tirto.id - Salju abadi di Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah, ternyata tidak benar-benar kekal. Lapisan es unik ini diramalkan bakal punah dalam waktu dekat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa lapisan es di Puncak Jayawijaya kemungkinan besar akan hilang total pada akhir 2026 atau awal 2027.
"Tidak lama lagi, Indonesia mungkin akan kehilangan es abadinya untuk selamanya," demikian tulis BMKG dalam postingan di akun Instagram resminya, Minggu (5/7/2026).
Kondisi gletser atau lapisan es di dekat puncak Jayawijaya ini kian mengkhawatirkan. Padahal, ini adalah satu-satunya lapisan es yang dimiliki Indonesia. Di kawasan tersebut, terdapat Carstensz Pyramid, puncak gunung tertinggi di Indonesia yang masuk dalam daftar World Seven Summits (7 puncak tertinggi di dunia).
Selain itu, gletser ini merupakan satu-satunya gletser tropis di wilayah Pasifik Barat, yang posisinya berada di antara Pegunungan Andes (Amerika Selatan) dan Pegunungan Himalaya (Asia). Sayangnya, julukan "salju abadi" tersebut kini terancam tinggal kenangan karena ketebalannya terus menyusut dari tahun ke tahun.
Pemanasan Global vs Penyusutan Gletser di Dunia
Fenomena ini bukanlah kasus lokal semata, melainkan bagian dari krisis global. Laporan “Climate Chronicles” dari jurnal Nature Reviews Earth & Environment mencatat bahwa gletser di seluruh dunia telah kehilangan sekitar 408 gigaton es. Catatan ini menempatkan tahun tersebut sebagai salah satu periode terburuk dalam hal pencairan es sejak pencatatan pertama dimulai pada 1975.
Pakar Hidrometeorologi dan Klimatologi Lingkungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., mengungkapkan, gletser di belahan bumi utara maupun selatan terus mengalami penyusutan massal, baik dari segi luas maupun ketebalan.
Di wilayah tropis sendiri, hanya ada dua kawasan gunung es yang mengalami degradasi paling signifikan, yaitu Gunung Kilimanjaro di Afrika dan Puncak Jaya di Indonesia.
Lantas, mengapa lapisan es tropis cepat mencair? Menurut Dr. Emilya, ada beberapa faktor utama yang mendorong percepatan mencairnya gletser. Penurunan nilai albedo menjadi salah satu faktornya. Albedo adalah kemampuan memantulkan radiasi matahari. Es atau gletser adalah penutup lahan dengan nilai albedo terbesar.
Alih-alih diserap, radiasi gelombang pendek matahari seharusnya dipantulkan kembali ke atmosfer. Namun, pengalihan fungsi lahan yang masif di bumi menurunkan nilai albedo ini. Akibatnya, terjadi penumpukan energi radiasi di atmosfer yang memicu pemanasan global.
“Penggunaan atau penutupan lahan di permukaan bumi yang masif membuat nilai albedo yang dikembalikan ke atmosfer menurun sehingga terjadi penumpukan energi radiasi di atmosfer, kemudian terjadi pemanasan global, dan menyebabkan mencairnya gletser,” jelas Dr. Emilya, dikutip dari laman UGM.
Faktor berikutnya adalah laju pemanasan global. Data BMKG menunjukkan, kenaikan suhu global telah mencapai 1,45°C di atas rata-rata masa pra-industri.
Di Indonesia sendiri, suhu rata-rata naik 0,15°C per 10 tahun. Jika tren ini berlanjut, Indonesia diproyeksikan melampaui ambang batas kritis mitigasi perubahan iklim sebesar 1,5°C pada pertengahan abad ke-21.
Kronologi Menyusutnya Puncak Es Jayawijaya
Ketebalan gletser salju abadi di puncak Jayawijaya terus mencair dari tahun ke tahun. Francine Hematang, akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Papua, mengatakan, dari 8 gletser yang pernah tercatat di Papua, kini sebagian besar telah hilang.
Analisis citra satelit terbaru menunjukkan bahwa sejak 1980 hingga 2024, kawasan Puncak Jaya telah kehilangan sekitar 97% tutupan esnya.
Data BMKG mencatat, tahun 1988, gletser tropis di Jayawijaya membentang seluas 4,3 km2. Tahun 2010, dilakukan ekspedisi bersama oleh BMKG dan beberapa lembaga internasional seperti Byrd Polar and Climate Research Center (BPCRC) serta Lamont-Doherty Earth Observatory (LDEO) Columbia University. Saat itu, ketebalan es puncak diperkirakan masih sekitar 32 meter.
Raden Dwi Susanto, yang kala itu peneliti dari Columbia University, menjabarkan hasil ekspedisi tahun 2010 tersebut. Dikutip dari tulisan Christopel Paino di laman Mongabay (17/6/2020), Susanto, mengatakan bahwa penyusutan ketebalan atau luas gletser puncak Jayawijaya terjadi dengan cukup cepat.
Sepanjang 2010 hingga 2015, es menipis rata-rata 1 meter per tahun. Pada periode ini, jembatan es yang menghubungkan dua sisi gunung di bagian tengahnya mulai terputus dan hilang. Kemudian pada 2015–2016, laju penipisan es melonjak drastis hingga 5 meter dalam setahun akibat hantaman kuat fenomena iklim El Nino.
“Suhu udara dan curah hujan sangat besar pengaruhnya. Gletser atau gunung es Papua akan menipis dan hilang, mungkin juga tidak akan sampai 10 tahun," papar Susanto yang kini tercatat sebagai peneliti dari University of Maryland.
“Pengurangan luas es di gletser Papua cepat sekali, terutama disebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Antara 2010 dan 2015, lapisan es yang menyambungkan dua sisi gunung, pada bagian tengahnya mulai hilang,” imbuhnya.
Berikutnya pada 2022, seperti yang disampaikan oleh Donaldi Sukma Permana, Pakar Klimatologi BMKG yang memimpin studi gletser Puncak Jaya, laju penipisan es terus terjadi secara konsisten akibat pemanasan global. Memasuki tahun itu, luas tutupan es yang tersisa hanya sekitar 0,23 km².
Berdasarkan hasil pengukuran langsung menggunakan tongkat ukur (stake) di lapangan oleh BMKG pada 2024, ketebalan es di Puncak Jayawijaya dikonfirmasi semakin kritis dan hanya tersisa sekitar 4 meter. Bahkan, pada September 2025, luas tutupan es terus menyusut drastis hingga menyisakan area sekecil 0,09 km².
Dengan menyisakan ketebalan dan luas yang sangat minimum tersebut, BMKG memprediksi lapisan es ini akan hilang sepenuhnya dalam waktu dekat, diperkirakan pada akhir 2026 atau awal 2027.
Dampak Nyata Lenyapnya Salju Abadi Papua
Gletser Papua merupakan ekosistem unik yang tidak dimiliki banyak negara tropis di dunia. Keberadaannya juga menyimpan nilai ilmiah, ekologis, hingga sosial budaya bagi masyarakat setempat. Hilangnya puncak es ini akan membawa dampak berantai yang nyata:
1. Ancaman Kepunahan Spesies Lokal
Dikutip dari artikel Fikri Kurniawan di laman Ekuatorial, kenaikan suhu lokal memaksa spesies-spesies yang sangat sensitif di sekitar Puncak Jaya untuk bermigrasi ke wilayah yang lebih tinggi demi bertahan hidup.
Akan tetapi, karena Puncak Jaya adalah titik tertinggi, mereka tidak bisa naik lebih jauh lagi. Spesies-spesies endemik asli Papua ini menghadapi risiko kepunahan lokal karena kehabisan ruang hidup yang ideal.
2. Gangguan Siklus Hidrologi Regional
Meskipun mencairnya puncak es Jayawijaya di Papua tidak berdampak langsung pada kenaikan permukaan air laut global karena volumenya yang relatif kecil, namun hilangnya gletser ini bisa merusak sistem hidrometeorologi lokal.
Dilansir Mongabay, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), Sri Tantri Arundhati, mengingatkan, hilangnya es pegunungan sangat berpotensi mengganggu keseimbangan air tawar lokal.
Kondisi ini dapat mengubah pola curah hujan setempat, mengganggu stabilitas aliran sungai yang bersumber dari puncak gunung, serta mengancam habitat satwa dan lahan pertanian masyarakat adat di sekitarnya.
3. Dampak Kultural dan Keretakan Spiritual
Bagi masyarakat adat Papua, Puncak Jaya adalah tempat yang sangat sakral. Dalam kosmologi lokal, puncak gunung yang memutih tertutup es melambangkan kesucian dan rumah bagi roh para leluhur.
Ketika warna putih salju itu hilang dan berganti menjadi batuan hitam yang gersang, masyarakat lokal merasakannya sebagai sebuah dampak eksistensial yang mendalam, sebuah simbol keretakan hubungan spiritual antara manusia, adat, dan alam.
Ancaman kepunahan salju abadi ini menjadi lonceng peringatan keras bahwa krisis iklim bukan lagi wacana di masa depan, melainkan realitas yang sedang merenggut identitas alam dan budaya Indonesia.
Pada akhirnya, hilangnya es di Puncak Jaya adalah kehilangan besar bagi sains, ekologi, dan spiritualitas masyarakat adat yang sulit untuk dipulihkan kembali.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id






























