waktu bisa naik melalui lempeng di atasnya untuk meletus ke permukaan.
Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng.
Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya.
Bahaya Letusan Gunung Api
Perlu diketahui, gunung berapi yang meletus memiliki dua jenis bahaya berdasarkan waktu kejadian, yaitu bahaya primer dan sekunder. Berikut ini adalah bahaya dari gunung meletus, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB):
1. Aliran Lava
Lava adalah magma yang meleleh ke permukaan bumi melalui rekahan, suhunya >10000 celsius dan dapat merusak segala bentuk infrastruktur yang ada.
2. Awan Panas
Awan panas adalah aliran material vulkanik panas yang terdiri atas batuan berat, ringan (berongga) larva masif dan butiran klastik yang pergerakannya dipengaruhi gravitasi dan cenderung mengalir melalui lembah.
3. Gas Beracun
Gas beracun adalah gas vulkanik yang mematikan seketika apabila terhirup dalam tubuh. Gas tersebut antara lain, CO2, SO2, Rn, H2S, HCl, HF, H2SO4. Gas tersebut biasanya tidak berwarna dan tidak berbau.
4. Lahar Letusan
Lahar letusan terjadi pada gunung berapi yang mempunyai danau kawah, terjadi bersamaan saat letusan berlangsung. Air bercampur material lepas gunung berapi mengalir dan bentuk banjir lahar.

5. Lontaran Material (pijar)
Lontaran material terjadi ketika letusan magmatik berlangsung. Suhu mencapai 200 derajat celsius, diameter lebih dari 10 cm dengan daya lontar ratusan kilometer.
6. Hujan Abu Vulkanik
Material abu vulkanik tampak halus karena terdiri dari partikel-partikel yang amat kecil. Sebaran abu vulkanik ini bergerak sesuai arah angin dan dapat menimbulkan dampak serius bagi manusia.
Mitigasi Bencana Erupsi Gunung Api
Berikut ini panduan mitigasi ketika terjadi bencana erupsi gunung api:
Sebelum Bencana Erupsi
- Simak arahan dari otoritas terkait dan ikuti perkembangan aktivitas gunung api, termasuk status gunung api, melalui aplikasi resmi seperti Magma Indonesia.
- Pahami jalur evakuasi dengan mengenali rute evakuasi, lokasi titik kumpul, dan pos pengungsian terdekat yang sudah ditentukan oleh otoritas setempat.
- Siapkan rencana darurat, tentukan tempat bertemu dengan anggota keluarga jika terpisah saat terjadi bencana.
- Siapkan Tas Siaga Bencana (TSB) dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau oleh seluruh anggota keluarga.
- Siapkan masker dan kacamata pelindung sebagai tindakan antisipasi.
- Siapkan dukungan logistik, antara lain makanan siap saji, lampu senter dan baterai cadangan, uang tunai yang cukup serta obat-obatan.

Saat BencanaErupsi Terjadi
- Patuhi rekomendasi otoritas, segera mengungsi jika berada di dalam radius bahaya yang telah ditetapkan.
- Lindungi diri dari abu vulkanik dengan masker (minimal N95) atau kain basah untuk menutup hidung dan mulut.
- Gunakan kacamata pelindung (jangan gunakan lensa kontak karena abu bisa menggores mata).
- Kenakan pakaian tertutup yang melindungi tubuh seperti jaket atau baju lengan panjang, celana panjang, topi, jas hujan, dan lainnya.
- Jika tidak diwajibkan mengungsi, tetaplah di dalam rumah/ruangan. Tutup semua pintu, jendela, dan lubang ventilasi agar abu tidak masuk.
- Hindari daerah lembah/sungai. Jauhi aliran sungai yang berhulu di puncak gunung untuk menghindari bahaya lahar dingin.
- Hindari tempat terbuka dan lindungi diri dari abu letusan gunung api.
Setelah BencanaErupsi
- Tetap berada di pos pengungsian sampai ada pernyataan resmi dari pihak berwenang bahwa situasi sudah aman.
- Jika sudah kembali ke rumah, segera bersihkan endapan abu tebal di atap karena bebannya bisa merubuhkan bangunan.
- Tetap hindari wilayah aliran sungai jika terjadi hujan lebat di area puncak gunung (lahar dingin).
Pentingnya Tas Siaga Bencana
Tas Siaga Bencana (TSB) sangat penting disiapkan sebagai tindakan berjaga-jaga jika bencana erupsi gunung api terjadi. Jika memungkinkan, pakai tas tahan air (waterproof) untuk bertahan hidup minimal selama 3 hari pertama saat bantuan belum datang.
Tas siaga bencana berisi barang-barang pokok dan penting yang wajib ada ketika sebuah bencana atau kondisi darurat terjadi sesuai kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Isinya bisa meliputi:
Kebutuhan Dasar dan Obat-obatan
- Dokumen penting seperti sertifikat tanah, ijazah, Kartu Keluarga, KTP, dan surat berharga lainnya, masukkan ke dalam plastik kedap air. Jika perlu, simpan salinan digitalnya di komputer/laptop, gawai, email, atau cloud.
- Air minum, minimal 3 liter per orang untuk kebutuhan minum dan sanitasi darurat.
- Makanan siap saji seperti makanan kaleng, biskuit, atau sereal yang tahan lama dan tidak perlu dimasak.
- Kotak P3K berupa obat-obatan pribadi, obat merah, perban, minyak kayu putih, obat penurun panas, dan lainnya.
- Siapkan juga uang tunai secukupnya karena mesin ATM kemungkinan besar mati saat listrik padam.

Perlengkapan Pelindung dan Sanitasi
- Masker N95 dan kacamata sangat penting untuk menghadapi paparan abu vulkanik.
- Pakaian dan selimut, siapkan minimal 2-3 pasang pakaian ganti, jaket, dan selimut tipis, untuk masing-masing anggota keluarga.
- Perlengkapan sanitasi seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi, tisu basah/kering, dan pembalut (untuk wanita).
Alat Komunikasi dan Navigasi
- Siapkan senter dan baterai cadangan untuk pencahayaan darurat saat listrik padam.
- Jika memungkinkan, siapkan radio portable (dengan menggunakan baterai) untuk memantau informasi perkembangan bencana dari otoritas setempat.
- Ponsel dan powerbank untuk cadangan pengisi daya.
- Peluit untuk memberi sinyal bantuan jika terjebak atau terpisah.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id

































