tirto.id - Bayangkan sebuah danau yang, saking luasnya, memiliki lebih dari seribu pulau, menjadi habitat alami ratusan spesies, dan menghidupi sedikitnya 60 ribu nelayan sekitar. Sekitar 66 tahun lalu, danau tersebut menjadi danau terbesar keempat di dunia. Akan tetapi, kini sepertiga dari danau tersebut telah berubah menjadi gurun.
Itulah Laut Aral, sebuah danau yang mengering dalam waktu luar biasa singkat. Dulu, luas danau tersebut diperkirakan seluas negara Republik Irlandia (70.273 km²). Kini, yang tersisa hanya seluas negara Siprus (9.251 km²).
Yang terjadi pada Laut Aral pun, tak pelak, disebut sebagai salah satu bencana ekologi terbesar abad ke-20. Namun, negara-negara "pemilik" danau tersebut tak tinggal diam. Mereka kini tengah bekerja keras, berpacu dengan waktu, menghidupkan kembali ekosistem yang dulu pernah jadi sumber kehidupan bagi banyak makhluk.
Menyusutnya Laut Aral
Laut Aral sejatinya merupakan sebuah cekungan besar di gurun. Dulu, airnya berasal dari aliran dua sungai besar, Amu Darya dan Syr Darya, yang membawa lelehan salju dari pegunungan. Sungai-sungai itulah yang menghidupi danau sekaligus menjaganya tetap besar selama ribuan tahun.
Namun, semua berubah akibat tingkah polah Uni Soviet yang kala itu menguasai wilayah tersebut. Gurun di sekitar Laut Aral disulap menjadi ladang kapas. Untuk mengairi ladang tersebut, pemerintah Uni Soviet, pada 1950-an dan 1960-an, membangun bendungan dan kanal untuk membelokkan aliran sungai. Air yang mestinya mengalir penuh ke Laut Aral lambat laun menyusut karena kapas sangat haus air.
Sebelum 1965, lebih dari 2.000 kilometer persegi air tawar mengalir ke Laut Aral setiap tahunnya. Namun, pada 1980, angka itu menyusut hingga nyaris nol. Situasi itu pun secara langsung menghantam industri perikanan di sana. Pada 1977, sebelum ada kanal dan bendungan, hasil tangkapan ikan di Laut Aral anjlok hingga 75 persen. Lalu, pada 1980, semua itu tinggal kenangan.
Menurut hidrolog Philip Micklin—riset-risetnya menjadi rujukan utama dunia ilmiah soal Laut Aral—sejak 1960, danau tersebut telah kehilangan 88 persen luas permukaan dan 92 persen volume air.
Dalam salah satu kajiannya, Micklin mencatat bahwa pada September 2009, Laut Aral terpecah menjadi empat badan air terpisah. Permukaan airnya turun lebih dari 26 meter, sementara salinitasnya melonjak lebih dari 20 kali lipat dibanding kondisi semula.
Perpecahan besar pertama sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum itu, tepatnya pada 1987. Danau tersebut terbelah menjadi dua bagian utama: Laut Aral Utara (dengan luasan lebih kecil) di wilayah Kazakhstan serta bagian selatan di wilayah Uzbekistan (lebih luas). Celakanya, setelah Uni Soviet bubar pun industri kapas di wilayah Uzbekistan terus dilanjutkan oleh Islam Karimov sehingga penyusutan air di Laut Aral terus berlanjut.
Sampai akhirnya, Laut Aral yang ada di wilayah Uzbekistan pun tidak lagi berwujud danau, melainkan gurun. Ia dikenal dengan nama Gurun Aralkum, gurun termuda di muka Bumi sekaligus penghasil debu utama di Asia Tengah. Selain debu, gurun tersebut menebarkan zat-zat beracun dari permukaan yang dulunya merupakan dasar danau.

Sebuah kajian lingkungan yang meneliti tanah dan air di Karakalpakstan, wilayah otonom di Uzbekistan, menemukan residu pestisida organoklorin (jenis pestisida lama yang sangat sulit terurai di alam) di atas ambang batas aman pada seluruh sampel air yang diuji. Lebih dari separuh sampel tanah dan sedimen bahkan menunjukkan kadar aldrin (salah satu pestisida terlarang), juga di atas batas aman.
Ukuran pulau tersebut terus membengkak seiring menyusutnya air danau. Pada 2001, luasnya mencapai sekitar 10 kali lipat ukuran awal dan telah menyatu dengan daratan sebagai semenanjung. Ratusan ton spora antraks yang terkubur di pulau itu pun tidak lagi terisolasi oleh air laut seperti dulu. Untungnya, pada 2002, upaya dekontaminasi langsung dilakukan pemerintah Uzbekistan dengan bantuan Amerika Serikat (AS).
Dari sini sudah tergambar betapa toksiknya wilayah yang dulunya jadi Laut Aral bagian selatan itu. Impaknya pun menimpa warga sekitar, khususnya para penduduk Karakalpakstan. Menurut catatan UNDP, berbagai penyakit menjangkiti penduduk wilayah tersebut, mulai dari masalah pernapasan dan pencernaan hingga anemia dan kanker. Angka tuberkulosis di kawasan tersebut bahkan mencapai 147 kasus per 100 ribu penduduk, jauh di atas rata-rata nasional Uzbekistan.
Satu masalah lain yang muncul akibat penyusutan air adalah salinisasi. Tingginya salinitas membuat tanah tidak bisa ditanami. Kombinasi kekeringan, salinitas tinggi, dan hilangnya lahan pertanian subur, berpengaruh pada kondisi perekonomian warga. Data PBB menyebut, kemiskinan di wilayah sekitar Aralkum mencapai 44 persen.
Upaya Menghidupkan Kembali Laut Aral
Namun, tak semua berita dari Laut Aral merupakan kabar buruk. Di bagian utara, tepatnya yang termasuk wilayah Kazakhstan, Laut Aral mulai hidup kembali.
Semua itu bermula dari satu keputusan penting yang diambil pemerintah Kazakhstan pada 2003 dengan menggandeng Bank Dunia. Alih-alih menyelamatkan seluruh Laut Aral, mereka memilih fokus pada satu bagian saja, yaitu Laut Aral Utara, yang masih sedikit mendapat asupan air dari Sungai Syr Darya.
Para ahli hidrologi Bank Dunia kala itu menghitung, secara realistis, memulihkan seluruh laut ke kondisi sebelum 1960 membutuhkan air jauh lebih banyak daripada yang tersedia. Pemulihan sebagian Laut Aral Utara pun dinilai jauh lebih memungkinkan sehingga dimasukkan sebagai proyek tahap pertama.
Maka, pada Agustus 2005, Bendungan Kok-Aral rampung dibangun. Bendungan sepanjang 13 kilometer (ada sumber lain yang mengatakan 12 km) tersebut memisahkan Laut Aral Utara dari sisa laut selatan yang jauh lebih asin dan tercemar.
Menurut riset terbaru dari Jerman, volume Laut Aral Utara kini stabil di sekitar 27,5 kilometer kubik. Luasnya bertambah dari 2.800 kilometer persegi pada 2006 menjadi 3.400 kilometer persegi pada 2020. Sementara itu, salinitasnya turun dari 18 gram per kilogram menjadi 10 gram per kilogram, sudah mendekati kadar garam alami danau tersebut sebelum mengering.
Ikan-ikan yang sempat lenyap pun perlahan kembali ke perairan, seraya membangkitkan kembali industri perikanan. Saat ini, industri perikanan Laut Aral Utara bahkan sudah sanggup menghasilkan lebih dari 8 ribu ton tangkapan per tahun.
Kendati sudah menunjukkan keberhasilan yang nyata, Kazakhstan tak mau berpuas diri. Masih bersama Bank Dunia, mereka menyiapkan proyek revitalisasi fase kedua, termasuk termasuk rekonstruksi Bendungan Kok-Aral untuk menaikkan permukaan air hingga 44 meter.
Jika rencana itu terwujud, luas permukaan Laut Aral Utara diperkirakan mencapai 3.913 kilometer persegi, dengan volume total 34 kilometer kubik. Perdana Menteri Kazakhstan, Olzhas Bektenov, sudah menginstruksikan kementerian terkait untuk memastikan pendanaannya rampung sebelum akhir 2026. Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, secara khusus menyebut pelestarian Laut Aral Utara sebagai salah satu prioritas utama kebijakan air negaranya.

Lain di Kazakhstan, lain pula di Uzbekistan. Di saat Kazakhstan sibuk memperluas permukaan Laut Aral Utara, Uzbekistan tak punya kemewahan serupa. Alih-alih mengisi kembali dengan air, pemerintah Uzbekistan harus puas dengan menanami dasar laut yang kering itu dengan pohon saxaul agar debu beracun tidak beterbangan ke permukiman.
Sejak Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev, meluncurkan program reklamasi besar-besaran pada 2018, lebih dari 1,73 juta hektare hutan sudah ditanam di Gurun Aralkum. Pohon saxaul dipilih karena kemampuannya menahan berton-ton pasir yang berhembus. Badan Kehutanan Uzbekistan bahkan sampai mengumpulkan lebih dari 190 ton benih untuk disebar dari udara maupun ditanam langsung memakai ratusan traktor.
Pada akhirnya, Laut Aral tidak akan pernah jadi seperti semula. Ia kini eksis sebagai pengingat. Ia adalah saksi bisu bahwa manusia, dengan segala ambisinya, mampu mengubah sepertiga dari danau terluas keempat di dunia menjadi gurun. Namun, di sisi lain, Laut Aral juga merupakan saksi dari upaya manusia, dengan ambisi yang sama, mampu mengubah perairan yang telah mati menjadi sebuah ekosistem yang tak cuma hidup, tetapi juga menghidupi.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id































