tirto.id - Menjelang musim wisuda, para makeup artist (MUA) sibuk bersolek lebih awal. Sebab, di samping calon wisudawati berburu gaun, mereka juga sibuk mencari MUA agar tampil elegan saat hari wisuda. Periode ini menjadi masa panen MUA mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Riak kesibukan itu terlihat di kawasan Cimanggis, Depok, Natasya Amelia Syahdila (21). Di sana, Natasya sibuk menata sederet kuas berbagai ukuran, palet eyeshadow berwarna-warni, hingga botol-botol foundation. Lewat jemarinya, usaha bernama Natasya Makeup itu kini makin bersinar.
Perkenalan Natasya dengan dunia tata rias sebenarnya terjalin tanpa sengaja. Semua bermula dari panggung tari saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar, tetapnya kelas 5 SD. Berbekal alat rias seadanya, ia memberanikan diri merias seorang anak yang hendak tampil di lomba fashion show. Siapa sangka, sapuan jemari cilik Natasya justru mengantarkan anak tersebut meraih juara dua.
Saat itu, Natasya belum membayangkan makeup rias merias menjadi jalan yang dilakoninya mencari rezeki. Namun, minatnya itu terus menyala hingga ia mantap melangkah ke SMK jurusan tata kecantikan kulit. Tempaan disekolah itu menjadikan minatnya yang awalnya hobi kemudian bertransformasi menjadi keahlian. Natasya mulai menjajal klien pertamanya saat kelas 2 SMK, sebelum akhirnya mantap mengibarkan bendera Natasya Makeup usai lulus pada 2023 lalu.
Kini, makeup bukan sekadar hobi bagi Natasya. Natasya menjalani kuliah sembari mengembangkan usahanya. Dalam sebulan, ia mengaku dapat menerima lebih dari 30 klien dengan penghasilan sekitar Rp3.000.000 - Rp5.000.000.
Langkah menuju angka itu jauh dari kata mulus. Pada masa awal menjadi freelancer, kantong Natasya kerap tak menentu--pendapatannya cuma berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Titik terendahnya datang saat dompetnya hanya menyisakan uang Rp200 ribu untuk bertahan hidup selama sebulan penuh.
Di tengah impitan itu, bukannya menyerah, Natasya justru menggenggam ponselnya dan kembali nekat menjemput keberuntungan lewat unggahan promosi di TikTok.
“Sehari bisa dua client, bisa sampai tiga client, ataupun bahkan sampai delapan client satu hari dari pagi sampai sore,” ujar Natasya saat bercerita kepada Tirto, Selasa (11/08/26).

Setelah mendapatkan penghasilan Rp500 ribu-Rp1 juta sehari, Natasya mulai melihat makeup sebagai peluang yang lebih serius. Akan tetapi, kuliah membuat Natasya harus makin cermat menentukan prioritas. Jadwal kampus, kegiatan sebagai Duta, dan pesanan klien terkadang datang berdekatan. Ketika ada jadwal yang sudah lebih dulu disepakati dengan klien, Natasya memilih menyelesaikan janji tersebut sebelum memenuhi kegiatan lain.
Bagi Natasya, mengatur waktu bukan berarti memilih salah satu dan meninggalkan yang lain. Semua harus diselesaikan berdasarkan prioritas.
“Yang sudah menjadi janji awal itu yang akan aku coba selesaikan dulu,” katanya.
Kesibukan itu terkadang membuat tubuhnya kelelahan. Natasya pernah menyelesaikan makeup pada sore hari sebelum harus kembali bekerja pada pukul dua dini hari. Meski lelah, Natasya berusaha melihat padatnya jadwal sebagai bagian dari kesempatan yang sebelumnya ia harapkan.
“Namanya usaha, peluang bisnis, ya aku harus syukurin, aku harus nikmatin karena mungkin doa-doa yang beberapa tahun yang lalu baru bisa terwujud sekarang,” katanya.
Cerita serupa datang dari Sisilia Rosadi (22), pemilik jasa nail art (Artsilylove). Ketertarikannya terhadap nail art telah muncul sejak SMP ketika Sisilia gemar menghias kuku teman-temannya. Setelah berhenti bekerja, Sisilia kembali menekuni aktivitas tersebut. Kali ini, hobi itu perlahan berubah menjadi usaha.
Sisilia tidak mengikuti kursus khusus. Sisilia belajar secara autodidak melalui video-video di YouTube. Klien pertamanya adalah seorang teman yang menggunakan jasanya untuk menghadiri wisuda pacarnya. Saat itu, jasa nail art-nya dihargai Rp50 ribu.
Kini, Sisilia juga harus pintar-pintar membagi waktu dengan aktivitas kuliahnya. Tanpa mematok jadwal usaha yang kaku, ia fleksibel memanfaatkan sela-sela waktu senggang atau hari libur kuliah untuk melayani para pelanggan.
“Disesuaikan Saja kalau misalkan hari ini kosong, enggak kuliah, enggak ke kampus, ya berarti hari itu aku punya slot kosong buat ambil customer,” ujar Sisilia.

Penghasilan dari nail art pun tidak selalu sama. Dalam sehari, Sisilia bisa memperoleh Rp500 ribu - Rp700 ribu, terkadang tak mendapatkan klien sama sekali. Namun, ia tak pernah menganggap kondisi itu sebagai beban. Bagi Sisilia, mengerjakan nail art justru menjadi cara untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas lainnya.
“Menurut aku tuh kalau misalkan kerjain nail art begitu menurut aku tuh itu healing banget karena kita fokus kan, jadi enggak pikirin ke mana-mana dan aku enggak pernah merasa terbebani,” ujarnya.
***
Jiwa dagang Natasyah Aulia (23) sudah ditempa sejak SMP. Langkah awalnya sebagai reseller--menjajakan berbagai produk, mulai dari pakaian, makeup hingga aksesori. Berawal dari hobi jualan dan racik-meracik di dapur, modal kecil beromzet Rp500 ribu ia olah kembali untuk mengadu nasib di bisnis kuliner.
Dari olahan piscok sederhana, usahanya pelan-pelan merambah ke dimsum dan frozen food. Dapur usahanya ia kendalikan sendiri di tengah riuh jadwal akademisnya sebagai mahasiswi. Agar roda bisnis dan studinya tak saling jegal, Natasyah mengandalkan sistem pre-order (PO).
Metode tersebut membuat Natasyah tidak harus berjualan setiap hari. Produksi dan pengiriman dapat disesuaikan dengan jadwal kuliah. Ketika sedang kuliah secara offline dan tidak sempat pulang, jadwal produksi dapat digeser. Natasyah bahkan terbiasa melakukan COD pada malam hari setelah pulang kuliah.
Melakoni side hustle di sela-sela kuliah jelas bukan tanpa kerikil. Ada riak persaingan dan tuntutan untuk terus beradaptasi yang membayangi. Natasyah menyadarinya betul--teknologi memang mempermudah siapa saja untuk memulai usaha, tetapi itu juga berarti lapangan tarung kini makin sesak oleh pemain baru.
“Kalau mau bersaing, menurut gue kita harus menyesuaikan harga dan kualitas. Harganya harus sesuai, tapi kualitasnya juga tetap bagus, jadi pembeli merasa apa yang mereka bayar itu worth it,” katanya.

Bukan Tanda Anak Muda Makin Kreatif
Sosiolog Rakhmat Hidayat, memandang fenomena mahasiswa yang menjalankan usaha sampingan tidak bisa hanya dilihat sebagai tanda bahwa anak muda semakin kreatif. Ada perubahan kondisi sosial dan ekonomi yang ikut mendorongnya.
Biaya hidup yang meningkat, masa pendidikan yang makin panjang, serta sulitnya memperoleh pekerjaan tetap membuat sebagian anak muda mencari sumber penghasilan tambahan. Pada saat yang sama, biaya untuk memulai usaha makin rendah. Jika dahulu usaha membutuhkan toko, bangunan, modal, dan izin, kini seseorang dapat memulainya melalui akun media sosial dan telepon seluler.
Menurut Rakhmat, cara generasi muda memandang pekerjaan juga mengalami perubahan. Karier tidak lagi selalu dibayangkan sebagai jenjang panjang di satu perusahaan. Kemampuan dan pengalaman yang dikumpulkan dari berbagai aktivitas justru menjadi portofolio.
“Generasi sekarang itu membayangkan karier lebih cepat. Sebagai kumpulan kemampuan dan pengalaman yang mereka bawa ke mana-mana. Bukan tangga, tapi portofolio,” ujar Rakhmat.
Media sosial kemudian memperluas peluang tersebut. Platform digital dapat berfungsi sebagai etalase, tempat promosi, sekaligus akses menuju pasar. Namun, media sosial juga dapat menciptakan tekanan karena keberhasilan orang lain terus terlihat.
“Yang berhasil bercerita, yang gagal diam,” kata Rakhmat.
Menurutnya, cerita sukses merupakan hasil seleksi, membandingkan diri sendiri dengan beranda media sosial adalah membandingkan diri dengan sampel yang sudah disaring.
Menurut Rakhmat, hobi yang berubah menjadi pekerjaan juga memiliki konsekuensi. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara bebas dapat berubah menjadi kewajiban ketika sudah bergantung pada pesanan.
Bagi Natasya, Sisilia, dan Natasyah, usaha yang mereka jalankan belum harus menggantikan kuliah. Untuk saat ini, keduanya berjalan berdampingan. Kuliah tetap menjadi aktivitas utama, sementara hobi memberikan ruang untuk memperoleh pengalaman, penghasilan, sekaligus membangun keterampilan.
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id































