tirto.id - Gunung Piramid Bondowoso menjadi perhatian publik setelah 2 orang pendaki ditemukan meninggal dunia. Gunung yang terletak di Jawa Timur ini terkenal memiliki jalur ekstrem yang dinamakan Punggung Naga dan merupakan salah satu jalur pendakian paling mematikan di Indonesia.
Dikutip dari Antaranews, Selasa (4/8/2026), dua pendaki yang sempat dilaporkan hilang tersebut ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dasar tebing dengan kedalaman sekitar 60 meter.
"Setelah tim SAR gabungan melakukan penyisiran, pada pukul 12.13 WIB kedua korban berhasil ditemukan (meninggal) sekitar 170 meter dari lokasi kejadian. Korban berada di dasar tebing dengan kemiringan sekitar 40 derajat dan kedalaman kurang lebih 60 meter," sebut Koordinator Pos SAR Jember Jefriyanzah.
Mengenal Gunung Piramid Bondowoso
Gunung Piramid terletak di Desa Ardisaeng, Kecamatan Pakem, Kabupaten Bondowoso. Jawa Timur. Gunung ini dinamakan “Piramid” karena bentuknya menyerupai piramida simetris jika dilihat dari kejauhan.
Secara topografi, Gunung Piramid Bondowoso merupakan sebagai salah satu bukit karst atau jajaran puncak yang berada di lereng sisi timur dari megavolkano raksasa Argopuro.
Keunikan bentuk Gunung Piramid Bondowoso dengan pemandangan alam yang menakjubkan memang menjadi daya tarik bagi mereka yang menyukai tantangan dan terbiasa naik gunung.
Dari puncak Gunung Piramid Bondowoso, lanskap pegunungan yang mencakup Gunung Raung, Gunung Ijen, serta hamparan hijau, terlihat amat menawan.

Selain itu, flora dan fauna juga bisa ditemui di sekitar jalur Gunung Piramid Bondowoso. Beberapa satwa liar, seperti burung elang dan lutung jawa, bisa dijumpai selama mendaki.
Gunung Piramid Bondowoso juga menyimpan nilai historis dan budaya. Gunung ini sering dikaitkan dengan cerita rakyat setempat.
Gunung Piramid Bondowoso berada di ketinggian 1.521 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dan diapit Gunung Salak, Gunung Krincing, dan Gunung Saeng. Kendati tidak terlalu tinggi, Gunung Piramid Bondowoso memiliki jalur dengan karakter yang menantang.
Lantaran medan yang amat berbahaya dan berisiko tinggi, Perum Perhutani sebenarnya telah menutup secara resmi jalur pendakian Gunung Piramid Bondowoso sejak Mei 2025 lalu.
Kawasan yang merupakan bagian dari gugusan Pegunungan Argopuro, atau yang secara geografis dikenal sebagai Kompleks Pegunungan Hyang-Argapura, ini belum dikembangkan sebagai objek wisata resmi. Masyarakat diimbau keras untuk tidak mendaki demi keselamatan.
Punggung Naga: Jalur Ekstrem Gunung Piramid Bondowoso
Gunung Piramid Bondowoso terkenal dengan jalur ekstrem yang kerap disebut sebagai jalur "Punggung Naga". Nama “Punggung Naga” sendiri muncul karena bentuk jalur yang khas.
Berawal dari wilayah Desa Tegal Tengah, jalur berbahaya ini memiliki kontur yang memanjang, sempit, dan bergelombang sehingga mirip tulang punggung naga raksasa.
Jalurnya memang sangat berbahaya, lebar jalan setapak di atas punggungan bukit sangat sempit, hanya berkisar antara 30 hingga 60 sentimeter. Selain itu, di sepanjang jalur tidak ada pohon besar, pagar, atau tali pengaman permanen di sepanjang jalur ini untuk berpegangan.
Sisi kanan dan kiri jalur Punggung Naga pun langsung berbatasan dengan jurang vertikal sedalam 150 hingga 200 meter. Bahkan, di beberapa titik punya sudut kemiringan tanah berpasir yang sangat curam. Semakin mendekati puncak, jalan menjadi lebih curam dan licin, nyaris vertikal.
Selain itu, tanah di sepanjang jalur Punggung Naga ini cenderung berpasir dan mudah tergerus sehingga berbahaya saat musim hujan atau ketika cuaca lembap.
Untuk bisa mencapai puncak Gunung Piramid Bondowoso, kemungkinan diperlukan waktu sekitar 3 hingga 4 jam. Namun, durasi ke puncak ini juga tergantung kepada cuaca.
Jika sedang terjadi angin kencang, kabut, atau bahkan cuma hujan ringan, jalur Punggung Naga menjadi jauh lebih berbahaya karena minimnya jarak pandang atau daya tahan orang yang nekat mendakinya.
Beberapa Insiden di Jalur Punggung Naga
Jalur Punggung Naga di Gunung Piramid Bondowoso dilarang total oleh Perum Perhutani karena memiliki risiko keselamatan fatal (titik mati) akibat karakteristik medannya yang sangat ekstrem. Kawasan ini berstatus hutan lindung dan bukan merupakan jalur resmi pendakian.
Sebelum ditutup sejak Mei 2025 lalu, pendakian di Gunung Piramid Bondowoso sebenarnya tidak pernah dibuka secara resmi, namun belum ada larangan yang terlalu ketat juga.
Dulu, manajemen pendakian dikelola secara swadaya dan terbatas oleh masyarakat setempat. Pendaki ddiwajibkan melapor ke pos desa demi alasan pemantauan keamanan, namun bukan berarti jalur tersebut legal atau mengantongi izin resmi Perhutani.
Beberapa kejadian yang tidak diinginkan pernah terjadi di Gunung Piramid Bondowoso. Pada 2019, misalnya, pendaki remaja bernama Thoriq Rizki Maulidan hilang dan ditemukan meninggal dunia di dalam jurang.

Usai peristiwa itu, imbauan untuk tidak mendaki mulai diperketat. Namun, karena belum ada penutupan fisik secara permanen, para pendaki yang didorong tren media sosial masih sering mencuri kesempatan untuk mendaki secara ilegal lewat jalur-jalur tikus.
Setahun berselang, pada 2000, terjadi insiden lagi. Seorang pendaki bernama Multazam juga terjatuh dari Punggung Naga dan harus kehilangan nyawa.
Yang terbaru, pada Agustus 2026, dua pendaki bernama Maliya Finda asal Surabaya dan Irfan Nasrul asal Bondowoso, ditemukan meninggal dunia di dasar jurang sedalam 60 meter setelah tergelincir akibat medan ekstrem di jalur Punggung Naga.
Kondisi medang Gunung Piramid yang sangat ekstrem membuat jalur ini kemungkinan tidak akan pernah bisa dibuka untuk umum, kecuali jika nantinya dibangun infrastruktur keamanan standar internasional dan dinilai sudah layak untuk pendakian atau wisata.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id





































