Menuju konten utama

Banjir Merek Baru GIIAS 2026 dan Konsumen yang Makin Selektif

GIIAS 2026 menjadi panggung riuh jenama baru menawarkan mimpi. Tapi bagi pembeli domestik, kenyamanan purnajual adalah jangkar yang tak bisa ditawar.

Banjir Merek Baru GIIAS 2026 dan Konsumen yang Makin Selektif
Peluncuran merek otomotif baru Lepas (sub-brand Chery Group) yang memamerkan lini kendaraan SUV listrik Lepas E4 di GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (29/7/2026). tirto.id/Qonita Azzahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dari Hall 1-10, langkah kaki para pengunjung GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 seolah tak pernah berhenti. Setiap beberapa meter, mata disambut desain mobil yang futuristis, layar-layar besar yang menampilkan kecanggihan teknologi, deretan mobil listrik dan mobil berbahan bakar bensin (internal combustion engine atau ICE) dari berbagai merek, hingga aksesoris kendaraan bermotor.

Gelaran GIIAS tahun ini memang terasa berbeda. Lebih dari 65 merek otomotif dan 150 merek industri pendukung memenuhi ICE BSD City selama 30 Juli hingga 9 Agustus 2026. Tidak sedikit di antaranya merupakan merek-merek baru yang menjadikan Indonesia sebagai panggung debut.

Namun bagi konsumen, semakin banyaknya pilihan kendaraan justru membuat mereka semakin selektif sebelum menjatuhkan pilihan. Tak sedikit pengunjung yang datang ke GIIAS bukan untuk membeli mobil, melainkan untuk mencari referensi dan melihat perkembangan teknologi otomotif.

Suara Konsumen dari Lantai Pameran

Pengunjung memadati area pameran GIIAS

Pengunjung memadati area pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS). ANTARA/HO/Gaikindo

Indah, seorang karyawan swasta asal Tangerang Selatan, menjadi salah satu pengunjung yang hadir di gelaran GIIAS 2026. Dia mengaku, ini kali keduanya mengunjungi GIIAS. Perempuan 32 tahun itu tertarik datang karena ingin melihat berbagai produk dan inovasi terbaru yang ditawarkan para produsen otomotif.

"Acaranya kelihatan seru dan ramai. Ada banyak hal baru yang bisa dilihat," ujarnya saat berbincang dengan Tirto, Rabu (29/7/2026).

Di garasi rumahnya sudah terparkir sebuah mobil keluarga berwarna hitam, namun setelah melihat jajaran mobil penumpang di mayoritas hall di ICE BSD, mata Indah tetap berbinar. Sambil berangan-angan, Indah mengumpulkan informasi mengenai produk-produk terbaru yang mungkin sesuai dengan kebutuhannya di masa mendatang.

Namun menurutnya, persaingan antara merek-merek Jepang dan China menjadi salah satu hal paling menarik di GIIAS tahun ini.

"Seru sih, karena kita dihadapkan dengan inovasi-inovasi. Jadi tidak monoton hanya melihat satu merek saja, tapi banyak variasi yang bisa menjadi bahan pertimbangan membeli kendaraan ke depannya," katanya.

Indah mengaku cukup tertarik dengan kendaraan listrik. Selain menawarkan teknologi yang semakin canggih, harga mobil listrik juga dinilai semakin kompetitif.

Namun, ada satu faktor yang menurutnya tak bisa ditawar ketika membeli mobil, yakni layanan purnajual. "Yang paling penting after sales-nya. Kalau ada apa-apa jadinya tidak repot," ujar dia.

Meskipun tertarik dengan berbagai merek baru yang hadir di GIIAS 2026, Indah mengaku akan lebih memilih merek yang telah lama beroperasi di Indonesia apabila memiliki anggaran untuk membeli kendaraan.

"Kalau punya anggaran, saya pilih merek yang sudah lama dulu karena sistem dan layanan purna jualnya sudah jelas," katanya.

Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, promo dan diskon juga menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan sebelum membeli kendaraan.

"Promo dan diskon sangat penting. Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang kita harus banyak hitung-hitungan," tambahnya.

Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Muhammad Alvin Syahbananda. Berbeda dengan Indah yang datang sebagai pengunjung, Alvin merupakan tim sales Astra Finance yang bertugas di booth Bank Saqu selama GIIAS 2026.

Tahun ini merupakan tahun ketiganya terlibat dalam pameran otomotif tersebut. Dari pengalamannya, Alvin melihat satu perubahan yang cukup mencolok dibanding beberapa tahun sebelumnya, yakni semakin dominannya merek-merek mobil, khususnya kendaraan listrik, yang meramaikan pameran.

"Hall 1 sampai Hall 10 mobil semua. Kalau motor ada, tapi lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya," ujarnya sembari mengingat-ingat gelaran GIIAS tahun-tahun sebelumnya.

Di sela-sela pekerjaannya, Alvin mengaku sempat tertarik dengan salah satu mobil yang dipamerkan di Hall 9. Ia bahkan masih mengingat warna mobil dari merek Suzuki tersebut yang abu-abu kebiruan, meskipun lupa nama modelnya.

"Desainnya bagus, teknologinya juga lumayan di atas mobil-mobil yang lain," katanya.

Meski begitu, Alvin menilai membeli mobil bukan hanya soal desain yang menarik. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mengeluarkan uang dalam jumlah besar.

"Kalau desain memang menarik perhatian. Tapi kita lihat dulu teknologinya, mesinnya, sampai purna jualnya," ujarnya.

Baginya, nilai jual kembali kendaraan juga menjadi faktor yang penting. Mobil tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga aset yang sewaktu-waktu dapat dijual jika dibutuhkan.

"Kalau ekonomi ke depan kita enggak tahu bagaimana, sewaktu-waktu butuh uang kan mobil bisa dijual lagi dengan harga yang masih bagus," tutur Alvin.

Sementara itu, bagi Iqbal, pekerja swasta asal Kebon Sirih, GIIAS merupakan tempat terbaik untuk melihat arah perkembangan industri otomotif dunia.

Ia mengaku pertama kali mengunjungi GIIAS pada 2021 dan tidak selalu datang setiap tahun. Namun, ketertarikannya terhadap perkembangan teknologi kendaraan membuatnya kembali menyambangi pameran tahun ini.

"Yang membuat saya tertarik lebih kepada keingintahuan soal perkembangan industri otomotif lewat peluncuran mobil-mobil baru maupun fitur-fitur terkini," katanya saat berbincang dengan Tirto.

Iqbal menilai kehadiran merek-merek baru, khususnya dari China, membawa dampak positif bagi industri otomotif Indonesia. Semakin banyak pemain baru, semakin kompetitif pula pasar kendaraan listrik nasional.

Ia mengaku cukup tertarik mengikuti perkembangan teknologi yang dibawa produsen otomotif asal China. Di sisi lain, ia juga berharap dapat melihat lebih banyak inovasi dari produsen Jepang, termasuk pengembangan kendaraan berbahan bakar hidrogen.

Namun, ketertarikannya terhadap perkembangan teknologi tidak serta-merta membuatnya ingin membeli mobil listrik. "Ekosistem kendaraan listrik di Indonesia juga belum merata. Ada kekhawatiran kalau ada trouble di jalan. Kemudian teknisi kita juga masih lebih banyak yang paham mobil BBM dibandingkan mobil listrik," ujarnya.

Saat memilih kendaraan, Iqbal lebih mengutamakan harga, fitur keselamatan, dan kemudahan perawatan. Ia juga masih menjadikan jenama yang telah lama beroperasi di Indonesia sebagai pilihan utama.

"Kalau di Indonesia tentu merek lawas seperti Toyota, Honda, atau Mitsubishi yang menjadi opsi saya," katanya.

Menurutnya, promo yang ditawarkan selama GIIAS juga tidak serta-merta mengubah keputusan pembelian kendaraan. Sebab, masih banyak biaya lain yang harus diperhitungkan setelah membeli mobil. "Di luar promo masih ada pajak dan biaya perawatan yang juga harus dipikirkan," keluh Iqbal.

Ironi Pasar: Suku Bunga Tinggi di Tengah Banjir Jenama

Newsplus GIIAS 2026 dan Perang Merek Mobil Baru

Peluncuran Farizon SV Medium Roof serta Farizon V8E Cargo Van oleh Direktur PT Arista Auto Elektrindo, Christoforus Ronny dalam konferensi pers, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (29/7/2026). tirto.id/Qonita Azzahra

Menanggapi fenomena ini, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai masuknya sejumlah merek baru menjadi salah satu penanda bahwa Indonesia kini menjadi salah satu pasar otomotif yang paling diperebutkan di kawasan Asia Tenggara. Ia mencatat, setidaknya ada enam jenama mobil penumpang yang tampil perdana di GIIAS 2026, yakni BAW, Changan, iCar, Leapmotor, Solarky, dan Zeekr.

"Indonesia sedang menjadi salah satu pasar perebutan utama produsen otomotif global, khususnya produsen Tiongkok yang membawa mobil listrik, teknologi baru, dan siklus peluncuran produk yang sangat cepat," katanya kepada Tirto, Rabu (29/7/2026).

Namun, banyaknya merek baru tidak serta-merta mencerminkan kuatnya pasar otomotif nasional. Menurutnya, terdapat ketimpangan antara peningkatan penawaran kendaraan yang sangat cepat dengan kemampuan permintaan domestik yang masih terbatas.

Pelemahan rupiah disebut meningkatkan biaya komponen kendaraan, sementara tingginya suku bunga membuat cicilan kendaraan menjadi lebih mahal sehingga konsumen cenderung menunda pembelian. Di sisi lain, semakin banyaknya merek baru yang masuk membuat persaingan tidak lagi hanya untuk menarik pembeli baru, melainkan merebut konsumen dari merek yang sudah ada maupun sesama pendatang baru.

"Persaingan tahun ini bukan hanya merebut pembeli baru, tetapi juga memindahkan pembeli dari merek lama atau dari sesama pendatang baru," ujarnya.

Data penjualan wholesales Januari-Juni 2026 menunjukkan dominasi merek Jepang masih cukup kuat. Toyota memimpin dengan pangsa pasar 30,7 persen, diikuti Daihatsu 16,8 persen, Suzuki 8,3 persen, dan Mitsubishi Motors 7,5 persen.

Namun, merek-merek asal China mulai menunjukkan taringnya. BYD telah menguasai 5,3 persen pangsa pasar nasional, disusul Jaecoo sebesar 4 persen, Geely dan Wuling masing-masing 1,9 persen, serta Chery sebesar 1,4 persen.

Josua menilai, keunggulan merek-merek baru terletak pada strategi harga yang agresif, fitur yang lebih lengkap, desain yang cepat diperbarui, serta pilihan kendaraan listrik yang semakin beragam. Sebaliknya, merek Jepang masih unggul dari sisi ketahanan produk, jaringan bengkel, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, dan nilai jual kembali kendaraan.

"Persaingan sesungguhnya bukan sekadar teknologi baru melawan teknologi lama, melainkan harga dan fitur melawan kepercayaan jangka panjang," tutur Josua.

Optimisme Industri dan Basis Strategis Masa Depan

Mazda CX-30 generasi terbaru

Mazda CX-30 generasi terbaru yang dipamerkan pada hari peluncurannya di ajang GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang, Rabu (29/7/2026). (ANTARA/Pamela Sakina)

Sebagai penyelenggara utama GIIAS, Ketua Umum GAIKINDO, Putu Juli Ardika, mengatakan setidaknya ada 10 merek baru yang debut di GIIAS 2026. Tidak hanya menunjukkan betapa besarnya ajang pameran ini, munculnya merek-merek baru juga dinilai menjadi cerminan kian meningkatnya kepercayaan para pelaku industri terhadap potensi industri otomotif nasional.

Kondisi itu didorong pula dengan kinerja industri otomotif yang terus bergeliat. Berdasarkan data GAIKINDO, penjualan domestik kendaraan pada periode Januari-Juni 2026 mencapai 436.564 unit atau tumbuh 15,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 376.344 unit. Di sisi lain, ekspor mobil Indonesia hingga Juni 2026 mencapai 251.705 unit atau meningkat 7,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 233.648 unit.

Sektor komponen otomotif juga mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 112,9 persen secara tahunan dengan total pengiriman mencapai 25.718.510 pieces ke berbagai negara tujuan ekspor. Sementara itu, pertumbuhan industri kendaraan roda empat pada kuartal I-2026 tercatat mencapai sekitar 14 persen secara tahunan.

"Pameran GIIAS 2026 kali ini diikuti merek yang lebih banyak, lebih lengkap, tidak hanya menunjukkan besarnya pameran internasional ini, namun juga menjadi indikator kepercayaan bagi para pelaku industri terhadap potensi industri otomotif nasional," ujar Putu dalam keterangannya, dikutip Rabu (29/7/2026).

Di sisi lain, semakin banyaknya merek kendaraan bermotor yang bergabung di GIIAS turut membuat informasi dan perkembangan industri yang ditampilkan menjadi semakin lengkap.

Meski begitu, banyaknya jenama yang masuk ke Indonesia tidak lantas membuat Indonesia menjadi pasar yang besar saja, melainkan juga basis strategis untuk pengembangan industri kendaraan masa depan.

"Semakin banyak merek kendaraan bermotor yang bergabung di GIIAS membuat informasi perkembangan industri yang disajikan jadi jauh lebih lengkap. Kami yakin penyelenggaraan GIIAS dapat semakin mendorong industri otomotif di Indonesia untuk terus tumbuh dan berkembang," tutup Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian itu.

Baca juga artikel terkait PAMERAN MOBIL atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah