tirto.id - Seorang pendaki gunung legendaris asal Nepal, Nirmal “Nimsdai” Purja, dinyatakan meninggal dunia setelah tertimbun longsoran salju. Ini terjadi ketika dirinya memimpin ekspedisi di Broad Peak, Pakistan, bersama para pendaki lainnya.
Nirmal Purja dikenal sebagai pemegang rekor pendakian tercepat ke 14 gunung tertinggi di dunia atau 14 peaks. Pencapaiannya ini bahkan diangkat dalam film dokumenter Netflix 14 Peaks: Nothing Is Impossible.
Dalam ekspedisi terbarunya ini, Nirmal Purja memimpin tim yang beranggotakan 10 pendaki saat mendaki Broad Peak setinggi 8.051 meter di wilayah Gilgit-Baltistan, Pakistan utara, Kamis (30/7/2026) lalu.
Nahas, longsoran salju terjadi ketika rombongan berada di jalur pendakian sehingga menyebabkan seluruh anggota tim sempat dinyatakan hilang. Kabar duka pun kemudian diumumkan perusahaan ekspedisinya, Elite Exped, melalui media sosial pada Sabtu (1/8/2026) lalu.
Melansir Aljazeera (2/8/2026), perusahaan tersebut mengenangnya sebagai seorang pemimpin yang telah “menginspirasi jutaan orang melalui keberanian dan kerendahan hatinya”.
Tak hanya itu, Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, turut mengatakan bahwa keberanian, dedikasi, dan kontribusi para pendaki akan tetap menjadi inspirasi, meskipun perjalanan fisik mereka telah berakhir.
Untuk mengenang sosok Nirmal Purja, para siswa dan guru berkumpul di sekitar fotonya di Sekolah Small Heaven di distrik Chitwan, Nepal, pada Minggu (2/8/2026). Mereka menyalakan lilin dan meletakan bunga di tempat Nirmal Purja tinggal selama 8 tahun sebelum bergabung dengan Gurkha.
Duka tak hanya dirasakan warga Nepal dan sekitarnya, tetapi juga komunitas pendaki gunung global. Kabar kematian Nirmal Purja turut mengejutkan para pendaki, pencinta petualangan, dan juga pendukungnya di seluruh dunia.
Nirmal Purja: Prajurit Himalaya Jadi Pendaki Paling Dipuja
Nirmal Purja atau yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Nims, lahir di Dana, sebuah desa di distrik Myagdi, Nepal, dekat pegunungan Dhaulagiri, pada 25 Juli 1983. melansir Nepal News (1/8/2026), Nims lahir dalam keluarga Magar yang orang tuanya berasal dari kasta yang berbeda.
Sekitar tahun 1983 hingga 1987, dia menghabiskan tahun-tahun awal kehidupannya di Dana, sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Kemudian, pada 1987, keluarganya pindah ke distrik Chitwan dan di sanalah Nims dibesarkan.
Nims bersekolah di sekolah berbahasa Inggris sederhana yang biaya pendidikannya dibantu oleh saudara-saudaranya. Menurut pengakuannya sendiri, dilansir dari artikel lain tentangnya di Nepal News (1/8/2026) yang ditulis oleh Binod Dhakal, dia bukanlah anak laki-laki yang bermimpi mendaki Everest.
Impiannya adalah menjadi seorang Gurkha. Pasalnya, ayahnya pernah bertugas sebagai Gurkha, brigade tentara Nepal yang terkenal yang direkrut ke dalam militer Inggris sejak abad ke-19. Bukan hanya karena sang ayah, melainkan karena 3 kakak laki-laki Nims juga mengikuti jejak yang sama.
Tahun 2003, ketika Nims berusia 18 tahun, dia mendaftar Gurkha dan dikirim untuk pelatihan di Catterick di utara Inggris, gerbang tradisional menuju Angkatan Darat Inggris bagi rekrutan muda Nepal.
Di sana, Nims bertugas selama 6 tahun di Queen's Gurkha Engineers. Kemudian, pada 2009, dia lulus seleksi untuk Special Boat Service (SBS), unit pasukan khusus Angkatan Laut Kerajaan.
Nims juga menjadi salah satu komando paling rahasia di militer Inggris, menjadi Gurkha pertama yang pernah mengenakan lencananya. Dia lalu menghabiskan sekitar 1 dekade di sana, berlatih sebagai spesialis perang cuaca dingin dan dikerahkan ke medan operasi, termasuk Afghanistan.
Mulanya, pendakian gunung bukan menjadi minatnya. Namun, ketika cuti dari SBS pada Desember 2012, Nims melakukan sesuatu di luar yang dia rencanakan.
Nims awalnya hanya melakukan perjalanan sederhana menuju Basecamp Everest. Namun, di tengah perjalanan, dia berubah pikiran dan membujuk pemandunya untuk membiarkannya mencoba puncak Lobuche East yang berada di dekatnya.
Setelah turun dari sana, dia menyadari bahwa tubuhnya mampu mengatasi ketinggian dengan sangat baik. Berselang 2 tahun kemudian (Mei 2014), Nims berdiri di puncak Dhaulagiri, gunung tertinggi ketujuh di dunia sekaligus puncak yang menjulang di atas desa tempat dia dilahirkan.
Pendakian gunung berketinggian 8 ribu meter pertamanya itu sekaligus mengawali langkah-langkah pendakian Nims selanjutnya. Tahun 2018, Nims meninggalkan militer dan pensiun.
Rekor dan Pencapaian yang Membuka Mata Dunia
Perjalanan pendakian Nims dilakukan dengan biaya yang terbatas, hingga dia menggadaikan rumahnya untuk menambah biaya. Dukungan sponsor pun sangat minim di awal. Ia kemudian membangun Project Possible.
Project Possible yang digagasnya bertujuan menaklukkan 14 puncak yang semuanya berada di atas 8.000 meter. Dimulai dari Annapurna pada April 2019, Nims berhasil menyelesaikan proyek ini di Shishapangma pada 29 Oktober 2019 dalam waktu 6 bulan 6 hari.
Capaian ini tak pelak turut membuat Reinhold Messner kagum. Dia adalah seorang pendaki Italia yang setengah abad sebelumnya menjadi orang pertama yang mendaki ke-14 gunung dengan ketinggian lebih dari 8.000 meter tersebut. Messner memuji tidak hanya kecepatan pencapaian Nims, tapi juga logistik dan kepemimpinan di baliknya.
Rekor ini bukan hanya tentang pendakian gunung. Melansir laman Open (1/8/2026), Nims ingin meyakinkan orang-orang biasa bahwa mimpi luar biasa itu layak dikejar.
Yayasan Nimsdai, yayasan yang dibentuk Nirmal Purja, mengatakan bahwa Nims ingin menunjukkan kepada dunia “apa yang mungkin terjadi ketika berani bermimpi lebih besar, percaya pada diri sendiri, dan menolak menerima keterbatasan.”
Nims telah menginspirasi banyak orang. Buku memoarnya, Beyond Possible, yang diterbitkan pada November 2020 menjadi buku terlaris di Inggris. Namanya juga dikenal melalui film dokumenter Netflix tahun 2021, 14 Peaks: Nothing Is Impossible.
Pada 2022, Nims mendirikan Yayasan Nimsdai yang berperan menyalurkan dana untuk komunitas pendaki gunung dan porter di seluruh Nepal, Pakistan, dan Inggris Raya. Tak terkecuali yakni pembangunan rumah peristirahatan bagi pekerja di ketinggian di sepanjang jalur menuju Basecamp Everest.
Selamat Jalan Sang Legenda
Pencapaian Nims telah membuka mata dunia tentang ketidakmungkinan. Nims telah mengajak banyak orang untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan tidak menyerah pada keterbatasan.
Namun, kini dia telah berpulang. Dia meninggal pada salah satu ekspedisinya. Meski perjalanan fisiknya telah terhenti, inspirasinya justru semakin dikenal di seluruh belahan dunia.
Melansir laman Life Himalaya Trekking (2/8/206), tragedi yang merenggut nyawanya itu terjadi di bagian Pakistan dari Pegunungan Karakoram di Broad Peak dengan ketinggian 8.051 meter. Terjadi longsoran di antara Camp II dan Camp III di Broad Peak selama pendakian timnya menuju puncak.
Tak lama setelah longsoran salju, tim ekspedisi Nims kehilangan komunikasi. Selama pencarian, tim pencari menghadapi salju tebal, bahaya longsor salju, dan kondisi penerbangan yang terbatas.
Kemudian, setiap kali cuaca membaik, area tersebut dicari menggunakan helikopter militer dan dengan bantuan pendaki gunung lokal yang berpengalaman. Selain itu, tim udara juga dikerahkan mencari bagian-bagian area longsoran salju.
Namun, pencarian di area longsoran salju itu terlalu berisiko untuk mencoba menyelamatkan korban karena salju yang tidak stabil dan medan yang curam. Peluang untuk selamat dari longsoran salju pun tidak tinggi akibat cuaca dan ketinggian. Operasi itu berlangsung selama beberapa hari hingga akhirnya mereka mengonfirmasi nasib para pendaki yang hilang tersebut.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id































