tirto.id - Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang terus merangkak naik ke level 5,75 persen membuat denyut nadi kelas menengah Indonesia berdetak lebih kencang. Mereka khawatir akan kemampuan finansial yang mulai tergerus di tengah tren suku bunga tinggi.
Hendra, karyawan swasta di salah satu perusahaan, misalnya, mengaku mulai berpikir ulang untuk membeli kendaraan baru dengan skema kredit yang mulai naik.
Dengan kondisi semacam itu, ia pun lebih memilih untuk memperbesar tabungannya dan menimbang-nimbang untuk beralih ke kendaraan bekas.
“Cukup deg-degan juga, karena rencana mau beli kendaraan pakai skema kredit. Kemarin sempat dikasih tahu teman, orang leasing, kalau ada penyesuaian suku bunga lagi. Kayaknya sih nunda dulu buat beli kendaraan baru. Nabung lagi aja deh buat cari kendaraan second yang lebih terjangkau," ujarnya saat kepada Tirto, Jumat (3/7/2026).
Kekhawatiran Hendra bukan tanpa alasan. Ia merasakan langsung dampak kenaikan suku bunga pada cicilan KPR-nya yang sudah memasuki masa floating.
"Terakhir dapat email penyesuaian suku bunga KPR dari bank itu bulan Mei akhir waktu BI naikkan suku bunga acuan 50 bps. Di Juni tiba-tiba naik bunga jadi 12-an persen. Cicilannya lumayan tuh, jadi Rp4,02 juta. Sebelumnya masih di kisaran 3,8 jutaan," tuturnya.
Bahkan, kata Hendra, setelah membayar cicilan Juni lalu, ia kembali menerima pemberitahuan bahwa suku bunganya akan naik menjadi 13,41 persen pada Juli. "Cicilannya jadi naik jadi Rp4,31 juta," tambahnya.
Kenaikan sekitar Rp500 ribu per bulan ini memaksa Hendra mengatur ulang prioritas keuangannya. Terlebih, ia juga harus mulai mengalokasikan sebagian keuangan untuk dana pendidikan anak tahun depan.
"Penundaan ini juga mempertimbangkan biaya untuk anak masuk sekolah di tahun depan yang lumayan besar uang pangkalnya," jelasnya.
Hendra mengakui, ia awalnya mengabaikan dampak kenaikan suku bunga. Namun setelah melakukan perhitungan matang, ia sadar bahwa keuangan keluarganya mulai tergerus.
"Awalnya mikir enggak ada pengaruhnya. Atau minim lah dampaknya ke keuangan keluarga. Tapi pas breakdown keuangan bulanan, ditambah lagi dalam enam bulan terakhir sudah ‘mantab’ alias makan tabungan, lumayan senewen juga," akunya.
Ia menambahkan, pendapatan tambahan dari pekerjaan lepas yang dulu mudah didapat kini mulai mengering. "Kalau dulu masih bisa cari additional income karena kayaknya bisnis lagi oke, dan banyak orang butuh freelance. Sekarang udah susah. Jadi mau enggak mau ngencengin ikat pinggang, ngurangin beli barang-barang sekunder-tersier," ujar Hendra.
Terjepit di Antara Dua Pilihan
Kolase seni kontemporer dari tiga tangan wanita dengan banyak tas belanja. FOTO/iStockphoto

Pengalaman serupa dialami Ratih, karyawan swasta lainnya. Baginya, kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen adalah sinyal yang cukup mengkhawatirkan.
Apalagi, sebagai kelas menengah ibukota yang cukup akrab dengan fasilitas cicilan, ia merasa peningkatan suku bunga kredit ini tidak berbanding lurus dengan peningkatan salary.
“Bagi kami yang kelas menengah, hidup itu sering kali ditopang oleh cicilan produktif atau semi-produktif supaya bisa punya aset. Suku bunga tinggi artinya beban hidup otomatis bertambah, sementara kenaikan gaji tahunan rasionya jarang sekali bisa mengejar lonjakan biaya-biaya seperti ini," ungkapnya.
Ratih menggambarkan posisi kelas menengah saat ini seperti "terjepit". "Mau maju beli aset makin mahal, mau bertahan pun biaya yang ada makin menguras kantong," katanya.
Untungnya, cicilan mobil Ratih masih menggunakan suku bunga tetap hingga lunas, sehingga tidak ada perubahan tagihan. Namun KPR-nya sudah masuk masa floating sejak tahun lalu dan mulai terasa dampaknya.
"Sudah terasa sekali. Kenaikannya mungkin terlihat ratusan ribu per bulan, tapi kalau diakumulasikan setahun, angka itu sangat besar buat perputaran uang rumah tangga," jelasnya.
Ratih pun memilih untuk lebih selektif dalam belanja, apalagi menambah cicilan tak produktif baru. Saat ini ia lebih nyaman memegang dana tunai untuk berjaga-jaga ketimbang menambah utang baru yang mengganggu kenyamanan finansial keluarga.
“Sebenarnya ada rencana ambil kredit mikro untuk renovasi rumah, tapi melihat situasi ini, semua rencana itu saya coret dulu dari checklist tahun ini. Mengambil utang baru dengan bunga yang sedang tinggi-tingginya itu sama saja dengan bunuh diri finansial," tuturnya.
Tak hanya itu, Ratih mengaku alokasi dana yang biasanya bisa masuk ke tabungan pos darurat atau investasi seperti reksadana atau emas sekarang mulai tergerus. Uang yang tadinya untuk ditabung itu terpaksa dialihkan dua arah: pertama untuk menambal kenaikan cicilan KPR floating tadi, dan kedua untuk mengatasi efek domino kenaikan harga barang pokok di pasar yang ikut naik karena biaya modal industri juga naik.
“Ya buat jaga-jaga aja dulu uangnya, in this economy,” tukasnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id







































